Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keresahan Ying Ru
Ying Zu mendongak menatap wajah permaisuri Xin nie yg selalu dapat menenangkan hati nya itu dengan mata yang sembab.
"Bibi." Ucap nya sambil memeluk erat tubuh bibi nya yaitu permaisuri Xin nie.
Permaisuri Xin nie pun tersenyum haru, sambil mengusap lembut pucuk kepala Ying Zu.
Semua orang yg melihat itu hanya terdiam sambil menitikkan air mata sungguh betapa mereka semua merindukan Ying Zu tapi saat ini mereka membiarkan permaisuri Xin nie terlebih dahulu menumpahkan rasa rindu nya.
Setelah beberapa saat berpelukan dengan Permaisuri Xin nie, semua kerabat kekaisaran pun satu persatu mendekati Ying Zu lalu membawa nya ke dalam istana, tak lupa juga Ceni dan Zeno, mereka sudah di persilahkan kaisar memasuki istana sebab kedua nya adalah sahabat Ying Zu putri kecil mereka.
Sesampainya di aula keluarga di dalam istana, semua nya pun berkumpul termasuk Ceni dan Zeno sebab Ying Zu lah yg meminta nya.
"Zu'er, ada apa dengan mu sebenarnya, kenapa penampilan mu seperti ini.?" Ucap kakek jenderal.
Sejenak Ying Zu terdiam lalu pandangan nya beralih pada Ceni.
Ceni pun tersenyum lalu mengangguk tanda Ying Zu harus menceritakan semua nya pada anggota keluarga nya.
Dengan terbata-bata sambil berlinang airmata, Ying Zu pun menceritakan kehidupan pahit nya di kediaman Ying yg selalu ditindas oleh selir dan putrinya bahkan nyonya tua kediaman Ying tak lupa juga ayah nya sendiri, setiap kali Ying Zu ingin mengadu pada kakek-kakek nya , ibu nya Lin Shen selalu menghalangi dan menyuruh nya agar tak menyusahkan Ying San dan melarang nya mengadu pada kaisar karena hal itu bisa membuat nya kehilangan cinta suami nya nanti.
Ying Zu selalu menjadi pelampiasan amarah ayah nya begitu pula ibu nya yang gila cinta itu.
Sehingga menjadi kan Ying Zu sasaran empuk Ying Ru dan ibu nya menjadi kambing hitam.
Puncak nya ialah 5 tahun yang lalu, tiba-tiba Ying Ru menjatuhkan diri ke dalam kolam agar tenggelam yg kebetulan Ying San dan ibu nya Lin Shen berada tak jauh dari Ying Zu dan Ying Ru.
Sontak saja teriakan Ying Ru pun mengalihkan atensi Ying San, dengan perasaan cemas, Ying San pun berlari menghampiri arah dimana kedua nya berada dan betapa terkejutnya Ying San melihat putri kesayangannya hampir tenggelam, tanpa aba-aba Ying San pun terjun menyelamatkan putri kesayangannya.
Sedangkan Lin Shen yg melihat itu pun mematung, ia sangat tau tempramen Ying San apabila orang kesayangan nya di usik ia tak akan tinggal diam, dan pikiran Lin Shen malah takut ia tak di sayang suami nya lagi bahkan putri nya di fitnah pun ia tak peduli.
Saat itu Ying Zu yg masih polos dan mudah di tindas pun tak bisa berbuat apa-apa walaupun hanya sekedar membela diri, ia tau ucapan nya tak mungkin di percayai oleh ayah nya begitu pula ibu nya yg Memilih pergi tanpa menoleh ke arah nya.
Ying San pun melayangkan tamparan keras pada wajah Ying Zu dan seketika wajah Ying tertoleh ke samping dan sudut bibir nya yang mengeluarkan darah segar.
Segala macam makian, hinaan dan kata-kata menyakitkan pun keluar dari mulut Ying San dan saat itu juga lah Ying San menyuruh orang kepercayaan membawa Ying Zu ke akademi untuk belajar tata Krama dan kesopanan, hingga tiba kepulangan nya pun tak luput dari niat jahat saudara tiri nya sehingga pelayan pribadi yang begitu setia dan hanya satu-satunya nya yang menyayangi nya di kediaman Ying pun menjadi korban rencana licik Ying Ru.
Ying Zu pun sambil menangis tersedu-sedu sambil menceritakan apa saja yang menimpa dirinya selama ini.
BRAK
"Bedebah, berani nya dia menindas permata kami." Teriak kakek jenderal murka.
Kaisar tua hanya memegang dada nya yang terasa sesak sebab mendengar begitu banyak nya penderitaan yg di tanggung cucu perempuan kekaisaran satu-satunya.
"Malang sekali nasib mu cucu ku." Ucap nyonya tua Shen, istri nya kakek jenderal.
"Mei mei, kau tenang saja, kami akan menegakkan keadilan untukmu." Ucap putra mahkota kekaisaran dengan tangan terkepal.
"Terimakasih." Ucap Ying Zu dengan suara serak nya.
"Jangan berterima kasih nak, kau adalah putri kami, kau berhak bahagia." Ucap permaisuri Xin nie tersenyum pada Ying Zu.
Ying Zu pun tersenyum haru.
"Seandainya saja bibi permaisuri adalah ibuku, pasti aku akan menjadi tuan putri yg paling bahagia." Batin Ying Zu menatap lekat wajah teduh permaisuri Xin nie.
"Aku ingin bertanya tapi takut melakukan kesalahan." Gumam Ceni tapi dapat di dengar oleh Zeno di sebelah nya.
"Apa yg kau pikirkan nona Ceni.?" Bisik Zeno.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa curiga." Bisik Ceni.
"Apa yg kau curigai nona.?" Tanya Zeno penasaran.
"Lihat lah wajah Ying Zu dan permaisuri Xin nie, masa iya kalau hanya hubungan sebatas bibi dan keponakan bisa memiliki wajah yang hampir sama, hanya saja beda di bagian mata, mata nya malah mirip kaisar, kau tak melihat itu Zen.?" Bisik Ceni sambil melirik ke arah kaisar, permaisuri dan juga Ying Zu.
Zeno pun melihat dengan teliti wajah kaisar, permaisuri dan Ying Zu, sedetik kemudian mata nya terbelalak lalu mengerjap sekali.
"Kenapa aku baru sadar ya." Gumam Zeno heran.
"Kau memikirkan hal yang sama dengan ku kan.?" Ucap Ceni.
Zeno pun mengangguk tanda mengiyakan.
"3 hari lagi Pesta kembali nya dirimu akan di adakan dengan meriah, saat itu juga, keluarga Ying akan mengetahui bahwa kau sangat berharga di istana ini." Ucap kaisar.
"Benar, kita lihat saja nanti, gimana rupa wajah keluarga Ying itu, termasuk selir rendahan dan anak sialan nya." ucap bibi pertama, menantu kediaman jenderal.
"Kau benar saudara ipar, aku bahkan sudah menahan emosi ku hendak melampiaskan nya pada mereka, beruntung mereka tak ada di sini." Ucap bibi kedua, menantu kediaman jenderal.
"Lihat lah para ibu kita Gege, mereka bersemangat sekali." Ucap Shen jun, putra bibi kedua.
Putra bibi pertama hanya tersenyum miring.
"Seperti nya pesta kali ini akan meriah sekali ya.?" Gumam Shen wu ji.
.
Di kediaman Ying.
Ying Ru terus mondar mandir di dalam kamar nya dengan wajah tak sabar.
"Kenapa mereka tidak ada kabar sama sekali, seharusnya Si Ying Zu bodoh itu sudah mati kan,? kenapa tak ada satu pun dari mereka yg memberi kan kabar tentang Kematian nya.!" Gumam Ying Ru tak sabar sekaligus resah.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪