Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Suasana kantin kampus siang itu luar biasa riuh. Aroma kopi dan pasta memenuhi udara, bercampur dengan gelak tawa mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas pagi.
Di salah satu meja panjang yang strategis, geng Edgar, yang terdiri dari Clark, Jackson, dan tentu saja Ethan sedang mendominasi suasana.
Edgar duduk dengan gaya angkuh yang biasa, namun matanya terus-menerus melirik ke arah pintu masuk. Pangeran Martinez itu tampak tidak fokus pada pembicaraan teman-temannya tentang saham atau mobil sport. Pikirannya masih tertinggal di mansion, pada aroma vanila yang tertinggal di sprei sutranya pagi tadi.
Tepat saat itu, Leonor masuk. Ia tampak memukau dengan blazer oversize berwarna abu-abu dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya. Kehadirannya selalu membawa aura dingin yang elegan, namun bagi Edgar, wanita itu adalah kehangatan yang paling ia puja.
Saat mata mereka bertemu di tengah keramaian, waktu seolah melambat. Edgar memberikan tatapan memuja yang begitu dalam, tatapan yang hanya ia berikan pada istrinya. Leonor membalas dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, sebuah rahasia manis di antara mereka yang telah terikat sumpah pernikahan.
Keheningan rahasia itu pecah ketika seorang mahasiswi tingkat pertama, dengan wajah memerah dan tangan gemetar, tiba-tiba berdiri di depan Edgar. Ia membawa sebuah kotak kado kecil berwarna merah muda.
"Edgar... aku... aku sudah lama memperhatikanmu. Aku sangat menyukaimu! Tolong terima ini!" seru gadis itu cukup keras hingga meja-meja di sekitar mereka mendadak sunyi.
Clark dan Jackson langsung bersorak menggoda, sementara Ethan tertawa mengejek. Namun, reaksi Edgar benar-benar di luar dugaan. Ia tidak bersikap dingin atau kasar seperti biasanya. Ia justru melirik ke arah Leonor yang sedang duduk tak jauh dari sana, seolah meminta izin.
Edgar berdehem, lalu dengan nada yang sangat konyol ia menjawab, "Maaf, aku tidak bisa menerima kadomu. Anak-anakku di rumah bisa marah jika aku membawa pulang kado dari wanita lain."
"Hah?!" Gadis itu melongo. "Anak-anak? Kau punya anak?"
"Iya, dan ibunya sangat galak. Dia bisa mengubah kado ini jadi benang jahit dalam sekejap," jawab Edgar sambil tertawa kecil, membuat teman-temannya meledak dalam tawa.
"Edgar! Kau benar-benar sudah gila!" seru Clark sambil memukul bahu Edgar. "Anak dari mana? Sejak kapan pangeran kita jadi punya imajinasi tentang keluarga kecil yang bahagia?"
Di tengah tawa itu, perhatian mendadak beralih pada Ethan. Rupanya, hari itu bukan hanya hari penolakan bagi Edgar. Seorang gadis lain, yang tampak lebih berani, menghampiri Ethan dan langsung menembaknya tepat di depan semua orang.
"Ethan Gonzales! Aku menyukaimu! Jadilah pacarku!" seru gadis itu tanpa basa-basi.
Tawa Ethan yang tadinya mengejek Edgar langsung terhenti. Wajahnya berubah merah padam seperti kepiting rebus. Ini adalah pertama kalinya Leonor melihat saudara laki-lakinya itu kehilangan kata-kata dan tampak sangat kikuk.
"Woooaaa! Lihat ini! Saudara ipar Edgar juga kena serangan!" Jackson berteriak kegirangan. "Ayo Ethan, jangan cuma tertawa melihat Edgar. Sekarang giliranmu!"
"Diam kalian!" gerutu Ethan sambil mencoba menutupi wajahnya dengan buku. "Kenapa hari ini semua orang jadi gila menyatakan perasaan di kantin?"
Leonor yang melihat dari kejauhan tidak bisa menahan tawanya. Ini adalah momen langka melihat Ethan, yang biasanya selalu bersikap angkuh dan sombong di bawah bayang-bayang ayahnya, kini digoda habis-habisan oleh teman-temannya hingga tak berkutik.
Di tengah kegaduhan itu, ponsel Leonor bergetar.
Edgar: Lihat saudaramu itu, Sayang. Dia sangat payah menghadapi wanita. Tidak seperti suamimu ini yang sangat setia menjaga hati untukmu dan anak-anak kita.
Leonor mendengus sambil mengetik balasan di bawah meja.
Leonor: Berhenti membahas anak-anak di kantin, Edgar! Kau hampir membuat gadis tadi pingsan karena bingung. Dan biarkan Ethan, dia memang butuh sedikit pelajaran soal cinta.
Edgar: Aku tidak sabar ingin pulang. Kursi mobil suspensi empukmu sudah menunggu. Apa Daddy boleh menjemputmu setelah ini? I miss you, Nyonya Martinez.
Leonor tersenyum manis menatap ponselnya. Ia menoleh sekali lagi ke arah meja Edgar, di mana Edgar sedang dikelilingi teman-temannya yang masih menertawakan Ethan. Edgar mengedipkan satu matanya ke arah Leonor, sebuah isyarat kecil yang membuat jantung Leonor berdegup kencang.
Pernikahan rahasia ini memang penuh dengan drama dan risiko, namun melihat Edgar yang begitu berani melindunginya bahkan dengan candaan konyol sekalipun membuat Leonor merasa bahwa ia telah memenangkan segalanya. David Gonzales mungkin telah membuangnya, namun ia kini berada di tengah orang-orang yang, meski sedikit gila, memberikan cinta yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
"Puas, Suamiku?" bisik Leonor dalam hati, mengulangi kalimat yang selalu mereka gunakan, sambil menyesap jusnya dengan penuh kemenangan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰