Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Clara yang kedua
Keesokan paginya di rumah Clara terdengar ketukan pintu dari arah luar.
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum!” teriak Viola dari depan rumah, pagar rumah clara memang tak pernah di kunci dan pintu pagarnya juga selalu terbuka karena lingkungan itu sangat aman.
“Apa Kak Clara enggak ada di rumah?” gumamnya sendiri. Sudah beberapa menit ia mengetuk dan mengucap salam, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Tidak biasanya, di jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, rumah Clara masih sunyi tanpa aktivitas.
“Bu Jamilah, Kak Clara lagi enggak ada ya?” tanya Viola ketika melihat tetangga samping keluar rumah.
“Ada kok. Tadi malam saya lihat dia pulang sekitar jam sembilan lewat. Mungkin masih tidur,” jawab Bu Jamilah santai.
Viola mengangguk lalu duduk di kursi kayu di teras Clara, berniat menunggu beberapa menit lagi.
Di kamar, Clara masih tertidur pulas. Fisik dan mentalnya benar-benar lelah setelah kejadian-kejadian kemarin. pertemuan yang tak siap ia hadapi sampai tangisan di pantai, semuanya menguras tenaga. Namun tiba-tiba ia terbangun, jantungnya berdebar saat mengingat janji dengan Viola.
“Astagfirullah… sudah jam berapa ini?” ucap Clara panik melihat layar ponselnya.
Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri lalu berganti pakaian. Rambutnya hanya disisir cepat sebelum ia berlari kecil ke pintu depan.
“Aduh Vi, maaf ya aku kesiangan bangunnya. Kamu sudah lama disini?” ucap Clara saat melihat Viola duduk sambil memainkan ponsel.
“Enggak lama kok, Kak. Ayo kita langsung ke rumah aja,” jawab Viola santai.
Clara mengangguk, mengunci pintu rumahnya lalu naik ke motor matic Viola.
Di tengah jalan, motor mereka melambat karena warga sedang gotong royong membersihkan got.
“Mau ke mana, Vi?” tanya Alvian, remaja laki-laki seumuran Viola yang berdiri sambil memegang sekop.
“Mau ke rumah lah, emang ke mana lagi,” jawab Viola judes.
“Buset, anaknya Bu Arini apa bukan sih? Ibunya lemah lembut, anaknya kayak singa, ditanya sedikit udah mau nerkam” celetuk Alvian.
Clara terkekeh geli mendengar itu. Hampir satu gang tahu bagaimana Alvian dan Viola yang sejak kecil selalu ribut, atau lebih tepatnya Alvian yang gemar mengusik.
Viola tak menanggapi lagi dan melajukan motornya.
“Vi, kamu satu sekolah sama Alvian?” tanya Clara dari belakang.
“Iya, Kak. Satu kelas malah. Sumpah, anaknya bener-bener nyebelin. Dulu emaknya ngidam apa sih pas hamil dia,” omel Viola.
Clara tersenyum tipis, kali ini tanpa rasa perih yang biasanya datang saat mengingat masa sekolahnya sendiri.
“Mungkin dia suka sama kamu,” ucap Clara enteng.
“Ih ogah! Seandainya di dunia ini cuma sisa dia doang, mending aku jadi perawan tua,” jawab Viola jijik.
Clara kembali tertawa. “Hati-hati loh sama ucapan sendiri.”
Viola bergidik membayangkan semua itu, lalu motorny berhenti di depan rumah
“Kak Clara tadi sudah sarapan?” tanya Viola setelah menurunkan standar motor.
“Belum,” jawab Clara jujur.
“Aku beliin nasi dulu ya, Kak,” tawar Viola.
“Boleh, ini uangnya.” Clara mengeluarkan selembar uang biru dan menyodorkannya.
“Aku ada uang kok. Masa Kak Clara bantuin aku bikin tugas malah keluar uang,” tolak Viola cepat.
“Enggak apa-apa, Vi. Aku baru dapat rezeki. Sekalian beli cemilan,” pinta Clara lembut.
Viola menatapnya sebentar lalu mengangguk. “Yaudah, tunggu ya Kak.”
Clara berdiri di halaman, memperhatikan bunga-bunga di depan rumah Bu Arini. Matanya sempat menangkap bunga lilac yang tumbuh di sudut pagar. Ia berkedip pelan, menarik napas, lalu memalingkan wajah. Ia tidak lagi membiarkan bunga itu merampas paginya.
“Eh ada Clara, mari masuk,” sapa Bu Arini ramah.
Clara mengangguk dan masuk ke ruang tamu sederhana yang rapi dan bersih. Rumah itu kecil, tetapi terasa hangat. Bu Arini adalah single parent yang membesarkan dua anaknya sendirian setelah suaminya pergi bertahun-tahun lalu.
“Viola mana? Ada janji kok malah ngilang. Tadi kamu jalan kaki kesini?”
“Dijemput Viola, Bu. Tadi dia lagi belikan saya nasi dulu.”
Bu Arini mengangguk lalu duduk berhadapan dengan Clara.
“Clara, bagaimana tawaran ibu soal jadi mentor untuk Viola?” tanyanya hati-hati. “Ibu cuma ingin dia dapat pendidikan yang lebih baik. Bukan buat ibu… tapi buat dirinya sendiri.”
Clara tertegun. “Ibu sudah tanya Viola?”
“Sudah. Tapi dia bersikeras mau kerja setelah lulus SMA. Padahal nilainya bagus. Ibu jadi merasa bersalah karena keterbatasan ibu.”
Suara Bu Arini terdengar rapuh.
Clara mengusap pelan pundaknya bu arini. “Nanti saya coba bicara pelan-pelan ya, Bu. Kalau dia mau kuliah, saya bantu jadi pembimbing untuk persiapan ujian dan beasiswa.”
Tak lama terdengar suara motor di halaman. Viola masuk sambil menenteng plastik besar.
“Kamu belanja apa aja nak, kok banyak banget?” tanya Bu Arini.
“Ini Bu, tadi Kak Clara nyuruh beli nasi sama cemilan,” jawab Viola sedikit canggung.
“Astagfirullah, maaf ya Clara, nanti uangnya ibu ganti.”
“Enggak apa-apa, Bu. Biar Viola semangat belajarnya.”
Setelah sarapan bersama, Clara dan Viola masuk ke kamar. Buku-buku terbuka, lembaran kertas penuh coretan memenuhi meja. Clara membimbing Viola menyusun paragraf pembuka, memperbaiki diksi, dan mengajarkan bagaimana membangun alur pemikiran yang runtut. Viola cepat paham, hanya saja setiap beberapa menit ia mengeluh karena
“menulis itu enggak ada rumusnya.”
Clara tersenyum dan menyesuaikan cara mengajarnya, memberi jeda, lalu kembali melanjutkan.
“Nanti setelah lulus kamu mau kuliah di mana?” tanya Clara santai sambil mengunyah keripik pisang.
“Enggak kuliah, Kak. Mau langsung kerja aja,” jawab Viola ringan.
Clara menoleh pelan. “Kenapa?”
“Biar bisa bantu Ibu. Dina juga masih sekolah. Lagian kuliah mahal.”
Nada Viola terdengar biasa, tapi Clara bisa menangkap beban di baliknya.