Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7 — Diary Misterius
Malam itu, setelah Aluna akhirnya tertidur di kamar yang pernah ia tempati dua puluh tahun lalu, Dimas duduk sendirian di ruang tamu. Lampu yang redup dari senter membuat bayangan-bayangan di dinding tampak hidup. Rumah itu terasa seperti memandangnya kembali—mengawasinya, menunggu sesuatu.
Digo sudah masuk kamar lebih dulu, kelelahan setelah seharian emosinya terkuras. Namun Dimas tak bisa tidur. Ada rasa gelisah yang menyengat, seperti ada jawaban bersembunyi di dalam rumah ini, memanggil-manggil untuk ditemukan.
Ia memutuskan memeriksa kamar orang tua mereka.
Lorong menuju kamar itu dingin, bahkan lebih dingin dari bagian rumah lain. Langkah Dimas terhenti beberapa kali, tapi ia memaksa dirinya melanjutkan. Ketika pintu kamar dibuka, aroma debu bercampur sesuatu yang lebih tua—lebih muram—menyergapnya.
Kamar itu masih penuh barang yang dibiarkan membatu oleh waktu. Ranjang kayu, lemari besar, dan foto pernikahan ayah ibunya yang berdebu di dinding.
Dimas menyalakan senter, mengarahkan cahayanya ke meja rias. Di salah satu laci yang setengah terbuka, ia melihat selembar kertas kecil terselip di bawah buku tebal berwarna cokelat.
“Buku apa ini…?” gumamnya.
Ketika ia menariknya, debu berterbangan. Buku itu ternyata sebuah diary—kulitnya lusuh, tapi masih utuh. Di sampulnya tertulis jelas:
Liana Kusuma-Brawijaya.
Jantung Dimas berdegup lebih cepat.
Ini milik ibu mereka.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka halaman pertama. Tulisan tangan ibunya yang rapi menyambutnya, bersama kalimat sederhana:
"Hari ini Dimas dan Digo masuk TK. Mereka sangat lucu."
Dimas tersenyum kecil.
Tapi seiring ia membalik halaman demi halaman, tulisan ibunya berubah. Dari ceria, menjadi cemas, lalu penuh tekanan.
Hingga ia tiba pada halaman yang membuat tubuhnya membeku.
Tertulis besar-besar:
“Orang dekat bisa menghancurkan segalanya…”
Dimas menahan napas.
Ia membaca lanjutannya.
"Aku tidak pernah menyangka. Aku takut. Tapi aku tidak bisa bilang pada siapa pun. Rumah ini tidak lagi aman. Aku harus melindungi anak-anak. Bahkan jika aku harus diam selamanya."
Kalimat itu seperti petir yang menyambar dada Dimas.
“Orang dekat? Siapa? Siapa maksud ibu…?”
Ia menatap halaman itu lama sekali. Kata-kata tersebut terasa seperti pesan terakhir sebelum badai menghancurkan keluarga mereka.
Orang dekat.
Orang yang dipercaya.
Orang yang tinggal di lingkaran mereka sendiri.
Marco.
Nama itu muncul begitu saja di kepala Dimas. Masuk seperti jarum yang menusuk dinding pikirannya sejak kejadian sore tadi, ketika Aluna histeris melihat pamannya sendiri.
Namun Dimas mencoba menenangkan pikirannya. Jangan terburu-buru menuduh, ujarnya dalam hati. Tapi Mengapa? Mengapa reaksi Aluna begitu ekstrem? Dan mengapa diary ibu seolah memberi peringatan?
Ia kembali membaca.
"Aku rasa seseorang mengawasi kami. Setiap malam, suara langkah itu muncul lagi. Entah dari lantai atas atau halaman belakang. Daniel bilang itu hanya perasaanku… tapi aku lihat pintu loteng terbuka semalam. Ada seseorang naik ke atas. Aku lihat dari jendela pantulan kaca."
Dimas mencengkeram buku itu.
Pintu loteng.
Suara langkah.
Seseorang yang masuk diam-diam.
Ia menutup buku itu sebentar, memijit pelipisnya. Rasanya seperti potongan-potongan puzzle mulai menyatu, meski masih samar.
Ia membuka halaman selanjutnya.
"Jika sesuatu terjadi padaku, aku hanya berharap anak-anakku tidak melihat apa pun. Tapi Luna… Luna selalu terbangun di malam hari. Ia mendengar suara itu juga. Semalam dia menangis dan bilang, ‘Mama… dia buka pintunya lagi…'"
Dimas tertegun. Kata-kata itu sama persis seperti yang diucapkan Aluna tadi di tangga.
*Dia buka pintunya lagi.*
Dimas berdiri refleks. Senter di tangannya bergetar.
Seluruh tubuhnya memanas oleh keinginan untuk mengetahui kebenaran. Ia menatap langit-langit, tepat ke arah loteng yang disebut ibunya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di loteng itu…?”
Ia menutup diary itu dengan cepat dan menyimpannya dalam tas kecil di pinggangnya. Seolah jika ia melepaskannya, jawaban-jawaban itu akan kembali menghilang.
Ketika Dimas keluar, ia mendapati Digo duduk di lorong dengan wajah letih.
“Kamu belum tidur?” tanya Dimas.
Digo menunjuk kursi rodanya. “Kadang… kalau terlalu banyak pikiran, tubuh rasanya ikut memberontak.” Ia menatap wajah Dimas yang tampak pucat. “Kamu menemukan sesuatu, kan?”
Dimas mengangguk pelan.
Ia menyerahkan diary kepada Digo.
Digo membaca halaman yang ditandai Dimas. Wajahnya perlahan berubah. Dari kaget, menjadi takut, lalu marah.
“Orang dekat…?” gumamnya. “Dimas… kita cuma punya satu orang dekat yang sering datang ke rumah waktu itu.”
Dimas menghela napas berat. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi kita harus punya bukti.”
“Reaksi Aluna waktu ketemu Marco…” Suara Digo pecah. “Aluna histeris ketakutan. Itu bukan takut biasa.”
Dimas menatap lorong gelap itu, langkahnya melambat. “Makanya kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu menyembunyikan banyak hal…”
“Tapi kenapa?” tanya Digo lirih. “Mengapa semua harus disembunyikan ibu? Mengapa tidak bilang pada kita waktu itu?”
Dimas terdiam beberapa saat. Dia menatap pintu kamar Aluna yang tertutup.
“…mungkin karena pelakunya seseorang yang sangat ibu percaya.”
Digo menutup mata. “Marco…”
Dimas tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup.
Ia menatap tangga menuju loteng yang gelap, dan sebuah firasat aneh menggenggam jantungnya.
Ia tahu satu hal:
Diary itu baru permulaan.
Masih ada potongan-potongan lain yang belum mereka temukan.
Dan semakin ia membaca, semakin ia yakin…
Kebenaran tentang malam pembantaian itu jauh lebih dekat daripada yang ia duga.