Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta vs Imajinasi
"Kenapa lo sabotase wawancara gue?" tanya Andrean pada Alena, kesal.
"Sabotase? Lo tau arti kata sabotase nggak sih? Ini bukan sabotase namanya. Kolaborasi," jawab Alena.
"Kolaborasi? Sejak kapan gue mau kolaborasi sama lo?" kata Andrean, semakin kesal.
"Diiih! Gue juga ogah. Karena kepepet aja tadi. Lo wawancara lama banget, terpaksa gue masuk," kata Alena.
"Hah?!"
"Gue udah sampe dari tadi. Cuma, gue berbaik hati ngasih lo ruang dan waktu duluan. Nggak taunya malah seabad nggak selesai-selesai," komplain Alena pada Andrean.
"Ngasih gue ruang dan waktu duluan? Asal lo tau ya, gue udah hubungin pihak HighTech dari tiga hari yang lalu. Tapi lo? Lo dengan santainya main serobot aja tanpa ada notifikasi maupun konfirmasi dari pihak HighTech," kata Andrean membela diri.
"Apa lo bilang? Tanpa ada notifikasi? Konfirmasi? Gue udah minta waktu secara langsung ke Mas Darrel kemarin dan dia nyuruh gue dateng KESINI, HARI INI, JAM SEMBILAN. Paham? Jadi, gue bukan nyerobot. Sorry. Nggak level," kata Alena emosi.
"Kemarin? Ke Mas Darrel langsung? Hh, nggak mungkin," sanggah Andrean tak percaya.
"Buktinya dia langsung manggil gue pas gue dateng," kata Alena, sombong.
"Te..."
"Gaaeeess~" sela Roni.
"Apa?!" kata Andrean dan Alena bersamaan.
"Bisa nggak, kita pindah tempat berantem dulu? Disini mengganggu ketenangan publik," kata Roni, membuat Andrean dan Alena melihat ke sekeliling cafe.
Mereka tak sadar, perdebatan mereka mengalahkan debat calon presiden dan menjadi tontonan pengunjung cafe. Andrean dan Alena hanya bisa meringis dan membungkuk, meminta maaf kepada para pengunjung cafe, lalu keluar. Roni menghela nafas panjang, lega akhirnya bisa menghentikan perdebatan sengit itu —untuk sementara.
"Urusan kita belum selesai," kata Andrean saat Alena hendak melenggang pergi meninggalkan cafe. Alena menghela nafas panjang lalu berbalik, menoleh ke arah Andrean.
"Sorry. Gue nggak ada urusan sama lo," kata Alena lalu berjalan pergi meninggalkan Andrean dan segala kemarahannya.
Rahang Andrean mengeras. Tangannya mengepal menahan emosi dan kebenciannya pada Alena
'Liat aja. Artikel siapa yang bakal dimuat nanti,'
***
Sudah tiga jam lebih Andrean menatap layar komputernya. Namun, Andrean hanya berhasil menuliskan satu paragraf pembuka untuk artikel hasil wawancara dengan Darrel. Dia menatap nanar notes kecil di atas meja.
Notes yang biasa penuh dengan coretan hasil wawancara, saat itu kosong. Dia tidak berhasil mencatat apapun. Bahkan satu katapun! Andrean kini menatap paragraf hasil kerja kerasnya selama tiga jam ini. Sama sekali bukan gaya penulisan khas dirinya yang biasa. Tulisannya sama sekali tak menarik minat baca.
Andrean menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Dia menengadah menatap langit-langit kantor redaksi seperti sedang mencari jawaban disana. Tak lama kemudian, bunyi keyboard Andrean kembali terdengar.
Sementara itu, Alena baru saja memasuki kantor redaksi dan duduk di kursi kerjanya saat Pak Indra memanggilnya.
"Alena!" panggil Pak Indra dari meja kerjanya yang berjarak kira-kira lima meter dari meja kerja Alena.
"Siap, Pak," kata Alena, lalu beranjak menuju meja Pak Indra.
"Jangan lupa, artikel yang kamu janjikan," kata Pak Indra, dengan nada dingin dan datar seperti biasa.
"Oh... Itu... Tenang, Pak. Sebelum besok, pasti udah siap," kata Alena santai. Pak Indra mengangguk.
"Baiklah kalo begitu. Segera siapkan," kata Pak Indra.
"Beres, Pak," kata Alena lalu kembali ke mejanya untuk segera bekerja.
"Robot jurnalistik sedang dalam mode kerja rupanya," celetuk Alena saat melewati meja Andrean.
Andrean masih terpaku pada komputernya. Dia hanya diam. Dia sedang tak punya waktu untuk berdebat dengan Alena saat ini.
Alena segera mengikat rambut panjangnya yang bergelombang dan mulai menulis artikel hasil wawancaranya dengan Darrel. Jari jemari Alena dengan luwes menari diatas keyboard. Berbeda dengan Andrean yang sesekali memijat kedua matanya karena lelah berpikir, Alena justru terlihat tanpa beban menulis hasil wawancara yang menurut Andrean absurd.
"Done!" kata Alena setelah dua jam mengetik tanpa henti. Andrean melongok ke arah Alena yang terlihat tersenyum puas sambil menatap layar komputer di hadapannya.
'Apa yang dia tulis?'
***
Andrean dan Alena kini berada di hadapan Pak Indra. Mereka menyerahkan artikel hasil wawancara dengan Darrel. Pak Indra membaca artikel keduanya dengan seksama. Berbeda dengan Andrean yang terlihat lesu dan kehabisan tenaga setelah kurang lebih empat jam menyusun hasil wawancara, Alena terlihat tersenyum puas dengan hasil kerjanya.
"Andrean, coba kamu baca artikel milik Alena," kata Pak Indra sambil menyerahkan hasil tulisan Alena. Andrean dengan ragu-ragu meraih kertas yang diserahkan Pak Indra, lalu membacanya. Mata Andrean yang lesu, terbelalak seketika saat membaca tulisan Alena.
Darrel Bramastya Wijaya, CEO Muda di balik Penemuan diluar Nalar
Kita pasti sudah tak asing lagi dengan aplikasi anti distraksi keluaran HighTech. Siapa sangka jika aplikasi itu tercipta dari hasil patah hati sang CEO, Darrel Bramastya Wijaya? Pria berusia 32 tahun itu mulai merintis HighTech dari tahun 2020, saat pandemi COVID-19 tengah merajai seluruh dunia. Bukan tanpa alasan, di tahun yang sama pula, Darrel mengalami patah hati hebat akibat putus cinta.
Bukan tenggelam dalam kesedihan seperti kebanyakan pria muda lainnya, Darrel justru mengalihkan segenap pikirannya untuk menciptakan sesuatu yang berguna —khususnya bagi dirinya sendiri. Ya. Aplikasi anti distraksi. Aplikasi ini dikembangkan sejak tahun 2020. Pada awal perkembangannya, aplikasi ini memang tak diminati banyak orang. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah melalui beberapa kali pembaruan, aplikasi ini mulai dilirik, terutama oleh kalangan media.
...
"Semua ini hanya karangan Alena, Pak. Tak ada bukti dan data yang konkret bahwa Darrel membuat aplikasi itu karena patah hati," sanggah Andrean.
"Ada," kata Alena mantap.
"Mana?" tanya Andrean menantang.
"Bukannya kemarin lo denger langsung?" Alena balik bertanya.
"Hah?! Dia cuma becanda, Alena. Nggak serius sama sekali," kilah Andrean. Alena menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu fakta, Andrean. Semua yang dia katakan disana itu fakta," kata Alena percaya diri.
"Semua? Dia bahkan nggak jawab pertanyaan gue dengan serius. Dimana faktanya?" tanya Andrean, geram.
"Terkadang, fakta itu nggak diungkapkan secara serius, Andrean," kata Alena santai.
"Ta..."
"EHEM!" Pak Indra berdehem keras, menghentikan Andrean yang akan berargumen menyanggah kata-kata Alena.
"Yang jelas Andrean, kita akan mengirimkan artikel mentah milik Alena pada pihak HighTech untuk fact-checking. Setelah mendapat persetujuan dari Darrel, kita akan tayangkan," kata Pak Indra.
"Dan untuk ini," kata Pak Indra sambil melemparkan artikel hasil kerja Andrean.
"Ini tidak seperti artikel Andrean Wibisono yang biasanya. Kamu butuh belajar dari Alena," kata Pak Indra dingin.
Andrean hanya mampu menatap lesu hasil kerjanya yang sia-sia diatas meja Pak Indra. Dia tak pernah menyangka, artikel milik Alena —yang menurutnya sangat bias dan tak berdasarkan fakta yang nyata— ternyata bisa lebih layak diterbitkan daripada artikel miliknya.
'Sial! Lo menang kali ini. Tapi tidak lain kali,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤