NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:174.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baik, Pak!

Abi melangkah menuju walk-in closet yang terletak di sudut kamar utama. Di sana, deretan kemeja kerja yang tersusun rapi berdasarkan warna, sebuah representasi visual dari kepribadiannya yang sistematis sebagai seorang Dosen, ia memilih kemeja slim-fit berwarna abu-abu arang dan celana bahan hitam.

​Setelah mandi kilat dan merapikan rambutnya dengan sedikit pomade, Abi menyempatkan diri menatap Shanum sekali lagi. Istrinya itu meringkuk memeluk guling yang ia letakkan tadi, tampak sangat kecil di tengah ranjang king size yang luas. Abi mengeluarkan secarik kertas dari laci nakas dan menuliskan pesan singkat.

​*Aku berangkat ke kampus, ada makanan di kulkas kalau kamu lapar, tinggal dipanaskan di microwave. Jangan keluar apartemen sendirian, tunggu aku pulang, nanti aku pulang jam 4, istirahatlah.

​Setelah itu, Abi meletakkan kertas itu tepat di meja yang ada di samping ranjang, lalu ia mengambil tas kerja dan kunci mobil.

Mobil Mercedes Benz milik Abi meluncur membelah kemacetan jalanan Kota Bandung menuju salah satu universitas ternama. Begitu memasuki gerbang kampus, suasana akademis yang kental menyambutnya, gedung-gedung tua dengan arsitektur kolonial yang kokoh berdiri bersandingan dengan laboratorium modern bernuansa industrial.

​Abi memarkirkan mobilnya di slot khusus dosen Fakultas Teknik. Begitu ia turun, sosoknya berubah menjadi Abi yang disegani, tegas, dingin dan sangat profesional. Kemeja abu-abu arangnya yang pas di badan serta langkah kakinya yang mantap di atas koridor lantai beton membuat beberapa mahasiswa yang berpapasan menyapa dengan sopan.

​"Pagi, Pak Abi," sapa seorang mahasiswi dengan nada segan.

​Abi hanya mengangguk tipis tanpa menghentikan langkah. Di fakultas ini, Abi dikenal sebagai Dosen tak tersentuh dan banyak yang takut padanya, ia mengampu mata kuliah Sistem Produksi dan Ergonomi Industri, dua mata kuliah yang menjadi momok bagi mahasiswa semester atas.

​Langkah kakinya membawanya masuk ke ruang Dosen, ruangan tersebut bernuansa teknis dengan tumpukan jurnal internasional dan maket sistem pabrik di beberapa sudut. Ia duduk di meja kerjanya yang sangat rapi, hanya ada laptop, satu buku agenda kulit hitam dan sebuah pulpen.

​"Baru sampai, Pak Abi? Tumben agak mepet jam sebelas," ucap Pak Broto, rekan Dosen senior yang mejanya berseberangan.

​"Iya, Pak. Tadi ada urusan sedikit," jawab Abi singkat sembari menyalakan laptopnya, ia tidak terbiasa berbagi urusan pribadi di lingkungan kerja.

​Tepat pukul sebelas, Abi melangkah masuk ke dalam ruang aula kuliah yang besar, suasana yang tadinya bising oleh obrolan mahasiswa seketika senyap saat sosok Abi berdiri di depan podium.

​"Selamat siang semuanya, buka modul bab 7 mengenai Just-In-Time. Hari ini kita akan membahas bagaimana efisiensi waktu menjadi variabel paling krusial dalam rantai pasok," suara Abi menggema rendah namun tegas melalui pengeras suara.

​Di atas podium, Abi adalah penguasa materi. Ia menjelaskan diagram alir yang rumit dengan sangat lancar, jemarinya lincah menggoreskan rumus-rumus optimasi di papan tulis digital.

Selesai menuliskan rumus terakhir di papan tulis digital, Abi meletakkan stylus pen miliknya dan pandangannya menyapu seisi aula, menatap deretan mahasiswa yang tampak mengembuskan napas lega karena sesi materi yang padat itu akhirnya berakhir.

​"Kita lanjutkan pembahasan simulasi antrean di pertemuan minggu depan, pastikan tugas kelompok sudah diunggah ke portal sebelum jam delapan malam ini. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan," ucap Abi dingin sambil melirik jam tangan peraknya yang menunjukkan tepat pukul dua belas.

​"Baik, Pak!" jawab para mahasiswa serempak.

​Abi membereskan laptop dan buku agendanya dengan gerakan yang rapi. Saat ia melangkah keluar dari aula, koridor kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang berhamburan menuju kantin atau masjid untuk salat zuhur.

Namun, baru saja Abi masuk ke dalam ruangan Dosen tiba-tiba beberapa mahasiswa tingkat akhir yang merupakan anak bimbingannya masuk.

Tiga mahasiswa tingkat akhir itu merasa gugup saat netra tajam Abi menatap mereka satu per satu, salah satu dari mereka yang memegang draf skripsi tebal dengan sampul biru dan tampak menelan ludah dengan susah payah, suasana koridor yang bising seolah membeku di sekitar meja kerja Abi.

​"Maaf, Pak Abi... kami hanya ingin menanyakan progres bab empat yang sudah Bapak koreksi," ucap mahasiswa itu pelan.

​Abi melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.15, "Ini jam istirahat, saya tidak melayani bimbingan di luar jam yang sudah ditentukan di kontrak belajar," jawab Abi dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya yang sedang memproses data.

​"Tapi Pak, kami sudah menunggu dari jam sepuluh tadi...," ucapan mahasiswa tersebut terhenti lantaran Abi yang bersuara.

​"Menunggu bukan alasan untuk melanggar aturan waktu," potong Abi telak.

Setelah itu, Abi menutup laptopnya, "Istirahat adalah hak saya sebagai manusia, dan disiplin adalah kewajiban anda sebagai calon sarjana teknik, temui saya pukul satu nanti setelah istirahat. Terlambat satu menit, silakan pulang," ucap Abi.

"Baik, Pak. Sekali lagi, kami minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat, Bapak," ucap mahasiswa tersebut, dan Abi hanya mengangguk sebagai jawaban.

Setelah itu, ketiga mahasiswa tersebut pun keluar dari ruangan Dosen. "Gila, kok gue bisa dapat Dosbim Pak Abi sih," keluh mahasiswi bernama Ranti.

"Ya mau gimana lagi, kita kalah cepet. Tau sendiri kan kalau Dosen Pembimbing itu harus cepet-cepetan soalnya kuotanya itu cuma 5 mahasiswa per-dosen dan pas banget semua Dosen udah penuh kecuali Pak Abi, akhirnya mau nggak mau ya pilih Pak Abi," ucap Frans.

"Gapapa, nikmati aja. Walaupun Pak Abi galak, tegas dan nakutin. Tapi, terbukti kan pas sidang proposal waktu itu kita bisa jawab pertanyaan Dosen penguji dengan mudah, bahkan revisi aja jarang soalnya udah di revisi sama Pak Abi duluan. Jadi, nanti pas sidang akhir bisalah kita tanpa revisi," ucap Putri.

"Iya juga sih, ayo semangat! Tinggal dikit lagi perjuangan kita," ucap Ranti.

Tepat pukul 1 siang, pintu ruangan Dosen diketuk pelan, tak lama kemudian Ranti, Frans dan Putri masuk ke dalam ruangan Dosen, lebih tepatnya ke meja Abi yang berada di ujung. Saat ini, mereka begitu gugup, karena di ruangan tersebut masih ada beberapa Dosen fakultas teknik.

Abi memberikan isyarat bisu agar ketiga mahasiswanya duduk dan suasana seketika menjadi tegang, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan denting jemari Abi yang mengetuk permukaan mejanya.

Padahal di sana masih ada beberapa Dosen, namun ruangan tersebut begitu tenang dan damai hingga suara helaan napas Abi pun terdengar.

"Letakkan draf kalian di atas meja, kita mulai dari Frans," ucap Abi datar.

.

.

.

Bersambung.....

1
bunda DF 💞
kasian shanum
Neng Tuti
udah mah tetangga nya gitu eeh ortunya pun sama bukannya ngasih dukungan ini mah malah sama saja kan jodoh mah urusan allah
rinny
pinginki kirim santet online deh ke ibunya shanum bikin emosi aja 😄😄
rinny
dulu aku juga gitu umur 25 belum nikah, kalau bapak santai tapi ibu juga khawatir karena semua teman sudah pada nikah Ndak punya anak. sampai di tanyakan ke orang pintar. ya mau GI mana lagi emang belum ada jodoh tapi Alhamdulillah di umur hampir 26 di kenalkan sama teman kerja pdkt cuma 3 bulan langsung nikah. Alhamdulillah dapat suami yg sabar, pekerja keras, ibadahnya juga bagus.
Indriani Kartini
Alhamdulillah bang Abi rejekimu ga akan. kurang , karena bang Abi dah mau merawat ank yatim,
Dian Winda
aku yg baca tp aku jg yg cengar cengir 🤭
Indriani Kartini
ah beruntungnya sanum punya Abang Abi, buah dri kesabaran sanum
Nadia Zalfa
lanjut cerita adiknya shanum dong kak...cerita diva
Ebhot Dinni
ceritanya bagus
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
・゚・ Mitchi ・゚・
ditunggu thor ❤
Ladyicha Haruna
Buatlah Shanum berani membela dirinya banyak banyak..jangan jadi manja jadi perempuan
Yuliana Tunru: smoga s3jua badai akan berlalu ..pandu mana ya apa dia tdk cari2 ibu x lagi atau jg sdh tqu kejahatan ihu x pd ahanum diva jg gmn kabar x apa tdk hadir saat sukuran rmh dan kandungan shanum
total 1 replies
Nasiati
mendingan keluar dr rumah shanum
Ha Liyah
kenapa akhir-akhir ini updatenya cuma 1 episode doang thor?
Rea
b
Rea
weslah num, num gemes, mbok yao jangan terus jadi beban suami, kali kali dibuat pinter lah Thor, setidaknya jadi perempuan kuat, untuk dirinya.
Putri Anghita Tera Vita
please lah ko shanum kee cewek lemah banget
Yuliana Tunru
astaga ketemu gea lagi ,yg mukut x kyk racun ayo abi ini kecoak2 yg hrs kaku basmi buat shanum
Ladyicha Haruna
jangan terlalu gambar kan shanum wanita lemah...pantas memang ditindas .dan rasanya enak memang menindas dia..tidak ada perlawanan hanya andalkan orang...bagaimana mau besarkan anak di kejamnya persekolahan🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulut Gea minta di tabok pake bakiak nih ..😡
𝐈𝐬𝐭𝐲
dia bilang anak durhaka dia gak sadar kalo dirinya adalah ibu yg durhaka dan biadab👿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!