Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pukul 05.38 WIB
Jalur Turun, Menuju Kilometer Lima
Tanjakan turun menuju kilometer lima adalah yang paling curam dari semua jalur yang sudah mereka lewati.
Kemiringan yang kemarin saat naik sudah cukup menguras tenaga, sekarang dengan carrier penuh membuat lutut bekerja keras sebagai rem hidup di setiap langkah.
Zidan turun dengan hati-hati lebih dari biasanya.
Bukan karena lutut kanannya yang kemarin tergores lukanya sudah dirawat Runa dan plesternya masih menempel rapi. Tapi ada sesuatu lain yang ia rasakan sejak meninggalkan area camp tadi. Sesuatu yang kecil, tidak cukup jelas untuk diceritakan, bahkan ia sendiri tidak yakin apakah ini nyata atau hanya efek dari semalaman tidak tidur cukup dan subuh yang lebih dingin dari perkiraan.
Di langkah kedua belas dari tanjakan curam itu, kakinya mendarat stabil di akar pohon yang kuat sebagai pijakan.
Lalu dunia berputar sedikit.
Bukan dramatis. Bukan sampai ia kehilangan keseimbangan. Hanya putaran kecil yang berlangsung dua detik, seperti orang yang berdiri terlalu cepat dari jongkok, lalu semuanya kembali normal.
Zidan meletakkan tangannya di batang pohon di sisi jalur.
Menunggu dua detik.
Tiga.
Normal lagi.
Ia melepaskan tangannya dan melanjutkan turun, tanpa menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada siapa pun.
Dua puluh langkah setelahnya, di tikungan kecil sebelum jalur sedikit lebih landai, ia menggelengkan kepala.
Gerakan kecil. Sangat cepat. Seperti mengusir sesuatu dari dalam kepalanya, tapi tidak ada yang perlu diusir secara fisik, dan gerakannya terlalu refleks untuk sesuatu yang disengaja.
Yazid melihat itu dari depan.
Diam.
Ia mempersingkat jarak dari satu meter menjadi setengah meter tanpa mengatakan apa pun.
Pukul 05.55 WIB
Shelter Kilometer Lima
Shelter itu masih sama seperti kemarin atap seng berkarat, bangku kayu yang catnya sudah pudar, lantai semen berlumut. Tapi ada satu hal yang berbeda.
Bekas api kecil mereka dari kemarin masih ada di tanah di samping shelter. Abu sudah dingin, ranting-ranting jadi arang. Di sekitar bekas api, tanah basah dari kabut semalam menyimpan cetakan.
Bukan cetakan kaki mereka.
Cetakan yang berbeda. Lebih dalam di ujung jari, hampir tidak ada di tumit.
Runa melihat itu. Berdiri diam selama tiga detik. Lalu mengalihkan pandangannya sebelum yang lain mengikuti arah matanya.
Tidak sekarang. Mereka tidak perlu melihat itu sekarang.
“Berhenti dua menit,” kata Yazid. Bukan untuk istirahat panjang, cukup untuk minum air, memastikan tali carrier tidak menggores, dan menarik napas sebelum empat kilometer terakhir yang harus mereka selesaikan.
Runa langsung mengeluarkan pulse oximeter dari sakunya. Mendekatkannya ke Zidan.
“Jari lo.”
Zidan mengulurkan jarinya tanpa protes sudah berbeda dari biasanya, karena Zidan yang normal pasti sudah mengeluarkan komentar tentang betapa Runa selalu membawa alat medis yang tidak terduga.
Angka muncul di layar kecil itu.
Runa melihatnya. Saturasi oksigen masih dalam rentang yang tidak memerlukan tindakan darurat. Tapi ada sesuatu yang membuatnya mengulang pengukurannya, menekan tombol lagi, menunggu angka baru keluar.
Sama. Masih oke.
Tapi Runa menatap Zidan untuk ketiga kalinya dalam pengukuran yang seharusnya hanya butuh sekali.
“Lo ngerasa apa?” tanya Runa. Suaranya datar, tapi matanya tidak.
“Capek,” jawab Zidan langsung. Terlalu langsung. “Biasa aja.”
“Kepala lo?”
Jeda.
Setengah detik. Satu detik.
Terlalu lama untuk pertanyaan yang jawabannya seharusnya langsung.
“Sedikit pusing,” kata Zidan akhirnya. “Tapi biasa kalau turun cepat. Tekanan udara berubah, kepala menyesuaikan. Lo sendiri yang bilang itu waktu SMA.”
“Gue bilang itu soal tekanan kabin pesawat.”
“Prinsipnya sama lah.”
Runa menutup pulse oximeter-nya. Menyimpannya ke saku. Lalu melakukan sesuatu yang tidak direncanakan ia meletakkan punggung tangannya sebentar di dahi Zidan.
Zidan tidak mengelak.
Suhunya normal. Tidak demam.
Tapi ada sesuatu yang Runa rasakan, yang tidak bisa diukur alat apa pun yang ia bawa. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah cukup lama mengenal orang di depannya.
Zidan tidak seperti biasanya.
Bukan asmanya. Bukan kelelahan biasa.
Sesuatu yang lain.
Runa menarik tangannya. Berbalik ke arah Yazid. Dalam satu pertukaran pandang yang berlangsung tidak lebih dari dua detik, mereka saling menyampaikan dan menerima informasi yang tidak perlu diucapkan.
Ada yang tidak beres.
Gue tahu.
Kita harus turun lebih cepat.
Gue tahu.
Yazid mengambil posisi di depan shelter, membelakangi jalur turun, menghadap yang lain.
“Gue mau bilang sesuatu yang seharusnya gue bilang tadi di camp.” Suaranya tidak naik volumenya, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat semua orang langsung diam. “Tadi sebelum kita berangkat, gue cek area camp. Ada jejak kaki tambahan dari semalam. Lebih banyak dari yang pertama gue lihat.”
Salsabilla menelan ludah. “Lebih banyak artinya…”
“Artinya sesuatu yang sama yang meninggalkan jejak pertama itu balik lagi. Beberapa kali.” Yazid berhenti sebentar. “Dan jejak-jejak itu ngelilingi tenda pertama.”
Hening.
Angin yang bertiup dari arah bawah membawa udara yang lebih hangat dari atas tanda bahwa di bawah sana, dunia masih berjalan dengan cara yang normal.
“Tenda pertama itu tenda gue, Rehan, sama Zidan,” kata Salsabilla pelan.
“Iya.”
Rehan menatap Yazid. “Lo tahu itu dari tadi dan nggak bilang?”
“Gue bilang sekarang.”
“Yaz”
“Kalau gue bilang di dalam tenda, dalam gelap jam dua pagi, hasilnya pasti panik. Panik di jalur turun yang licin dalam kabut lebih berbahaya daripada informasi yang ditunda dua jam.” Yazid menatap Rehan langsung. “Gue salah?”
Rehan membuka mulutnya. Menutup lagi.
“Nggak,” katanya akhirnya.
Zidan yang dari tadi mendengarkan dengan tangan di trekking pole-nya, tidak bersuara. Matanya menatap tanah di depan sepatunya. Ekspresinya sulit dibaca bukan takut, bukan marah, bukan shock. Sesuatu yang lebih dalam dari ketiganya, yang seolah sedang diproses di tempat yang lebih jauh dari biasanya.
“Zidan,” panggil Rehan.
“Gue denger.” Zidan mengangkat matanya. “Kita turun. Sekarang. Nggak berhenti lagi.”
Rehan mengangguk. “Oke. Kita jalan.”
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪