NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kediaman Clara

Motor Luca berhenti di depan sebuah rumah yang asri. Clara sudah menunggu di teras dengan cemas, namun wajahnya langsung cerah saat melihat mereka tiba.

​"Kalian sampai juga!" seru Clara. Luca segera turun dan mengambil kedua tas besar milik Greta. "Biar aku yang bawa," ucapnya singkat seraya melangkah masuk.

​Di dalam, aroma masakan yang menggugah selera langsung menyambut mereka. Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah teduh sedang menata piring di meja makan.

​"Greta, ini ibuku, Sarah, atau kamu bisa panggil Ma'am Sarah," Clara memperkenalkan ibunya.

​Ma'am Sarah tersenyum hangat dan menghampiri Greta, menuntunnya dengan lembut. "Ayo duduk, Nak. Ma'am sudah masak makan malam yang spesial untuk menyambutmu. Kamu harus makan banyak agar cepat pulih."

​Luca meletakkan tas-tas itu di dekat tangga, lalu menghampiri Ma'am Sarah dengan sikap hormat. "Ma'am Sarah, terima kasih banyak sudah mengizinkan Greta tinggal di sini. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ma'am."

​"Sama-sama, Luca. Ayo, bergabunglah, Ma'am sudah siapkan piring untukmu juga," ajak Ma'am Sarah ramah.

​Luca tampak agak sungkan, ia melirik jam tangannya. "Mohon maaf sekali, Ma'am, saya ingin sekali bergabung, tapi saya harus segera kembali ke sekolah sekarang. Prosedur asrama sangat ketat malam ini."

​Melihat ibunya yang hendak membujuk lagi, Clara segera menimpali untuk membela Luca. "Ma, biarkan Luca kembali. Besok dia ada pertandingan besar di sekolah, dia harus istirahat di asrama dan ikut pengarahan terakhir timnya malam ini. Dia tidak boleh terlambat," ucap Clara meyakinkan.

​"Ah, begitu ya? Sayang sekali," ucap Ma'am Sarah mengerti. "Baiklah, Luca. Hati-hati di jalan dan sukses untuk pertandingan besok."

​"Terima kasih, Ma'am. Greta, Clara, aku pergi dulu," pamit Luca dengan anggukan tegas sebelum akhirnya deru motornya menjauh dari halaman rumah.

​Setelah kepergian Luca, suasana di ruang makan terasa sangat tenang dan nyaman—sesuatu yang sudah lama tidak dirasakan oleh Greta. Ma'am Sarah menyendokkan nasi hangat dan sayur ke piring Greta.

​"Makan yang banyak, Nak. Ini resep rahasia keluarga kami," ucap Ma'am Sarah sambil tersenyum.

​Greta menyuap makanan itu perlahan. Rasa hangat dari masakan Ma'am Sarah seolah mulai mencairkan ketakutan yang membeku di dalam dirinya. Clara duduk di sampingnya, bercerita tentang hal-hal lucu untuk mengalihkan pikiran Greta dari kejadian di apartemen.

​"Kamu tahu, Greta?" Clara berkata sambil mengunyah, "Ibu bahkan membuatkan puding cokelat untuk pencuci mulut. Dia bilang orang yang baru sembuh butuh sesuatu yang manis."

​Greta menatap kedua orang di depannya dengan mata berkaca-kaca. "Masakan Ma'am Sarah sangat enak... Terima kasih sudah menerimaku di sini," bisik Greta haru.

Minta maaf ya, aku salah asumsi soal hobi Clara. Mari kita hapus semua elemen olahraga dan trofi itu. Kita fokus pada sisi artistiknya dengan lukisan-lukisan amatirnya.

​Setelah makan malam yang hangat, Clara merangkul bahu Greta dan menuntunnya menaiki tangga menuju lantai dua. "Ayo, kamu butuh istirahat total," ucap Clara sambil membuka pintu kamarnya.

​Kamar Clara terasa sangat personal dan penuh warna. Dindingnya hampir penuh tertutup oleh berbagai lukisan amatir yang ia buat di kelas melukis; ada lukisan cat air yang warnanya sedikit berantakan, sketsa pensil yang belum selesai, hingga coretan-coretan abstrak yang terlihat emosional. Di pojok ruangan, sebuah meja kayu kecil dipenuhi dengan tabung cat, kuas yang terendam air, dan tumpukan kertas gambar. Kamar itu terasa hangat dan sedikit berantakan, namun sangat nyaman.

​"Maaf ya, Greta, aku nggak bisa bersiap-siap lebih lama untuk menyambutmu. Kita tidur di satu tempat tidur ya? Kasurnya cukup luas kok buat kita berdua," ucap Clara sambil memindahkan beberapa tumpukan kertas dari atas kasur.

​Clara kemudian menatap Greta dengan tatapan menyelidik yang usil. "Tapi... kamu nggak ngorok kan, ya?" goda Clara sambil tertawa.

​Greta terdiam sejenak, lalu memasang wajah polos. "Seingatku... ngorok sih..." jawabnya pelan.

​Seketika tawa mereka pecah bersamaan. Suasana kamar yang penuh dengan karya seni amatir itu membuat Greta merasa sedikit lebih tenang. Ia kemudian duduk di tepi kasur dan mulai membuka tasnya. Tangannya merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah botol obat kecil berwarna gelap tanpa merk atau label apa pun.

​Clara yang sedang menaruh kuasnya langsung menoleh, alisnya bertautan. "Apakah itu obat dari rumah sakit tadi? Kok nggak ada labelnya?" ucap Clara bingung.

​Greta sempat tertegun sejenak, jemarinya meremas botol itu sedikit lebih erat. "Ah... bukan, ini... obat pribadiku," jawabnya singkat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan tentang botol itu.

​Clara hanya mengangguk, meski di dalam kepalanya muncul banyak pertanyaan. Ia tidak ingin menekan Greta yang baru saja melalui malam yang sangat berat.

"Clara, aku permisi ke kamar mandi sebentar ya," pamit Greta pelan. Clara hanya tersenyum hangat sambil mengangguk, membiarkan sahabatnya itu mendapatkan ruang privasi.

​Greta melangkah masuk dan mengunci pintu. Di dalam ruangan kecil yang dingin itu, ia berdiri mematung di depan cermin. Perlahan, ia menarik tudung hoodie-nya ke bawah. Perban putih yang melilit kepalanya terlihat kontras dengan rambutnya yang kusut. Ia menatap pantulan dirinya di kaca—menatap wajah yang tampak begitu asing dan rapuh.

​Ada rasa mual yang naik ke tenggorokannya. Ia menatap luka dan memar di wajahnya dengan tatapan kosong. Tidak ada air mata, tidak ada isak tangis; yang ada hanyalah rasa jijik yang mendalam terhadap bayangan dirinya sendiri yang terlihat seperti korban yang malang.

​Dengan gerakan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh tas kecil yang dibawanya masuk. Ia mengeluarkan sebuah gunting.

​Sret!

​Tanpa ragu, ia menggunting kain perban di kepalanya. Ia tidak peduli jika luka di bawahnya belum kering sempurna. Anehnya, tak ada rasa sakit yang dirasakannya, seolah syarafnya telah mati rasa oleh amarah yang terpendam. Perban itu jatuh ke lantai seperti kulit lama yang ia tanggalkan.

​Setelah itu, ia menatap rambutnya. Rambut yang mungkin pernah ia banggakan, namun kini terasa seperti beban yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu. Dengan tatapan yang mendadak tajam dan dingin, ia mengarahkan bilah gunting itu ke dekat akar rambutnya.

​Krek... krek...

​Gumpalan rambut jatuh satu per satu ke dalam wastafel. Greta terus menggunting dengan kasar, tidak peduli pada kerapiannya. Ia ingin membuang semua bagian dari dirinya yang lama. Ia ingin menghapus jejak tangan-tangan yang pernah menyentuhnya dengan paksa. Di balik pantulan kaca, sosok Greta yang lemah perlahan menghilang, digantikan oleh seseorang yang memiliki tatapan sekeras baja.

Beberapa saat kemudian, bunyi klik dari kunci pintu yang terbuka memecah keheningan kamar. Clara, yang sedang berbaring santai sambil menatap layar ponselnya, langsung berseru tanpa menoleh, "Greta! Kamu lama banget, aku baru aja nemu video lucu di Instag—"

​Kalimat Clara menggantung di udara. Ponselnya nyaris merosot dari genggamannya saat ia mengangkat wajah dan melihat sosok yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.

​Clara terpaku, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Greta berdiri di sana, sudah berganti pakaian dengan kaos bersih yang longgar, namun bukan itu yang membuat Clara syok. Rambut panjang Greta yang biasanya terurai kini telah hilang, berganti menjadi potongan pendek sebahu yang tajam dan tak beraturan.

​Potongan itu tidak rapi, jelas hasil guntingan tangan sendiri dalam emosi yang meluap, namun entah bagaimana, itu justru memancarkan aura yang sangat berbeda. Tanpa perban yang membungkus kepalanya, wajah Greta kini terekspos sepenuhnya. Garis rahangnya terlihat lebih tegas, dan lehernya yang jenjang memberikan kesan rapuh sekaligus tangguh secara bersamaan. Sisa-Sisa helai rambut yang jatuh di sekitar tulang pipinya memberikan bingkai yang dramatis pada matanya yang kini terlihat lebih dalam dan dingin.

​"Greta... rambutmu..." bisik Clara dengan suara bergetar.

​Ia melihat bayangan diri Greta yang lama telah terkubur di lantai kamar mandi bersama potongan rambut itu. Greta yang berdiri di depannya sekarang tidak lagi terlihat seperti korban yang ketakutan. Dengan rambut pendek yang berantakan itu, ia terlihat seperti seorang pejuang yang baru saja memotong satu-satunya kelemahan yang ia miliki.

​Greta hanya diam, menatap Clara dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Ia menyentuh ujung rambut pendeknya yang kasar, lalu bertanya pelan, "Apakah... terlihat sangat buruk?"

Clara langsung beranjak dari kasurnya dengan gerakan cepat, menghampiri Greta yang masih berdiri mematung. Jemarinya terangkat, perlahan menyentuh ujung-ujung rambut Greta yang baru saja dipotong pendek itu dengan sentuhan yang sangat halus.

​"Kamu... kamu barusan memotongnya sendiri?" tanya Clara, suaranya antara terkejut dan kagum.

​Greta hanya mengangguk pelan, masih ada sisa-sisa keberanian yang dingin di matanya.

​Clara menghela napas panjang, menatap pantulan Greta di cermin kamarnya. "Sebenarnya... besok aku berencana untuk mengajakmu bolos sekolah dan pergi ke salon untuk memperbaiki rambutmu," Clara menjeda kalimatnya, matanya menyapu wajah Greta yang kini terlihat jauh lebih segar dan tegas. "Tapi... kenapa kamu sekarang malah terlihat jauh lebih cantik? Potongan ini benar-benar menonjolkan matamu, Greta."

​Mendengar pujian tulus itu, dinding pertahanan yang dibangun Greta sedikit melunak. Ia tidak ingin tenggelam dalam suasana emosional lebih lama lagi.

​"Mana coba kulihat video lucunya?" jawab Greta berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia berjalan menuju meja rias Clara, mengambil sisir yang ada di sana, dan mulai menyisir rambut pendeknya yang baru dengan gerakan yang lebih santai.

​Greta tertawa kecil saat melihat ekspresi Clara yang masih melongo. Tawanya kali ini terdengar lebih ringan, seolah beban berat yang tadi menekan pundaknya ikut terpotong bersama rambutnya.

​Clara ikut tertawa, meski matanya masih menunjukkan rasa bangga yang luar biasa pada sahabatnya itu. Ia menyodorkan ponselnya, dan mereka berdua kembali duduk di atas kasur, menatap layar bersama-sama di bawah temaram lampu kamar yang dipenuhi lukisan-lukisan indah.

Malam pun semakin larut. Suasana di dalam kamar yang penuh dengan lukisan itu terasa sangat tenang. Clara menarik selimutnya dan menepuk bantal di sebelah tempat tidurnya.

​"Ayo kita tidur, Greta. Tubuhmu butuh istirahat," ajak Clara dengan suara yang mulai mengantuk.

​Greta merebahkan dirinya di samping Clara, menatap langit-langit kamar.

​Clara memiringkan tubuhnya, menatap Greta dengan mata setengah terpejam. ", "Oh iya... kita jadi bolos enggak nih besok?".

​"Aku... aku ingin melihat Luca besok," jawab Greta jujur, suaranya nyaris seperti bisikan.

​Clara langsung menepuk dahinya pelan. "Oh iya! Aku hampir lupa... besok ada pertandingan besar! Mana mungkin kita bolos kalau kapten jagoan kita itu main. Oke, kalau begitu kita harus benar-benar tidur sekarang agar besok tidak kesiangan."

​Sesaat ketika tangan Clara terulur hendak mematikan lampu meja di samping tempat tidur, dengan gerakan cepat, Greta menangkap jemari Clara. Genggamannya terasa sedikit dingin dan gemetar.

​Clara tertegun, menatap Greta dengan bingung. "Ada apa, Greta?"

​"Clara... boleh enggak lampunya jangan dimatiin?" tanya Greta pelan.

​Clara menaikkan alisnya. "Kamu takut gelap ya?"

​Greta tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya tersenyum tipis sambil memeragakan celah kecil dengan ibu jari dan telunjuknya menandakan bahwa ia 'sedikit' takut.

​Clara mengangguk mengerti, ia tidak bertanya lebih jauh atau menggoda Greta kali ini. Ia membiarkan lampu tetap menyala, memberikan cahaya remang yang cukup untuk mengusir bayang-bayang di sudut ruangan.

​"Tidur yang nyenyak, Greta. Aku di sini," gumam Clara.

​Tak lama kemudian, napas keduanya mulai teratur. Di bawah cahaya lampu yang tetap berpijar, mereka berdua tenggelam dalam mimpi.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!