"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Richard Bersekutu dengan Musuh
🌹 Puisi: Saat Duri Berpaling pada Mawar
Di sudut gelap tempat hati membusuk,
Seorang lelaki yang kehilangan takhta
Menjual sisa harga diri pada iblis.
Ia lupa,
Mawar yang pernah ia injak
Kini tumbuh akar yang mencengkeram bumi.
Ia tak tahu,
Setiap duri yang patah akan tumbuh lagi—
Lebih tajam, lebih beracun.
Tapi malam ini,
Api sedang ditiup dari arah yang tak terduga.
Dan badai yang akan datang
Bukan sekadar badai biasa.
---
Pukul sembilan malam, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun.
Richard duduk di kursi belakang mobilnya yang sudah tiga bulan tidak diservis. AC-nya rusak, joknya mengeluarkan bau apek, dan kaca depannya berkabut karena ia tak mampu membeli penghapus kabut. Ia memarkir di seberang gedung pencakar langit yang dulu adalah miliknya—Gedung Wijaya Tower, dengan 42 lantai dan nilai aset 2,7 triliun rupiah.
Sekarang, di lantai 41, kantornya ditempati oleh mantan istrinya. Alana.
Richard mengepalkan setir. Buku-buku jarinya memutih.
"Hanya butuh satu kesempatan," gumamnya. "Satu kesempatan untuk menghancurkanmu, Alana. Kau pikir kau sudah menang? Permainan baru dimulai."
---
Dua jam kemudian, Richard memasuki sebuah restoran Jepang di kawasan SCBD. Di bilik VIP paling ujung, sudah duduk seorang pria paruh baya dengan setelan gelap dan senyum yang terlalu manis untuk disebut tulus.
Aris Sanjaya—CEO Sanjaya Group, kompetitor terbesar Wijaya Corp di industri properti dan teknologi finansial. Pria yang selama lima tahun terakhir selalu kalah tender dari ayah Alana, Hendra Wijaya. Pria yang tiga bulan lalu mencoba mengambil alih proyek MNC Tower, tapi kalah telak oleh Alana dengan proposal yang lebih brilian.
"Richard," Aris menyambut dengan tangan terbuka. "Aku dengar kau lagi butuh teman."
Richard duduk tanpa basa-basi. "Aku butuh lebih dari teman. Aku butuh senjata."
Aris tertawa pelan. Ia menggeser gelas sake ke hadapan Richard. "Kau tahu, di Jepang, sake diminum bukan untuk mabuk. Tapi untuk membangun kepercayaan."
"Kita tidak perlu basa-basi," potong Richard. Suaranya serak, matanya merah. "Kau ingin menghancurkan Alana. Aku juga. Itu satu-satunya kesamaan yang kita butuhkan."
Aris menyandarkan punggung. Sorot matanya berubah—dari ramah menjadi predator. "Aku sudah mencoba menyainginya secara bisnis. Wanita itu... jenius, Richard. Kau tahu apa yang dia lakukan di proyek MNC? Dia menggabungkan AI untuk prediksi pasar properti, sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan oleh timku yang lulusan Harvard dan MIT."
Richard tersenyum getir. "Dia memang jenius. Karena dia belajar dari ayahnya. Dan aku... aku terlalu sibuk berselingkuh di bawah atapnya untuk menyadari bahwa aku tidur dengan seekor ular."
Aris menuang sake untuk dirinya sendiri. "Jadi, kau mau balas dendam?"
"Bukan balas dendam." Richard mencondongkan tubuh. "Aku mau menghancurkannya. Sampai dia tak punya apa-apa lagi. Sampai dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang: jatuh, terinjak, tak berguna."
Hening sejenak. Hanya suara hujan di luar dan gesekan sumpit di piring keramik.
Lalu Aris tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
"Bagus," katanya. "Karena aku punya rencana yang sempurna."
---
Aris membuka tabletnya. Di layar, tampak diagram alir perusahaan Wijaya Corp, lengkap dengan nama-nama direksi, mitra bisnis, dan proyek-proyek yang sedang berjalan.
"Ini rahasia dagang," kata Aris enteng. "Aku punya orang dalam. Bukan di level bawah—tapi di dekat Alana."
Mata Richard membelalak. "Kau punya mata-mata di perusahaannya?"
"Bukan mata-mata. Seorang sekutu." Aris memperbesar salah satu titik di diagram. Sebuah nama muncul. Richard menahan napas.
"Tidak mungkin..."
"Kenyataan." Aris mematikan tablet. "Dia yang memberiku akses ke semua data proyek Alana. Dan malam ini, aku dan kau akan memutuskan: proyek mana yang akan kita hancurkan duluan?"
Richard menatap layar gelap itu. Hatinya berdetak kencang—antara kemenangan dan... sesuatu yang lain. Sebuah suara kecil di kepalanya berbisik, "Ini salah. Kau tahu ini salah."
Tapi ia membungkam suara itu dengan seteguk sake.
"Proyek CBD di Kemayoran," kata Richard akhirnya. "Itu proyek terbesar Alana tahun ini. Kalau gagal, dia bisa kehilangan kepercayaan investor."
Aris mengangguk pelan. "Aku suka caramu berpikir. Tapi aku mau lebih dari sekadar gagal proyek. Aku mau skandal. Aku mau nama Wijaya Corp tercemar. Aku mau publik melihat Alana bukan sebagai ratu bisnis, tapi sebagai penipu ulung."
Richard mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Aris mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya. Dokumen tebal, bermeterai, dengan logo Wijaya Corp di sudutnya. "Ini adalah kontrak fiktif antara Wijaya Corp dan perusahaan cangkang milikku. Ditandatangani oleh Alana—tanda tangan palsu, tentu saja. Tapi dengan forensik yang tepat... semua orang akan percaya itu asli."
Richard membaca dokumen itu. Angkanya mencengangkan: Rp 500 miliar, untuk proyek fiktif di Kalimantan.
"Kau mau menjebaknya dengan kasus korupsi?" Richard nyaris berbisik.
"Bukan korupsi. Penggelapan dana investor." Aris tersenyum. "Lebih indah, kan? Investor akan panik. Sahamnya anjlok. Dan saat dia sibuk membela diri di pengadilan... aku akan mengambil alih semua proyeknya, satu per satu. Dengan bantuanmu, tentu saja."
Richard menelan ludah. Ini bukan sekadar balas dendam. Ini pembunuhan karakter.
Dan ia menyadari: Aris bukan sekadar kompetitor. Aris adalah monster yang lebih kejam dari dirinya.
"Aku setuju," kata Richard.
Padahal dalam hatinya, sebuah suara lagi-lagi berbisik: "Kau baru saja menjual sisa jiwamu."
---
Seminggu kemudian.
Di kantornya yang megah di lantai 41, Alana sedang membaca laporan keuangan. Lucas duduk di depannya, memasang ekspresi yang tidak biasa—gelisah.
"Ada apa?" tanya Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Lucas menghela napas. "Boss... ada yang aneh dengan proyek Kemayoran."
Alana mendongak. "Aneh bagaimana?"
"Kita dapat pengaduan dari pemasok. Mereka belum dibayar untuk material yang sudah dikirim tiga minggu lalu. Padahal, menurut sistem, kita sudah mentransfer dana ke mereka."
Alana mengerutkan kening. "Cek ulang. Mungkin ada kesalahan administrasi."
"Sudah." Lucas menekan keyboardnya, menampilkan data di layar besar. "Ini bukti transfer ke rekening pemasok. Tapi... lihat ini."
Alana membaca. Nomor rekeningnya berbeda. Banknya berbeda. Semua identitas pemasok itu palsu.
"Seseorang telah mengalihkan dana proyek kita sebesar 75 miliar ke rekening fiktif," kata Lucas lirih. "Dan transaksi ini... ditandatangani secara digital menggunakan kode akses pribadimu."
Dunia Alana terasa berhenti.
Kode akses pribadi itu hanya diketahui oleh dua orang: dirinya... dan Richard, saat masih menikah dulu.
"Richard," bisiknya.
Lucas mengangguk berat. "Sepertinya dia masih punya akses ke sistem lama. Tapi ini baru permulaan, Boss. Aku khawatir..."
Belum sempat Lucas menyelesaikan kalimat, pintu kantor terbuka. Seorang staf hukum masuk dengan wajah pucat pasi.
"Bu Alana... maaf mengganggu. Tapi kami baru menerima somasi dari Kejaksaan. Ada laporan pengaduan masyarakat terkait dugaan penggelapan dana proyek Kalimantan sebesar..."
"500 miliar," potong Alana datar.
Staf itu terkejut. "I... Ibu sudah tahu?"
Alana tidak menjawab. Ia menatap Lucas. Lucas membuka tabletnya, matanya membelalak.
"Boss... berita ini sudah tersebar di media online. 'Wijaya Corp Tersandung Kasus Korupsi 500 Miliar'. Komentarnya sudah ribuan. Saham kita... saham kita turun 12% dalam satu jam."
Alana berdiri. Ia berjalan ke jendela kaca, menatap langit Jakarta yang mendung.
"Richard," gumamnya lagi. "Dia tidak sendiri. Dia pasti punya sekutu."
Lucas menghampiri. "Boss, kita harus segera bertindak. Release press, klarifikasi, apa pun itu—"
"Tidak."
Lucas terkejut. "Tidak?"
Alana berbalik. Matanya—yang biasanya tenang seperti air danau—kini menyala dengan api yang tak biasa.
"Biarkan mereka bicara. Biarkan sahamnya turun. Biarkan semua orang mengira aku jatuh." Ia tersenyum—senyum yang dingin, tajam, dan penuh arti. "Kita tunggu sampai mereka yang di belakang layar itu keluar dari persembunyiannya."
"Tapi—"
"Lucas." Alana memotong. "Kau tahu apa yang paling indah dari permainan ini?"
Lucas menggeleng.
"Musuh yang mengira kita buta, akan lengah. Dan saat mereka lengah..." Alana meraih setangkai mawar merah di vas meja kerjanya. Ia memegang batangnya erat-erat, membiarkan durinya menusuk jarinya. Setetes darah menetes, tapi ia tak bergeming. "...saat itulah kita menusuk."
---
Malam harinya, di sebuah apartemen mewah milik Aris Sanjaya, Richard dan Aris merayakan "kemenangan pertama" mereka dengan whiskey 30 tahun.
"Lihat," Aris menunjukkan layar TV yang menyiarkan berita ekonomi. Saham Wijaya Corp terus merosot. Analis berbondong-bondong memprediksi kebangkrutan. "Dia jatuh, Richard. Dia jatuh!"
Richard tertawa, tapi tawanya terasa hampa.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:
"Selamat. Kau berhasil membuatku terluka. Tapi ingat: mawar yang terluka akan mengeluarkan aroma paling memabukkan—tepat sebelum durinya meracuni siapa pun yang memetiknya."
Richard membacanya berulang-ulang. Jantungnya berdetak kencang. Ia kenal gaya tulisan itu. Ia kenal siapa pengirimnya.
"Aris," katanya lirih. "Dia tahu."
Aris menoleh. "Siapa yang tahu?"
"Alana. Dia tahu ini kita."
Aris tertawa. "Biar saja. Biar dia tahu. Apa yang bisa dia lakukan? Semua bukti sudah kita atur. Semua media sudah kita bayar. Dia hanya—"
Ponsel Richard bergetar lagi. Kali ini, sebuah foto.
Foto Aris Sanjaya, sedang makan malam di restoran Jepang minggu lalu... dengan Richard.
Tapi yang membuat Richard merinding—foto itu diambil dari sudut yang mustahil. Dari dalam bilik VIP itu sendiri. Dari seseorang yang duduk di meja sebelah mereka malam itu.
Seseorang yang tidak mereka sadari.
Seseorang yang kini mengirim pesan singkat:
"Terima kasih sudah keluar dari persembunyian. Aku sudah lama menunggu."
Ponsel Richard jatuh ke lantai.
---
Di puncak Wijaya Tower, di ruangan yang gelap, Alana berdiri memandang lampu kota Jakarta.
Lucas masuk tanpa mengetuk. "Boss, tim kita sudah dapat identitas semua orang dalam yang bekerja untuk Aris. Termasuk yang di level direksi."
Alana tidak menoleh. "Bagus. Siapkan semuanya."
"Kapan kita bergerak?"
Alana akhirnya berbalik. Senyumnya—manis, tapi maut.
"Biarkan mereka menikmati kemenangan semalam lagi. Besok pagi, saat mereka bangun..." Ia mengambil remote, menyalakan TV yang menayangkan Richard dan Aris sedang bersulang whiskey. "...kita hancurkan dunia mereka."
Lucas mengangguk, lalu keluar.
Alana mematikan TV. Ia memegang perutnya—perutnya yang belakangan sering mual. Ia belum sempat cek ke dokter. Terlalu sibuk. Tapi ia punya firasat.
Dan firasat itu bukan kabar baik.
---
🌹 CLIFFHANGER:
Ponsel Alana berdering. Nomor pribadi Nathan.
Ia mengangkat. Suara Nathan di seberang terdengar terburu-buru.
"Alana, dengar. Aku baru dapat info dari sumber terpercaya. Richard dan Aris bukan satu-satunya musuhmu. Ada dalang di belakang mereka. Seseorang yang lebih dekat dari yang kau kira."
Alana diam.
Nathan melanjutkan, suaranya berbisik: "Seseorang yang setiap hari kau temui. Seseorang yang kau percaya. Dia yang memberi semua informasi pada Aris. Dan dia..."
Sambungan terputus.
Alana menatap layar ponselnya. Siapa?
Lalu pintu ruangannya terbuka. Seseorang masuk dengan senyum ramah, membawa sekotak makanan kesukaannya.
"Kamu belum pulang? Kerja terlalu keras, Bos."
Alana mematikan layar ponsel. Menyembunyikan raut wajahnya.
Tapi dalam hati, ia bertanya: Apakah ini dia? Apakah dia pengkhianat itu?
Bersambung...(*❛‿❛)→