NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Mereda dalam Cengkeraman Baja

Tekanan hawa dingin yang dibawa Lin Zong membuat gerbang ibu kota terasa seperti puncak gunung es abadi. Salju mulai turun dengan lebat, menutupi aspal batu dalam hitungan detik. Penduduk biasa sudah jatuh pingsan karena suhu ekstrem, sedangkan penjaga gerbang yang berada di tingkat Perwira harus meringkuk ke tanah, berusaha keras mempertahankan sisa kehangatan organ dalam mereka.

Namun, di tengah badai mematikan itu, ada satu titik yang sama sekali tidak membeku.

Zian.

Tubuhnya berdiri kokoh di atas aspal yang sudah retak parah, mencengkeram leher Lin Yue dengan satu tangan. Uap panas tipis mengepul dari kulitnya, hasil dari aliran darah Tulang Asuranya yang mendidih menyambut ancaman maut.

"Kau membual terlalu tinggi, Lin Zong!" Zian mendongak menantang Jenderal Tertinggi Sekte Bintang Es itu. Matanya menyala dengan antusiasme yang gelap.

"Mati kau, Tikus Got!" pekik Lin Zong di udara.

Sayap esnya mengepak kuat, dan dia meluncur turun dengan kecepatan meteor. Pedang es raksasa di tangannya membelah badai, siap memotong tubuh Zian dari kepala sampai kaki.

Melihat tebasan maut itu turun, Zian memutar tubuhnya perlahan. Dia tidak berusaha menangkis dengan tangannya yang kosong. Sebaliknya, dengan satu entakan kasar, Zian melempar tubuh Lin Yue langsung ke arah ayahnya sendiri sebagai tameng hidup.

"A-Ayah!" jerit Lin Yue dengan suara parau yang tersisa dari kerongkongannya.

Mata Lin Zong membelalak. Dengan kecepatan reaksi seorang Jenderal Tertinggi, dia menarik pedang raksasanya secara paksa hingga bilahnya hancur tertahan angin. Tangan kirinya menjulur memeluk tubuh putrinya yang terpental ke arahnya.

Namun, pada detik itu juga, Lin Zong menyadari bahwa pelemparan itu hanyalah tipuan pembuka.

Dari balik tubuh Lin Yue yang baru saja dia tangkap, sebuah kepalan tangan telah melesat menembus udara dingin, membawa gelombang sonik yang menderu sekuat badai petir. Zian telah menekuk lututnya dan melompat terbang tepat di bawah bayangan tubuh Lin Yue.

Bugh!

Kepalan tangan kanan Zian mendarat telak di dagu Lin Zong yang masih berada di udara. Bunyi tulang rahang yang bergeser terdengar menyakitkan. Kekuatan benturannya begitu besar hingga membatalkan gaya gravitasi Lin Zong dan menerbangkannya lebih tinggi ke angkasa. Lin Zong memuntahkan seteguk darah yang langsung membeku sebelum menyentuh tanah.

"Kau lambat," suara dingin Zian terdengar dari bawahnya.

Brak!

Zian kembali ke tanah, mendarat dengan suara debum yang berat. Dia menengadah menatap Lin Zong yang sedang berusaha menstabilkan dirinya di udara sambil masih mendekap Lin Yue yang pingsan.

"Bocah cacat sialan! Aku akan mencabikmu hidup-hidup!" aum Lin Zong. Harga dirinya terkoyak habis. Dipukul telak di depan gerbang ibu kota oleh pemuda yang tak punya sepercik pun energi kultivasi adalah aib terbesarnya.

Dia melempar Lin Yue ke tumpukan salju di pinggir gerbang agar tidak lagi menjadi kelemahan, lalu menatap Zian dengan mata memerah.

"Sangkar Beku Ribuan Jarum!"

Lin Zong mengangkat kedua tangannya. Ribuan jarum es raksasa setebal lengan orang dewasa terbentuk di sekeliling Zian, menguncinya dari segala arah dalam radius tiga puluh meter. Ujung tajamnya berkilau mematikan di bawah cahaya mendung.

"Mati!" Lin Zong menurunkan tangannya dengan kasar.

Ribuan jarum mematikan itu melesat serentak ke arah titik tengah. Tidak ada celah untuk lari. Tidak ada waktu untuk menghindar. Serangan ini dikenal mampu mengubah satu peleton pasukan kuda menjadi saringan daging beku dalam sekejap.

Zian sama sekali tidak berniat menghindar. Dia merentangkan kedua kakinya dan menarik napas dalam-dalam. Otot punggung dan dadanya mengembang maksimal. Tulang Asura di sekujur tubuhnya bergetar, merespons ancaman itu dengan mengeras layaknya berlian hitam.

"Hanya segini batasan elemen sihirmu?!" teriak Zian dari dalam kepungan jarum.

Zian memutar pinggangnya dan mulai meninju ke segala arah. Seratus pukulan dalam satu detik. Dua ratus pukulan. Kecepatannya melampaui batas pandangan mata manusia, menciptakan dinding pertahanan murni dari ledakan angin sonik kepalan tangannya.

BUM! BUM! BUM! KRAK!

Ratusan jarum es yang mencoba menembus pertahanannya meledak menjadi bubuk kristal. Ledakan beruntun itu membuat tanah gerbang amblas dan menghancurkan sisa-sisa tembok batu di sekitarnya.

Beberapa jarum berhasil melewati pusaran pukulan Zian dan menusuk punggung serta bahunya. Namun, ujung jarum es mematikan milik seorang Jenderal Tertinggi itu hanya mampu merobek kain bajunya dan meninggalkan goresan putih di kulit Zian.

Lin Zong mematung di udara. Napasnya tersengal melihat pemandangan mustahil di bawahnya. Sihir pamungkasnya gagal total. Pemuda itu tidak mati, bahkan tidak berdarah.

Asap salju mulai menipis. Zian berdiri tegak di tengah kawah yang dia ciptakan sendiri. Kain bajunya robek-robek memperlihatkan otot-ototnya yang terbentuk keras sempurna. Dia mengusap debu es dari pundaknya dan menatap langsung ke mata Lin Zong yang melayang di udara.

"Turun ke sini," ucap Zian pelan, suaranya menembus deru angin badai. "Atau aku yang akan menarikmu turun."

Tubuh Zian tiba-tiba menghilang. Bukan karena sihir teleportasi, melainkan murni karena kecepatan lari yang melampaui daya tangkap mata.

Brak!

Udara kosong di sebelah kanan Lin Zong meledak. Zian melompat setinggi belasan meter, memusatkan seluruh daya tolak Tulang Asuranya ke ujung kakinya. Tangan kirinya melesat secepat kilat dan mencengkeram sayap es Lin Zong dengan kasar.

"A-apa?!" Lin Zong membelalak.

Zian tak memberinya waktu untuk bereaksi. Dia meremas sayap es itu dengan tenaga brutal, menghancurkannya berkeping-keping.

"Turun!" bentak Zian.

Dia memutar pinggangnya dan membanting Lin Zong dari udara ke tanah dengan tenaga maksimal.

BUM!

Lin Zong menghantam aspal batu seperti meteor yang jatuh. Kawah sedalam dua meter terbentuk di titik benturannya. Debu salju meledak tinggi. Pemimpin Sekte Bintang Es itu memuntahkan banyak darah, tulang rusuknya retak parah.

Zian mendarat tepat di pinggir kawah dengan langkah mantap. Dia melangkah perlahan mendekati Lin Zong yang sedang berusaha merangkak bangun.

"Kau..." Lin Zong terbatuk darah, memegangi dadanya yang hancur. Matanya dipenuhi rasa tak percaya. "Kekuatan apa ini... Kau tak punya inti kultivasi... tapi pukulanmu sekeras gunung!"

"Kekuatan yang kalian anggap rendahan," jawab Zian sedingin es. Dia menendang dada Lin Zong yang baru setengah bangun, memaksanya kembali telentang di dasar kawah.

Zian mengangkat kaki kanannya dan menginjak kuat dada Lin Zong, tepat di atas jantungnya. Tekanan Tulang Asuranya membuat tulang dada pria paruh baya itu berderit mengerikan, hampir patah berkeping-keping.

"T-tunggu..." Lin Zong akhirnya merasakan rasa takut yang sesungguhnya. Kematian kini duduk tepat di atas dadanya. "Zian... hentikan. Jika kau membunuhku, seluruh sekte di ibu kota akan memburumu!"

"Biar mereka datang," Zian tersenyum kejam. "Aku akan membunuh mereka semua sampai ibu kota ini sadar siapa yang berdiri di puncak rantai makanan."

Zian tidak ragu sedikit pun. Niat membunuhnya murni dan tanpa belas kasihan. Dia mengangkat tangan kanannya, mengencangkan kepalannya untuk memberikan pukulan pemutus nyawa.

"J-jangan..." rintih Lin Zong putus asa.

"Ucapkan selamat tinggal pada kesombonganmu," bisik Zian.

Kepalan tangan itu meluncur lurus mengincar dahi Lin Zong.

Namun, di detik yang sama, Lin Yue yang tadinya pingsan di tumpukan salju mulai terbangun. Dengan pandangan buram, dia melihat ayahnya diinjak oleh Zian, di ambang kematian.

"A-AYAAAH!" jerit Lin Yue histeris, suaranya melengking menyayat hati.

Kepalan Zian terhenti, hanya berjarak beberapa milimeter dari dahi Lin Zong. Tekanan angin dari tinjunya telah merobek kulit dahi Pemimpin Sekte itu hingga berdarah.

Zian memutar kepalanya, menatap ke arah Lin Yue yang sedang merangkak mendekat dengan tubuh gemetar, air mata membanjiri wajahnya yang kotor. Hawa dingin di sekitarnya perlahan mereda.

Dia mengingat ucapan ibunya sebelum berangkat. Dia mengingat janji yang dia buat pada adiknya. Membunuh Lin Zong sekarang memang memuaskan, tapi itu tidak akan menghancurkan keangkuhan mereka. Mereka akan mati sebagai martir di mata sektenya.

Zian mendengus. Dia menarik kepalannya kembali, mengubahnya menjadi jari-jari lurus. Tanpa peringatan, dia menusukkan kelima jarinya ke area perut Lin Zong, tepat ke pusat inti kultivasinya.

"Urrrkk!" Lin Zong tersedak matanya melotot.

KRAK!

Dengan satu sentakan keras, Zian menghancurkan inti energi Lin Zong dari dalam. Pria yang sedetik lalu adalah Jenderal Tertinggi, kini menjadi manusia lumpuh tanpa daya sihir sedikit pun. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya pingsan seketika, matanya memutih.

Zian menarik tangannya, mengibaskan darah yang menempel, dan berjalan santai meninggalkan kawah itu menuju Lin Yue yang menangis tersedu-sedu.

"A-ayah..." Lin Yue terisak, menatap ngeri tubuh ayahnya yang hancur tapi masih bernapas. Dia mendongak menatap Zian, wajahnya pucat pasi, tak ada sisa-sisa Putri Jenius yang sombong. Dia mundur dengan panik.

"Dulu kau bilang aku ini sampah cacat," suara Zian menggema pelan, tenang tapi mematikan. "Sekarang, Pemimpin Sektemu sendiri yang menjadi cacat. Apa kau mau merasakan menjadi sampah juga, Yue-er?"

Zian berjongkok, menatap mata Lin Yue yang penuh teror. Jari-jari Zian yang kokoh meraih pergelangan tangan wanita itu. Kesombongan Bintang Es baru saja diinjak-injak hingga rata dengan tanah, dan ini barulah permulaan.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!