Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Mata Air, Jalan Buntu, dan Pelamar Hina
Ruang rapat berlapis kayu mahoni di kantor Notaris Senior itu terasa dingin, sedingin tatapan Damian Cakra.
Kara duduk di satu sisi meja, didampingi Pak Hadi. Di seberangnya, Damian duduk santai dengan kaki disilang, didampingi tim legalnya yang tampak agresif.
"Nona Anindita," buka Damian, suaranya tenang namun bernada mengejek. "Saya sarankan kamu mundur dari akuisisi lahan Uluwatu. Jangan buang uang Papamu."
"Kenapa saya harus mundur?" tanya Kara sambil menyesap tehnya. "Tanah itu strategis. View sunset-nya sempurna."
Damian tersenyum miring. Dia memberi kode pada asistennya untuk membuka layar proyektor. Peta digital wilayah Uluwatu muncul.
"Lihat area merah ini?" Damian menunjuk jalan utama menuju lahan incaran Kara. "Pagi ini, Cakra Corp resmi mengakuisisi lahan seluas 500 meter di depan tanah incaranmu. Itu akses jalan satu-satunya."
Wajah Pak Hadi sedikit tegang. Itu taktik kotor tapi legal. Landlocking.
"Jadi," lanjut Damian, matanya menatap Kara tajam. "Kalau kamu tetap beli lahan di belakangnya, silakan saja. Tapi tamu resor kamu nanti mau lewat mana? Terbang? Atau mau manjat tebing? Saya nggak akan kasih izin lewat jalan saya."
Damian menyandarkan punggungnya. "Jual hak belimu ke saya dengan harga dasar. Itu tawaran terbaik. Daripada uangmu hangus buat beli tanah yang terisolasi."
Kara meletakkan cangkir tehnya perlahan. Cling.
Dia tidak panik. Dia tidak marah. Dia justru tersenyum. Senyum yang membuat Damian sedikit waspada.
"Strategi yang bagus, Pak Damian. Klasik. Membeli akses jalan untuk mematikan harga tanah di belakangnya," puji Kara tulus.
"Tapi..." Kara berdiri, berjalan mendekati layar proyektor. Dia mengambil pointer dari tangan asisten Damian.
Kara mengarahkan sinar laser merah ke sebuah titik biru kecil di bukit sebelah utara, tepat di belakang lahan sengketa.
"Bapak lupa satu hal. Uluwatu itu daerah kapur. Air tawar susah didapat."
Kara menatap Damian. "Dua jam yang lalu, tim saya sudah menandatangani akta jual beli untuk bukit kecil ini. Di sini ada satu-satunya mata air tawar debit besar yang mensuplai air ke seluruh area tersebut, termasuk ke area lahan yang Bapak beli buat jalan itu."
Mata Damian menyipit. Rahangnya mengeras.
"Jadi silakan Bapak tutup jalannya," tantang Kara lembut. "Saya bisa bangun helipad atau akses cable car (kereta gantung) dari tebing untuk tamu saya. Itu malah lebih eksklusif."
"Tapi Bapak?" Kara memiringkan kepalanya. "Resor Bapak mau pakai air apa? Air laut? Atau Bapak mau beli air galon ribuan truk tiap hari?"
Skakmat.
Keheningan melanda ruangan. Pengacara Damian saling lirik dengan panik. Tanpa akses air, lahan Damian tidak bernilai untuk dibangun hotel.
"Jadi tawaran saya, Pak Damian," Kara meniru gaya bicara Damian tadi. "Kita kerja sama (Joint Venture). Bapak buka jalan, saya buka keran air. Keuntungan 50:50. Atau... kita sama-sama punya tanah mati."
Damian menatap Kara lama. Sangat lama.
Dia mencari ketakutan di mata wanita itu, tapi yang dia temukan hanya keberanian baja.
Perlahan, sudut bibir Damian terangkat. Bukan senyum sinis. Tapi senyum apresiasi.
"Baik," ucap Damian, berdiri dan mengancingkan jasnya. "Siapkan draf kerjasamanya. Saya pelajari besok."
Damian berjalan mendekati Kara sebelum keluar.
"Satu sama, Nona Anindita. Ternyata otakmu nggak kosong melompong seperti yang saya kira."
"Terima kasih, Pak Cakra. Lain kali, jangan remehkan janda," balas Kara tajam.
Siang harinya, di lobi Menara Cakra (Kantor Pusat Damian).
Suasana lobi yang mewah dan futuristik sedikit terganggu oleh suara keributan di meja resepsionis.
"Tolonglah, Mbak... Mas... Saya butuh kerjaan apa aja. Jadi OB boleh, jadi supir boleh, bersihin WC juga saya mau..."
Rio Pratama berdiri di sana dengan kemeja putih yang kerahnya sudah kuning dan celana bahan yang kepanjangan (karena badannya makin kurus). Dia memegang map plastik berisi lamaran kerja lecek.
"Maaf Pak, sudah saya bilang," kata staf HRD yang kebetulan lewat, menatap Rio dengan risih. "Bapak tidak lolos administrasi. Nama Bapak masuk blacklist BI Checking kol 5 (kredit macet parah). Dan Bapak tidak punya surat referensi kerja dari kantor lama. Kami tidak bisa terima."
"Saya dipecat kantor lama karena difitnah, Pak! Sumpah! Saya rajin!" Rio memohon, air mata menggenang di matanya. Dia benar-benar putus asa. Bu Ratna di rumah kontrakan petak (yang baru mereka sewa di pinggir kali) butuh obat.
"Tolong Pak, kasih saya kesempatan..." Rio hendak berlutut memegang kaki staf HRD itu.
Tepat saat itu, pintu lift VIP terbuka.
Damian Cakra keluar, diikuti rombongan asistennya. Dia baru pulang dari rapat dengan Kara, mood-nya campur aduk antara kesal dan kagum.
Langkah Damian terhenti saat melihat keributan itu.
"Ada apa ini?" tanya Damian dingin. Suaranya membuat satu lobi hening.
"Eh, Pak Damian," staf HRD itu membungkuk takut. "Ini Pak, ada pelamar maksa. Udah ditolak tapi nggak mau pergi."
Damian menatap pria kurus yang sedang berlutut itu.
Rio mendongak. Dia melihat Damian—pria tampan, kaya, berkuasa, dengan setelan jas seharga ratusan juta. Kontras sekali dengan dirinya.
Damian menyipitkan mata. Dia mengenali wajah itu.
Dia sudah membaca profil Kara lengkap dengan masa lalunya. Ini adalah Rio Pratama. Mantan suami yang bodoh itu.
Rio yang melihat Damian menatapnya, merasa ada harapan. "Pak Bos! Pak Bos tolong saya! Saya butuh kerja! Saya bisa nyetir! Saya bisa apa aja!"
Damian menatap Rio dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya bukan kasihan. Tapi jijik. Murni jijik.
Damian membatin: Jadi ini laki-laki yang bikin Kara buang waktu 3 tahun? Laki-laki lemah, cengeng, dan tidak punya harga diri ini?
Damian merasa tersinggung atas nama Kara (anehnya). Bagaimana mungkin wanita secerdas Kara yang tadi melawannya di meja rapat, pernah jatuh cinta pada amoeba seperti ini?
"Kamu Rio Pratama?" tanya Damian.
"I-iya Pak! Bapak kenal saya?" Rio berbinar.
Damian mendengus. "Saya tau kamu. Kamu laki-laki yang membuang berlian demi batu kali, kan?"
Rio bingung. "Maksudnya?"
"Sekuriti," panggil Damian datar.
"Siap, Pak!"
"Seret dia keluar. Dan pastikan wajah ini di-banned dari radius 100 meter gedung Cakra Corp. Saya nggak mau kantor saya terkontaminasi virus kegagalan."
"Ba-baik Pak!"
Dua sekuriti langsung menyeret Rio yang meronta-ronta.
"Pak! Tolong Pak! Saya butuh duit! Pak!!"
Damian tidak menoleh lagi. Dia berjalan menuju lift pribadinya sambil menggelengkan kepala.
"Selera Kara dulu hancur banget," gumam Damian pada asistennya. "Mungkin saya harus naikin standar dia lagi."
Tanpa sadar, Damian mulai merasa tertantang untuk menggantikan posisi "Masa Lalu Buruk" itu dengan dirinya sendiri.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏