Alceena harus menelan kekecewaan saat pernikahannya dibatalkan secara sepihak oleh calon suami, karena ada rumor yang beredar jika dirinya mandul.
Alceena tidak merasa jika dia seperti yang diberitakan pun berniat untuk membuktikan pada seluruh orang bahwa dirinya bisa memiliki keturunan. Dia melakukan program hamil dengan metode inseminasi buatan, memasukkan sel dari bibit kehidupan seorang pria misterius yang bersedia mendonorkan sedikit cairan penting tersebut, tanpa melakukan hubungan badan.
Namun, tanpa Alceena ketahui bahwa pendonor bibit kehidupan tersebut adalah Dariush Doris Dominique, seorang pengusaha muda di Eropa sekaligus musuh dan orang yang selalu dia hindari sejak dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
“Ah, sudahlah. Tak perlu kau cari, hanya uang koin saja.” Alceena mengibaskan tangan agar Dariush berhenti mencari recehan yang bahkan tak pernah ada yang terjatuh di sana.
Alceena memilih untuk mengayunkan kaki menuju ruang VIP tiga. Sebelum kebohongannya diketahui oleh Dariush dan pria itu tahu jika dia sempat mengintip.
Jalan Alceena terlihat sangat aneh. Rasanya masih seperti ada alat yang bersarang di alat reproduksinya. Dan hal itu bisa ditangkap oleh Dariush.
Dariush yang melihat cara berjalan Alceena seperti tak nyaman pun segera mendekati wanita itu. Mencekal tangan Alceena agar berhenti bergerak. Sekuat tenaga dia mencoba agar tak menyentuh sang pujaan hati, tapi sulit juga saat melihat orang yang sangat dia pedulikan sedang seperti pinguin.
“Apa?” tanya Alceena saat dia dipaksa untuk berhadapan dengan Dariush.
“Kau sakit? Kenapa memakai baju pasien?” Dariush pura-pura bertanya. Padahal dia sudah tahu semuanya.
“Namanya di rumah sakit, jelas aku sedang tak baik-baik saja,” jawab Alceena dengan nada yang sinis. ‘Tadi berucap panjang lebar seperti tak akan mendekatiku lagi, nyatanya masih memperdulikan. Dasar lelaki plin-plan,’ gerutunya dalam hati.
“Apa kakimu yang sakit? Ku lihat jalanmu seperti pinguin,” tanya Dariush seraya pandangannya turun ke bawah.
“Apa pedulimu? Bukankah kau sudah mengatakan akan berhenti mengejarku?” Alceena menarik sudut bibirnya sinis.
“Memang apa salahnya bertanya? Apakah sebuah pertanyaan menandakan jika aku mengejarmu?” Dariush melepaskan tangan yang bersemayam pada lengan Alceena. “Aku hanya basa-basi saja, jangan percaya diri jika aku masih mengharapkanmu!” Dia membalas dengan tersenyum sinis.
Dan Dariush membalikkan tubuh, mengayunkan kaki menuju pintu VIP satu.
Alceena melotot menatap punggung Dariush yang kian menjauh. Entah mengapa kedua tangan reflek mengepal. Dadanya bergemuruh karena merasa dipermainkan oleh pria tengil itu. “Ku harap hidupmu tak akan tenang karena selalu membuatku kesal!” umpatnya dengan suara yang bisa terdengar hingga ke telinga Dariush.
Dariush hanya mengedikkan bahu menandakan tak peduli dengan kutukan yang dilontarkan Alceena, tanpa berbalik badan sedikit pun. Dia bisa membayangkan bagaimana wajah Alceena.
Namun, namanya bukan Dariush jika membiarkan Alceena tetap berjalan seperti pinguin. Dia tiba-tiba berbalik saat wanitanya sudah mulai mengayunkan kaki menuju ruangan yang ada di ujung.
Dariush segera membopong Alceena seperti pengantin baru. Pandangannya tetap lurus ke depan, mencoba tak menatap wajah wanita itu. Sebab, dia selalu ingin mencium Alceena jika melihat bibir sensual salah satu keturunan Pattinson tersebut.
“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” Alceena memukul dada Dariush.
“Diam! Aku hanya membantu agar cepat sampai ke ruanganmu.” Dariush berbicara dengan suara beratnya yang terdengar tegas dan mengintimidasi. “Di mana kau menginap?” tanyanya seolah tak tahu apa pun tentang Alceena.
“VIP tiga,” jawab Alceena dengan nada bicara kesal. Tapi tangannya sembari melingkar di leher Dariush agar tak terjatuh.
Dalam hati Dariush, dia sedang tertawa karena Alceena berinisiatif untuk memeluknya. Tapi, sebisa mungkin tetap memperlihatkan wajah yang biasa saja.
Dariush mencoba menurunkan handle pintu menggunakan tangan yang memegang kaki Alceena. Punggung pun digunakan untuk mendorong pintu hingga terbuka. Perlahan merebahkan tubuh wanitanya sangat hati-hati.
“Cepat sembuh.” Dariush mengucapkan itu sembari mengacak-acak rambut Alceena. Tapi, wajah tetap nampak datar.
Alceena hanya melongo mendapatkan perlakuan Dariush yang mendadak manis. ‘Apakah dia sedang kerasukan? Berbeda sekali dengan biasanya,’ gumamnya dalam hati.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan kirim hadiah sebanyak-banyaknya ya bestie....