Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Cerita ini kembali pada malam yang mengejutkan di Shanghai. Saat Layla yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Teo dan ayahnya.
Layla terpegok mendengar ucapan mereka, mendengar hal itu membuat Layla linglung sampai dia terjatuh dari kursi rodanya, saat itu Layla merasa hancur sehancur hancurnya.
Kalo saja boleh di katakan dengan jujur, walaupun Teo bajingan brengsek, sebelum mengetahui fakta pahit itu. Hati Layla mulai terkoceh, dia mulai menaruh perasaan asing yang ingin dia buang jauh jauh, setelah dia dengan sukarela melakukan hal kotor dengan pria bajingan itu, tidak ada rasa sesal di hati nya. Terdengar aneh dan mengherankan, dia menolak tapi dia juga menginginkannya.
Dalam pikiran sempit Layla, setidaknya. Setidaknya dalam seumur hidup dia harus merasakan hal itu, entah itu Teo langsung membuang nya atau apapun, yang jelas.. di kehidupan yang hancur inipun Layla masih munafik. Dia tidak mau menjadi perawan sampai mati.
Pesona Teo bak pahatan dewa memang tidak bisa di ragukan lagi, saat tatapan mata mereka berdua bertemu, jujur saja jantung Layla berdebar tak menentu, entah itu rasa kesal, marah, jijik, atau mungkin perasaan aneh yang tak menentu.
Saat itu, dengan kesedihan yang begitu mendalam sampai sampai Layla pun tidak tau harus bagaimana, dia merasa sungguh menjijikkan, bisa-bisanya dia berbagi ranjang dengan orang yang telah membuat hidupnya cacat seperti ini.
Saat rasa kesedihan yang mendalam itu, dan di dalam renungan batin yang teramat dalam, rasa emosi, amarah dan rasa tidak terima yang begitu hebat mendadak memicu lonjakan adrenalin yang luar biasa di dalam sistem saraf nya yang selama hampir sepuluh tahun itu tertidur.
Di sela sel isak tangisnya yang tertahan karena rasa sakit hatinya yang teramat dalam, Layla merasakan sensasi kesemutan yang begitu panas menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung jari kakinya. Layla memfokuskan pandangannya yang terkabur air matanya dan di sana pula dia melihat jari kakinya yang bergerak pelan.
Melihat gerakan kecil itu, rasa kesedihan yang sempat dia rasakan berganti dengan rasa keterkejutan yang sangat luar biasa, matanya pun membulat dengan air mata yang mendadak mengering, menyisakan tetesan terakhir yang tersisa.
Jantungnya berdegup begitu kencang, di malam yang sunyi itu, suara jantungnya bahkan nyaris terdengar memekakan telinganya.
Itu sebuah keajaiban, dulu Layla tidak percaya dengan perkataan dokter yang memvonis nya lumpuh sementara, sampai sepuluh tahun terakhir Layla mencoba menerima fakta akan kehidupannya yang mungkin akan duduk di kursi roda selama nya. Namun melihat jari kakinya yang bergerak perlahan membuat Layla merasa bersalah, andai dia optimis dan yakin.
Di tengah tengah rasa yang campur aduk itu, insting Layla mulai bekerja dan memegang kakinya yang mulai bergerak perlahan agar tidak di sadari oleh Teo. Layla sadar, jika monster seperti Teo tau kakinya mulai merespons sebuah pergerakan, Teo pasti tidak akan pernah membiarkan nya lolos.
Sampai akhirnya, Layla pulang dan langsung keluar dari pekerjaannya secara mendadak membuat semua orang terkejut dan penuh tanda tanya. Layla hanya berbicara kepada atasan nya bahwa kakek neneknya sakit, sementara Layla dan ibunya harus pindah ke rumah neneknya yang ada di luar negeri.
Setelah kebohongan nya berhasil, dan Layla keluar dari perusahaan yang begitu baik menerima nya selama ini, namun di baik kekangan Teo yang memperbudak nya, Layla menyerah.
Layla pulang dan bertemu ibunya, menceritakan semua nya tanpa tau malu bahkan saat dia tidur dan melepaskan keperawanannya kepada orang yang telah menabrak nya dulu. Jika di pikir lagi. Ibunya baru sadar kalau Teo dulu sering menjenguk Layla, wajahnya memang tertutup masker namun sorot matanya perlahan lahan mulai di kenali ibunya.
Di dalam rumah mereka yang sepi dan hanya menyisakan mereka berdua, air mata Layla bertumpah ruah, dengan suara bergetar nya dia menceritakan semua nya tanpa jeda sedikitpun.
Mendengar hal itu, ibunya tanpa membuang waktu lagi langsung menjual butiknya , merujuk Layla ke dokter spesialis Saraf yang dulu menangani nya. Sembari menunggu butiknya terjual rasa was was menyelimuti keduanya, Layla menjalani beberapa terapi sembari menunggu.
Dokter menyatakan bahwa kelumpuhan Layla selama ini sebagian besar di sebabkan oleh rasa trauma psikologis sekunder, rasa trauma yang menutup dan mengunci jalur sarafnya selama ini.
Setelah penjelasan dari dokter dan Layla mulai bisa berjalan setelah hampir dua bulan terapi, ibunya merasa mereka sedang dalam bahaya yang tidak bisa di tentukan, setelah butiknya laku kini rumahnya mulai di jual dan di kosongkan sampai akhirnya mereka benar-benar pergi tanpa ada satu orang pun yang menyadari kepergian mereka.
Layla dan ibunya memilih untuk bersembunyi di sebuah desa terpencil, desa itu adalah tempat masa kecilnya dulu, saat Layla masih bayi. Ibunya masih enggan cerita lebih lanjut bagaimana cara ibunya tau tentang desa terpencil itu dan apakah.. di sana tempat Ibu dan ayahnya bertemu? Atau hal lain nya?.
Sampai saat inipun ibunya masih menutup rapat, dengan uang yang mereka miliki saat ini, seperti sudah sangat cukup untuk tinggal di desa yang terpencil dan jauh dari Ibu kota, mereka bisa hidup hemat dan sederhana untuk lebih mencukupkan uang yang mereka miliki saat ini.
Setelah pindah ke desa itu, hidup Layla benar-benar berubah, dia kembali seperti dulu lagi, sehat, segar bugar dan penuh keceriaan.
Setelah bulan berganti bulan, tiba-tiba ingatan tentang Teo kembali masuk ke dalam pikirannya.
Ada satu hal yang membuat Layla yakin dan sangat terpesona kepada bajingan itu bukan semata mata karena dia tampan, tapi caranya berbicara dan menatapnya.
Teo selalu berlutut saat berbicara dengannya, dimana pun dan di tengah keramaian pun Teo akan berlutut dan menyejajarkan tubuhnya agar mata mereka saling menatap.
Dan satu hal lagi yang membuat Layla benar-benar sulit untuk melupakan pria bajingan itu adalah fakta bahw saat Teo menatap nya.
Tatapannya memang dingin dan penuh intimidasi, namun dia tidak pernah mengalihkan pandangan nya saat Layla tengah berbicara, mendengar semua ucapan nya sampai selesai. Bahkan saat Layla berbicara dengan orang lain pun, terkadang Layla mencuri pandang ke arahnya dan mendapati Teo tengah menatap liar ke arahnya dengan tatapan yang sulit di mengerti, wajahnya tegas dan dingin namun memancarkan hasrat yang besar ke arahnya membuat Layla selalu salah tingkah hanya karena tatapannya.
Selama seumur hidup nya, belum pernah ada lelaki yang berbicara dan menatapnya seperti itu.
Andai saja…
Andai saja Teo bukan bajingan licik yang penuh kebrengsekan, kemunafikan dan manipulasi penuh muslihat nya.
Mungkin Layla sudah jatuh , jatuh sejatuh jatuh nya pada Pria itu.