Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Summon x2
Kamar Patriark Keluarga Wu bukanlah sekadar tempat peristirahatan; itu adalah sebuah benteng miniatur. Dinding-dindingnya dilapisi dengan formasi pengumpul Qi kelas atas dan segel peredam suara yang mampu menahan serangan kultivator Ranah Kuno tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
Di tengah ruangan yang remang-remang, di atas sebuah ranjang awan kehidupan berusia ribuan tahun, Wu Xuan duduk dalam posisi lotus. Posturnya tegak sempurna, napasnya teratur, menyatu dengan ritme alam semesta.
Di hadapannya, melayang sembilan butir Pil Esensi Primordial. Pil-pil itu memancarkan pendar keemasan yang redup namun mengandung kepadatan energi yang mengerikan. Jika seorang kultivator Ranah Roh mencoba menelan satu saja dari pil ini, tubuh mereka akan meledak menjadi kabut darah dalam hitungan detik karena tidak mampu menahan ekspansi energi murni tersebut.
"Sembilan pil," gumam Wu Xuan pelan, matanya yang berwarna emas kristal menatap benda-benda bercahaya itu dengan kalkulasi dingin. "Menelan semuanya sekaligus adalah tindakan seorang pemabuk kekuasaan yang bodoh. Fondasi yang dibangun dengan tergesa-gesa akan runtuh saat menghadapi badai yang sesungguhnya."
Dengan satu tarikan napas, Wu Xuan menggerakkan jarinya. Satu butir pil melesat mulus masuk ke dalam mulutnya, sementara delapan lainnya tetap mengambang statis di udara.
Begitu pil itu melewati kerongkongannya, sensasi pertama yang menghantam Wu Xuan bukanlah kekuatan, melainkan rasa sakit yang absolut.
BOOM!
Energi primordial meledak di dalam dantiannya bagaikan bintang yang baru lahir. Rasa sakitnya seperti jutaan pisau bedah yang terbuat dari api panas yang menyayat setiap inci meridian, otot, dan tulangnya. Namun, segera setelah kehancuran itu terjadi, esensi dari Ranah Primordial Suci miliknya mengambil alih, menjahit kembali jaringan yang robek dengan energi kehidupan yang murni.
Siklus kehancuran dan penciptaan ini terjadi berulang kali. Rasa sakit yang merobek kewarasan berpadu dengan kenikmatan surgawi dari sel-sel tubuh yang berevolusi. Wu Xuan tidak mengerang, tidak pula mengernyit. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya, namun wajahnya tetap setenang permukaan danau beku. Rasionalitasnya menekan rasa sakit fisik itu ke sudut otaknya.
Satu jam berlalu. Dia membuka matanya dan menelan pil kedua.
Tiga jam berlalu. Pil keempat masuk ke tenggorokannya.
Enam jam berlalu. Pil ketujuh ditelan.
Selama proses asimilasi energi yang memakan waktu berjam-jam itu, Wu Xuan memutuskan sudah saatnya menggunakan kartu yang ia dapatkan dari sistem.
"Gunakan Kartu Pembuka Kunci Akar Spiritual," titah Wu Xuan di dalam pikirannya.
[Dikonfirmasi. Mengaktifkan Kartu Pembuka Kunci... Membuka segel genetis kosmik Host.]
Seketika, sebuah ledakan energi berwarna hijau zamrud meletus dari tulang punggungnya. Energi kehidupan yang sangat pekat, begitu murni hingga lantai batu di dalam kamarnya mulai menumbuhkan tunas-tunas rumput spiritual bercahaya.
[Selamat! Host telah membuka: Akar Spiritual Kayu Surgawi.]
Kayu Surgawi. Elemen dari kehidupan abadi dan vitalitas tanpa batas. Wu Xuan bisa merasakan daya regenerasinya meningkat ribuan kali lipat. Rasa sakit dari proses asimilasi pil primordial seketika lenyap, digantikan oleh kesejukan yang menyegarkan jiwa.
Namun, kejutan dari sistem tidak berhenti di sana. Kedatangan energi Kayu Surgawi yang absolut memicu resonansi dengan energi bawaan Wu Xuan yang sudah aktif.
Elemen Air yang murni di dalam dantiannya mulai bereaksi liar. Air dan Kayu adalah dua elemen yang saling menghidupi dalam siklus Dao. Percampuran dua esensi di dalam tubuh Primordial Suci itu menciptakan sebuah kehidupan baru.
Warna biru jernih dari elemen airnya mulai menggelap. Menjadi biru tua, lalu hitam pekat, menyerupai dasar palung samudra yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya matahari, namun memendam tekanan yang bisa menghancurkan dunia.
[Ding! Evolusi Spontan Terdeteksi!]
[Akar Spiritual Air Host berevolusi menjadi: Akar Samudra Terdalam!]
[Informasi: Akar Samudra Terdalam memiliki afinitas air absolut dan tekanan gravitasi samudra. Dapat dievolusikan lebih lanjut menjadi 'Akar Spiritual Air Kehidupan Dewa' (Mampu menghidupkan kembali eksistensi tingkat Dewa, bergantung pada batas kultivasi Host di masa depan).]
Mata Wu Xuan terbuka lebar. Di dalam pupil emas kristalnya, terbayang miniatur samudra hitam yang bergejolak.
"Air Kehidupan Dewa..." bisik Wu Xuan, senyum mematikan yang tak terbendung kembali terukir di wajahnya. "Memiliki kuasa untuk menentukan kematian adalah hal biasa di dunia ini. Tapi memiliki kuasa absolut atas kehidupan? Itu adalah hak prerogatif dari seorang pencipta. Menarik."
Dengan dua akar spiritual tingkat lanjut yang kini aktif dan saling menopang, batas penyerapan tubuhnya terbuka lebar. Wu Xuan tidak lagi ragu. Dia membuka mulutnya dan menelan dua pil primordial yang tersisa sekaligus.
Jika sebelumnya energinya seperti sungai yang mengalir deras, kini energinya berubah menjadi tsunami galaksi.
BZZZZTTTT! KRAAAAK!
Puncak dari asimilasi sembilan Pil Primordial dan kebangkitan dua akar spiritual absolut akhirnya menghancurkan batas botol kultivasi Wu Xuan. Belum genap satu hari penuh ia menginjakkan kaki di Ranah Primordial Suci tahap awal, kini dinding tak kasat mata itu hancur berkeping-keping.
Wu Xuan menembus Ranah Primordial Suci Tahap Menengah.
Dan daratan ini tidak bisa menahan kelahiran kekuatan besar dalam keheningan.
Tengah malam di Ibukota Yan yang baru saja mulai tenang kembali diguncang oleh teror. Langit di atas kediaman Keluarga Wu mendadak robek. Awan-awan hitam bergulung menutupi bintang-bintang, memuntahkan kilatan petir tribulasi yang tidak lagi berwarna hitam, melainkan berwarna hijau zamrud dan biru laut yang menyilaukan.
Bumi bergetar hebat. Gempa spiritual menyapu ibukota, membuat lonceng-lonceng peringatan di Istana Kekaisaran berdentang liar tanpa ada yang menyentuhnya.
Namun, yang paling membuat seluruh penduduk benua ini, dari rakyat jelata hingga para penguasa kecil, jatuh berlutut adalah pemandangan yang muncul setelah kilatan petir pertama menyambar.
Sebuah siluet raksasa transparan perlahan bangkit dari arah kediaman Keluarga Wu.
Itu bukan sekadar proyeksi bayangan. Itu adalah Avatar Dharma Primordial milik Wu Xuan. Siluet dewa dengan rambut putih yang berkibar dan mata emas yang memandang remeh dunia. Ukurannya sama sekali tidak masuk akal. Avatar itu menembus atmosfer kekaisaran, terus membesar hingga kepalanya menyentuh ruang hampa. Tingginya mencapai dua juta kilometer!
Bayangan raksasa itu menutupi cahaya bulan, menatap ke bawah ke arah daratan ibukota kekaisaran yan layaknya manusia yang sedang menatap sarang semut. Tekanan auranya membuat semua hewan spiritual di hutan ibukota merintih ketakutan dan pingsan di tempat.
Di kediaman Keluarga Qin yang sederhana, Qin Han berdiri di halaman rumahnya dengan kaki gemetar hingga ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dia jatuh terduduk, matanya terbelalak menatap dewa raksasa di langit yang memancarkan aura dari pria yang akan menjadi calon menantunya.
Di sampingnya, Qin Wuyan berdiri mematung. Angin malam yang kencang meniup gaun dan rambutnya. Matanya yang jernih merefleksikan cahaya keemasan dari Avatar raksasa itu. Ketakutan memang ada di dalam hatinya, tetapi lebih dari itu, rasa aman yang aneh mulai menyelimuti jiwanya.
"Wuyan..." suara Qin Han terdengar parau dan putus asa. "Ini adalah kekuatan keluarga yang akan kau masuki besok..."
Gadis itu tidak menoleh. Bibir kecilnya yang sebelumnya meneteskan darah kini membentuk senyuman tipis yang teguh. "Aku tidak akan mengecewakan Ayah."
Pemandangan Avatar kosmik itu hanya berlangsung selama sepuluh detik sebelum Wu Xuan menariknya kembali ke dalam tubuhnya dengan satu hembusan napas yang panjang. Namun sepuluh detik itu sudah cukup untuk mencetak trauma dan rasa hormat absolut ke dalam jiwa seluruh penduduk Ibukota Yan.
Di dalam kamarnya, Wu Xuan membuka mata perlahan. Udara di sekitarnya masih berderak oleh sisa-sisa listrik spiritual. Kekuatan tahap menengah mengalir di dalam pembuluhnya, memberinya perasaan bahwa menghancurkan ibukota ini sekarang tidaklah sulit.
Ibukota kekaisaran Yan memiliki luas diameter seukuran tata surya dunia fana (bumi).
Sebelum dia sempat menguji kekuatan barunya, suara mekanis sistem yang kini terdengar sedikit berbeda bergema di kepalanya.
[Selamat! Karena pencapaian terobosan super brutal random dalam waktu kurang dari 24 jam, Host mendapatkan: Kartu Pembaruan Sistem (System Update Card).]
[Pembaruan sistem akan mencakup fitur baru: Poin Sistem, Gacha Probabilitas, dan Toko Random lainnya. Mengaktifkan fitur ini akan memperluas fungsionalitas sistem.]
[Apakah Host ingin menginstalnya sekarang?]
"Tentu saja," jawab Wu Xuan tanpa ragu. Sistem ini adalah fondasi dari kecepatannya membalikkan keadaan. Menolak pembaruan adalah tindakan orang bodoh. "Instal."
[Dikonfirmasi. Memulai Pembaruan Sistem... 10%... 50%... 100%.]
[Pembaruan Selesai. Antarmuka UI baru terpasang.]
Sebuah layar holografik yang jauh lebih elegan dan detail muncul di depan Wu Xuan. Ia tidak memedulikan tab 'Gacha' atau 'Poin' untuk saat ini. Matanya langsung tertuju pada tab Status Karakter untuk melihat hasil dari revolusi spiritualnya.
Nama: Wu Xuan
Tingkat Kultivasi: Ranah Primordial Suci (Tahap Menengah)
Akar Spiritual Aktif:
• Akar Samudra Terdalam (Evolusi)
• Akar Kayu Surgawi (Sistem Terbuka)
Akar Spiritual Pasif:
• 1000 Akar Terkunci.
Wu Xuan membaca status itu. Otaknya yang analitis bekerja dengan kecepatan kilat, menyisir setiap baris data. Tiba-tiba, senyum di wajahnya memudar. Mata emasnya menyipit tajam, memancarkan aura curiga dan kalkulasi yang sangat dingin.
"Tunggu sebentar," gumam Wu Xuan, jarinya mengetuk udara kosong. "Ada yang tidak beres dengan matematika sistem ini."
Ketika dia pertama kali tiba dan membuka panel sistem, statusnya adalah: Akar Air (Aktif) dan 1000 Akar Terkunci. Total dari eksistensinya adalah 1001 akar spiritual.
Hari ini, dia baru saja menggunakan Kartu Pembuka Kunci. Akar Kayu Surgawi telah berpindah ke kolom Aktif.
Secara logika matematika dasar, statusnya seharusnya berubah menjadi: 2 Aktif, dan 999 Terkunci. Tapi layar di depannya dengan sangat jelas menampilkan angka 1000 Terkunci.
Tubuh asli macam apa yang ia masuki ini? Apakah tubuh ini secara harfiah tidak memiliki batas? Atau ada akar spiritual tambahan yang tersembunyi jauh di luar struktur genetik kultivasi tubuh ini? Ini bukan sekadar tubuh cheat; ini adalah bug yang menentang hukum konservasi sistem itu sendiri.
Tangan Wu Xuan melayang di atas antarmuka sistem. Di dalam inventarisnya, terdapat satu Kartu Informasi Mahatahu. Dia bisa saja menggunakan kartu itu sekarang juga untuk menanyakan pada sistem apa arti dari anomali angka ini, dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pemilik tubuh aslinya.
Rasa penasarannya sangat besar. Namun, rasionalitasnya jauh lebih mengerikan.
Jari yang melayang itu perlahan ditarik kembali. Wu Xuan menurunkan tangannya.
"Tidak," bisiknya pelan pada dirinya sendiri, sebuah senyuman penuh intrik kembali terbentuk. "Informasi absolut adalah senjata pemusnah massal dalam politik dan perang. Menggunakan Kartu Mahatahu hanya untuk memuaskan rasa penasaran tentang tubuhku sendiri adalah pemborosan sumber daya. Rahasia tubuh ini pada akhirnya akan terungkap saat kekuatanku terus meningkat. Aku akan menyimpan kartu ini untuk membedah musuh yang benar-benar bisa mengancam nyawaku."
Kedisiplinan mental Wu Xuan tidak tertandingi. Dia menekan rasa penasarannya ke dasar otak, dan beralih ke dua kartu lain yang bersinar di dalam inventarisnya.
2x Kartu Pemanggilan Elite Karakter Fiksi (Loyalitas Absolut).
Ini adalah bayaran yang ia dapatkan dari keputusannya memanipulasi Yan Melin—untuk meracuni Duke Wilayah Utara.
"Waktunya menambah bawahan," ucap Wu Xuan santai. Dia menggeser jarinya di udara, menarik kartu pertama keluar dari inventaris.
Kartu itu berbentuk fisik di tangannya—sebuah lempengan logam hitam yang dingin dengan ukiran bayangan yang terus bergerak. Tanpa basa-basi, Wu Xuan menjentikkan jarinya, menghancurkan kartu tersebut.
CRACK!
Kepingan kartu itu tidak jatuh ke lantai, melainkan melebur menjadi kabut bayangan yang pekat. Suhu di dalam ruangan menurun tajam, bukan karena elemen es, melainkan karena hawa niat membunuh yang sangat absolut dan murni.
Dari dalam genangan bayangan di lantai kamarnya, siluet seorang pria perlahan bangkit. Pria itu bertubuh ramping namun proporsional, mengenakan zirah kulit hitam pekat yang tampak menyerap cahaya di sekitarnya. Setengah wajah bagian bawahnya tertutup oleh kain hitam, menyisakan sepasang mata abu-abu mati yang tidak memancarkan emosi apa pun. Di balik jubah punggungnya, dua puluh pasang mata merah menyala berkedip di dalam kegelapan, menandakan keberadaan entitas lain yang tersembunyi di dalam bayangannya.
Data sistem mengalir masuk ke dalam kepala Wu Xuan.
Karakter: Song Ginzhou (Dari Dimensi Fiksi Luar)
Kultivasi: Ranah Primordial Suci (Tahap Awal)
Spesialisasi: Manipulasi Bayangan absolut, Infiltrasi, dan Dewa bayangan Pembunuh.
Atribut: Membawa 20 Bayangan Bawahan Elite (Ranah Kuno Puncak). Setiap bayangan elit mampu melatih 20 anggota bayangan baru sebagai jaringan informasi dan eksekutor Klan Wu.
Wu Xuan menatap pria di depannya. Tidak ada ledakan energi kosmik seperti saat terobosannya tadi. Kehadiran Song Ginzhou justru mengerikan karena ketiadaannya. Seorang pembunuh (Assasin) di Ranah Primordial Suci? Itu adalah mimpi buruk bagi kaisar mana pun. Jika dua Primordial Suci berhadapan dalam perang terbuka, kemenangan belum tentu pasti. Tapi jika satu Primordial Suci bertindak sebagai pembunuh rahasia di malam hari, dia bisa membantai puluhan jenderal dan tetua musuh tanpa pernah disadari.
Song Ginzhou melangkah maju dalam keheningan mutlak, lalu berlutut dengan satu kaki. Dari bayangan di belakangnya, dua puluh sosok berpakaian hitam pekat muncul dan berlutut serempak tanpa mengeluarkan satu pun suara napas.
"Tuan Ku," ucap Song Ginzhou. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang melewati kuburan, hampa namun penuh dengan loyalitas yang dipaksakan oleh ikatan sistem kosmik. "Pedangku dan dua puluh mata pisau bawahanku, siap menunggu perintahmu."
Senyum di wajah Wu Xuan melebar. Ini bukan sekadar mendapatkan bawahan; ini adalah mendirikan departemen intelijen dan pembunuh bayaran tingkat kekaisaran dalam waktu kurang dari satu menit. Karakter fiksi ini bahkan datang dengan sistem pelatihannya sendiri.
Wu Xuan menyilangkan kakinya, menopang dagunya dengan sebelah tangan menatap bawahan barunya dengan tatapan penuh kepuasan.
"Berdirilah," perintah Wu Xuan.
Song Ginzhou dan dua puluh bayangannya berdiri.
"Menurut Informasi Novel yang kuingat," Wu Xuan mulai berbicara, nadanya santai seolah sedang mendiskusikan harga teh, "seluruh Kekaisaran Yan yang memegang hegemoni daratan tandus ini hanya memiliki empat kultivator di Ranah Primordial Suci. Dua di tahap menengah yang bersembunyi di makam kekaisaran, satu di tahap akhir yang merupakan Leluhur Tertinggi kekaiasaran, dan satu lagi di tahap awal."
Wu Xuan menatap matanya yang mati. "Dan malam ini... Keluarga Wu tiba-tiba memiliki dua Primordial Suci. Aku di tahap menengah, dan kau di tahap awal."
Pernyataan itu adalah fakta politik yang mengguncang. Papan catur tidak hanya terbalik; Wu Xuan baru saja menambahkan bidak menteri ekstra ke dalam permainannya. Keseimbangan kekuasaan di kekaisaran telah hancur sepenuhnya tanpa ada satu pun orang luar yang menyadarinya.
"Mulai sekarang kau bukan sekadar pedang, Song Ginzhou," lanjut Wu Xuan, suaranya berubah menjadi intruksi komandan yang dingin. "Dua puluh bayanganmu... perintahkan mereka berpencar malam ini juga. Menyusup ke dalam setiap sudut ibukota, setiap faksi kekaisaran, dan setiap kediaman menteri. Mulailah mencari para pelayan, pengemis, dan penjaga rendahan menjadi bagian dari jaringan informasi Keluarga Wu. Aku ingin tahu setiap tetes keringat Pangeran Mahkota sebelum dia bahkan menyekanya."
"Perintahkan mereka ambil dari kas keluarga Wu."
"Sesuai perintah, Tuan," Song Ginzhou menunduk. Dia mengangkat tangannya, dan dua puluh bayangan di belakangnya seketika mencair ke dalam kegelapan malam, menyebar ke seluruh penjuru ibukota untuk memulai tugas mereka sebagai akar kehancuran musuh-musuh Wu Xuan.
"Dan atas kelancangan hamba. Song Ginzhou meminta tugas utama dari Tuan." tanya Song Ginzhou.
Wu Xuan menatap mata abu-abu sang pembunuh Primordial itu. "Kau? Tugasmu?. Hmmm? Oh untuk sementara kau jadilah bayanganku. Pastikan tidak ada yang boleh tahu keberadaan mu, sebagai Primordial Suci kedua di Keluarga Wu hingga tiba saatnya aku ingin memperlihatkannya."
Song Ginzhou tidak bertanya lagi. Kesetiaannya adalah absolut. Dia menundukkan badannya, lalu tubuhnya hancur menjadi serpihan kegelapan yang meluncur melintasi lantai, bergerak menyatu ke dalam bayangan Wu Xuan sendiri.
Di bawah cahaya lampion giok, bayangan Wu Xuan kini tampak sedikit lebih pekat, seolah memiliki denyut nadi dan kehendaknya sendiri. Membawa serta perlindungan tambahan dan senjata mematikan ke mana pun sang Patriark melangkah.
Puas dengan pasukan bayangannya, Wu Xuan beralih ke kartu kedua.
Dia menarik kartu pemanggilan terakhir dari inventaris. Kartu ini terasa lebih hangat, memancarkan aura binatang buas yang liar namun agung.
Wu Xuan mematahkan kartu itu.
Sebuah lingkaran sihir berwarna perak terbentuk di udara. Suara raungan pelan yang menggetarkan tulang bergema di dalam kamar. Dari dalam lingkaran sihir itu, melompat keluar seekor monster buas yang memancarkan tekanan di tahap akhir Ranah Kuno.
Makhluk itu mendarat di lantai kamar dengan keanggunan yang menakutkan. Tingginya mencapai tiga meter, dengan bulu putih sebersih salju. Tubuhnya menyerupai singa raksasa yang dipenuhi otot kawat, namun dari punggungnya membentang sepasang sayap griffin yang memancarkan cahaya perak halus. Hal yang paling mengerikan adalah makhluk itu memiliki tiga kepala yang masing-masing memancarkan kilatan kecerdasan buas.
Nama makhluk ini langsung muncul di benak Wu Xuan.
Mandou.
Tunggangan Entitas tinggi, Ranah Kuno Tahap Akhir.
Ketiga kepala Mandou menunduk patuh di hadapan Wu Xuan, mendengkur pelan seperti kucing raksasa yang mengakui tuan mutlaknya.
Wu Xuan tidak bisa menahan tawa kecilnya. Sebuah tawa yang elegan namun memancarkan arogansi yang tak terbantahkan. Dia mengulurkan tangannya, mengelus salah satu kepala singa raksasa berwarna putih itu.
Seorang Primordial Suci tahap menengah. Seorang pembunuh bayaran Primordial Suci yang menyatu dengan bayangannya. Jaringan intelijen yang sedang dibangun. Seekor tunggangan buas dari Ranah Kuno tahap akhir. Dan malam ini panen besar.
"Sangat sempurna," bisik Wu Xuan sambil tersenyum pada Mandou.
Bersambung...