NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbelah

Menara hitam itu bergetar saat batu memori Adam diletakkan di atas altar obsidian. Cahaya biru yang mengalir di dinding menara mendadak berubah menjadi putih menyilaukan, dan suara dengungan yang sangat rendah frekuensi yang bisa dirasakan di tulang sumsum mulai memenuhi udara. Liora melangkah mundur, matanya perih menatap altar tersebut. Ia merasa sebagian dari jiwanya baru saja dicabut.

"Dia sudah menyatu dengan sistem," suara pria berjubah perak itu terdengar lebih berat, lebih otoriter. Ia tidak lagi menatap Liora dengan empati, melainkan dengan ketertarikan seorang ilmuwan yang sedang mengamati spesimen sukses.

"Kenapa atmosfernya belum stabil?" tanya Liora, suaranya parau. Ia menatap layar monitor di lengan bajunya. Angka-angka kadar oksigen global masih menunjukkan tren menurun. "Kau bilang pengorbanan Adam akan menghentikan Protokol Kiamat!"

Pria itu tersenyum tipis. "Protokol Kiamat adalah istilah yang relatif, Liora. Bagi bumi, 'Kiamat' adalah keberadaan manusia yang tidak teratur. Bagi kami, keselamatan adalah keteraturan yang mutlak. Dengan memori Adam, kami tidak menghentikan kebocoran frekuensi... kami sedang mengarahkannya."

Liora membeku. Rasa dingin yang lebih tajam dari es Antartika menjalar di punggungnya. "Maksudmu... kau berbohong?"

"Kami adalah Unit 731 yang sesungguhnya, Liora. Bukan mereka yang di Bulan yang haus kekuasaan rendahan, bukan mereka yang di Nevada yang haus kehancuran. Kami adalah para arsitek yang merancang evolusi. Kami butuh 'Emosi Adam' yang murni untuk melunakkan kekakuan algoritma kami, agar 'The Silence' nanti tidak membunuh manusia, tapi membuat mereka patuh tanpa rasa sakit."

Liora menghunuskan pisaunya, tapi para penjaga berjubah transparan itu segera mengepungnya. Perisai mereka memancarkan gelombang penolak yang membuat Liora terpental ke dinding menara.

"Liora... jangan percaya... penglihatannya..."

Suara itu! Bukan dari batu, tapi dari dalam dadanya sendiri. Adam tidak benar-benar hilang; ia telah meninggalkan "salinan residu" di dalam aliran darah Liora sejak mereka bersentuhan di Sektor Zero.

"Adam?" bisik Liora sambil berusaha berdiri.

"Tempat ini... ini bukan Lerian yang suci... ini adalah laboratorium pemrosesan jiwa terakhir... mereka menggunakan alibi 'benua hilang' untuk menarikmu ke sini. Hancurkan altar itu, Liora! Jangan biarkan mereka memancarkan resonansi ini!"

Liora menyadari bahwa semua yang ia lihat sejak mendarat di pulau ini adalah Halusinasi Frekuensi. Menara yang nampak agung itu sebenarnya adalah struktur pemancar raksasa yang sudah berkarat namun sangat kuat. Sosok pria berjubah perak itu perlahan mulai nampak aslinya di mata Liora: seorang cyborg tua dengan kabel-kabel yang terhubung ke dinding, sisa-sisa terakhir dari dewan eksekutif Unit 731 yang asli yang telah memindahkan kesadaran mereka ke pulau ini ribuan tahun lalu.

"Kau hanyalah parasit tua yang bersembunyi di bawah laut!" teriak Liora.

Ia melepaskan granat termit yang tersisa di sabuknya, namun bukan ke arah penjaga, melainkan ke arah tangki pendingin yang berada di bawah altar. Ledakan api hijau menyembur, memutus aliran energi ke altar obsidian.

Cahaya putih itu berkedip-kedip. Resonansi di ruangan itu menjadi tidak stabil. Suara teriakan jutaan jiwa yang terperangkap dalam sistem mulai terdengar melalui speaker menara.

"Hentikan dia! Dia menghancurkan harmoni!" teriak si Pria Perak, yang kini wajahnya mulai nampak seperti logam yang meleleh.

Liora menerjang ke arah altar, tangannya terbakar oleh energi statis saat ia mencoba merenggut kembali batu memori Adam. "Aku tidak akan membiarkanmu mengubah manusia menjadi mesin tanpa perasaan!"

Saat tangannya menyentuh batu itu, sebuah ledakan informasi menghantam otak Liora. Ia melihat koordinat terakhir Bahtera Bulan yang jatuh. Ternyata, Bahtera itu tidak hancur; ia sengaja dijatuhkan ke arah pulau ini sebagai bom kinetik untuk memicu ledakan frekuensi yang akan menyebar ke seluruh dunia.

"Hendrawan! Kau dengar aku?!" Liora berteriak ke komunikatornya di tengah kekacauan.

"Liora! Bahtera dari Bulan itu tidak jatuh! Dia sedang bermanuver di bawah laut! Dia menuju tepat ke koordinatmu! Jika mereka bertabrakan dengan menara itu, seluruh bumi akan terkena ledakan MP biologis!"

"Berapa lama lagi?"

"Lima menit! Liora, kau harus keluar dari sana!"

Liora berhasil menarik batu itu, namun pilar cahaya di menara sudah mulai memancarkan sinyal pertama ke atmosfer. Di langit, awan mulai berputar membentuk pusaran raksasa yang nampak seperti mata badai yang gelap.

Liora melihat ke arah pria perak yang kini merayap di lantai, mencoba menyambung kembali kabel-kabelnya. "Kalian selalu punya alibi untuk setiap kejahatan kalian. Tapi hari ini, sejarah kalian berakhir di sini."

Liora melompat keluar dari menara, berlari menuju pesawatnya di bawah hujan batu dan uap laut yang mendidih. Di belakangnya, ia melihat bayangan hitam raksasa muncul dari dalam laut Bahtera Exodus yang rusak namun masih mematikan, melesat naik seperti ikan paus besi yang gila, menabrakkan diri tepat ke jantung menara hitam tersebut.

Ledakan yang terjadi bukan api. Itu adalah ledakan biru yang menghapus semua warna di cakrawala.

Liora memacu pesawatnya dengan kecepatan maksimal, namun gelombang kejut itu tetap menghantamnya, membuat pesawatnya terpelanting di atas laut yang bergolak. Di tengah kegelapan yang menyusul, Liora merasakan batu di tangannya menjadi hangat.

"Liora... kita berhasil... tapi alibi terakhir baru saja terbuka."

"Apa maksudmu, Adam?"

"Lihatlah ke bawah... ke dasar laut yang terbelah."

Dari balik air yang surut akibat ledakan, Liora melihat sebuah jalan setapak dari emas yang membentang menuju sebuah gerbang yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia lihat. Gerbang itu bertuliskan sebuah tanggal: Februari 2026.

Pembaca kini menyadari satu hal yang mengguncang: Semua perang ini, dari Singapura hingga pulau ini, hanyalah ritual untuk membuka gerbang menuju dimensi lain yang seharusnya tetap tertutup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!