NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Mobil SUV hitam milik Arga memasuki pekarangan rumah dengan kecepatan sedang. Begitu mesin dimatikan, Arga bergegas turun. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah kantong belanja kertas berukuran kecil berwarna hitam pekat. Jantungnya berdebar dengan ritme yang aneh. Ada secercah harapan yang tiba-tiba mekar di dadanya.

Arga yakin, kalung sapphire biru di dalam kantong ini akan meluluhkan hati Nisa. Ia ingat betul bagaimana mata wanita itu berbinar saat menunjuk gambar kalung ini di majalah enam bulan yang lalu.

Dengan langkah panjang, Arga memasuki rumah. Ia mengabaikan keheningan ruang tamu dan langsung menaiki tangga menuju kamar utama. Pintu kayu jati itu sedikit terbuka. Arga mendorongnya perlahan.

Di dalam sana, Nisa sedang berdiri membelakanginya, melipat beberapa pakaian dan menyusunnya ke dalam lemari. Punggung wanita itu terlihat begitu rapuh.

"Nisa," panggil Arga. Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

Nisa menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menatap suaminya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Tidak ada senyum sambutan.

"Urusan dengan klienmu sudah selesai, Mas?" tanya Nisa dengan nada teramat sopan, sebuah kesopanan yang terasa menyindir karena keduanya sama-sama tahu dari mana Arga baru saja pulang.

Arga mengabaikan pertanyaan itu. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka, lalu menyodorkan kantong kertas hitam di tangannya ke hadapan Nisa. Bibir pria itu melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sudah sangat lama tak pernah ia perlihatkan pada istrinya.

"Ini," ucap Arga pelan. "Buat kamu."

Kening Nisa berkerut samar. Matanya turun menatap kantong kertas itu, lalu kembali menatap wajah Arga dengan tatapan heran. Tangannya sama sekali tidak bergerak untuk menerimanya.

"Apa ini, Mas?" tanyanya curiga. "Kenapa tiba-tiba ngasih aku hadiah?"

"Ambil aja, Nis. Buka," desak Arga, senyum di wajahnya semakin mengembang. Ia meraih tangan kanan Nisa yang diam, lalu meletakkan kantong itu di telapak tangan istrinya secara paksa. "Kamu pasti suka."

Nisa menatap kantong di tangannya dengan ragu. Dengan gerakan pelan, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah berukuran kecil dari dalam sana. Ibu jarinya menyentuh pengait kotak itu. Klik. Penutup kotak terbuka.

Di atas bantalan beludru putih, sebuah kalung emas putih dengan liontin sapphire biru berbentuk tetesan air mata berkilau ditimpa cahaya lampu kamar.

Nisa mematung. Matanya terpaku pada kilauan batu biru itu.

Melihat Nisa terdiam, senyum Arga semakin lebar. Pria itu merasa menang. Ia merasa baru saja menebus kesalahannya yang paling fatal.

"Itu kalung yang dulu sangat kamu inginkan, kan?" ucap Arga dengan nada bangga, matanya berbinar menatap reaksi istrinya. "Aku melihatnya tadi, dan aku langsung ingat sama kamu. Aku membelinya khusus untuk kamu, Nis. Bagus, kan?"

Arga menanti. Ia menanti Nisa meneteskan air mata haru. Ia menanti wanita itu memeluknya erat, merengek manja, dan berterima kasih karena akhirnya sang suami mengabulkan keinginannya.

Namun, alih-alih menangis bahagia, perlahan-lahan, kedua sudut bibir Nisa tertarik ke atas.

Sebuah senyuman getir, hambar, dan teramat dingin terukir di wajah Nisa. Tidak ada binar bahagia sedikit pun di sepasang mata cokelatnya. Cahaya dari kalung mahal itu gagal memantulkan kebahagiaan di mata sang istri. Kilauan sapphire itu justru memutar kembali rekaman suara Arga enam bulan lalu yang mengatainya 'perempuan matre'.

"Ya. Sangat bagus," jawab Nisa lirih. Suaranya terdengar kosong. "Terima kasih, Mas."

Nisa menutup kotak beludru itu dengan bunyi klik yang terdengar nyaring di kamar yang hening. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia membalikkan badan, berjalan ke arah meja rias, dan membuka laci paling bawah. Nisa meletakkan kotak perhiasan itu di sudut laci yang gelap, menjejalkannya di bawah tumpukan syal lama, lalu menutup lacinya kembali.

Senyum Arga luntur seketika. Jantungnya yang tadi berdebar penuh harap kini seolah anjlok menghantam perutnya.

"Lho? Kenapa malah disimpan?" protes Arga, melangkah menyusul Nisa. Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari nada suaranya. "Kenapa nggak dicoba, Nis? Aku mau lihat kalung itu melingkar di leher kamu."

Nisa membalikkan badan, menyandarkan punggungnya ke tepi meja rias. Tangannya bersedekap di depan dada. "Nggak usah, Mas."

"Kenapa nggak usah?" Arga mulai terpancing. Egonya kembali meronta karena usahanya tak dihargai. "Bukannya kamu yang dulu memohon-mohon minta dibelikan kalung itu? Sekarang sudah ada di depan mata, kenapa kamu malah membuangnya ke dalam laci?!"

"Aku nggak buang kok, Mas. Aku cuma nyimpen," ralat Nisa dengan intonasi yang teramat tenang. Ketenangan yang justru membuat Arga semakin frustrasi.

"Sama aja! Setidaknya pakailah!"

"Kalung itu terlalu mahal, Mas," ucap Nisa akhirnya, menatap lurus ke arah Arga. "Sangat mahal. Aku takut merusaknya. Sayang kalau dipakai sembarangan. Kalau aku pakai lalu tiba-tiba rantainya putus atau permatanya lepas, bagaimana? Aku nggak punya uang untuk menggantinya."

Arga mengembuskan napas kasar. Terselip rasa lega yang arogan di hatinya saat mendengar alasan Nisa. Ia pikir Nisa membenci hadiahnya, ternyata wanita itu hanya merasa rendah diri.

Arga tertawa kecil, melangkah maju mendekati Nisa dengan dada membusung. "Hanya karena itu? Astaga, Nisa. Dengarkan aku."

Arga menatap istrinya dengan sorot mata meremehkan yang sudah menjadi kebiasaannya. "Kamu tidak perlu memikirkan harganya. Uang bukan masalah bagiku. Kalau kalung itu putus, aku akan membelikan yang baru untukmu. Gampang, kan?"

Nisa hanya diam, membiarkan Arga memamerkan arogansinya.

"Kalau kalung itu rusak, aku bisa beli yang lain, Nis," lanjut Arga dengan nada pongah, merasa dirinya begitu berkuasa karena bisa menyelesaikan segalanya dengan uang. "Satu, dua... bahkan sepuluh kalung seperti itu bisa aku belikan untukmu hari ini juga kalau kamu mau. Jadi, jangan bersikap kampungan. Ambil dan pakai kalung itu sekarang."

Hening merajai kamar itu selama beberapa detik. Nisa menatap wajah pria di hadapannya dari atas ke bawah. Sungguh, Nisa tidak mengerti bagaimana dulu ia bisa jatuh cinta setengah mati pada pria yang mengukur segala bentuk emosi dan luka dengan lembaran uang.

Sebuah tawa hambar lolos dari belahan bibir Nisa. Ia menggeleng pelan, menatap Arga dengan pandangan yang menyiratkan rasa kasihan.

"Aku tahu uangmu banyak, Mas," bisik Nisa, suaranya mengalun sangat pelan namun menyayat. "Tapi sepuluh kalung berlian pun tidak akan bisa menjahit luka yang sudah telanjur robek di sini." Nisa menunjuk dada kirinya sendiri.

Mata Arga sedikit melebar. Kata-kata pongah yang tadi membeludak di tenggorokannya mendadak tersangkut.

"Terima kasih untuk hadiahnya, Mas Arga. Sungguh. Tapi, keinginanku enam bulan yang lalu... sudah terkubur bersama sisa-sisa perasaanku padamu." Nisa menundukkan kepalanya sedikit. "Permisi, aku harus ke bawah sekarang."

Nisa melangkah ke samping, berniat melewati tubuh jangkung suaminya. Namun, dengan cepat Arga mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram pergelangan lengan Nisa dan menahannya dengan kuat.

"Nis, tunggu," suara Arga bergetar. Kepanikan kembali menyergapnya saat menyadari bahwa bukan harganya yang Nisa tolak, melainkan dirinya.

Arga memutar tubuh Nisa agar kembali menghadapnya. Matanya menatap nanar wajah sang istri. Tangan kirinya terangkat perlahan, berniat menyentuh pipi Nisa, berniat menghapus jarak dingin yang menganga di antara mereka. Ia ingin menyentuh wanita itu, membuktikan bahwa Nisa masih nyata dan masih menjadi miliknya.

Namun, saat ujung jari Arga baru berjarak satu sentimeter dari kulitnya, Nisa dengan cepat memundurkan wajahnya. Tubuh wanita itu tersentak ke belakang, menghindar dengan gerakan refleks yang sarat akan rasa jijik dan penolakan yang teramat besar.

Tangan Arga menggantung kaku di udara.

"Lepas, Mas," desis Nisa tajam. Ia menarik paksa lengannya dari cengkeraman Arga hingga terlepas. "Mami udah nungguin aku dari tadi. Kami mau masak bareng untuk makan siang."

Tanpa memberikan kesempatan Arga untuk merespons, Nisa membalikkan badan dan melangkah cepat keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya dengan rapat.

1
Mundri Astuti
coba aja miskinin tuh Arga ..coret dari ahli waris ...jangan kasih jabatan...
pengen tau masih mau ga tuh si lampir sama Arga ...cabut semua dukungan finansial Arga...
Lee Mba Young
nnti arga di miskin kan oleh ortunya, kl miskin masih mau gk pelakor itu.
sunaryati jarum
Nikahkan dengan Adelia dan tarik semua fasilitas Arga,Pak Tommy
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟jika Arga telah hancur
MamDeyh
Terimalah Arga pilihanmu😒
Bella. pr1ncess
benar kata kakek nisa meskipun nnti arga nangis darah ingin kembali padamu jangan mau ingatlah akan rasa sakit yg diberi arga ke kamu dan ingatlah akan kata kakek diakhir hayatnya secara tidak langsung argalah yg membunuh kakek
sunaryati jarum
Langsung beberkan saja jika selingkuhan Arga hamil, ngapain kau tutupi Arga saja tidak menjaga perasaan kamu dan keluarganya,kenapa kamu mau berkorban sama lelaki murahan
sunaryati jarum
Kamu yang bilang ke keluarganya Nisa, beserta alasannya.
sunaryati jarum
Dengan dukungan sahabat terbaikmu semoga sukses karir dan sukses dapat pasangan yang menghargai dan menghormati kamu Nisa
ryuka
bersiap lah kamu menerima hasil perbuatan kamu arga
ryuka
meraung guling2 pun tetap tidak bisa mengembalikan kakek dan nisa..
ryuka
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kakeeeekkkk
Anonim
😭😭😭
ryuka
thoorrr aku nungguin kejatuhan nya adelia 🤭🤭🤭
ryuka
duuuhhhh kakekkk.. semogavkamu kuat ya...
ryuka
diihh dasar pengecut kamu arga
Bella. pr1ncess
lenapa nis kenapa kamu tidak berteris terang dari awal sama orang tuanya arga apakah kamu masih mengharapkan arga sekarang kakek jadi korban karena kedatangan adelia kalau iamu terus terang sama mama kintan pasti kejadiannya tidak seperti itu nis,,,,sadarlah nis arga sudah menyakitimu selama ini tolong nis jangan mengharap arga lagi kamu nasih punya harga diri kan nis
Bella. pr1ncess
teguhlah nisa ingat akan sakitmu yg diberikan arga jangan goyah hanya karena kakek arga yg menyayangimu jangan biarkan yarga dirimu diinjak lagi
Moreno
akhirnya Arga bisa bersatu dengan wanitanya
Ma Em
Arga itulah perempuan yg kamu pilih perempuan yg Arga bela belain sampai mengorbankan istri yg setia baik dan sabar , mungkin kakeknya Arga kena serangan jantung karena sock dan kaget mendengar Arga sdh bercerai dgn Nisa dan Adelia selingkuhan Arga sdh hamil .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!