NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Pertolongan

Bab 22 — Pertolongan

Alisha Pratiwi berdiri di pinggir jalan dengan tubuh sedikit tegang.

Lampu mobil yang berhenti di depannya masih menyala terang. Cahaya itu membuat bayangannya memanjang di atas aspal.

Pintu mobil perlahan terbuka.

Seseorang turun dari dalam mobil.

Alisha menahan napas.

Beberapa detik ia tidak bergerak. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia masih ingat perasaan aneh sejak sore tadi, seolah ada seseorang yang memperhatikannya.

Langkah pria itu mendekat.

Saat wajahnya terlihat jelas di bawah lampu jalan, Alisha langsung terkejut.

“Alvaro?”

Pria itu berhenti di depannya.

“Iya, aku.”

Ketegangan di wajah Alisha perlahan menghilang. Ia menghela napas panjang seperti baru saja menahan sesuatu sejak tadi.

“Kamu membuatku kaget,” katanya.

Alvaro menatapnya dengan serius.

“Kamu yang membuatku khawatir.”

Alisha mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Alvaro melirik ke arah jalan di belakang Alisha.

“Kamu sendirian di jalan seperti ini.”

Alisha mengangkat bahu.

“Aku selalu pulang lewat sini.”

Alvaro tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Alisha yang masih terlihat sedikit tegang.

“Ada apa?” tanya Alvaro.

Alisha sempat ragu.

Ia tidak ingin terlihat berlebihan.

Tetapi perasaan tidak nyaman itu masih ada.

“Aku merasa seperti diikuti,” katanya akhirnya.

Alvaro langsung memperhatikan sekeliling.

“Kapan?”

“Tadi saat jalan dari kafe.”

Alisha menoleh ke belakang lagi.

“Tapi mungkin hanya perasaanku saja.”

Alvaro tidak terlihat setuju.

“Di kafe tadi aku juga merasa ada yang aneh.”

Alisha memandangnya.

“Kamu juga merasa begitu?”

Alvaro mengangguk pelan.

“Ada mobil yang parkir cukup lama di dekat kafe.”

Alisha terdiam beberapa detik.

Ia mencoba mengingat kejadian tadi.

Mungkin memang bukan hanya perasaannya.

Alvaro membuka pintu mobil di sampingnya.

“Masuk.”

Alisha langsung menggeleng.

“Tidak usah. Rumahku tidak jauh dari sini.”

Alvaro tidak menutup pintu mobil itu.

“Masuk saja.”

“Aku tidak ingin merepotkan.”

Alvaro menatapnya dengan wajah serius.

“Ini bukan soal merepotkan.”

Alisha masih berdiri di tempatnya.

Alvaro akhirnya berkata dengan nada tegas.

“Kalau memang ada orang yang mengikutimu, kamu tidak boleh jalan sendirian.”

Alisha terdiam.

Ia tidak bisa membantah.

Beberapa detik kemudian ia akhirnya masuk ke dalam mobil.

Alvaro menutup pintu lalu berjalan ke sisi pengemudi.

Mobil itu segera bergerak meninggalkan tempat tadi.

Tidak jauh dari sana, sebuah mobil lain masih terparkir di pinggir jalan.

Dua pria duduk di dalamnya.

Salah satu dari mereka menatap mobil Alvaro yang mulai menjauh.

“Itu dia,” katanya.

Pria di kursi pengemudi melihat ke arah yang sama.

“Iya. Dia bersama pria itu.”

Pria yang duduk di samping membuka ponsel. Foto Alisha Pratiwi terlihat di layar.

“Targetnya benar.”

Pengemudi terlihat sedikit ragu.

“Pria itu siapa?”

Pria di sampingnya menatap mobil yang semakin jauh.

“Sepertinya Alvaro.”

Pengemudi langsung mengerutkan kening.

“Serius?”

“Iya.”

Suasana di dalam mobil menjadi lebih tenang.

Beberapa detik mereka tidak berbicara.

“Kalau benar dia Alvaro, kita tidak bisa bergerak sembarangan.”

Pria yang memegang ponsel mengangguk.

“Benar.”

Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya.

“Kita laporkan saja dulu.”

Pengemudi bersandar di kursinya.

“Perintah kita cuma mengawasi.”

Pria itu mulai mengetik pesan singkat.

Target bersama Alvaro. Situasi masih aman.

Pesan itu langsung dikirim.

Mobil mereka tetap berada di tempat itu sampai beberapa menit kemudian sebelum akhirnya perlahan pergi.

Di dalam mobil Alvaro, suasana cukup tenang.

Lampu jalan terlihat bergantian melewati jendela mobil.

Alisha duduk di kursi penumpang sambil melihat ke depan.

“Kamu yakin tadi ada yang mengikutimu?” tanya Alvaro.

“Aku tidak tahu.”

Alisha menatap jalan di depan.

“Aku hanya merasa seperti ada seseorang di belakangku.”

Alvaro memegang setir dengan lebih erat.

“Kamu harus lebih berhati-hati.”

Alisha tersenyum kecil.

“Kamu terlalu serius.”

“Aku tidak bercanda.”

Nada suara Alvaro terdengar tegas.

Alisha menoleh ke arahnya.

“Aku tidak punya masalah dengan siapa pun.”

Alvaro tidak langsung menjawab.

Ia hanya terus menyetir.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.

“Kadang masalah bisa datang tanpa kita sadari.”

Alisha memikirkan kalimat itu.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sederhana tempat Alisha tinggal.

Lampu teras rumah itu masih menyala.

Alisha membuka pintu mobil.

“Terima kasih sudah mengantarku.”

Alvaro memandangnya sebentar.

“Kamu yakin tidak apa-apa?”

Alisha tersenyum.

“Rumahku di sini.”

Alvaro masih terlihat ragu.

“Kalau terjadi sesuatu, telepon aku.”

Alisha mengangguk.

“Baik.”

Ia turun dari mobil lalu menutup pintu.

Alisha berdiri di depan rumahnya beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju pintu.

Alvaro masih menunggu di dalam mobil sampai Alisha masuk ke dalam rumah.

Setelah pintu rumah tertutup, ia baru menyalakan mesin mobil lagi.

Mobil itu perlahan meninggalkan jalan kecil tersebut.

Di ujung jalan yang agak gelap, sebuah mobil lain terparkir.

Seseorang duduk di kursi pengemudi sambil memegang ponsel.

Ia baru saja menyelesaikan panggilan telepon.

“Target masih aman,” katanya.

Beberapa detik ia mendengarkan suara di seberang.

Ia melihat ke arah rumah Alisha dari kejauhan.

Lampu teras rumah itu masih menyala.

Pria itu kembali berbicara.

“Tapi kita mungkin harus bergerak lebih cepat.”

Ia menutup telepon.

Mobil itu tetap berada di tempatnya selama beberapa saat sebelum akhirnya perlahan pergi meninggalkan jalan tersebut.

Di rumah Mahendra, seseorang sedang menunggu kabar.

Ponsel di tangannya bergetar.

Pesan baru masuk.

Ia membuka pesan itu dengan cepat.

Isi pesan singkat itu membuatnya terdiam beberapa detik.

Target bersama Alvaro.

Tatapan Alisha Mahendra berubah dingin.

Nama itu lagi.

Alvaro.

Ia menutup layar ponselnya perlahan.

Pikirannya mulai bekerja.

Kalau Alvaro terus berada di dekat Alisha Pratiwi, semuanya bisa menjadi lebih sulit.

Ia berdiri dari kursinya.

Tatapannya mengarah ke jendela kamar.

Malam terasa sangat tenang.

Tetapi dalam pikirannya sudah muncul satu keputusan baru.

Permainan ini tidak akan berhenti begitu saja.

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!