Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Pagi di Mansion Dominic biasanya dimulai dengan denting alat makan perak dan aroma kopi yang mahal, namun pagi ini, kesunyian itu pecah oleh suara langkah terburu-buru di lorong lantai atas. Di dalam kamar mandi utama, Lyodra terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, wajahnya pucat pasi.
Rasa mual yang hebat menghantam lambungnya sejak ia membuka mata, membuat segala aroma bahkan aroma parfum maskulin Archello yang biasanya ia sukai—terasa menyesakkan.
Archello yang baru saja selesai mengenakan kemejanya langsung berhambur masuk. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kecemasan luar biasa. Ia berlutut di samping istrinya, memijat tengkuk Lyodra dengan lembut.
"Ay, ada apa? Apa sup herbal semalam tidak cocok untukmu?" tanya Archello, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran.
Lyodra hanya bisa menggeleng, ia mencoba berdiri namun dunianya terasa berputar. "Aku tidak tahu, Ello. Rasanya kepalaku sangat berat dan perutku... ugh."
Tanpa membuang waktu, Archello langsung menggendong Lyodra kembali ke tempat tidur dan memanggil dokter pribadi keluarga Dominic. Ia tidak peduli jika ia harus terlambat ke rapat pemegang saham; bagi Archello, kesehatan Lyodra adalah prioritas mutlak yang melampaui angka-angka di bursa efek.
Dokter Miller, pria paruh baya yang telah melayani keluarga Dominic selama puluhan tahun, keluar dari kamar dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Di ruang tengah, Archello sudah menunggu dengan gelisah, sementara Alexander dan Beatrice ikut memperhatikan.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa ini karena trauma masa lalu?" tanya Archello mendesak.
Dokter Miller terkekeh pelan sambil merapikan stetoskopnya. "Tenanglah, Tuan Muda. Ini bukan kabar buruk. Justru sebaliknya, ini adalah keajaiban yang luar biasa mengingat riwayat medis Nyonya Muda."
Archello mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Nyonya Muda Lyodra sedang hamil. Usianya baru sekitar empat minggu," lanjut Dokter Miller. "Mual-mual itu adalah hal yang wajar. Mengingat apa yang pernah terjadi empat tahun lalu, ini adalah rahim yang sangat kuat. Benih Anda tumbuh dengan sangat baik, Tuan Archello."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Archello. Ia mematung, lidahnya kelu. Rasa haru, bahagia, dan takut bercampur menjadi satu di dadanya. Setelah kehilangan bayi mereka dulu, tuhan seolah memberikan kesempatan kedua yang tidak pernah ia duga akan datang secepat ini.
Alexander langsung menepuk bahu putranya dengan bangga. "Selamat, Son. Kau akan menjadi seorang ayah."
Beatrice menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Oh Tuhan, cucu pertama kita..."
Namun, di sudut ruangan, Nenek Hera yang sejak tadi menyimak dengan wajah datar, perlahan berdiri. Ia tidak tersenyum. Baginya, berita ini bukan sekadar kebahagiaan, melainkan tugas protokol baru yang harus ia kendalikan sepenuhnya.
"Bagus," suara Hera terdengar dingin dan otoriter. "Pewaris Dominic akhirnya akan hadir. Namun, mulai detik ini, semua aturan di rumah ini berubah."
Hera melangkah mendekati Archello. "Karena dia sedang mengandung darah Dominic, maka Lyodra tidak boleh lagi bertindak semaunya. Tidak ada lagi berjalan-jalan di taman tanpa pengawasan. Tidak ada lagi makanan selain yang disetujui oleh tim ahli gizi yang akan ku panggil sore ini."
Archello menatap neneknya dengan tidak suka. "Nenek, biarkan dia tenang. Dia baru saja tahu kabar ini."
"Justru karena dia baru tahu, dia harus dididik!" sahut Hera tajam. "Mulai besok, dia dilarang menaiki tangga. Pasang lift di sayap kanan jika perlu. Dia tidak boleh mengenakan sepatu dengan hak lebih dari dua sentimeter. Dia tidak boleh meminum kopi, tidak boleh tidur terlalu larut, dan yang paling penting... kau, Archello, kau dilarang menyentuhnya secara fisik selama trimester pertama. Aku tidak ingin gairahmu yang tidak terkendali itu membahayakan cucuku."
Archello mendengus kesal. "Itu berlebihan, Nek."
"Berlebihan?" Hera menaikkan suaranya. "Kita sudah kehilangan satu nyawa dulu karena kecerobohan kalian! Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang. Lyodra akan berada di bawah pengawasanku dua puluh empat jam sehari. Dia harus mengikuti kelas meditasi, kelas nutrisi, dan dia dilarang keluar dari mansion tanpa izin tertulis dariku!"
Hera mulai mencatat di buku agendanya. "Tidak boleh ada parfum di lantai ini. Semua bunga lili harus diganti dengan bunga plastik yang tidak memiliki serbuk sari. Dan mulai hari ini, Lyodra harus tidur siang selama dua jam penuh, tidak boleh kurang satu menit pun!"
Archello segera masuk kembali ke kamar, di mana Lyodra sedang duduk bersandar di bantal dengan mata yang masih basah karena haru. Lyodra menatap suaminya dengan binar bahagia.
"Ello... kita akan punya bayi," bisik Lyodra.
Archello duduk di tepi ranjang, menarik Lyodra ke dalam pelukannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah istrinya itu terbuat dari porselen yang sangat rapuh. "Iya, sayang. Terima kasih... terima kasih sudah bertahan untukku."
"Tapi Ello, aku mendengar suara Nenek dari luar," Lyodra tampak cemas. "Apa benar aku tidak boleh melakukan ini dan itu? Aku merasa seperti narapidana di rumah sendiri."
Archello mencium kening istrinya dengan lembut, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Dengarkan aku, Ly. Nenek boleh mengatur protokol mansion, tapi dia tidak bisa mengatur kebahagiaanmu. Selama aku ada di sini, aku yang akan memfilternya. Jika kau ingin berjalan di taman, aku yang akan menemanimu. Jika kau ingin cokelat, aku yang akan membelikannya secara diam-diam."
Archello menggenggam tangan Lyodra, meletakkannya tepat di atas perut istrinya yang masih rata. "Aku pernah gagal menjaga kalian dulu. Tapi kali ini, aku bersumpah demi nyawaku... tidak ada satu orang pun, termasuk Nenek, yang akan membuatmu tertekan. Aku akan menjadi perisaimu, Ay."
Di luar kamar, Nenek Hera sudah sibuk memerintah para pelayan untuk memindahkan perabotan yang dianggap berbahaya, tanpa menyadari bahwa Archello sedang menyiapkan pemberontakan kecil demi menjaga senyum di wajah istrinya. Namun, di balik berita bahagia itu, bayangan Silas Cavanaugh masih mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kebahagiaan mereka dengan rahasia Oliver yang belum tuntas.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰