Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Makan Malam Yang Penuh Kepalsuan
Langit mulai berubah warna ketika Lisa akhirnya tiba di restoran yang telah ia pilih dengan sangat hati-hati.
Bukan restoran biasa.
Bukan tempat sederhana.
Melainkan restoran mewah dengan pencahayaan hangat, interior elegan, dan suasana yang tenang namun berkelas—tempat di mana setiap orang yang datang pasti ingin terlihat sempurna.
Dan malam ini…
Lisa memang ingin terlihat sempurna.
Ia melangkah masuk dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan lembut, dan riasan di wajahnya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuatnya terlihat memikat tanpa usaha.
Begitu ia masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya.
Namun Lisa tidak memedulikan perhatian itu dengan Langkahnya tetap tenang. Tatapannya lurus ke depan. Seolah ia adalah pusat dari dunia kecil itu.
Dan memang… malam ini ia yang memegang kendali.
Seorang pelayan mendekatinya dengan sopan.
“Selamat malam, Nona. Apakah Anda sudah melakukan reservasi?”
Lisa tersenyum tipis.
“Atas nama Lisa Yang.”
Pelayan itu langsung mengangguk hormat dan mengantarnya ke meja yang telah disiapkan di dekat jendela besar dengan pemandangan kota malam yang gemerlap.
Namun saat Lisa mendekat…
Ia melihat seseorang sudah duduk di sana.
Arvin.
Pria itu tampak tampan seperti biasa, mengenakan kemeja putih dengan jas gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, dan senyuman kecil muncul di bibirnya saat melihat Lisa.
Senyuman yang dulu membuat hati Lisa berdebar.
Sekarang…
Hanya membuatnya ingin tertawa.
“Lisa,” Arvin berdiri dan menarik kursi untuknya. “Kamu terlihat… luar biasa.”
Lisa menatapnya sejenak.
Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Arvin memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki.
Ada ketertarikan di sana.
Dan itu membuat Lisa semakin yakin.
Dulu Arvin memang tertarik padanya.
Tapi bukan karena cinta.
Melainkan karena nilai yang bisa ia dapatkan.
“Terima kasih,” jawab Lisa lembut sambil duduk.
Arvin ikut duduk di depannya.
Beberapa detik mereka saling menatap.
Suasana itu seharusnya terasa romantis.
Namun bagi Lisa…
Ini hanyalah panggung sandiwara.
“Kamu datang lebih cepat,” kata Lisa membuka percakapan.
Arvin tersenyum.
“Aku tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama.”
Lisa hampir tersenyum sinis.
Lucu sekali.
Di kehidupan sebelumnya, pria ini bahkan tidak peduli jika ia menunggu berjam-jam.
Namun sekarang ia sedang berusaha terlihat sempurna.
Lisa bersandar sedikit, memainkan gelas air di depannya dengan santai.
“Aku mengundang seseorang lagi,” katanya tiba-tiba.
Alis Arvin sedikit terangkat.
“Oh ya?”
Sebelum Lisa menjawab…
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Dan tanpa perlu menoleh, Lisa sudah tahu siapa itu.
“Maaf aku terlambat!”
Suara ceria itu terdengar sangat familiar.
Clara.
Lisa mengangkat wajahnya perlahan.
Dan di sanalah wanita itu berdiri.
Cantik seperti biasa, dengan gaun merah yang mencolok, senyuman manis, dan aura yang penuh percaya diri.
Namun di balik semua itu…
Lisa tahu betul siapa Clara sebenarnya.
“Clara,” Lisa tersenyum hangat. “Akhirnya kamu datang.”
Clara langsung mendekat dan memeluk Lisa seolah mereka adalah sahabat yang sangat dekat.
“Aku kangen banget sama kamu!” katanya manja.
Lisa membalas pelukan itu dengan santai.
Namun matanya terbuka, Dingin, Mengamati, Menghitung.
Setelah itu Clara duduk di samping Arvin.
Gerakan yang terlihat biasa… Namun bagi Lisa, itu adalah sinyal.Sinyal yang dulu tidak pernah ia sadari bahwa di balik itu semua ada Penghianatan di belakangnya.
“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Clara.
“Tidak juga,” jawab Arvin.
Lisa memperhatikan mereka berdua tanpa terlihat mencurigakan.
Cara Arvin melirik Clara.
Cara Clara tersenyum kecil ke arah Arvin.
Gerakan halus yang hanya bisa disadari oleh seseorang yang sudah tahu kebenarannya.
Dan sekarang…
Lisa melihat semuanya dengan sangat jelas.
“Senang ya bisa kumpul lagi seperti ini,” kata Clara sambil menatap Lisa.
Lisa tersenyum.
“Iya, aku juga merasa begitu.”
Namun di dalam hatinya…
Ia hanya berpikir satu hal.
Kalian memang pantas bersama.
Pelayan datang membawa menu.
Percakapan berlanjut dengan ringan.
Arvin berbicara tentang pekerjaannya.
Clara sesekali menimpali dengan tawa kecil.
Dan Lisa…
Lisa hanya memainkan perannya dengan sempurna.
Ia tertawa di saat yang tepat.
Ia tersenyum di saat yang tepat.
Ia berbicara dengan nada yang lembut dan hangat.
Seolah-olah ia masih wanita yang sama seperti dulu.
Namun perlahan…
Lisa mulai mengarahkan pembicaraan.
“Arvin,” katanya santai, “akhir-akhir ini kamu sering ke restoran ini ya?”
Arvin terlihat sedikit terkejut.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Lisa mengangkat bahu ringan.
“Tidak tahu. Rasanya seperti kamu sudah familiar dengan tempat ini.”
Clara yang sedang minum tiba-tiba berhenti sejenak. Sangat cepat. Hampir tidak terlihat.
Namun Lisa melihatnya.
Dan itu cukup.
Arvin tertawa kecil.
“Mungkin karena tempat ini memang bagus.”
Lisa mengangguk pelan.
“Benar juga.”
Ia tersenyum.
Namun senyuman itu memiliki arti lain.
Lisa tidak berhenti di situ.
Ia melanjutkan dengan santai.
“Ngomong-ngomong, Clara… kamu juga sering ke sini?”
Clara langsung tersenyum.
“Kadang-kadang.”
“Sendirian?” tanya Lisa.
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Namun suasana di meja tiba-tiba terasa sedikit berubah.
Clara tertawa kecil.
“Tidak juga. Kadang sama teman.”
Lisa mengangguk.
“Teman seperti Arvin?”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Seolah tanpa maksud.
Namun dampaknya…
Sangat jelas.
Arvin langsung menatap Lisa.
Clara juga terdiam beberapa detik.
Namun Lisa hanya tersenyum santai, seolah itu hanya candaan.
“Aku cuma bercanda,” katanya ringan.
Suasana kembali bergerak.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Ketegangan kecil yang mulai muncul di antara mereka.
Dan Lisa merasakannya dengan jelas.
Di dalam hatinya…
Ia tersenyum puas.
Ini baru awal.
Ia belum melakukan apa-apa yang besar.
Namun ia sudah berhasil membuat mereka tidak nyaman.
Membuat mereka waspada.
Dan itu…
Adalah langkah pertama yang sempurna.
Lisa menyandarkan tubuhnya dengan anggun.
Matanya menatap dua orang di depannya.
Satu adalah pria yang membunuhnya.
Satu lagi adalah sahabat yang mengkhianatinya.
Namun malam ini…
Mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi.
Lisa mengangkat gelasnya perlahan.
“Untuk pertemuan kita malam ini.”
Arvin dan Clara ikut mengangkat gelas mereka.
Gelas-gelas itu beradu pelan.
Suara kecil yang terdengar biasa…
Namun bagi Lisa…
Itu adalah tanda dimulainya permainan.
Dan kali ini…
Ia tidak akan kalah.