Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di Balik Tirai Emas
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai otomatis yang belum tertutup sempurna di apartemen penthouse Elang Dirgantara. Cahaya itu jatuh tepat di atas ranjang berukuran king size yang berantakan, menyinari sosok Laras Maheswari yang masih terlelap dalam balutan selimut sutra kelabu.
Elang sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dengan satu kaki ditekuk, menatap dalam diam pada wanita yang kini menempati sisi kosong di hidupnya. Elang, sang penguasa malam yang dingin, kini tampak begitu kontemplatif. Matanya yang tajam tidak sedetik pun berpaling dari wajah polos Laras yang sedang tertidur.
Pikirannya berkecamuk. Semalam, mereka hanya berciuman. Tidak lebih. Elang belum merenggut kesucian Laras secara fisik, namun efek yang ditimbulkan oleh pagutan bibir itu jauh lebih dahsyat daripada semua pengalaman seksual yang pernah ia jalani seumur hidupnya.
Elang teringat kembali pada barisan wanita yang pernah mampir di tempat tidurnya—model papan atas, putri konglomerat, hingga wanita-wanita paling menggoda di dunia malam. Bagi Elang, bercinta dengan mereka hanyalah sebuah transaksi biologis atau pelepasan stres tanpa makna. Namun dengan Laras, hanya dengan merasakan napas perempuan itu yang tersengal di bawah ciumannya, Elang merasa jiwanya seperti ditarik paksa keluar dari cangkang dinginnya.
Kenapa efeknya bisa sehebat ini? batin Elang.
Setiap kali ia menatap Laras, ada rasa ingin memiliki yang meluap hingga hampir menyakitkan. Ia tidak hanya ingin memiliki tubuh Laras; ia ingin memiliki setiap pikiran, setiap detak jantung, dan setiap tarian yang dilakukan wanita itu. Rasa posesif yang biasanya ia tujukan pada bisnis dan kekuasaan, kini terfokus seratus persen pada satu titik: Laras Maheswari. Baginya, Laras bukan lagi sekadar wanita yang ia selamatkan dari gang kumuh, melainkan sebuah candu yang ia temukan di tengah kegelapan, dan ia tidak punya niat sedikit pun untuk berbagi candu itu dengan dunia.
*
Laras mulai terusik oleh cahaya pagi. Dalam tidurnya, ia menggeliat pelan. Gerakannya begitu alami namun sangat gemulai, seperti seorang penari yang sedang melakukan pemanasan dalam mimpi. Bahunya yang putih dan mulus menyembul dari balik selimut saat ia merenggangkan tangannya ke atas.
Melihat gerakan itu, Elang merasakan hasrat yang membuncah di dalam dadanya. Darahnya berdesir kencang. Ia ingin sekali menarik Laras kembali ke dalam pelukannya, menciumi setiap inci kulitnya, dan membuat wanita itu benar-benar menjadi miliknya pagi ini juga. Rahang Elang mengeras, tangannya mencengkeram sprei dengan kuat untuk menahan diri.
Ia tidak boleh merusak Laras. Tidak sekarang.
Ada sisi tulus di balik kegelapan Elang yang berbisik bahwa Laras terlalu berharga untuk sekadar dijadikan pelampiasan nafsu pagi hari. Laras masih polos, masih suci dari noda dunia hitam yang Elang huni. Elang ingin memenangkan Laras seutuhnya—jiwanya, bukan hanya raga yang bisa ia beli dengan uang.
Laras perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya yang teduh bertemu langsung dengan tatapan Elang yang sedang mengawasinya.
Deg.
Kesadaran menghantam Laras seperti ombak besar. Ingatan tentang kejadian semalam—ciuman liar Elang, bagaimana ia dibawa ke apartemen ini, dan bagaimana ia sendiri yang menantang pria itu—berputar di kepalanya seperti film yang memalukan.
Laras tersentak kaget. Ia segera menarik selimut hingga ke dagu, matanya membelalak lebar. "Tuan... Tuan Elang?"
Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, dan itu terdengar sangat seksi di telinga Elang.
Laras merasa wajahnya terbakar karena malu. Ia merasa sangat canggung menghadapi pria yang semalam telah menaklukkan bibirnya dengan begitu agresif. Ia ingin menghilang, ingin lari kembali ke kamarnya, atau setidaknya menutup wajahnya dengan bantal.
Melihat kepanikan Laras, Elang mencoba menurunkan intensitas auranya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menekan sisi liarnya. Ia mendekat, sedikit merangkak di atas ranjang hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Laras yang kini sedang meringkuk ketakutan.
"Jangan takut," ucap Elang pelan. Suaranya tidak lagi dingin atau memerintah, melainkan terdengar sangat gentle dan menenangkan.
Elang mengulurkan tangannya, dengan lembut mengusap pipi Laras yang masih kemerahan. Laras membeku, namun ia tidak menolak sentuhan itu. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Elang yang besar dan kasar.
Elang kemudian mengecup kening Laras dengan sangat lama. Kecupan itu tidak mengandung nafsu, melainkan sebuah janji perlindungan. "Mandilah. Ada jubah mandi bersih di sana. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
Tanpa menunggu jawaban, Elang turun dari ranjang. Ia berjalan menuju dapur yang menyatu dengan ruang tengah tanpa mengenakan atasan, hanya memakai celana tidur satin hitamnya. Otot-otot punggungnya yang tegap dan kokoh tampak bergerak lincah saat ia mulai sibuk di depan pantry.
Laras tetap diam di tempat tidur, menatap punggung Elang dengan perasaan yang campur aduk. Ia masih tidak percaya bahwa pria yang baru saja mengecup keningnya dengan begitu lembut adalah pria yang sama yang semalam menciumnya seolah ingin menghabiskannya.
*
Begitu Elang menghilang di balik meja dapur, Laras segera bangkit dan lari menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Bibirnya tampak sedikit membengkak, dan ada bekas kemerahan samar di lehernya—jejak hukuman Elang semalam.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Laras Maheswari?" bisiknya pada diri sendiri. Air mata mulai menggenang di matanya.
Laras menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa telah mengkhianati ketulusan yang ia jaga selama ini. Selama ini ia dikenal sebagai gadis yang anggun, yang menjaga kehormatannya dengan sangat ketat di tengah dunia seni yang seringkali bebas. Namun semalam, ia sendiri yang menantang Elang. Ia sendiri yang memancing sisi liar pria itu.
Kenapa aku begitu bodoh? batinnya. Kenapa aku menantangnya?
Laras merasa malu karena ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan: di balik rasa bersalahnya, ia tidak membenci ciuman itu. Ia tidak membenci bagaimana Elang memegangnya semalam. Dan kesadaran itu membuatnya merasa seperti wanita murahan.
Ia menyalakan shower air dingin, berharap air itu bisa membilas habis rasa panas di pipinya dan rasa bersalah di hatinya. Di bawah guyuran air, Laras menangis tanpa suara. Ia merasa telah terjebak dalam jaring-jaring yang ia buat sendiri. Ia mencintai dunianya, ia mencintai tariannya, namun kini ia menyadari bahwa hidupnya telah bergeser porosnya. Hidupnya kini berputar di sekitar Elang Dirgantara.
*
Tiga puluh menit kemudian, Laras keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi putih kebesaran yang disediakan Elang. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai, memberikan kesan yang sangat rapuh.
Ia berjalan ragu menuju ruang makan. Di sana, Elang sudah menata meja dengan sangat rapi. Ada omelette, buah-buahan segar, dan dua gelas jus jeruk. Elang sendiri sudah mengenakan kemeja putih bersih namun lengannya digulung hingga ke siku.
"Duduklah," ucap Elang tanpa menoleh, ia sedang menuangkan kopi ke dalam cangkirnya.
Laras duduk dengan kaku. Suasana di antara mereka sangat berbeda dari semalam. Jika semalam adalah api yang berkobar, pagi ini adalah abu yang masih terasa hangat namun menyisakan ketegangan.
"Makanlah. Kamu butuh tenaga untuk latihan siang nanti," lanjut Elang. Ia memperhatikan bagaimana Laras hanya menunduk, tidak berani menatapnya.
"Tuan... soal semalam..." Laras memulai bicaranya dengan suara gemetar. "Saya minta maaf. Saya tidak seharusnya bersikap begitu."
Elang meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan halus. Ia menatap Laras dengan intens. "Minta maaf untuk apa, Laras? Untuk menjadi dirimu sendiri? Atau untuk membuatku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu?"
Laras tersentak. "Saya... saya hanya merasa bersalah pada diri saya sendiri. Saya bukan tipe perempuan yang... yang seperti itu."
Elang berdiri, berjalan mendekati Laras, lalu berdiri di belakang kursinya. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Laras, memberikan tekanan kecil yang menenangkan. "Aku tahu siapa kamu, Laras. Ketulusanmu adalah alasan kenapa aku ada di sini pagi ini. Jangan pernah menyalahkan dirimu karena apa yang terjadi di antara kita. Semalam bukan salahmu, dan bukan juga sebuah kesalahan."
Elang membungkuk, berbisik tepat di samping telinga Laras. "Tapi jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu setelah semalam. Justru sekarang, aku punya alasan lebih kuat untuk memastikan kamu tidak akan pernah pergi kemana-mana."
Laras memejamkan mata. Ia bisa merasakan sifat posesif Elang yang kini kembali menguar kuat. Pagi itu, di meja makan yang mewah itu, Laras menyadari satu hal: ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi Laras yang lama. Ia sudah menjadi bagian dari dunia Elang, dan meskipun ia menyalahkan dirinya sendiri, ada sebagian kecil dari hatinya yang mulai merasa bahwa mungkin, di dalam sangkar emas ini, ia akhirnya menemukan tempat di mana ia benar-benar diinginkan.
Laras mulai menyuapkan makanannya dalam diam, sementara Elang berdiri di belakangnya, menatap ke arah jendela, seolah-olah sedang mengawasi seluruh dunia agar tidak ada satu pun yang berani mengganggu bidadari miliknya yang sedang sarapan.