EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah!
Di dalam mushala pribadi yang harum oleh uap gaharu, Gus Azlan duduk bersila di hadapan Kyai Hamid.
Di samping kiri mereka duduk Ustadz Hafiz sebagai saksi, dan seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang merupakan sahabat Kyai Hamid dari kantor urusan agama yang datang sebagai wali hakim karena Zunaira adalah seorang yatim piatu tanpa wali nasab.
Gus Azlan nampak sangat tegang, jari-jarinya terus memutar tasbih serta bibirnya tak henti melafalkan doa.
Saat pintu mushala terbuka perlahan dan Zunaira masuk didampingi Ummi Salamah dan Arifa, Gus Azlan sempat mendongak.
Pandangan mereka bertemu sesaat, hanya satu detik sebelum keduanya kembali menunduk, namun dalam satu detik itu ada sejuta janji yang tersampaikan.
Zunaira duduk di belakang barisan para pria, dipisahkan oleh sekat transparan tipis yang hanya bersifat simbolis.
"Sudah siap Azlan?" tanya Kyai Hamid. Suaranya berat, mengandung beban sejarah dan tanggung jawab besar.
"Insya Allah, Abah." ucap Gus Azlan sambil mengangguk pasti.
Kyai Hamid menoleh ke arah wali hakim. "Silakan dimulai pak." ucap Kyai Hamid.
Wali hakim tersebut berdehem, lalu membacakan khotbah nikah singkat.
Suaranya yang tenang memenuhi ruangan mushala yang hanya berukuran empat kali lima meter itu, dalam khotbahnya ia mengutip sebuah hadist.
"Pernikahan adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku."
(HR. Ibnu Majah).
Wali hakim itu kemudian menatap Gus Azlan.
"Saudara Azlan bin Hamid, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Zunaira binti Ahmad dengan wali hakim, dengan mahar berupa Kitab Tafsir Jalalain kuno dan hafalan Surat Ar-Rahman dibayar tunai." ucap wali hakim.
Azlan menarik napas sedalam yang ia bisa, tangannya menjabat tangan wali hakim dengan erat.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Zunaira, ia menggenggam ujung mukenanya, air matanya mulai luruh membasahi pipi.
Ketakutan akan rahasia, ketakutan akan Ning Syifa, dan beban sebagai yatim piatu, semuanya seolah menguap digantikan oleh satu getaran sakral yang akan segera terucap.
Gus Azlan menatap ke depan, suaranya keluar dengan tegas, mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zunaira binti Ahmad dengan mahar tersebut dibayar tunai!" seru Gus Azlan dengan tegas dan berwibawa.
"Saksi?" tanya wali hakim.
"Sah!" jawab Gus Haidar dan Ustadz Hafiz serentak.
"Alhamdulillah..." suara syukur itu pecah dalam heningnya malam.
Zunaira tersungkur dalam sujud syukur di atas sajadahnya, ia kini bukan lagi ustadzah yang berdiri sendirian karena ia adalah istri, ia memiliki tempat bersandar. Dan di balik sekat itu Gus Azlan juga menunduk dalam, air mata haru menetes di tangannya yang masih gemetar.
Rahasia ini telah menjadi ikatan suci dan tugas mereka kini adalah menjaganya di bawah perlindungan langit, meski bumi belum diizinkan tahu.
Dinding mushala pribadi di kediaman Kyai Hamid menjadi saksi bisu betapa waktu seolah membeku.
Aroma kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan berbaur dengan hawa dingin yang menusuk tulang, namun di dalam dada Azlan dan Zunaira, ada api yang menyala hebat campuran antara haru, takut, dan takzim.
Ijab kabul telah terucap, dan kata sah telah menggema pelan namun menggetarkan Arsy.
Kini, tibalah saatnya bagi Azlan untuk menunaikan janji mahar lisannya, Zunaira duduk bersimpuh di balik sekat kayu ukir yang halus, kepalanya menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung mukena putih pemberian Ummi Salamah.
Air matanya tak henti-henti mengalir membasahi kain putih itu, menghapus segala sesak yang ia simpan sejak surat manipulatif Ning Syifa datang mengusik batinnya.
"Zunaira..." suara Gus Azlan terdengar serak oleh emosi namun stabil.
"Dengarkanlah, ini adalah janjiku padamu dan saksi atas cintaku karena Allah." seru Gus Azlan.
Azlan mulai melantunkan Surat Ar-Rahman, suara baritonnya yang jernih membelah kesunyian sepertiga malam.
“Ar-Rahmaan. ‘Allamal Qur’aan. Khalaqal Insaan. ‘Allamahul Bayaan...”
Setiap ayat yang keluar dari bibir Azlan terasa seperti usapan lembut pada luka-luka batin Zunaira.
Ketika Azlan sampai pada ayat
“Fabiayyi aalaaa’i Rabbikumaa tukadzdzibaan” Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?, Zunaira terisak pelan.
Ia merasa sangat kecil di hadapan skenario Allah, seorang yatim piatu yang sering merasa sendirian tapi malam ini dimuliakan oleh seorang putra Kyai dengan mahar kalam suci.
Di sisi lain mushala Kyai Hamid memejamkan mata sambil memutar tasbihnya dengan ritme yang tenang.
Gus Haidar menunduk khidmat, sementara Arifa yang duduk di samping Zunaira ikut menyeka air matanya dan ning Arifa merangkul bahu Zunaira memberikan kekuatan tanpa kata-kata.
Setelah ayat terakhir dilantunkan, suasana hening menyergap selama beberapa saat.
Gus Azlan kemudian bergeser dan mendekati sekat, melalui celah ukiran ia mengulurkan sebuah bungkusan kain beludru hijau tua.
"Ini mahar keduamu Zunaira yaitu kitab Tafsir Jalalain kuno, aku ingin kita membangun rumah tangga ini di atas fondasi pemahaman agama yang benar. Jika suatu saat aku salah, tegurlah aku dengan ilmu yang ada di dalam kitab ini." bisik Gus Azlan.
Zunaira menerima kitab itu dengan tangan gemetar, berat kitab itu seolah mewakili beratnya amanah yang kini ia sandang.
Ia bukan lagi sekadar Ustadzah Zunaira tapi ia adalah belahan jiwa seorang pejuang dakwah.
Ummi Salamah mendekat, membimbing Zunaira untuk berdiri dan mendekat ke arah Gus Azlan agar suaminya itu bisa membacakan doa di atas ubun-ubun istrinya.
Ini adalah momen yang paling ditakuti sekaligus dinanti, Zunaira melangkah dengan kaki yang terasa lemas.
Saat tangan Azlan yang hangat menyentuh kain mukena di atas kepalanya, Zunaira merasa seluruh ketakutannya pada keluarga Kyai Mansur lenyap seketika.
Azlan merapalkan doa dengan sangat lirih dan khusyuk.
"Allahumma inni as’aluka khayraha wa khayra ma jabaltaha ‘alayh..."
(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan watak yang Engkau tetapkan baginya...).
Zunaira mendongak sedikit, matanya yang sembab menatap wajah Azlan yang kini nampak begitu teduh.
Ia meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan penuh takzim, tidak ada kata-kata yang keluar hanya isak haru yang mewakili ribuan kalimat syukur.
Setelah prosesi inti selesai, mereka pindah ke ruang tengah ndalem untuk sejenak menghangatkan diri dengan wedang jahe sebelum Zunaira harus kembali menghilang ke asrama.
Naura, si kecil yang sejak tadi dipangku Mbak Hana pun mendadak terbangun sepenuhnya.
Ia melihat Zunaira dan Gus Azlan yang kini duduk tidak terlalu jauh, meski masih ada jarak canggung di antara mereka.
"Paman Azlan kok Ustadzah Zu menangis? Paman nakal ya?" tanya Naura dengan suara polosnya, membuat suasana yang tegang menjadi sedikit cair.
Gus Azlan tersenyum tipis, matanya merah namun bersinar bahagia.
"Tidak Naura, Ustadzah Zu sedang bahagia. Naura senang tidak punya bibi baru?" ujar Gus Azlan.
Naura melompat dari pangkuan ibunya dan menghambur ke pelukan Zunaira.
"Senang! Berarti nanti Naura boleh tidur di kamar Ustadzah Zu?" seru bocah kecil itu.
Gus Haidar tertawa kecil sambil mengusap kepala putrinya.
"Nanti ya Naura, sekarang Ustadzah Zu harus istirahat dulu. Doakan supaya Paman dan Bibi selalu rukun." ucap Gus Haidar.
Arifa dengan keceriaannya yang biasa pun mencoba menghibur Zunaira.
"Ustadzah Zu...eh, sekarang aku panggil Mbak ipar ya? Jangan takut. Kalau Ning Syifa macam-macam lagi bilang padaku, biar aku yang hadapi dia dengan jurus-jurus santriwati!" seru Ning Arifa.
Mbak Hana ikut mendekat, memberikan sebuah tas kecil berisi vitamin dan madu.
"Ini untukmu Zunaira, kamu pucat sekali. Menjaga rahasia ini butuh fisik yang kuat. Jangan sampai sakit lagi seperti kemarin." tutur Mbak Hana begitu perhatian.
"Terima kasih mbak." ucap Zunaira.
Zunaira hanya bisa mengangguk dan berterima kasih, ia merasa sangat diterima di keluarga ini.
Namun ia menyadari satu hal yaitu kehangatan ini hanyalah persinggahan singkat, karena di luar sana fajar mulai membayang dan ia harus kembali menjadi bayangan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...