Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sore itu, langit Amsterdam berubah menjadi abu-abu pekat. Ayu melangkah terburu-buru meninggalkan tempat kerjanya dengan perasaan yang tidak tenang. Bulu kuduknya meremang; ia merasa sedang dikuntit, seolah ada sepasang mata yang terus mengincar tengkuknya dari balik bayang-bayang bangunan tua.
Sialnya, ia sedikit terlambat hari ini. Jalanan yang ia lewati mulai meremang. Lorong-lorong sempit itu sunyi senyap,tak ada deru kendaraan, tak ada satu pun manusia yang melintas. Hanya suara ketukan pantofelnya yang menggema, menciptakan irama detak jantung yang semakin kencang.
Ayu mulai berlari kecil, mengincar cahaya lampu jalan di ujung lorong yang tampak seperti satu-satunya harapan untuk merasa aman.
Namun, tepat sebelum ia mencapai cahaya itu, sebuah tangan kekar mendadak muncul dari kegelapan gang sempit. Dengan satu gerakan yang sangat cepat dan kuat, tangan itu menarik tubuh Ayu masuk ke dalam ceruk dinding yang gelap.
Ayu tersentak, paru-parunya hampir meledak karena teriakan yang tertahan. Ia hendak menjerit sekuat tenaga sebelum sebuah telapak tangan yang hangat dan beraroma maskulin membungkam mulutnya dengan rapat.
"Arga? Apa yang mphhh!"
Arga tidak menjawab. Ia hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, memberi isyarat agar Ayu tetap diam. Tubuh mereka berdempetan begitu rapat di sela dinding yang sempit. Ayu bisa merasakan deru napas Arga yang tenang namun dalam di puncak kepalanya.
Arga mengintip dengan waspada ke balik pilar bangunan. Tak lama kemudian, dua pria berpakaian hitam dengan gelagat mencurigakan berlari melintasi lorong tersebut, tampak bingung mencari mangsa mereka yang tiba-tiba menghilang.
Darah Ayu terasa berdesir dingin. Ia tersadar bahwa pria-pria itu memang benar-benar sedang mengincarnya. Ketakutan yang baru saja mereda berganti dengan kebingungan yang lebih besar.
Arga perlahan melepaskan bekapannya, namun ia tidak menjauhkan tubuhnya. Ia menunduk, menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara proteksi dan kepemilikan yang berbahaya.
"Jika aku tidak ada di sini..." Arga berbisik tepat di depan wajah Ayu, suaranya rendah dan serak, "...mungkin kamu gak akan selamat."
Ayu mendongak, matanya yang berair menatap Arga dengan bingung. "Siapa... siapa mereka, Arga? Dan bagaimana kau bisa ada di sini?"
Arga menyeringai tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Kau seharusnya lebih takut padaku daripada pada mereka, Ayu. Karena setidaknya, mereka hanya ingin nyawamu, sedangkan aku... aku menginginkan seluruh duniamu."
Setelah memastikan dua pria misterius itu menjauh, Arga tidak membiarkan Ayu kembali ke rumahnya. Dengan cengkeraman tangan yang tak terbantahkan, ia menuntun Ayu menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di sudut gelap.
"Kita tidak bisa ke rumahmu." ucap Arga dingin sembari memacu kendaraannya menembus malam.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gedung apartemen kelas atas yang menjulang tinggi dengan keamanan super ketat. Damar sudah menunggu di lobi, membungkuk hormat saat pintu lift terbuka. Ia menyerahkan sebuah kartu akses perak kepada Arga tanpa sepatah kata pun.
Begitu pintu terbuka, aroma kayu cendana dan kemewahan yang minimalis menyambut mereka. Ayu melangkah masuk dengan ragu, matanya menyapu ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Amsterdam.
"Ini tempat apa, Arga? Aku harus pulang." seru Ayu, suaranya bergetar antara cemas dan amarah.
Pintu apartemen tertutup dengan dentuman yang berat, seolah mengunci dunia luar sepenuhnya. Arga melempar tas Ayu ke sembarang arah dan langsung mencengkeram lengan wanita itu, menyeretnya menuju ruang tengah yang luas namun terasa menyesakkan.
"Lepaskan, Arga! Sakit!" rintih Ayu, mencoba meronta.
Arga tidak peduli. Ia menghentakkan tubuh Ayu ke sofa kulit yang dingin, lalu berdiri menjulang di depannya seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis. Matanya menyala, bukan hanya karena amarah, tapi karena api cemburu yang sudah membakar kewarasannya sejak malam di restoran itu.
"Sakit?" Arga tertawa getir, suaranya rendah dan berbahaya. "Rasa sakitmu tidak ada apa-apanya dibandingkan lima tahun yang kau berikan, Ayu. Kau melarikan diri, tanpa penjelasan apapun padaku."
Ayu mendongak, mencoba melawan meski tubuhnya bergetar. "Aku punya alasan kuat untuk meninggalkanmu."
"Alasan apa? Alasan bahwa Yura mati,dan kau merasa yang jadi penyebabnya?Dan kau takut aku tidak bisa menerima itu lalu membencimu? Kau terlalu picik menilaiku, Ayu."
Suara Arga bergetar, rendah namun tajam. Ayu membeku. Seluruh persendiannya seolah mati rasa saat rahasia paling gelap yang ia simpan rapat-rapat kini terucap dari bibir pria itu.
"Apa? Kau... kau sudah tahu semuanya?" tanya Ayu dengan suara yang hampir habis. Ia menatap Arga yang kini sudah berlinang air mata,pemandangan yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan mana pun.
"Aku sudah tahu semuanya Ayu,bukan kamu penyebab kematian Yura.Kamu hanya kebetulan ada di tempat kejadian." seru Arga sembari mencengkeram bahu Ayu, memaksa wanita itu merasakan setiap emosinya. "Sejak ciuman pertama kita dulu, aku sudah memutuskan untuk menyerahkan hatiku padamu. Aku mencintaimu, Ayunita. Sangat mencintaimu."
Mata Ayu berkaca-kaca, ia menggeleng pelan dalam ketidakpercayaan. "Tapi Yura... dia orang yang paling kau cintai Arga. Dia..."
"Dia sudah meninggal Yu," potong Arga cepat, suaranya melunak namun penuh penekanan. "Mungkin dulu aku terpuruk karena ketidaktahuanku dengan kondisinya.Tapi semua sudah aku lepaskan,Yu."
Arga melangkah mendekat, jemarinya yang hangat mengusap air mata yang jatuh di pipi Ayu. Sentuhan itu terasa begitu akrab sekaligus menyakitkan.
"Yura sudah tenang di atas sana, dan kita juga harus bahagia."
Ayu menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.Dan detik itu juga.
Arga tidak memberikan kesempatan bagi Ayu untuk bertanya lebih jauh. Ia segera membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang dalam dan menuntut,sebuah ciuman yang tidak hanya meminta jawaban, tapi juga memberi pernyataan kepemilikan.
Ayu yang semula ragu dan kaku, perlahan mulai luluh. Aroma maskulin Arga dan sentuhan yang selama lima tahun ini ia rindukan setiap malam, kini nyata di hadapannya. Arga selalu tahu bagaimana cara membuatnya mabuk,mabuk hingga lupa diri dan sepenuhnya terlena.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Arga membopong tubuh Ayu, membawanya menuju tempat tidur besar yang berada di tengah kemewahan apartemen yang sunyi itu. Ia merebahkan Ayu dan segera mengunci pergerakannya, menatap dalam ke mata wanita yang telah mencuri seluruh kewarasannya.
Di bawah remang cahaya lampu, segala dendam dan kesalahpahaman selama lima tahun itu melebur menjadi satu. Setiap sentuhan menjadi luapan rindu yang bertumpuk, setiap desah menjadi penebusan atas waktu yang terbuang. Mereka tidak lagi bicara tentang masa lalu atau jantung milik siapa; malam itu, mereka hanya bicara tentang dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Arga menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ayu, membisikkan janji-janji posesif yang membuat Ayu semakin erat memeluknya. Di dalam dekapan Arga, Ayu akhirnya menyerah pada takdir yang memang tak pernah melepaskannya sejak awal.
BERSAMBUNG...
Sudah sedikit terbuka ya rahasia yang selama ini Ayu simpan. penasaran kan bagimana Yura meninggal dan Ayu merasa bersalah? tunggu bab berikutnya
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it