NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Undangan Misterius di Tengah Kota Shenzhen

[Waktu: Selasa, 15 April, Pukul 19.30 PM]

[Lokasi: Apartemen Lin Xia, Distrik Nanshan, Shenzhen]

Lin Xia menghela napas panjang, menatap layar laptop yang menampilkan barisan kode dan dialog box yang rumit. Rambut hitam sebahunya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh mengganggu penglihatannya. Di hadapannya, secangkir teh herbal sudah dingin tak tersentuh. Aroma takeaway sisa makan malam di meja kopi samar tercium, bercampur dengan bau kertas dan tinta dari tumpukan outline naskah di sampingnya.

"Sial, mati di sini lagi," gumamnya frustrasi, jarinya berhenti menari di atas keyboard.

Sebagai "Ratu Naskah" di komunitas script-killing online, Lin Xia punya reputasi tak terkalahkan dalam membuat plot. Naskahnya selalu sukses menguras emosi dan membuat pemainnya ketagihan. Tapi untuk proyek terbarunya ini, ia benar-benar buntu. Karakter utamanya, seorang mata-mata di era Republik, terasa hambar. Tidak ada percikan, tidak ada "nyawa".

Ponselnya berdering nyaring, menampilkan nama Xiao Li, sahabat sekaligus editor setia Lin Xia.

"Halo, Ratu Naskah yang sedang frustrasi?" suara Xiao Li terdengar ceria, seolah bisa membaca pikiran Lin Xia.

Lin Xia mendengus. "Bagaimana kau tahu? Aku baru saja membunuh karakter utama untuk kesekian kalinya. Dia tidak mau hidup!"

Xiao Li tertawa geli. "Itu artinya kamu butuh inspirasi baru! Kau tahu, aku punya sesuatu yang mungkin bisa membantumu."

"Apa?" Lin Xia menegakkan duduknya, sedikit tertarik.

"Sebuah undangan eksklusif. Untuk wahana script-killing imersif terbaru. Katanya, ini yang paling realistis di seluruh China! Latar belakangnya era Republik, persis seperti naskahmu itu."

Dahi Lin Xia berkerut. "Imersif? Seberapa imersif? Dan dari mana kau dapat undangan semacam itu?"

"Dari klien VVIP. Mereka bilang, pengalaman di sana bisa membuatmu merasa benar-benar hidup di masa lalu. Bahkan ada yang bilang sampai terbawa mimpi!" Xiao Li terdengar antusias. "Dan ini spesial, Lin Xia. Undangan ini adalah untuk dua orang. Aku sudah mendaftarkan kita berdua untuk sesi hari Sabtu ini. Tempatnya di Kota Tua Suzhou, di sebuah bangunan bersejarah yang dulunya markas militer lama."

Mendengar kata "Suzhou" dan "bangunan bersejarah", jantung Lin Xia berdesir. Kota Tua Suzhou, dengan kanal-kanal indahnya dan arsitektur kuno, adalah inspirasi utama bagi naskah era Republik nya.

"Suzhou? Itu kan lumayan jauh dari Shenzhen," Lin Xia berkata, meski dalam hati ia sudah memikirkan jadwal penerbangan. "Dan kenapa mereka mengundang kita secara khusus?"

"Katanya karena reputasi mu sebagai penulis naskah mystery terbaik. Mereka ingin kamu 'merasakan' langsung pengalaman yang bisa kamu jadikan inspirasi. Anggap saja ini riset lapangan premium!"

Lin Xia termenung. Riset lapangan premium? Terdengar menarik. Naskah yang sedang ia garap memang butuh sentuhan realitas yang lebih dalam. Lagipula, sudah lama ia tidak liburan.

"Baiklah," putusnya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kirim detailnya. Aku butuh tahu apa saja yang harus kita siapkan. Dan Xiao Li, kalau ini jebakan untuk membuatku jadi kelinci percobaan produk mereka, aku akan menghantui mu sampai ke alam mimpi."

Xiao Li hanya tertawa keras. "Itu baru Lin Xia yang kukenal! Sampai bertemu hari Sabtu di Suzhou, ya!"

Sambungan terputus. Lin Xia kembali menatap layar laptop, kali ini dengan semangat baru. Era Republik, wahana imersif, kota tua Suzhou... ide-ide mulai berputar di kepalanya.

Mungkin ini yang kutu-tunggu, pikirnya. Sentuhan realitas yang bisa menghidupkan karakterku.

Namun, ada sebuah firasat aneh yang menyelimuti hatinya. Firasat bahwa undangan ini bukan sekadar liburan biasa, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

[Waktu: Sabtu, 18 April, 19.00 PM]

[Lokasi: Gerbang Masuk "The Forgotten Chronicle", Kota Tua Suzhou]

Angin malam di Suzhou terasa menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan samar-samar bau rempah dari restoran kuno di seberang kanal. Lin Xia mengeratkan syalnya, menatap bangunan di depannya. Bangunan batu yang megah namun tampak usang itu berdiri kokoh di tepi kanal, diselimuti pepohonan willow yang melambai-lambai. Lentera-lentera merah yang menggantung di sepanjang jembatan batu memancarkan cahaya remang, menambah kesan misterius pada malam itu.

Di sampingnya, Xiao Li sudah melompat kegirangan. "Lihat! Persis seperti yang kubayangkan! Atmosfernya... wow! Ini pasti pengalaman sekali seumur hidup."

Lin Xia mengangguk, namun tatapannya lebih waspada. Bangunan itu tampak sepi, bahkan terlalu sepi. Tidak ada tanda-tanda keramaian, padahal ini adalah wahana yang katanya eksklusif. Sebuah plakat kayu bertuliskan kaligrafi kuno terpasang di dekat pintu masuk: "The Forgotten Chronicle: Era Republik".

Mereka menunjukkan undangan digital kepada seorang pria tua berwajah datar yang mengenakan seragam penjaga kuno. Pria itu hanya mengangguk, tanpa berkata sepatah kata pun, lalu membukakan pintu kayu besar.

Di dalamnya, suasana berubah drastis. Sebuah aula luas menyambut mereka, dihiasi perabotan antik, lukisan-lukisan bergaya era Republik, dan lampu gantung kristal yang redup. Beberapa staf dengan pakaian tradisional tampak sibuk mengatur sesuatu.

"Selamat datang, Nona Lin Xia dan Nona Xiao Li," sapa seorang wanita anggun bersanggul rapi dengan cheongsam merah marun. Senyumnya ramah, tapi mata hitamnya memancarkan sorot tajam. "Saya Manajer Mei, yang akan memandu Anda malam ini."

"Wah, ini benar-benar totalitas ya," bisik Xiao Li kepada Lin Xia.

Manajer Mei menyerahkan sebuah map kulit tua kepada Lin Xia. "Ini adalah pengarahan awal Anda. Di dalamnya ada detail karakter yang akan Anda perankan, latar belakang cerita, dan beberapa petunjuk awal. Anda dan Nona Xiao Li akan berperan sebagai kakak beradik, Nona Muda Lin Xia dan Nona Muda Lin Qing, dari keluarga pedagang kaya di kota ini."

Lin Xia membuka map itu. Matanya langsung menangkap sebuah nama: Marsekal Gu Yan.

Gu Yan? Karakter utama dalam naskahku? batin Lin Xia terkejut. Kebetulan sekali?

"Sebentar lagi, Anda akan berganti pakaian dan bergabung dengan pemain lain di ruang utama. Permainan akan dimulai tepat pukul delapan malam," jelas Manajer Mei. "Ingat, di dalam wahana ini, peran Anda adalah hidup Anda. Setiap keputusan yang Anda buat akan memengaruhi alur cerita. Jangan ragu untuk berinteraksi, berkolaborasi, atau bahkan berkhianat."

Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan penekanan, membuat Lin Xia sedikit bergidik. Ini bukan sekadar permainan biasa, pikirnya. Ini adalah dunia yang siap menelannya.

"Semoga Anda menikmati pengalaman di 'The Forgotten Chronicle'," kata Manajer Mei sambil tersenyum tipis, yang kali ini terasa lebih seperti seringai.

Lin Xia melirik Xiao Li, yang masih tampak bersemangat. Namun, dalam benak Lin Xia, firasat aneh tadi kembali muncul. Ada sesuatu yang tidak beres. Bangunan ini, Manajer Mei, bahkan nama karakter utamanya yang persis dengan naskah yang sedang ia kerjakan.

Ini terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan belaka.

Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, seorang staf lain menghampiri dan membimbing mereka ke ruang ganti. Ketika Lin Xia memandangi cheongsam merah anggur yang terlipat rapi, lengkap dengan hiasan rambut dan kipas tangan, ia merasa seperti melangkah ke dalam halaman-halaman naskahnya sendiri.

Tepat saat jarum jam menunjuk pukul delapan, dan lonceng tua di menara bangunan berdentang nyaring, Lin Xia menatap pantulan dirinya di cermin. Seorang wanita muda dari era Republik, dengan tatapan penuh pertanyaan di matanya.

Permainan telah dimulai.

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!