NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

“Mau langsung pulang?” tanya Harry santai.

“Iya. Kamu?”

“Nongkrong bentar di taman.”

Aura mengangguk. “Jangan kebanyakan ngerokok.”

Harry terkekeh kecil. “Iya, Bu.”

Aura memutar mata, lalu berjalan ke parkiran. Ia memang tidak selalu perlu diantar. Motornya sudah cukup untuk membawanya pulang sendiri.

Harry memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berbalik menuju taman dekat parkiran seperti biasa. Ia duduk di bangku yang sudah hampir seperti tempat tetapnya, menyalakan rokok, dan menghembuskan napas panjang.

Ponselnya bergetar.

Nama Alden muncul di layar.

Harry menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo.”

“Harry?” Suara Alden terdengar tenang.

“Iya.”

“Makasih udah jagain Aura selama gue nggak bisa sering ada.”

Kalimat itu membuat Harry diam beberapa detik.

“Dia bisa jagain dirinya sendiri,” jawab Harry akhirnya.

“Aku tahu,” balas Alden. “Tapi tetap aja. Dia cerita kamu sering bantuin tugas, nemenin, segala macem.”

Harry mengembuskan asap pelan. “Ya karena kita satu kelas.”

Hening singkat.

“Aku cuma mau bilang satu hal,” lanjut Alden. “Aku nggak masalah kamu dekat sama dia. Tapi aku harap kamu tahu batasnya.”

Nada itu tidak mengancam. Tapi tegas.

Harry tersenyum tipis, walau Alden tidak bisa melihatnya. “Dari awal gue udah tahu batasnya.”

“Bagus.”

Telepon terputus.

Harry menatap layar kosong beberapa detik sebelum mematikan rokoknya. Ada rasa aneh di dadanya. Bukan marah. Bukan kalah. Tapi seperti berdiri di garis yang jelas—dan memilih tetap di sana.

Malamnya, Aura duduk di kamar, menatap layar ponsel. Ia membaca chat Harry yang hanya singkat dan biasa saja. Tidak ada candaan berlebihan. Tidak ada nada berbeda.

Lalu chat dari Alden masuk.

*Aku pulang lagi minggu depan. Kita makan bareng ya.*

Aura tersenyum kecil.

Tapi di saat yang sama, ia sadar sesuatu.

Harry tidak pernah menuntutnya.

Alden tidak pernah membatasinya.

Keduanya memberi ruang.

Dan justru ruang itu yang membuat hatinya semakin tidak tenang.

Beberapa hari kemudian, Aura dan Harry kembali mengerjakan tugas. Kali ini di kosan Harry lagi. Laptop terbuka, buku berserakan, suasana hening selain suara ketikan.

“Ra,” panggil Harry tiba-tiba.

“Hm?”

“Kamu bahagia?”

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan.

Aura berhenti mengetik. “Maksudnya?”

“Ya… sama hidup kamu sekarang.”

Aura menatap layar laptop, bukan menatap Harry. “Kenapa nanya gitu?”

“Penasaran aja.”

Hening beberapa detik.

“Aku nggak tahu,” jawab Aura jujur.

Harry tersenyum kecil. “Jawaban paling aman.”

“Aku cuma lagi belajar ngerti diri sendiri,” lanjut Aura pelan.

Harry mengangguk. “Bagus.”

Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak memaksa.

Dan justru karena itu, Aura merasa semakin sulit membedakan mana kenyamanan, mana perasaan.

Di luar kosan, angin malam berhembus pelan.

Di antara tiga orang ini, tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang memaksa.

Tapi kadang, yang paling menyakitkan bukanlah pertengkaran.

Melainkan pilihan yang harus dibuat dalam diam.

Seminggu kemudian Alden benar-benar datang ke kampus tanpa memberi tahu Aura lebih dulu. Siang itu suasana cukup ramai karena kelas baru saja selesai. Aura dan Harry masih duduk di dalam kelas, membahas revisi tugas yang tadi dikumpulkan.

“Kamu tadi salah tulis bagian kesimpulan,” ucap Harry sambil menunjuk layar laptop.

Aura mendekat sedikit untuk melihat. “Yang mana?”

“Ini. Harusnya kamu jelasin lebih detail.”

Aura mengangguk pelan. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa hangat dan tenang seperti biasa.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!