Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang tahun tanpa suara
Pagi ini, setelah mencuci wajah dan mengenakan kemeja putih bersih serta celana kain abu-abu, Clara menyampirkan ransel hitam tuanya di bahu. Rambutnya dikuncir rendah, membiarkan beberapa helai tergerai lepas membingkai wajahnya. Ia berjalan pergi menuju Halte. Sesekali tetangga menyapanya, kadang Clara membalas dengan senyuman, kadang hanya anggukan.
Bus kota datang dengan deru keras. Clara naik dengan cepat dan mencari tempat duduk kosong dekat jendela. Sesekali ia menatap keluar, memperhatikan bangunan-bangunan tinggi yang seperti menyembunyikan mimpi orang-orang di balik kaca-kacanya. Dalam bus itulah ia sering berpikir tentang hidup. Tentang masa depan. Tentang Noel Baskara.
Noel... nama itu selalu datang, seperti napas panjang yang enggan habis. Meskipun sakit seperti duri yang tidak pernah bisa di cabut, Tapi Clara tetap menyimpan setiap kenangan seperti buku-buku tua yang berdebu namun berharga. Berhap Noel akan kembali.
Setibanya di kampus, ia bergegas ke gedung F, tempat kuliah jurusan Sastra berada. Clara mengambil jurusan Sastra Indonesia karena sejak kecil ia selalu merasa dekat dengan kata-kata. Kata-kata memberinya rumah yang tak pernah bisa dihancurkan siapa pun.
Di dalam kelas, Clara duduk di baris kedua. Beberapa mahasiswa lain menyapanya, tapi Clara hanya membalas dengan senyum tipis disertai anggukan kecil. Ia bukan tipe yang mudah terbuka. Ia menjaga jarak, bukan karena sombong, tapi karena terbiasa sendirian terlalu lama.
Setelah kelas selesai pukul sebelas, ia tidak pulang. Ia langsung berjalan kaki ke toko buku kecil di seberang kampus. Namanya Teras Kata, tempat di mana ia bekerja sebagai kasir dan sekaligus penjaga toko sejak lulus SMA.
Toko itu sempit, tapi nyaman. Rak-rak buku tertata rapi, ada aroma kertas dan kopi yang samar tercium dari mesin kopi instan di pojok belakang. Pemilik Toko orang yang baik, ia seperti seorang ayah bagi Clara dan ia sangat menyukai tempat itu. Selain itu Ia bisa membaca buku gratis saat sepi. Bisa menyelami dunia orang lain dan, untuk sesaat, melupakan dunia miliknya yang selalu penuh luka.
“Selamat siang, Clar.” Suara Pak Ardi, pemilik toko, menyambutnya saat ia masuk.
“Siang, Pak.” Clara membungkuk sopan. “Sudah banyak pembeli?”
“Masih sepi. Tapi nanti sore kan biasanya ramai. Anak-anak kuliah suka mampir cari buku atau numpang nugas.” Pak Ardi tersenyum, lalu memberikan catatan stok buku baru.
"Dan ini makan siang dari istri saya untuk kamu" Pak Ardi meletakkan rantang yang dia bawa ke atas meja.
"Terimakasih buat istri bapak"
Clara mulai bekerja. Melayani pembeli, menyusun buku-buku, menghitung stok, bahkan kadang membantu mengoreksi naskah yang masuk ke penerbit kecil milik Pak Ardi. Ia menikmati pekerjaannya. Meski lelah, meski kadang harus pulang larut, ia tetap bersyukur.
Di sela pekerjaannya, Clara sempat melirik jendela toko. Langit mulai menguning, tanda senja akan segera datang. Di kaca jendela, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Lalu seperti bayangan samar, ia merasa melihat siluet seseorang berdiri di seberang jalan. Tinggi. Tegap. Wajahnya nyaris terlindung cahaya matahari sore. Clara mengerjap. Tapi ketika ia menoleh langsung, sosok itu telah lenyap bak ditelan bumi.
Barangkali hanya bayangannya saja.
Atau... mungkinkah itu orang yang dirindukan Clara?
Minggu pagi di Jakarta terasa tenang. Matahari belum terlalu terik, hanya sinar lembut yang menyelinap lewat jendela dan mengguratkan pola cahaya di dinding rumah Clara. Rumah itu sunyi, seperti biasa. Hanya dentingan halus peralatan dapur dan langkah-langkah ringan Clara yang terdengar.
Ia menggulung lengan kaus panjangnya, mengikat tinggi rambut panjangnya dan mulai membersihkan rumah. Menyapu ruang tamu, mengepel lantai, menyiram tanaman. Setiap sudut rumah itu sudah dikenalnya dengan mata tertutup karena di sinilah satu-satunya kenangan terakhir bersama orangtuanya masih tersisa.
Ketika ia mengelap pigura-pigura di rak kecil dekat televisi, pandangannya tertumbuk pada sebuah foto lama saat ia masih SD, diapit oleh ayah dan ibunya, senyum tiga orang yang terasa begitu hangat. Tiba-tiba, dadanya sesak. Bukan hanya karena kenangan itu, tapi karena ia teringat sesuatu. Hari ini... hari ulang tahunnya.
Tak ada pesan masuk di ponsel. Tak ada ucapan, tak ada kejutan. Tak ada kue ulang tahun, pelukan hangat, atau sekadar tawa dari seseorang yang mengingat tanggal lahirnya.
Hening. Terlalu hening.
Clara memaksakan senyum tipis, mencoba membuang perasaan itu, lalu kembali menyibukkan diri. Tapi tangannya gemetar ketika mengambil taplak meja. Napasnya mulai tak teratur. Kenangan itu datang, mengalir seperti air bah tanpa permisi.
Beberapa tahun lalu.
"Selamat ulang tahun, Clara!" suara Noel membahana dari belakang taman sekolah. Ia membawa seikat bunga mawar dan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado berwarna biru langit.
Clara tersenyum malu-malu. "Ngapain sih repot-repot? Aku... aku nggak bisa kasih apa-apa ke kamu."
Noel mengangkat alis, lalu mendekat dan mengacak rambut Clara. "Dengar, ya Clar, Jangan pernah mikirin uang di depanku. Ulang tahun kamu itu hari penting buat aku juga. Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia."
Hari itu mereka pergi ke danau kecil di pinggir kota. Hanya berdua. Duduk di atas tikar sambil makan jajanan pasar yang mereka beli di perjalanan. Bahkan hujan gerimis yang mengguyur tak bisa menghapus kebahagiaan yang tumbuh dalam diam.
Tahun-tahun berikutnya, ulang tahun Clara selalu dipenuhi warna. Timezone, pantai, bioskop kecil, bahkan hanya berjalan kaki keliling kota sambil makan es krim. Noel selalu punya cara untuk membuat dunia yang gelap terasa sedikit lebih terang.
"Clara, nanti setelah kita lulus SMA. Aku mau mengajakmu ke Swiss bertemu orangtuaku" Janji yang sampai sekarang tidak pernah ditepati.
Clara jatuh duduk di atas sofa. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir, air mata itu akhirnya jatuh lagi. Tidak ada yang menyapa, tidak ada tangan yang mengusap kepalanya, tidak ada suara hangat yang berkata “Jangan sedih lagi, Clarr…”
Ia memeluk dirinya sendiri. Tangisnya semakin pecah dan kuat. Hening rumah itu seakan ikut mengutuk kesepiannya.
"Kenapa semua orang yang aku sayang... selalu pergi? tanpa pamit, tanpa perpisahan." batinnya menggema.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak peduli lagi. Hari ulang tahunnya yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan saat bertambah usia, berubah menjadi racun yang akan terus mengingatkan bahwa semua yang ia miliki... telah hilang satu demi satu.
Dalam isak tangisnya, Clara bergumam lirih,
"Aku cuma ingin satu orang... satu orang saja... yang tetap tinggal."
Dan entah mengapa, di sela isaknya, sebuah bayangan muncul di kepalanya seseorang yang pernah berjanji tak akan pernah pergi, tapi nyatanya lenyap tanpa jejak.
Noel.
Dan hatinya, sekali lagi, terasa hancur berkeping-keping.