NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Denting kotak musik itu tiba-tiba bersahutan dengan suara tawa kecil yang renyah. Seorang anak perempuan bergaun kuning compang-camping berlari menembus sisa rintik gerimis, lalu ikut berdiri di bawah pohon tempat Bella berteduh.

Anak itu menatap Bella dengan mata bulatnya yang polos, lalu pandangannya turun ke kotak musik kayu lavender milik Bella.

"Kakak, musiknya bagus sekali. Seperti suara peri," celoteh anak kecil itu tanpa rasa takut.

Bella memaksakan sebuah senyuman tipis. "Kamu suka?"

Anak itu mengangguk cepat. Ia lalu menyadari mata Bella yang sembap dan merah. "Kakak sedang menangis? Kenapa menangis di tempat seindah ini? Lihat, di atas ada pelangi!" tunjuk anak itu ke langit dengan riang.

"Kakak... hanya sedang merindukan keluarga Kakak," jawab Bella lirih, suaranya kembali tercekat.

Anak kecil itu diam sejenak, lalu duduk di ujung bangku kayu, tepat di sebelah Bella. Ia merogoh kantong bajunya yang agak basah dan mengeluarkan sebuah permen lolipop kecil yang bungkusnya sedikit lecek. Ia mengulurkannya kepada Bella.

"Ibuku bilang, kalau kita sedang sedih atau rindu, kita harus makan yang manis supaya hatinya tidak pahit lagi," ucap anak itu dengan gaya yang sok dewasa, membuat Bella tertegun. "Ini untuk Kakak. Jangan menangis lagi, ya. Nanti pelangi di atas sana ikut sedih."

Bella menerima permen itu dengan tangan bergetar. Kehangatan yang murni dari seorang anak asing runtuh seketika membasuh sisa-sisa keputusasaannya.

"Terima kasih banyak, Sayang," bisik Bella, kali ini air matanya menetes bersama senyuman yang benar-benar tulus.

Bella menggenggam permen lolipop itu erat-erat, seolah benda kecil itu adalah pegangan terakhirnya agar tidak jatuh dalam kesedihan. Ia memperhatikan jemari mungil anak perempuan itu yang sedikit kotor karena bekas tanah, kontras dengan hatinya yang begitu bersih.

"Alena! Ayo pulang, Nak! Jangan main hujan-hujanan!" sebuah teriakan dari seberang jalan memecah keheningan di bawah pohon.

Anak kecil itu tersentak, lalu menoleh ke arah seberang jalan sambil melambaikan tangan kirinya. "Iya, Ibu! Sebentar!" teriaknya nyaring.

Ia kemudian kembali menatap Bella, memamerkan deretan giginya yang rapi dalam sebuah senyuman lebar. "Ibuku sudah memanggil. Aku harus pulang sekarang, Kak."

Bella memaksakan senyum terbaiknya, meski matanya masih berkaca-kaca. "Iya, Sayang. Pulanglah, nanti ibumu mencari."

"Jangan lupa dimakan permennya, ya, Kak!" Alena mengingatkan sekali lagi seraya turun dari bangku taman. Ia memundurkan langkahnya beberapa senti, lalu menunjuk pipi Bella sendiri. "Dan berjanjilah untuk tidak menangis lagi."

Bella tertegun, lalu mengangguk pelan. "Kakak berjanji."

"Sampai jumpa, Kakak Cantik!"

Tanpa menunggu jawaban, Alena berbalik dan berlari kencang. Gaun kuning compang-campingnya berkibar ditiup angin sore yang dingin, membawa pergi keceriaan singkat yang sempat singgah di hati Bella.

Bella melepas kepergian anak itu dengan pandangan mata yang nanar. Perlahan, bayangan gaun kuning itu menghilang di balik tikungan jalan, menyisakan suara kecipak air dari genangan yang terinjak sepatu botnya.

Suasana di bawah pohon itu mendadak kembali senyap. Hujan benar-benar telah reda, menyisakan aroma tanah basah dan petrichor yang menguar kuat ke udara. Angin sore berembus sedikit lebih kencang, menggugurkan beberapa tetes sisa air dari dedaunan di atas kepala Bella, tepat mengenai pipinya yang masih basah oleh air mata. Pelangi yang ditunjuk anak tadi perlahan memudar di kaki langit, digantikan oleh semburat jingga keunguan yang mulai menggelap.

Kesunyian itu kembali menarik Bella ke dalam jurang pikirannya sendiri. Kalimat anak kecil itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ibuku bilang...

Dada Bella berdenyut nyeri. Kata 'Ibu' selalu berhasil mengoyak luka lama yang belum juga mengering di hatinya. Kehangatan yang baru saja ia rasakan dari anak asing itu mendadak berubah menjadi rasa rindu yang luar biasa mencekik. Bagi orang lain, kata 'Ibu' adalah tempat pulang yang menenangkan. Namun bagi Bella, kata itu adalah labirin penuh rahasia tak terjawab yang ditinggalkan begitu saja tanpa pamit.

Bella menunduk, menatap permen lolipop lecek di genggaman tangan kirinya, lalu perlahan membuka telapak tangan kanannya. Di sana, di bawah remang cahaya sore yang mulai mengabu, garis-garis hitam samar itu kembali berdenyut. Huruf dan angka misterius yang membentuk deretan tanggal—hari di mana napasnya akan berhenti di dunia ini.

Setiap kali melihat tanda itu, rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah pengingat bahwa waktunya tidak banyak. Rahasia kutukan ini, atau apa pun namanya, mengalir di darahnya bersama misteri kematian sang ibu yang masih menjadi teka-teki.

Pada saat anak kecil itu benar-benar pergi, Bella kembali termenung lagi. Kesendirian kembali memeluknya erat, memaksa pertahanannya runtuh. Pikiran lambat laun melempar ingatan masa lalunya jauh ke belakang. Kembali ke loteng rumah tua itu, tempat di mana dia tidak sengaja menemukan buku harian ibunya dua puluh tahun yang lalu. Saat di mana segalanya dimulai, saat dunia kecilnya berubah selamanya.

Ingatannya perlahan melayang jauh ke masa lalu, kembali ke loteng rumah tua tempat dia tidak sengaja menemukan buku harian ibunya.

“mama, waktu kecil di loteng aku tidak sengaja menemukan buku harianmu,” kata Bella lirih. Matanya tertuju pada telapak tangannya sendiri, menatap lekat-lekat sebuah tanda misterius di sana—tanda yang menunjukkan tanggal kematiannya sendiri. “Waktu itu mama bilang jangan takut, itu bukan kutukan.”

Bella menjeda kalimatnya, menelan ludah yang terasa getir. “Tapi kalau bukan kutukan, lalu apa, mama?” ucap Bella kembali pada kesunyian.

..Ingatanku berputar cepat, melempar jiwaku kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu.

Saat itu aku baru berumur lima tahun. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah buku harian usang di dalam kamar gudang yang berdebu. Jemari kecilku membuka lembar demi lembar kertas yang mulai menguning, hingga mataku terpaku pada deretan tulisan tangan Mama.

Di sana, Mama menuliskan sebaris kalimat yang menyentak hatiku:

     “Bella bilang dia melihat tulisan di telapak.         tangan ayahnya. Hatiku bergetar hhebat saat.

mendengarnya. Dahulu, waktu kecil aku.        juga bisa melihat tulisan seperti itu. Kukira   hanya aku saja yang memilikinya, ternyata Bella juga. Kalau ini memang garis keturunan, aku berharap Bella tidak ketakutan sepertiku. Ini bukan kutukan. Ini cuma membuat kita bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Aku menulis ini khusus untuk Bella. Jika suatu saat aku sudah tidak ada, semoga dia bisa menemukannya. Aku menaruh buku ini di tempat yang hanya bisa dia temukan.”

Bayangan masa kecil itu menguap seiring helaan napasku yang berat. Kini, di usiaku yang sudah menginjak dua puluh tahun, aku kembali mendambakan surat itu. Aku mencarinya ke mana-mana, membongkar setiap sudut yang tersisa. Namun, surat  Mama lenyap tanpa bekas. Aku tidak bisa menemukannya lagi.

Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Menggeledah loteng, menyisir kamar Ibu, kamar tamu, hingga ruang kerja. Aku bahkan sudah turun ke ruang bawah tanah yang lembap dan memeriksa setiap sudut taman yang sunyi. Namun, hasilnya nihil.

Aku tidak menemukan buku harian ataupun surat itu.

Pikiran buruk mulai berkecamuk di kepalaku. Apakah benda itu sudah diambil orang lain? Atau... apakah surat itu sebenarnya memang tidak pernah ada dan hanya imajinasi masa kecilku saja?

Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak di dada. Percuma memikirkannya sekarang.

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!