NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Sampai Lokasi Diklat

Bus berhenti pelan. Suaranya mendesah panjang, kayak orang kelelahan. Aku berdiri terakhir sebelum turun, nunggu yang lain lebih dulu. Bukan karena sopan. Aku cuma nggak pengin nyenggol siapa pun.Begitu kakiku nginjek tanah, udara di lokasi diklat langsung kerasa beda. Lebih dingin. Lebih sepi. Pohon-pohon tinggi, bangunan aula sederhana, lapangan luas yang masih basah sedikit.

Tempat yang harusnya bikin semangat. Tapi dadaku malah berat. Aku langsung nyari Rara. Biasanya refleks. Kayak kebiasaan lama yang susah hilang. Tapi kali ini, dia sudah jalan duluan sama beberapa orang. Ketawa kecil. Nggak nengok ke belakang. Aku berhenti sebentar. Tara turun tepat di belakangku. Dia bawa ransel gede, satu tangan pegang tali, satu lagi nyeret koper kecil. “Kita ke mana?” dia nanya. Aku buka kertas pembagian kamar. “Ke barak C.”

“Oke.” Kami jalan berdua. Di kanan kiri, kelompok lain rame sendiri. Ada yang bercanda, ada yang teriak manggil nama temannya. Aku lewat di tengah-tengah itu semua, tapi rasanya kayak lewat tanpa suara. Sampai di barak, aku buka pintu. Bau kasur, bau kayu, bau debu tipis. Aku taruh tas di pojok. “Capek ya,” kata Tara sambil duduk di kasur bawah. Aku cuma ngangguk. Setelah semua naruh barang, kami dipanggil kumpul di lapangan. Aku berdiri di barisan, bareng yang lain. Rara berdiri agak depan, dekat pembina. Biasanya aku di situ juga.

Tapi hari itu, aku ada satu langkah lebih belakang. Pembina mulai jelasin aturan diklat. Aku denger, tapi setengah. Kepalaku masih keinget bentakan kemarin. Cara orang-orang nengok. Nada suara Rara yang beda dari biasanya. Aku coba fokus. Aku catat beberapa poin. Tugas, jadwal, pembagian regu. Waktu pembagian regu disebut, namaku dipanggil. Tapi reaksinya biasa. Nggak ada yang nengok. Nggak ada yang komentar. Giliran Rara dipanggil, ada yang nyeletuk, “Wah, siap-siap nih.”

Ketawa kecil muncul. Aku senyum. Refleks. Tapi cepat hilang. Setelah apel, kegiatan langsung jalan. Kami dibagi tugas bersih area. Aku ambil sapu, mulai dari sisi lapangan. Biasanya aku kerja bareng Rara. Tapi sekarang, dia sudah jalan ke arah lain, sama kelompoknya. Aku mau nyusul, tapi langkahku keburu berhenti.

Bukan karena dia melarang. Bukan karena ada yang ngomong. Tapi karena rasanya… aku nggak diharapkan di sana. Aku berbalik arah. Aku sapu area dekat gudang. Sendirian. Debu naik, bikin tenggorokan kering. Aku batuk kecil, tapi nggak berhenti. Tara datang beberapa menit kemudian. “Kamu di sini?”

“Iya. Biar cepet beres,” jawabku. Dia ikut nyapu. Kami kerja tanpa banyak ngobrol. Suara sapu ketemu tanah jadi irama sendiri. Setelah bersih, kami balik ke lapangan. Keringat nempel di punggung. Bajuku lembap. Aku duduk sebentar, minum. Rara lewat di depanku. Jaraknya dekat. Sangat dekat. Tapi dia nggak nengok. Nggak nyapa. Aku mikir, mungkin dia capek. Mungkin dia fokus. Aku cari alasan buat nenangin diri sendiri.

Siang itu, makan bareng. Aku duduk di ujung meja. Tara di sebelahku. Kursi di depanku kosong. Rara duduk di meja lain, rame sama yang lain. Aku makan pelan. Nasi agak dingin. Lauknya biasa. Tapi aku susah nelan. “Kenapa nggak pindah aja ke sana?” Tara nanya pelan, sambil nunjuk meja Rara. Aku geleng. “Biarin.”

Dia nggak maksa. Sore hari, kegiatan fisik. Lari kecil, baris-berbaris, latihan dasar. Kakiku pegal. Tapi aku tahan. Aku nggak mau jadi yang ngeluh.

Waktu istirahat, aku duduk di pinggir lapangan. Aku buka sepatu, pijit kaki sebentar. Dari kejauhan, aku lihat Rara lagi ngobrol serius sama pembina. Angguk-angguk. Dicatat. Harusnya aku di situ juga. Aku berdiri, niat nyamperin. Baru dua langkah, pembina manggil kelompok lain. Rara ikut jalan. Momen itu lewat begitu aja. Aku berhenti lagi.

Malam mulai turun. Kegiatan belum selesai. Ada sesi diskusi kelompok. Aku duduk melingkar sama reguku. Aku kasih pendapat. Biasa. Nggak ada yang nyela. Tapi juga nggak ada yang nyaut panjang. Rara lewat depan barak. Matanya sempat ke arahku. Sekilas. Tanpa ekspresi. Aku bingung harus nangkepnya gimana.

Malam makin dingin. Setelah sesi selesai, aku balik ke barak. Badan rasanya remuk. Aku rebahan sebentar, tapi pikiran nggak ikut diam. Di luar, suara orang ketawa. Suara langkah. Aku dengar nama Rara disebut. Disusul obrolan. Aku tutup mata.

Aku bukan dijauhi dengan jelas. Nggak ada yang bilang, “Naya jangan ikut.” Nggak ada yang nyuruh aku minggir. Tapi aku nggak diajak. Nggak dicari. Nggak ditunggu. Dan itu lebih bikin capek.

Tara masuk barak. “Kamu nggak ikut ngumpul?” Aku geleng. “Capek.”

Dia duduk di kasur atas.“Oke.”

Lampu dimatiin setengah. Aku rebahan, ngadep tembok. Di situ aku ngerasa sesuatu geser. Pelan. Nggak dramatis. Tapi nyata. Aku masih di kegiatan ini. Masih bagian dari tim. Masih pegang tanggung jawab. Tapi posisiku berubah. Bukan dicopot. Bukan diusir. Cuma… dijauhkan tanpa kata.

Dan malam pertama di lokasi diklat itu, aku tidur dengan pikiran penuh. Bukan karena takut. Bukan karena marah. Tapi karena bingung harus berdiri di mana.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!