Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Valerie mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mengusir rasa pening yang menghantam kepalanya seperti godam. Pengaruh obat bius itu belum sepenuhnya hilang, membuat otaknya terasa tumpul dan tubuhnya sangat berat.
Saat ia menarik napas dalam, hidungnya digelitik oleh sebuah aroma. Aroma maskulin yang tajam, elegan, namun sangat dominan menyeruak di indra penciumannya.
Aroma yang seolah membangkitkan memori samar—bau yang sama dengan pria yang ia temui di kamar 120 semalam.
Valerie kembali mengerjapkan mata hingga pandangannya mulai terang. Dengan sisa tenaganya yang masih lemah, ia memaksakan diri untuk bangkit dan duduk. Seketika, jantungnya berdegup kencang saat menyadari ia berada di tempat yang sama sekali asing.
Ia saat ini tengah terduduk di atas kasur berukuran king size dengan sprei sutra berwarna gelap. Valerie mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Kamar itu bernuansa modern dan sangat mewah, didominasi oleh cat dinding abu-abu tua yang memberikan kesan dingin sekaligus maskulin.
Gorden tebal berwarna gelap menjulang tinggi, menutupi kaca besar yang menampakkan pemandangan lampu-lampu kota di bawah sana yang terlihat sangat indah, namun terasa menjauh.
Sadar dirinya hanya mengenakan dress santai selutut yang tersingkap, Valerie segera menarik selimut gelap itu untuk menutupi kaki jenjangnya.
"Ya Tuhan... di mana aku sekarang?" gumamnya dengan suara serak, ada nada khawatir yang jelas terdengar.
Seketika, potongan ingatan terakhirnya melintas cepat. Bayangan tangan kekar yang membekapnya di tempat sampah apartemen kembali muncul.
Valerie menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak kaget.
"Aku... aku sedang diculik," bisiknya dengan tubuh yang mulai gemetar.
Kesunyian di kamar mewah itu terasa mencekam, seolah-olah setiap sudut ruangan abu-abu itu sedang mengawasinya, menanti sosok pemiliknya muncul dari balik pintu yang masih tertutup rapat.
Ketakutan Valerie memuncak. Menyadari dirinya berada dalam bahaya besar, ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Ia turun perlahan dari kasur, berusaha mengabaikan rasa pening yang masih berdenyut di kepalanya. Niatnya hanya satu: lari menuju pintu besar itu dan mencari jalan keluar.
Namun, baru saja kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin, suara kunci yang berputar membuat jantungnya nyaris melompat. Pintu besar di hadapannya terbuka lebar.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria tinggi dengan tubuh atletis. Ia masih mengenakan pakaian kerja—kemeja premium yang melekat sempurna di tubuh tegapnya—namun tanpa jas, dengan lengan kemeja yang digulung hingga ke siku.
"Ah!" Valerie memekik pelan. Kakinya spontan terangkat kembali ke atas kasur, dan jemarinya meremas selimut gelap itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di bawah pencahayaan lampu yang masih temaram, pria itu melangkah masuk dengan tenang namun penuh wibawa. Suara langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam kematian bagi Valerie.
Tanpa melepaskan pandangan dari mangsanya, pria itu menutup kembali pintu kamar dengan bunyi klik yang mengunci harapan Valerie untuk lari.
Valerie yang mulai gemetar hebat mundur perlahan, menggeser tubuhnya di atas kasur hingga punggungnya membentur headboard kayu yang kokoh.
Pria itu terus mendekat hingga berdiri tepat di depan kasur. Ia menatap Valerie dengan intensitas yang mencekik. Kemudian, dengan gerakan santai, ia menepuk tangannya dua kali.
Seketika, sensor lampu otomatis merespons, mengubah suasana kamar dari temaram menjadi terang benderang.
Saat cahaya lampu menyinari ruangan, mata Valerie membelalak sempurna. Ia terengah, napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat dengan jelas wajah pria yang kini berdiri menjulang di depannya. Tatapan pria itu sangat dingin, tajam, dan mematikan.
Itu adalah dia. Pria misterius dari kamar 120. Damian.
"Sudah bangun, Gadis Kecil?" suara berat Damian bergema, penuh dengan nada intimidasi yang membuat bulu kuduk Valerie meremang.
Valerie merasakan jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya, insting bertahannya muncul.
Ia menarik napas dalam, mencoba meredam gemetar di tangannya, dan memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak angkuh—seolah ia masih memegang kendali.
"Oh, hai..." suara Valerie sedikit bergetar, namun ia tetap berusaha terdengar santai. "Kita bertemu lagi. Apa kabar?"
Damian tidak langsung menjawab. Seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibirnya, sebuah ekspresi yang menandakan bahwa mangsanya baru saja melakukan kesalahan besar dengan mencoba bersikap tenang.
Tanpa peringatan, Damian bergerak cepat. Ia duduk di sisi ranjang, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang kuat mengepung indra penciuman Valerie.
Greeb!
Tangan besar Damian mencengkeram dagu Valerie dengan kuat, memaksa wajah cantik gadis itu terangkat hingga mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
Valerie meringis pelan, kekuatan tangan Damian bukanlah sesuatu yang bisa ia lawan.
Damian mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya yang hangat terasa di kulit wajah Valerie, namun suaranya terdengar sedingin es.
"Kabarku sangat baik, penipu kecil," desis Damian dengan suara berat yang mengancam. "Kenapa? Kau tidak menyangka akan bertemu lagi denganku secepat ini, bukan?"
Mata Damian berkilat, seolah sedang menikmati ketakutan yang mulai terpancar dari manik mata Valerie. "Kau pikir setelah memberiku obat tidur, kau bisa pergi begitu saja dan kembali ke kehidupan kampusmu yang manis?"
Valerie merasakan nyeri di dagunya akibat cengkeraman Damian, namun rasa takut yang menghimpit dadanya jauh lebih menyakitkan. Pertahanannya mulai retak.
"A-aku minta maaf..." ucap Valerie dengan nada gugup yang tak bisa lagi disembunyikan. "Aku tidak bermaksud menipumu. Aku hanya... aku hanya panik semalam."
Damian tidak terlihat tersentuh sedikit pun. Sorot matanya tetap tajam, seolah sedang membedah setiap kebohongan yang mungkin keluar dari bibir gadis itu.
"Aku paling benci jika dibohongi," suara Damian terdengar rendah dan mutlak. "Dan setiap tindakan punya harga yang harus dibayar. Kau harus menerima konsekuensi karena sudah berani bermain-main denganku, Valerie."
Manik mata Valerie bergetar hebat. Rasa panas mulai menjalar di sudut matanya, ia ingin sekali menangis dan berteriak, namun egonya menahan itu semua.
Ia tidak boleh terlihat lemah, tidak di depan pria yang tampak bisa menghancurkannya hanya dengan satu jentikan jari ini.
"Apa... apa yang kau inginkan dariku?" tanya Valerie dengan suara yang bergetar, mencoba mencari tahu akhir dari permainan kucing dan tikus ini.
Damian perlahan melepaskan cengkeramannya. Alih-alih menjauh, ia justru menggerakkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Valerie yang memerah bekas cengkeramannya tadi.
Sentuhan itu terasa kontradiktif; lembut namun menyimpan ancaman yang nyata.
Damian kembali menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk Valerie meremang.
"Ternyata kau memang gadis pintar, bisa langsung menebak keinginanku."
Ia menjeda kalimatnya sengaja untuk menyiksa batin Valerie, lalu melanjutkan dengan bisikan yang sangat dekat di telinga gadis itu.
"Aku menginginkan kepatuhanmu. Dan sebagai permulaan, kau akan tinggal di sini... sampai aku memutuskan kapan kau boleh pergi."