Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *23
Senyum bahagia kembali Bayu ukir di bibir indah miliknya. Lalu, sifat nakal pria itu seketika muncul.
"Bagaimana kalau kita coba lagi sekarang?"
Rin membulatkan mata seketika. Tentu saja alasannya karena dia paham ke mana arah perkataan Bayu barusan.
"Bayu .... " Kesal Rin dengan pura-pura. "Jangan main-main."
"Siapa yang main-main? Aku serius."
Jantung Rin berdetak dua kali lebih cepat. Bibirnya tidak bisa berucap kata-kata lagi. Hanya bisa terbuka, namun tidak melafalkan kata.
Bayu langsung menjatuhkan ciu*man ke bibir indah yang sangat menggoda hati milik si istri. Namun, dia sadar akan apa yang sedang dia lakukan sekarang. Dia memang sudah sedikit melewati batas dari sikap asli yang dia miliki selama ini.
Seketika, setelah menjatuhkan ciu*man, Bayu langsung menarik diri. "Maaf, aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman."
Satu tangan langsung menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak terasa gatal. "Itu ... aku sudah keterlaluan ya?" Tanya Bayu lagi.
Dia yang menggoda habis-habisan, dia juga yang merasa tidak enak hati. Rin pun langsung merasa geli hati.
"Dasar nakal."
"Apa? Tidak. Aku tidak nakal."
"Kalau tidak, masa masih ganggu aku sekarang? Apa jangan-jangan .... " Rin sengaja menggantung kalimatnya. Membuat Bayu merasa kesal akan kata yang tidak berhasil di dengar sampai akhir.
"Apa, Rin?"
"Nggak jadi."
"Hah? Kamu ... tega."
"Nggak tuh."
"Iya."
"Enggak."
"Iya."
Pasangan anak manusia itu malah berdebat manja. Hingga akhirnya, si suami yang sudah menarik diri kembali maju untuk menghapus jarak di antara mereka.
"Bayu."
"Siapa yang nakal sekarang? Siapa yang menggoda kali ini?"
"Kamu." Rin berucap cepat.
"Aku? Mana mungkin."
Ketukan di pintu akhirnya mengakhiri perdebatan manja dua anak manusia yang sedang di serang virus cinta secara tiba-tiba. Perhatian keduanya yang langsung teralihkan gara-gara ketukan tersebut.
"Siapa?"
"Tidak tahu. Biar aku lihat," ucap Rin sambil bangun dari duduknya. "Kamu, sebaiknya segera ke kamar. Kenakan baju sekarang juga."
"Baik, nyonya."
"Apaan sih?" Kesal Rin sambil terus beranjak menuju pintu.
"Iya, tunggu sebentar."
Pintu terbuka, bu Sari langsung terlihat di depan rumah. Rin menyapanya dengan ramah.
"Bu Sari. Ada apa, Bu?"
"Gak papa, Rin. Hanya ingin mengantarkan jeruk yang kemarin ibu petik. Ini."
Satu keranjang kecil jeruk langsung berpindah tangan sekarang. Rin menerimanya dengan bahagia. Jeruk segar yang terlihat manis.
"Makasih banyak, Bu Sari."
"Iya. Sama-sama. Mm ... Rin."
"Iya, Bu?"
"Bayu ... ah, nggak. Kalian, hanya berdua saja di rumah."
Rin menoleh ke dalam rumah sebelum menjawab. "Iya, bu. Kami hanya berdua saja. Ada apa ya?"
"Tidak. Ibu pikir ada tamu yang datang. Soalnya, rumah kalian terdengar lebih ramai dari biasanya."
Rin mengukir senyum dengan canggung.
"Ha ... iya, Bu. Hanya berdua saja. Benarkah terdengar lebih ramai dari biasanya?"
"Iya. Ibu pikir, keluarga mu yang dari kota datang ke sini tadi malam."
"He ... enggak."
"Oh. Ya sudah kalo gitu, ibu pulang dulu."
"Iya."
Setelah si ibu tetangga beranjak menjauh. Rin langsung melepas napas berat secara perlahan. "Hah ... ya Tuhan," ucapnya pelan.
"Rin."
Sontak, panggilan itu langsung membuat yang di panggil kaget. "Ah, ya Tuhan. Bayu."
"Lho, kenapa? Siapa yang datang?"
"Bu Sari. Ngasi jeruk."
"Oh. Mm ... kemarin dia baru panen jeruk."
"Ayo sarapan. Nasi gorengnya sudah selesai aku masak."
....
Hari ini, Bayu berangkat ke sawah pada siang hari. Tentu saja dia langsung di sambut dengan banyak tatapan dari petani lainnya. Bahkan, ada yang langsung bertanya apa sebab dirinya yang datang berbeda dari hari-hari biasanya.
"Bayu. Kok tumben ke sawah telat? Kenapa?"
"Tidak. Ada kerja sedikit di rumah."
Pada akhirnya, pertanyaan penuh selidik itu berakhir dengan candaan. Bayu yang sudah terbiasa akan hal tersebut, tidak merasa keberatan akan pertanyaan-pertanyaan itu. Malahan, dia merasa senang. Pertanyaan itu dia anggap bentuk perhatian mereka semua padanya.
Kehidupan Rin dan Bayu akhirnya sampai pada tahap kehidupan rumah tangga yang manis. Sementara itu, di lua desa, di kota yang jauh dari tempat yang Rin tinggalkan sebelumnya.
Apartemen pernikahan yang dulu Marvel janjikan untuk dia tempati bersama Rin, sekarang sedang di huni oleh adik kandung Rin sendiri. Marvel membawa Yara tinggal di sana sejak malam pernikahan mereka.
Awalnya, kehidupan keduanya berjalan manis. Setelah mereka berdua memilih kabur bersama, keduanya terlihat bahagia hingga hari pernikahan tiba.
Namun, waktu manis itu ternyata tidak bertahan terlalu lama. Marvel tiba-tiba melihat sisi yang membosankan dari sisi yang dulunya ia kagumi pada Yara.
"Kamu kok makin lama makin mirip anak-anak sih, Ra. Apa-apa merenggek gak jelas. Kamu sangat jauh berbeda dari Rin. Terlalu manja sampai bikin aku muak."
Seketika, Yara terdiam. Tatapan matanya tajam menatap wajah Marvel yang sedang duduk di sofa. Kesal bukan kepalang. Dia yang dulu di puji ceria oleh pria tersebut, hari ini malah langsung dibandingkan dengan kakaknya.
"Apa maksud kak Marvel dengan membandingkan antara aku dengan kakak? Sudah jelas aku dan kak Rin berbeda. Kenapa kamu malah bandingkan kami?"
Marvel tidak menjawab apa yang baru saja Yara katakan. Namun, diamnya Marvel semakin membuat Yara merasa panas hati. Kesalnya semakin terasa.
"Kenapa kamu diam? Kenapa tidak menjawab apa yang aku katakan?"
"Dulu, bukankah karena perbedaan itu kamu pilih aku dari pada kakak?"
Sontak, Marvel yang juga sudah kesal tidak bisa menahan diri lagi. Pria itu langsung bangun dari duduknya. Tatapan matanya mulai terlihat sangar dan menakutkan.
"Iya. Dan aku sangat menyesali pilihan bodoh yang telah aku ambil. Ternyata, bersama kamu tidak semenyenangkan ketika saat aku bersama Rin. Meskipun dia tidak terlihat ceria, tapi bersamanya membuat aku merasa jauh lebih nyaman dari pada saat aku bersama dengan mu."
"Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat, Yara. Jika bukan karena bujukan mu, aku tidak akan meninggalkan Rin. Semua gara-gara kamu, Ara. Kamu!"
"Apa? Kamu bilang semua gara-gara aku. Kak Marvel. Kamu-- "
"Cukup! Aku tidak ingin berdebat dengan mu terlalu lama. Semakin lama, aku merasa, kamu semakin menjengkelkan, Yara. Aku semakin muak!"
"Kak Marvel!"
Sayangnya, panggilan itu tidak Marvel indahkan sedikitpun. Pria itu malah langsung beranjak meninggalkan Yara dengan langkah besar.
Yara ditinggalkan begitu saja. Jangankan membujuk, berniat untuk mengalah saja Marvel tidak terniat sedikitpun.
Seketika, pintu apartemen Marvel banting dengan keras. Yara terlonjak kaget. Hening seketika. Buliran bening jatuh. Ini sebenarnya, bukan pertengkaran pertama setelah mereka menikah. Hanya saja, kali ini adalah pertengkaran yang paling besar di antara pertengkaran-pertengkaran kecil yang sudah terjadi sebelumnya.
Mila diam terpaku tanpa kata. Hatinya terasa perih. Ternyata, apa yang ia bayangkan sebelumnya, sama sekali tidak sama dengan apa yang dia terima saat ini. Itu sungguh sangat mengecewakan hati.