Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Sera
Sera nampak khawatir sejak tadi dia tidak tenang selepas di pergoki oleh Celesta di rumah sakit, entah mengapa rasanya Sera ingin segera mengemasi barangnya untuk meninggalkan kota itu.
Sera bolak-balik di dalam apartemen nya sembari menjaga punggung yang kini terasa berat menjaga perutnya yang buncit. Dia mengigit kukunya karena saat was-was.
Dia kemudian mencoba mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah itu, dan mencoba mencapai ponselnya yang berada di sebelah tepat tergeletak di atas sofa itu.
Entah mengapa pikirannya kini tertuju pada sosial media padahal dia tidak terpikirkan sebelum nya, mungkin untuk halau keresahan nya. Dia mulai menscroll video real yang sedang tayang, hingga jemari berhenti pada satu video yang cukup banyak likenya.
Terlihat disana video nya dan Celesta sedang viral di mana-mana, Sera mengatupkan bibir, matanya membulat mencoba fokus pada video yang sedang di putar. Tangan Sera kemudian memencet tombol komentar yang memperlihatkan puluhan komentar cacian tentang Celesta.
"Nggak tau dah, tapi katanya artis ini sebenarnya emang NPD, cuy," komentar salah satu netizen.
"Bisa-bisa dia bully ibu hamil, nggak ada kerjaan apa yak artis ini," Sera melihat komentar lain yang membuat mata berhenti berkedip.
Sera menutup matanya sejenak lalu meletakkan kembali ponselnya di atas sofa panjang itu, dia tidak ingin memikirkan banyak hal sebab yang di katakan dokter beberapa jam yang lalu bahwa Sera tidak boleh terlalu stres dan harus menjaga kesehatan nya.
Dia kemudian bergerek dengan perlahan sembari menyanggah punggung yang terasa nyeri setiap kali bergerak.
Dan setelah Sera bisa berdiri dengan sempurna, dia berjalan menuju nakas kemudian mengambil dompet di atas sana untuk membeli beberapa kebutuhan di luar.
*
Beberapa menit kemudian Sera sampai di sebuah swalayan yang cukup besar di kota itu. Dia mendorong sebuah troli dengan perlahan, melihat-lihat sayuran segar yang di tata dengan rapi oleh para karyawan yang bekerja disana.
Dia melihat timun yang yang terbungkus dengan rapi secara seksama, karena beberapa minggu lalu dia ngidam timun itu.
Setelah membolak-balik timun itu diberbagai sisi, Sera kemudian memasukkan timun itu kedalam troli. Dia menegakkan tubuh ketika dua karyawan yang sedang menyortir buah sedang mengobrol di ujung tempat sayur.
"Ish, kamu tau tidak? ada beberapa orang dengan pakaian hitam, berkeliling di kompleks kami tadi, mengerikan sekali," ujar salah satu karyawan melambaikan tangan kearah bahu temannya.
"Ih, yang benar, kok bisa?" tanya temannya dengan nada khawatir.
"Iya, katanya mencari Nyonya Sera, nama lengkapnya Seraphina Gunawan, istri CEO Ashford Sync" bisik karyawan itu sedikit mendekatkan bibirnya pada telinga temannya. Namun, masih terdengar jelas di telinga Sera.
"Ah, untuk bukan Intel ya, hanya orang kaya gabut," ujar temannya tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Aish, kamu ini, kok bisa seorang CEO kehilangan istrinya seperti itu dan mencarinya sampai kompleks orang menengah, kalau aku jadi istri nya, kau tidak akan kabur. Kalau dia selingkuh kuras saja hartanya," jawab karyawan itu sembari terkekeh.
"Iyak... yak, apalagi dia saat ini memilih kompleks menengah... menengah kebawah, wkwkwk..."
"Nggak etis kan," ujar karyawan itu suara nha mengema di lorong itu, hingga teman menepuk bahunya agar tidak terus tertawa kalau tidak mereka akan mendapatkan SP.
Sera nampak mendengar dengan seksama bahkan tubuh membeku dan mematung seketika hingga tawa itu membuyarkan lamunannya, 'Memang enak selalu makan hati,' gumam Sera dalam hati membalas hinaan karyawan itu padanya.
Tidak berselang lama terdengar beberapa keramaian di luar swalayan, seperti seseorang mencari sesuatu di sana. para karyawan yang sedang mengunjing Sera, bahkan Sera itu sendiri pun penasaran dengan apa yang terjadi.
Sera akhirnya berdiri di sebelah para karyawan itu, pera pekerja itu nampak menutup mulut dengan satu tangan dan mulai berbisik dengan kejadian di depannya, "Eh... bukan nya itu orang-orang yang berkeliling di komplek kami,"
"Ah, yang benar..." ujar temannya penasaran.
"Iya, benar. Itu pria yang ditengah itu aku melihatnya kemarin," tunjuk karyawan itu.
Sedangkan Sera mulai panik dan menutup wajah dengan tasnya, bahkan dia tak sempat lagi untuk memikirkan belanjaan dan hanya fokus untuk kabur dari orang-orang berseragam hitam itu.
"Hey... kau pernah melihat foto orang ini sekitar sini, namanya Nyonya Seraphina Gunawan," ujarnya menghentikan salah satu pengunjung swalayan dengan sebuah kertas foto di tangannya.
Wanita itu menggeleng kepala dengan kencang sembari mengerutkan keningnya tajam menatap dengan fokus pada wajah itu, "Tidak tau pak, coba tanya sama kasir pak. Siapa tau mbanya tau karena dia yang setiap hari lihat orang lalu lalang disini," jelas wanita itu dan meninggalkan Robert.
Robert terus mencari di sekeliling swalayan itu, namun Sera sudah berhasil kabur kedalam mobilnya ketika Robert sedang tanya pada wanita yang barusan lewat tadi.
Dengan setengah mengendap-endap mengunakan selendang yang sengaja Sera bawah tadi akhirnya dia bebas dari pantauan Robert. Dia mengelus perutnya merasa guncangan tadi akan menakuti anak-anaknya.
"Maafkan mama ya nak, mama takut kalian dia apa-apakan oleh papa kalian," ujar Sera berbicara pada anak-anak nya itu.
Jujur saja dia masih takut kalau Dominic mencarinya karena hasutan Celesta, sebab video-video yang bersebaran saat ini. Jika, Sera hanya harus klarifikasi Sera sanggup tapi harus mengancam keselamatan anaknya dia tak sanggup.
Sera menarik nafasnya kasar melirik pada orang-orang yang masih berlalu-lalang mencarinya. Dia kemudian mencengkram setir mobilnya dengan kuat. Lalu memutar mobilnya kearah apartemen.
*
Sesampainya ke kamar nomor 106, Sera langsung memasuki apartemennya dengan terburu-buru kemudian menuju ke kamar dengan cepat. Dia tak mampu lagi memilah barang, mana yang di rasa Sera sangat penting. Dia masukkan barang kedalam koper.
Mungkin ketika keadaan cukup kondusif nanti dia akan meminta pick-up untuk membawa barangnya ketempat baru, yang penting Sera lolos dahulu dari situasi ini.
Meskipun dia sedang hamil besar, dia mencoba untuk menarik kopernya yang berat hingga loby. Melihat Sera kesulitan seorang pekerja di apartemen itu menghampiri Sera.
"Ibu, mau kemana bu? pulang kampung ya? buru-buru sekali," ujarnya ramah sembari membantu Sera mengangkat koper.
"Em... itu... Iya saya mau istirahat dulu di rumah, biar ada temannya. Soalnya suami saya sangat sibuk belakangan ini, katanya dia akan menyusul saya nanti," jawab Sera berbohong karena selama ini yang orang tau Sera memiliki suami yang bekerja di luar kota dan jarang kerumah.
Pekerja itu nampak menganggukkan kepala dan tersenyum seperti tidak akan melanjutkan pertanyaan nya, "Baik bu, saya bantu ya, semoga adiknya sehat-sehat ya,"
Pekerja itu kemudian mengangkat koper itu hingga kedalam mobil Sera, "Terima kasih ya mas sudah bantu saya,"
"Sama-sama, bu,"