Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kosongkan
Gion bersimpuh di lantai marmer yang dingin, jari-jarinya mencengkeram pinggiran meja seolah-olah itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh lebih dalam ke dasar jurang. Surat cerai itu masih tergeletak di sana. Tanda tangannya di atas kertas itu tampak seperti garis kematian bagi masa depannya.
Hening. Rumah yang biasanya bising dengan perintah Mama Ratih atau tawa sombong mereka kini terasa seperti kuburan mewah.
Pandangan Gion kosong, namun memorinya justru berputar liar ke belakang. Lima tahun lalu. Ia ingat betul pertama kali melihat Laila di sebuah perpustakaan kampus. Laila, gadis blasteran Arab-Indonesia yang kecantikannya sulit didefinisikan dengan kata-kata. Hidungnya yang mancung sempurna, matanya yang besar dengan bulu mata lentik yang tajam, serta rambut hitam lurus yang panjangnya mencapai pinggang.
"Kenapa aku bisa lupa betapa cantiknya dia saat itu?" bisik Gion parau pada dirinya sendiri.
Dulu, Laila adalah segalanya. Selama lima tahun pernikahan, karier Gion melesat bak roket. Setiap kali proyeknya buntu, tiba-tiba ada investor misterius yang masuk. Setiap kali ia butuh modal, bank seolah memberi jalan merah. Gion dulu sombong, ia pikir itu semua karena kemampuannya. Dia pikir dia adalah "Raja Midas" yang menyentuh apa pun menjadi emas.
Sekarang ia sadar, bukan dia pelakunya. Tapi doa—atau mungkin kekuatan tersembunyi—dari wanita yang setiap hari ia maki di rumah ini.
Gion berdiri dengan kaki gemetar. Ia berjalan gontai menuju kamar mereka—kamar yang sudah berbulan-bulan tidak ia tiduri karena ia lebih memilih apartemen Sarah. Ia membuka pintu kayu jati itu. Wangi vanila lembut khas Laila masih tertinggal tipis, seolah mengejeknya.
Ia melangkah menuju meja rias Laila. Matanya memanas saat melihat pemandangan di depannya. Tidak ada botol-botol kaca mahal dari merek ternama. Tidak ada serum seharga jutaan rupiah seperti milik Sarah.
Di sana hanya ada satu wadah pelembap wajah murah yang isinya sudah tinggal sedikit, dan sebuah lipstik yang sudah hampir habis, hingga alasnya terlihat.
"Harganya bahkan tidak sampai seratus ribu," gumam Gion, suaranya pecah. "Aku membelikan Sarah tas ratusan juta, tapi istriku sendiri... dia memakai ini?"
Ia kemudian membuka lemari pakaian Laila. Tangannya bergetar saat menyentuh gantungan baju. Isinya hampir semua adalah daster-daster katun tipis, pemberian Mama Ratih. Ia ingat Mama Ratih sering berkata, "Pakai ini saja Laila, biar cepat hamil. Mama ingin cucu, jangan dandan terus, boros uang Gion saja!"
Laila menurut. Tanpa bantahan. Tanpa meminta baju baru. Tanpa menuntut skincare mahal. Dia adalah putri pemilik Sinar Pradipta, tapi dia hidup seperti pelayan di rumah ini demi cintanya pada Gion.
"Bodoh... aku benar-benar bodoh," raung Gion sambil memeluk daster lusuh itu. "Dia memegang dunia di tangannya, tapi dia memilih untuk menggenggam tanganku yang kotor ini. Dan aku malah melepaskannya."
Sementara itu, di sebuah restoran Italia yang privat dan elegan, suasana sangat kontras dengan kehancuran di kediaman Wijaya. Cahaya lilin berpendar lembut, memantul di gelas kristal berisi air mineral berkualitas tinggi.
Zayn duduk di depan Laila, menatap wanita itu dengan binar yang tidak bisa ia sembunyikan. Laila tampak berbeda malam ini. Ia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang membuat kulitnya terlihat bersinar.
"Kau melamun, Queen," tegur Zayn lembut.
Laila tersentak kecil, lalu tersenyum tipis. "Hanya terpikir sesuatu. Ternyata benar kata orang, kita baru tahu harga sesuatu saat kita kehilangannya. Tapi bagi Gion, dia baru tahu harga 'sesuatu' itu saat sesuatu itu datang kembali untuk menagih hutang."
Zayn terkekeh, memotong steak-nya dengan gerakan elegan. "Lupakan si Gion itu. Dia sudah jadi sejarah. Bagaimana rasanya kembali ke kantor pusat hari ini? Staf di sana hampir pingsan saat tahu putri tunggal Pak Pradipta yang hilang ternyata adalah wanita yang selama ini hanya mereka dengar namanya."
Laila menyesap minumannya. "Sedikit canggung. Mereka terbiasa melihatku sebagai 'Laila yang sederhana'. Sekarang mereka harus memanggilku 'Ibu Direktur Utama'. Tadi ada sekretaris yang gemetar saat mengantarkan kopi."
"Wajar saja. Kau punya aura yang menakutkan kalau sedang diam," goda Zayn.
"Oh ya? Menakutkan atau berwibawa?"
"Keduanya. Tapi bagiku, kau tetap Laila yang suka mencuri kentang gorengku saat kita masih remaja," Zayn mengedipkan mata.
Laila tertawa lepas. Suara tawa yang selama lima tahun ini tertahan di tenggorokan karena tekanan Mama Ratih. "Zayn, terima kasih ya. Kalau bukan karena kau yang menjemputku hari itu saat aku sudah pasti tak ada lagi. Di depan gerbang setelah diusir, mungkin aku masih luntang-lantung."
Zayn meletakkan garpunya, wajahnya berubah serius. "Laila, dengar. Aku tidak hanya menjemputmu. Aku sudah menunggumu selama lima tahun. Menunggu saat kau sadar bahwa tempatmu bukan di sana. Pak Pradipta sudah menitipkanmu padaku sejak lama, tapi dia ingin kau belajar tentang hidup lewat pilihanmu sendiri."
Laila menatap mata Zayn. Ada ketulusan yang murni di sana. "Papah memang keras kepala. Dia membiarkanku menderita hanya untuk membuktikan bahwa Gion bukan pria yang baik."
"Dan Papahmu benar, kan?"
"Sangat benar. Sampai-sampai aku merasa ingin memukul diriku sendiri kalau ingat aku pernah menangis hanya karena Gion tidak pulang ke rumah."
Zayn meraih tangan Laila di atas meja, mengelusnya perlahan dengan ibu jari. "Jangan dipukul. Sayang pipinya, nanti merah. Lebih baik sekarang kita fokus pada masa depan. Sinar Pradipta butuh pemimpin yang punya hati, tapi juga punya taji. Dan kau punya keduanya."
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya untuk keluarga Wijaya?" tanya Laila, matanya berkilat nakal.
"Rumah itu akan dikosongkan besok jam sepuluh pagi. Aku sudah menyewa truk sampah untuk mengangkut sisa-sisa barang mereka jika mereka tidak pergi tepat waktu," jawab Zayn santai.
Laila tersenyum puas. "Jangan lupa Sarah. Aku ingin dia melihat Gion jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku ingin tahu, apakah 'cinta sejati' yang mereka agungkan itu tahan terhadap kemiskinan."
"Sarah sudah mulai menjauh, Laila. Tadi sore mata-mataku bilang dia terlihat di sebuah klub malam dengan pria lain. Gion bahkan belum resmi keluar dari rumahnya, tapi dia sudah digantikan."
Laila menggelengkan kepala, merasa ironis. "Gion membuang berlian demi kerikil, dan sekarang kerikil itu pun hilang terbawa arus."
Keesokan paginya, pukul 09.00.
Gion terbangun di atas lantai ruang tamu. Tubuhnya pegal, matanya bengkak. Mama Ratih sedang sibuk memasukkan tas-tas bermereknya ke dalam koper dengan terburu-buru sambil terisak.
"Gion! Ayo bangun! Kita harus pergi! Orang-orang berjas hitam itu akan kembali satu jam lagi!" teriak Mama Ratih histeris.
"Pergi ke mana, Ma? Kita tidak punya uang. Rekeningku dibekukan," ucap Gion datar.
"Ke rumah tantemu! Atau ke mana saja! Mama tidak mau diseret keluar seperti gelandangan!"
Tiba-tiba, suara klakson mobil mewah terdengar dari luar. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan teras. Pintu terbuka, dan Laila turun dari sana. Kali ini, ia tidak memakai daster. Ia memakai setelan blazer putih yang sangat mahal, kacamata hitam, dan sepatu hak tinggi yang bunyinya mengetuk lantai dengan penuh otoritas. Di sampingnya, Zayn berjalan dengan protektif.
Gion berlari ke arah pintu. "Laila! Laila, tolong! Maafkan aku! Kita bisa mulai lagi dari awal, kan? Aku janji akan berubah!"
Laila berhenti tepat di depan Gion. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, menatap pria yang dulu ia puja itu dengan tatapan jijik.
"Mulai dari awal?" Laila tersenyum miring. "Gion, kamu bahkan tidak sanggup membeli lipstik yang layak untukku selama lima tahun. Sekarang, kamu mau mulai dari awal dengan apa? Dengan hutang-hutangmu?"
"Aku mencintaimu, Laila!" seru Gion putus asa.
Laila tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat elegan namun menyakitkan. "Kamu mencintai fasilitas yang aku berikan tanpa kamu sadari, Gion. Kamu mencintai keberuntungan yang datang karena aku ada di sisimu. Sekarang, keberuntungan itu pergi bersamaku."
Laila menoleh pada Zayn. "Zayn, tolong panggil petugas kebersihan. Aku ingin rumah ini disemprot disinfektan setelah mereka pergi. Aku tidak mau ada sisa-sisa bau pengkhianatan di sini."
Zayn mengangguk sambil menahan senyum. "Siap, Ibu Direktur. Truk pengangkut sudah di depan."
Gion terjatuh di depan kaki Laila, mencoba meraih ujung pakaiannya, namun Zayn dengan sigap menghalangi.
"Waktunya habis, Gion," ucap Zayn dingin. "Silakan keluar sebelum kami menggunakan cara kasar."
Mama Ratih keluar sambil membawa dua koper besar, wajahnya pucat pasi melihat Laila yang sekarang tampak seperti ratu. "Laila... menantuku sayang..."
"Saya bukan menantu Anda, Nyonya Ratih. Saya adalah pemilik baru dari semua yang Anda sentuh saat ini," potong Laila tajam. "Dan tolong, tinggalkan tas-tas itu. Itu semua dibeli dengan uang perusahaan yang Gion selewengkan. Itu adalah aset sitaan."
Mama Ratih menjerit saat petugas keamanan mengambil koper-kopernya. Gion hanya bisa melihat dengan tatapan kosong saat Laila dan Zayn berjalan masuk ke dalam rumah, melewati mereka seolah-olah mereka hanyalah debu yang mengganggu pemandangan.
Di bawah terik matahari, Gion dan Mama Ratih berdiri di pinggir jalan, hanya membawa pakaian yang melekat di tubuh. Gion melihat ponselnya. Ada satu pesan dari Sarah: 'Jangan cari aku lagi. Kita sudah berakhir. Cari saja istrimu yang kaya itu.'
Gion tertawa gila. Ia menatap ke arah balkon lantai dua, di mana Laila dan Zayn berdiri berdampingan, melihat ke arah masa depan yang cerah, sementara ia tenggelam dalam kegelapan yang ia buat sendiri.
"Selamat tinggal, istriku," bisik Gion lirih, namun ia tahu, Laila bukan lagi burung kecil yang bisa ia kurung. Laila adalah elang yang kini terbang tinggi di atas langit, jauh dari jangkauannya untuk selamanya.