“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shang Lun (1)
“Pendekar muda.”
“Apakah kamu sudah mendingan sekarang? Jika sudah, aku bisa saja langsung melepaskan ikatanmu dan dua temanmu,” ucap Peng Lin sambil duduk di atas dahan pohon di samping api unggun, bersama dengan anak buahnya.
“Aku telah berpikir sejauh ini, dan aku sudah menyimpulkan sesuatu,” balas Wang Seo dengan sedikit menundukkan kepalanya.
“Aku minta maaf atas semua kesalahpahaman yang telah terjadi. Namun, aku ingin bertanya satu hal padamu Peng Lin,” ujar Wang Seo.
“Dan apa itu, pendekar muda?” balas Peng Lin.
“Mengapa kau repot-repot membawa kami ke tempat terpencil yang bahkan binatang pun tak pernah menunjukkan diri mereka? Jika kau ingin membunuh kami bertiga, itu bukanlah hal yang mustahil,” sahut Wang Seo.
Peng Lin tersenyum tipis sebelum menjawab, “Apakah kau tahu pendekar muda, bahwa ada pepatah yang mengatakan telinga dan mata dari pemimpin kultus demonic itu ada ribuan?”
“Maksudmu?” balas Wang Seo.
“Kau ini benar-benar idiot atau pura-pura saja pendekar muda? Maksudku, banyak mata dan telinga para penyusup kultus bajingan itu berada di mana-mana. Namun, di tempat ini… siapa yang akan mengintai kita?” dia mulai berdiri dan segera membuka ikatan wang seo, yao shi dan yan qing.
“Aku tak terpikir sampai sejauh itu,” ujar Wang Seo jujur sambil menggerakkan pergelangan tangannya yang sempat terikat.
“Jadi… kita sudah berdamai sekarang?” tanya Peng Lin.
“Ya. Kita tak perlu lagi terikat oleh kesalahpahaman ini,” jawab Wang Seo mantap. Namun wajahnya kembali muram. “Hanya saja… aku tidak tahu harus berbuat apa mulai besok. Haruskah aku mengejar Shang Lun?” Suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama itu.
“Kau bisa mulai dengan melatih dirimu sendiri terlebih dahulu,” kata Peng Lin serius. “Naikkan tingkatmu menjadi pendekar tingkat enam atau lima. Jika kau dan teman-temanmu mencapai tahap itu, mungkin kalian punya peluang untuk membunuh Shang Lun.”
Wang Seo menghela napas panjang.
“Tapi mencapai tingkat itu bukan hal mudah bagiku. Misi yang diberikan Aliansi Murim kebanyakan misi tingkat rendah. Jika aku ingin dipromosikan, aku harus mengambil misi tingkat tinggi, dan itu pun memiliki syarat yang berat.”
“Kalau begitu, mintalah bantuan pada Aliansi Murim,” ujar Peng Lin sambil mengeluarkan sepucuk surat dari balik jubahnya. “Bawa surat ini dan katakan bahwa kau menemukan sedikit bukti yang cukup kuat yang mengarah pada Shang Lun.”
Wang Seo menerima surat itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Peng Lin. Aku akan pergi besok pagi. Bisakah kami tetap tinggal bersamamu sampai besok?”
“Tentu saja. Mengapa tidak?” jawab Peng Lin ringan. “Mulai sekarang kita bisa berbagi atap yang sama.”
Malam itu menjadi malam yang meluruskan seluruh kesalahpahaman antara pembunuh yang dirumorkan dengan murid Sekte Pedang Bambu. Api unggun perlahan mengecil, dan suasana menjadi lebih hangat daripada sebelumnya.
Pagi mulai merayap, sinarnya menyentuh wajah mereka dan membangunkan satu per satu.
“Kami akan kembali ke sekte,” ujar Wang Seo setelah bersiap.
“Baiklah,” balas Peng Lin. “Aku mungkin akan menetap di Goryeo sedikit lebih lama. Jika takdir mengizinkan kita bertemu lagi, kita akan saling bertegur sapa kembali, Pendekar Muda Seo.”
Mereka pun berkemas dan berjalan menuju tujuan masing-masing.
Sementara itu, pagi hari di rumah Fang Yi.
Ia terbangun karena mendengar suara adiknya dari kamar.
“Hah… kenapa aku tertidur di sini? Oh, sudah pagi rupanya,” gumamnya sambil mengusap kedua mata.
Ia segera bangkit dan berjalan menuju kamar.
“Kakak… pria itu jahat… heme… mzz…” Fang Yu masih terlelap sambil mengigau tak jelas.
Fang Yi tersenyum tipis. Ia tak ingin mengganggu tidur adiknya, jadi ia menutup kembali pintu kamar dengan pelan.
Ia kemudian menuju dapur dan mulai memasak sarapan sederhana untuk Fang Yu.
Setelah itu, Fang Yi mandi dengan cepat, bersiap, lalu berangkat menuju penginapan tempatnya bekerja.
Di tengah perjalanan, ia bergumam pelan pada dirinya sendiri.
“Mungkin dalam satu bulan saja… aku sudah bisa melampaui para preman di gang yang selama ini selalu kuhindari.”
Ia menjalani rutinitas hariannya di penginapan seperti biasa—mengelap meja, menyapu lantai, lalu mengepel hingga bersih. Gerakannya teratur dan tanpa banyak bicara, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Namun pagi itu, ada percakapan menarik yang terdengar dari para tamu.
“Hei, bukankah dulu katanya Peng Lin yang membantai satu desa itu?” ucap seorang pria sambil menyuap makanannya.
“Hah, itu cuma rumor lama. Kenapa kau membahasnya lagi?” sahut temannya.
“Kau tidak tahu? Kemarin Aliansi Murim mengeluarkan kabar yang menghebohkan.”
“Benarkah? Apa itu?”
“Poster buronan Peng Lin sudah dihapus. Mereka menyatakan semuanya hanya kesalahpahaman. Sebagai gantinya, mereka mengeluarkan poster baru—wajah penuh luka dengan pedang besar di punggungnya. Namanya Shang Lun.”
“Shang Lun? Aku pernah mendengar nama itu… Bukankah dia berasal dari sekte unorthodox bajingan itu?”
“Ya, benar. Aku masih ingat kabar pertama dari pemimpin Murim dulu. Katanya Shang Lun adalah pembawa kehancuran.”
Percakapan itu terus berlanjut, dan rumor demi rumor menyebar dari satu meja ke meja lainnya. Tak butuh waktu lama hingga kabar tersebut sampai ke telinga para tetua Sekte Demonic.
Di sebuah aula gelap yang diterangi lampu minyak redup, seorang pria tua duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya memegang tongkat kayu hitam, sementara tangan kanannya menggenggam poster buronan Shang Lun.
“Hm… panggil Shang Lun kemari,” ucapnya dengan suara serak yang terdengar tidak menyenangkan di telinga.
“Baik, Tetua,” jawab salah satu bawahannya sambil membungkuk hormat.
Di tempat lain, Shang Lun tengah duduk tenang sambil mengasah bilah pedangnya. Suara gesekan logam terdengar berulang dan teratur.
Beberapa saat kemudian, sekelompok pasukan datang mendekat.
“Shang Lun, kau diminta menghadap Tetua Ketiga sekarang juga,” ujar salah satu dari mereka. Pedangnya terangkat, ujungnya mengarah tepat ke depan Shang Lun.
Sesuai julukannya—Si Badai Iblis—Shang Lun bukan tipe orang yang suka diperintah. Namun karena kontraknya dengan Tetua Ketiga, ia terpaksa menuruti.
Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju aula.
“Aku memang memberimu perintah untuk membuat kekacauan,” ucap Tetua Ketiga begitu Shang Lun tiba di hadapannya. “Namun itu bukan berarti kau boleh bertindak tanpa perhitungan.”
“Saya akan mengurusnya,” balas Shang Lun dengan suara tenang.
Tetua Ketiga menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu besar.
“Pergilah ke Desa Giok Seribu Awan. Bunuh seluruh warganya. Tempat itu bagaikan jantung bagi pemimpin Aliansi.”
“Sesuai perintah Anda.”
Shang Lun berlutut singkat, lalu tubuhnya menghilang dengan cepat bagai badai. Hembusan angin kencang tertinggal di tempat ia tadi berada, seolah menandai kepergiannya.
Badai akan segera datang, menerpa wilayah desa tempat Fang Yi dan Fang Yu menetap.
Langit mungkin masih tampak cerah. Angin yang berembus pun belum menunjukkan tanda-tanda keganasan. Warga tetap menjalani aktivitas mereka seperti biasa, tanpa menyadari bahwa bahaya tengah bergerak mendekati mereka.
Desa Giok Seribu Awan, yang selama ini menjadi tempat sederhana bagi kedua bersaudara itu untuk bertahan hidup, perlahan mulai berubah menjadi titik pusat pusaran konflik. Tempat yang sebelumnya hanya dipenuhi aroma masakan pagi dan suara tawar-menawar di pasar, kini berada di ambang kehancuran.
Fang Yi masih sibuk dengan pekerjaannya di penginapan. Fang Yu mungkin masih mengigau dalam tidurnya, mereka tak menyadari bahwa takdir sedang menggerakkan bidaknya satu per satu.
Entah apa yang akan terjadi pada kedua bersaudara itu.
Namun satu hal telah pasti.
Secara perlahan, tanpa mereka sadari, kaki mereka mulai melangkah masuk ke dalam dunia murim—dunia yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan.
Dan ketika badai itu benar-benar tiba, tidak akan ada lagi jalan untuk kembali.