Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Mencurigai Sesuatu
Alea dan Raidan tampak bertemu di salah satu Restaurant. Raidan menemani Alea makan.
"Alea kenapa makanannya hanya diaduk-aduk saja? Kamu tidak berniat untuk memakannya?" tanya Raidan.
"Hah!" sahut Alea tampak murung.
"Kenapa? Aku tidak apa-apa sama sekali, aku baik-baik saja," jawab Alea terlihat gugup.
"Alea aku sangat mengenal kamu dan mana mungkin tidak ada yang kamu pikirkan, sementara wajah kamu tampak murung seperti itu. Hey ingat kamu sedang mengandung dan jangan sampai terjadi sesuatu pada bayi kamu," ucap Raidan mengingatkan.
"Iya Raidan," sahut Alea.
"Kalau begitu makanlah, jangan hanya dilihat saja seperti itu," ucap Raidan.
Alea kembali menganggukkan kepala. Alea harus melanjutkan makannya.
"Hmmmm, kamu kenal Monica sekretaris Mas Dharma?" tanya Alea tiba-tiba saja mengelap pembicaraan padahal lain.
"Iya, aku mengenalnya," jawab Raidan.
"Apa dia jika ikut bersama dengan Mas Dharma perjalanan bisnis?" tanya Alea.
"Hmmm, setahuku dia sudah tidak bekerja di perusahaan lagi. Monica dipindahkan ke cabang perusahaan yang berada di Singapura," jawab Raidan.
"Maksud kamu dia sudah tidak berada di Jakarta lagi?" tanya Alea memastikan memang buat Raiden menganggukkan kepala.
Alea sejenak terdiam seperti ada sesuatu yang telah dia pikirkan.
"Kenapa Alea?" tanya Raidan penasaran dengan ekspresi Alea.
"Raidan aku harus ke Singapura," ucap Alea tiba-tiba mengerutkan mengerutkan dahi.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke Singapura?" tanya Raidan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi saja," jawab Alea.
"Dalam keadaan hamil seperti ini?" tanya Raidan lagi.
"Aku sudah konsultasi dengan Dokter dan Dokter mengizinkan untuk terbang, asalkan aku benar-benar bisa menjaga kondisiku, tetapi Mama dan Papa tidak akan tahu begitu juga dengan Mas Dharma," jawab Alea.
"Tante Liana tidak akan tahu kepergian kamu dan begitu juga dengan Dharma?" Raidan bertanya untuk memastikan sekali lagi membuat Alea menganggukkan kepala.
"Kenapa seperti itu Alea?" tanya Raidan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin Mama dan Papa harus tahu, ada hal penting yang harus aku lakukan," jawab Alea.
"Ada apa sebenarnya Alea?" tanya Raidan.
Alea menggelengkan kepala tidak ingin memberitahu apapun yang sekarang ada di dalam pikirannya.
"Tidak mungkin tidak ada sesuatu jika kamu tiba-tiba saja ingin pergi ke Singapura dalam kondisi hamil muda seperti ini dan apalagi tidak ada yang mengetahuinya?" tanya Raidan.
"Tidak ada hal yang serius, aku memang hanya ingin pergi saja," jawab Alea.
Raidan menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan kemudian memegang kedua tangan Alea.
"Kamu tidak bisa bohong kepadaku, tidak mungkin tidak apa-apa dan sementara aku bisa melihat bagaimana wajah kamu memikirkan sesuatu hal yang berat, kamu menanyakan tentang Monica dan tiba-tiba ingin pergi ke Singapura," ucap Raidan.
"Aku hanya ingin memastikan agar tidak penasaran," jawab Alea.
"Tentang Dharma?" tebak Raidan.
Alea menganggukkan kepala jujur pada Raidan.
"Entahlah, perasaanku tiba-tiba tidak enak, daripada aku gelisah dan bertanya sendiri tanpa ada jawaban, lebih baik aku mencari tahu yang sebenarnya," jawab Alea.
"Baiklah, tetapi kamu tidak bisa pergi sendirian aku akan menemani kamu," ucap Raidan.
"Jangan! Itu hanya akan mendapat masalah saja. Mas Dharma melarang kita berdua untuk bertemu dan tiba-tiba saja kamu datang bersamaku, aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri dan bukan menambah masalah," ucap Alea menolak tawaran dari Dharma.
"Kamu benar-benar baik-baik saja dan bisa menghadapi semua ini sendiri?" tanya Raidan terlihat begitu ragu.
"Aku yakin, aku tidak punya pilihan lain dan memang sebaiknya aku harus mengurus semua ini sendiri dan aku janji aku akan baik-baik saja begitu juga dengan bayi yang aku kandung," ucap Alea mencoba meyakinkan Raidan.
"Baiklah kalau memang kamu sudah yakin akan berangkat sendirian, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan yang terbaik yang bisa menjaga diri," ucap Raidan.
"Lebih baik aku mematikan yang sebenarnya daripada aku terus penasaran," batin Alea.
******
Alea berada di kamarnya terlihat sedang siap-siap. Alea memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya. Tiba-tiba saja Alea berhenti melakukannya, wajah cantik itu kembali murung.
"Aku sudah memutuskan untuk pergi ke Singapura. Mas Dharma jika ke Luar Negeri tidak pernah mengatakan akan pergi ke Singapura dan aku selalu mengetahui dia pergi ke Singapura karena orang lain. Aku tidak mengerti mengapa Mas Dharma tidak meminta izin kepadaku dan harus berbohong?"
"Oke, sekali dua kali mungkin hanya kebetulan, tetapi ini sudah berkali-kali dan setiap pergi ke Luar Negeri dia jarang sekali menghubungiku bahkan tidak pernah,"
Alea sejak tadi tidak berhenti berbicara sendiri.
"Tetapi bagaimana jika aku pergi ke Singapura dan beliau kembali ke Jakarta. Ini akan menjadi masalah besar dan hal ini sangat sensitif. Mungkin saja beliau akan berpikiran bahwa aku mencurigainya," Alea memejamkan mata dengan menyibak rambutnya ke belakang.
Terlihat begitu bingung dengan keputusan apa yang harus diambil.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Alea kamu harus tenang dulu lah, kamu tidak boleh gegabah begitu saja, sebaiknya aku hubungi terlebih dahulu Mas Dharma," Alea mengambil keputusan dengan mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Dharma.
Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama menghubungi suaminya dan langsung tersambung.
"Ada apa sayang?"
Alea cukup kaget dengan sang suami yang mengangkat telepon itu cukup cepat.
"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Dharma.
"Hmmmm, iya mas," sahut Alea.
"Ada apa sayang?" tanya Dharma.
"Mas, bagaimana kabarnya dan aku sudah makan?" tanya Alea basa-basi.
"Sudah sayang, aku baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan rekan bisnis, kami melanjutkan dengan makan malam bersama," jawab Dharma.
"Begitu, syukurlah," sahut Alea.
"Lalu kapan, Mas pulang?" tanya Alea.
"Kamu sudah merindukanku ya sampai tidak sabar ingin menungguku pulang?" tanya Dharma.
"Mana mungkin tidak merindukan. Mas, bahkan tidak pernah memberi kabar sama sekali," jawab Alea.
"Iya-iya sayang. Maaf, ya, memang banyak sekali pekerjaan sampai lupa memberi kabar, tetapi kamu jangan khawatir aku baik-baik saja di sini dan aku juga mengetahui kamu baik-baik saja di sana karena Mama menghubungiku dan mengatakan Mama merawat kamu dengan baik," ucap Dharma.
"Iya. Mas, lalu Mas pulangnya kapan?" Alea bertanya kembali benar-benar ingin jawaban dari sang suami.
"Kemungkinan tiga hari lagi aku akan kembali ke Indonesia," jawab Dharma.
"Begitu," sahut Alea.
"Mungkin bisa lebih cepat juga bisa lebih lama tergantung bagaimana pekerjaan di sini, jika ada waktu aku kan terus menghubungi kamu," lanjut Dharma.
Alea sudah tidak merespon lagi apapun yang dikatakan suaminya itu.
"Ya sudah sayang, aku tetap teleponnya dulu ya. Kamu baik-baik di sana," ucap Dharma langsung mematikan telepon tersebut.
Alea bahkan tidak sempat banyak berbicara kepada suaminya itu.
Bersambung....