NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Simbol Mawar

Di dalam pusat komando berjalan yang canggih, Damian dan Rans berdiri berdampingan di depan layar hologram. Perbedaan gaya mereka terlihat jelas: Rans dengan efisiensi taktisnya, dan Damian dengan pengetahuan mendalamnya tentang setiap sudut gelap kota.

"Mereka berada di gudang tua Sektor 9, di pinggiran dermaga," lapor Damian dengan suara rendah. "Don mengerahkan hampir seluruh kekuatannya di sana. Dia pikir kita akan menyerbu dari depan dengan pasukan besar."

Michael, yang duduk di samping Shaneen, memberikan instruksi dingin. "Jangan beri mereka kejutan yang terlalu cepat. Lakukan pergerakan perlahan. Biarkan mereka merasa menang, biarkan mereka merasa aman di dalam sarang mereka. Aku ingin mereka tetap santai sampai peluru pertama menembus jantung mereka."

Sementara Michael dan Shaneen memisahkan diri, Damian memimpin unit elit Tizon Tech. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu. Selama ini, dunia mengenal Tizon sebagai perusahaan teknologi, namun malam ini mereka akan mengenal Tizon sebagai mesin pembantai.

Anak buah Don yang sedang berjaga di perimeter luar gudang tidak pernah tahu apa yang menyerang mereka. Damian bergerak seperti hantu, menggunakan belati pendek yang sangat tajam. Satu per satu, anak buah Don tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara.

"Habisi semuanya. Jangan tinggalkan saksi," perintah Damian dingin melalui saluran komunikasi internal. Pasukan Damian membantai habis-habisan sisa-sisa kekuatan Don yang berjaga di sana. Jeritan mereka tertelan oleh suara ombak dermaga, sebuah eksekusi massal yang dilakukan dengan presisi teknologi tingkat tinggi.

Namun, Don bukanlah amatir. Di dalam gudang, ia merasakan firasat buruk saat komunikasinya dengan tim luar terputus. Tanpa membuang waktu, ia menyeret Sera keluar melalui terowongan rahasia menuju sebuah speedboat yang sudah bersiap.

"Kau pikir anakmu atau Michael bisa menangkapku? Aku selalu punya rencana cadangan!" Geram Don sambil mendorong Sera masuk ke dalam kapal.

Don merasa menang. Ia merasa telah melarikan diri tepat waktu sebelum Damian meratakan gudang itu. Namun, Don yang sombong melupakan satu hal kecil yang melingkar di leher Sera.

Di leher Sera, tergantung sebuah Kalung Mawar Tunggal. Permatanya yang berwarna merah darah berkilau cantik, dengan batang emas putih yang diukir membentuk duri-duri halus namun tajam. Kalung itu adalah hadiah pernikahan dari Orlando—sang Golden Phoenix. Don mengira itu hanyalah perhiasan mewah, padahal di dalam batu permata itu tertanam GPS mikro yang energinya disuplai oleh suhu tubuh pemakainya. Kalung itu adalah simbol cinta Orlando yang tetap melindungi Sera bahkan setelah ia tiada.

...–Bayangan di Balik Buritan–...

Don memacu speedboat-nya menjauh dari dermaga menuju sebuah pulau pribadi milik Aris. Ia tertawa, mengira ia telah menghilang dari radar.

Namun, beberapa ratus meter di belakangnya, sebuah kapal siluman kecil tanpa lampu bergerak membelah air dengan sangat tenang. Di dalam kapal itu, Michael dan Shaneen duduk berdampingan dalam kegelapan.

Shaneen menatap layar ponselnya yang menampilkan titik merah yang bergerak stabil. Mata predatornya berkilat menatap punggung Don di kejauhan melalui teropong jarak jauh.

"Dia pikir dia pintar," bisik Shaneen, tangannya dengan tenang memeriksa peluru di dalam pistolnya. "Dia tidak tahu bahwa duri mawar itu sedang menuntunnya menuju kematian."

Michael tersenyum puas, memegang tangan Shaneen yang dingin. "Don melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia lupa bahwa pelariannya hanyalah cara bagiku dan istriku untuk menjauh dari keramaian... agar aku bisa menghabisinya tanpa ada yang mengganggu."

Mereka berdua mengikuti Don diam-diam, membiarkan tikus itu merasa telah lolos, hingga saat yang tepat tiba untuk menarik sang Predator keluar dari bayang-bayang.

...–Duri yang Tertinggal–...

Pulau pribadi milik Aris yang seharusnya menjadi tempat persembunyian aman, kini berubah menjadi neraka bagi Don. Suara tembakan runduk milik Shaneen memecah kesunyian hutan bakau.

BANG!

Don tersungkur, peluru menembus bahu kirinya. Sebelum ia sempat berdiri, peluru kedua bersarang di betisnya. Don berteriak kesakitan, menyeret tubuhnya di atas pasir putih yang kini ternoda merah. Posisi luka itu persis seperti luka yang pernah diderita Michael satu tahun lalu di gedung tua saat ia melindungi Shaneen. Shaneen tidak hanya sedang berburu; ia sedang menagih hutang.

Shaneen melangkah keluar dari balik pepohonan dengan topeng perak berukir mawar yang berkilau di bawah sinar matahari senja. Ia mengarahkan moncong pistolnya tepat ke jantung Don.

"Ini untuk setiap inci rasa sakit yang kau berikan pada tuan Michael tepat satu tahun yang lalu," desis Shaneen dingin.

Namun, saat jarinya hampir menarik pelatuk, sebuah granat asap dilemparkan dari arah tebing. Asap tebal berwarna abu-abu pekat menutupi pandangan dalam sekejap. Di tengah kekacauan itu, suara helikopter terdengar rendah. Sosok-sosok berpakaian hitam—pasukan khusus milik Aris—turun dengan cepat, menyeret Don yang setengah pingsan masuk ke dalam helikopter sebelum Shaneen bisa melepaskan tembakan terakhir.

Don lolos lagi, namun kali ini ia pergi dengan cacat permanen dan rasa takut yang akan menghantuinya seumur hidup.

Setelah operasi penyelamatan Sera berhasil dan sang ibu sudah aman di bawah perawatan dokter terbaik di kediaman mereka, Michael dan Shaneen akhirnya bisa bernapas lega.

Malam itu, di balkon apartemen mereka yang menghadap ke lampu kota, Michael duduk di sofa besar, menarik Shaneen ke dalam pelukannya. Suasana sangat tenang, hanya ada suara angin malam. Michael mengelus jemari Shaneen, lalu tatapannya tertuju pada belati perak milik istrinya yang tergeletak di meja—belati dengan ukiran mawar dan duri yang sangat detail.

"Shaneen," panggil Michael lembut. "Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku."

Shaneen menoleh, menyandarkan kepalanya di bahu Michael. "Apa itu?"

"Kenapa selalu mawar?" Michael menatap mata istrinya dengan rasa penasaran yang dalam. "Belatimu, pisau lemparmu, bahkan topeng cantik yang kau pakai tadi siang... semuanya melambangkan mawar dengan duri yang tajam. Ada arti khusus di baliknya? Kenapa bukan lambang Phoenix seperti ayahmu?"

Shaneen terdiam sejenak, menatap mawar hitam yang diberikan Michael tempo hari di sudut ruangan.

"Ayahku adalah Golden Phoenix, Michael. Dia kuat, agung, dan bisa bangkit dari abu. Tapi Ibu..." Shaneen menjeda, suaranya melembut. "Ibu selalu bilang bahwa wanita di keluarga kami harus seperti mawar. Dunia akan melihat kecantikannya lebih dulu, tapi duri-duri itulah yang memastikan tidak ada tangan kotor yang bisa memetiknya sembarangan."

Shaneen mengambil belati peraknya, memutar-mutarnya dengan lincah. "Simbol Mawar ini adalah hasil karya ayahku. Mawar adalah satu-satunya bunga yang memiliki pertahanan diri alami tanpa harus terlihat mengancam dari jauh. Dan duri-duri ini..." ia menyentuh ukiran duri di belati itu, "...adalah pengingat bagiku. Bahwa untuk melindungi cinta dan keindahan dalam hidupku—seperti Ibu, nenek Marta, dan sekarang kau—aku harus siap melukai siapa pun yang mencoba menggenggamku terlalu keras."

Michael tersenyum, mengecup kening Shaneen dengan penuh pemujaan. "Jadi, aku adalah orang yang berhasil memegang mawar ini tanpa tertusuk durinya?"

Shaneen tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Michael. "Kau tidak memegangnya, Michael. Kau adalah tanah yang membiarkan mawar ini tumbuh. Tanpamu, duri-duriku hanya akan melukai diriku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!