Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbol pusat kekuatan,kedatangan tamu besar
Cahaya matahari yang mulai meninggi menembus celah gorden, menciptakan garis-garis tajam di lantai kamar. Suasana yang seharusnya tenang berubah menjadi tegang oleh dering telepon yang seakan tak berhenti.
Laura berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang sedikit gemetar memulas lipstik merah tua. Ia mengenakan terusan hitam elegan yang menyamarkan kegelisahannya. Di sudut meja rias, tergeletak sebuah kartu undangan hitam dengan simbol pentagram perak yang samar, hanya terlihat jika terkena sudut cahaya tertentu. Itu bukan sekadar undangan; itu adalah kunci masuk yang mengandung kode identitas mereka sebagai perwakilan wilayah.
Di sudut ruangan lain, Steven terus mengangkat gagang telepon.Wajahnya kaku, sesekali ia mengangguk meski lawan bicaranya tak melihat.
Dering pertama: Konfirmasi rute jalan tikus agar terhindar dari pantauan otoritas.
Dering kedua: Instruksi mengenai urutan kedatangan untuk menghindari kecurigaan warga lokal.
Dering ketiga: Suara berat di seberang sana hanya membisikkan satu rangkaian angka koordinat terakhir.
"Ya, kami mengerti. Perwakilan Utara dan Barat akan tiba dalam satu jam," jawab Steven singkat sebelum memutuskan sambungan. Ia menoleh ke arah Laura, matanya menyiratkan beban yang berat. "Mereka sudah menunggu 'Tamu Besar' itu. Rumah di pinggiran kota sudah dijaga ketat."
Steven meraih jasnya dan memeriksa saku dalamnya, memastikan kode tertulis dan tanda pengenal rahasia mereka aman. Mereka harus menempuh perjalanan jauh ke sebuah mansion tua milik salah satu anggota senior sekte yang terletak terpencil, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota dan jangkauan hukum.
"Ayo,"
bisik Steven sambil menggenggam tangan Laura yang terasa dingin. "Ingat, setelah kita melewati gerbang itu, tidak ada jalan kembali. Kita harus memainkan peran ini dengan sempurna."
Laura menarik napas panjang, menatap pantulannya untuk terakhir kali, lalu mengangguk. Mereka melangkah keluar, meninggalkan keamanan kamar hotel menuju ketidakpastian yang gelap di batas kota.
Mobil melambat saat aspal halus berganti menjadi kerikil tajam yang berderit di bawah ban. Di balik kabut tipis pinggiran kota yang belum sepenuhnya pudar, siluet mansion tua itu berdiri angkuh—sebuah bangunan bergaya kolonial dengan pilar-pilar beton yang mulai ditumbuhi lumut kering, seolah-olah rumah itu sendiri sedang membusuk dari dalam.
Atmosfer yang Mencekam
Begitu pintu mobil terbuka, hawa dingin yang tidak wajar langsung menyergap. Tidak ada suara burung atau serangga.hanya desir angin yang melewati celah-celah pohon tua yang rimbun, menutupi pandangan dari jalan utama. Penjagaan di gerbang depan sangat ketat, namun dilakukan dengan sunyi yang mematikan.
Saat melangkah masuk ke aula utama yang luas, pemandangan di dalam jauh lebih ganjil.Setiap orang yang hadir—baik pria maupun wanita—mengenakan jubah hitam legam dengan topeng porselen putih yang menutupi seluruh wajah. Topeng-topeng itu tidak memiliki ekspresi, hanya lubang hitam kecil untuk mata, membuat suasana terasa seperti kumpulan patung hidup yang bergerak tanpa suara.
Ruangan tidak diterangi oleh lampu listrik, melainkan oleh ratusan lilin hitam yang diletakkan di tempat lilin kuno dari besi tempa. Cahayanya bergoyang-goyang, menciptakan bayangan raksasa yang menari-nari di dinding tinggi.
Aroma kemenyan yang tajam bercampur dengan bau kayu tua yang lembap memenuhi indra penciuman, memberikan kesan ritualistik yang kental.
Meskipun ruangan itu dipenuhi oleh perwakilan dari berbagai kota, hampir tidak ada percakapan. Mereka berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berkomunikasi hanya melalui isyarat tangan atau bisikan yang sangat pelan. Semua mata sesekali melirik ke arah pintu ganda besar di ujung aula yang masih tertutup rapat.
"Suasananya terlalu tenang," bisik Steven di balik topengnya, suaranya teredam porselen. "Mereka semua menahan napas."
Ada rasa hormat sekaligus ketakutan yang luar biasa di udara. Kursi utama di ujung ruangan, yang tampak seperti singgasana dari kayu gelap yang diukir rumit, masih kosong. Tamu kehormatan dari luar negeri belum menampakkan diri, namun keberadaannya sudah terasa menekan mental siapa pun yang berada di sana.
Semua orang menunggu detak jam besar di sudut ruangan denting demi denting, menandai kedatangan sosok yang akan mengubah segalanya malam ini.
Ketegangan di dalam aula semakin memuncak justru karena jumlah hadirin yang sangat terbatas. Tidak ada kerumunan besar; yang ada hanyalah pemandangan ganjil dari beberapa kelompok kecil yang tersebar di ruang luas itu.
Peta Kekuatan yang Tersembunyi
Setiap sudut aula ditempati oleh utusan terpilih yang mewakili titik-titik strategis di Asia. Mereka berdiri kaku, masing-masing didampingi oleh seorang pemandu lokal yang bertindak sebagai bayangan mereka.
Pemandu ini mengenakan topeng porselen yang identik dengan tamu mereka, menciptakan efek visual di mana sulit untuk membedakan siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin.
Tidak ada bahasa lisan yang terdengar jelas. Komunikasi antar perwakilan hanya dilakukan melalui tatapan mata di balik lubang topeng atau gerakan kepala yang sangat minimal. Mereka adalah orang-orang berpengaruh di negara masing-masing, namun di sini, mereka hanyalah pion yang menunggu perintah.
Aula mansion tersebut kini terasa lebih sempit karena energi negatif yang memancar dari para hadirin.
Laura merasa jantungnya berdegup kencang di balik gaun hitamnya. Ia bisa merasakan tatapan dingin dari perwakilan negara lain yang berdiri di seberang ruangan. Meskipun wajah mereka tersembunyi, aura permusuhan dan persaingan sangat terasa. Mereka semua adalah predator yang sedang menunggu pemangsa yang lebih besar.
Satu kursi tinggi di kepala meja tetap kosong, diterangi oleh satu lilin tunggal yang sumbunya mulai memendek. Penjagaan di pintu masuk luar tampak semakin rapat; desas-desus beredar di antara bisikan angin bahwa sang Tamu Terhormat dari luar negeri sudah memasuki wilayah perkebunan mansion tersebut.
Di balik pintu ganda yang berat dan kedap suara, terdapat sebuah aula utama yang luasnya sanggup menampung ratusan orang, namun terasa menyesakkan karena atmosfernya yang begitu berat. Berbeda dengan bagian luar rumah yang tampak menua dan lapuk, ruangan ini ditata dengan ketelitian yang hampir obsesif.
Kemegahan yang Simetris
Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi yang disangga oleh pilar-pilar marmer hitam yang mengilap. Lantainya terbuat dari granit gelap yang dipoles hingga menyerupai cermin, memantulkan setiap bayangan lilin yang bergetar. Tidak ada debu, tidak ada noda; segalanya tertata sangat rapi, memberikan kesan disiplin yang dingin dan kaku.
Di dinding utama, tepat di ujung aula yang paling gelap, terpampang sebuah simbol Illuminati raksasa yang mendominasi seluruh ruangan.
Simbol itu terbuat dari logam kuningan yang disikat halus, memberikan kilau keemasan yang redup namun megah. Garis-garisnya tegas, menunjukkan struktur hierarki yang tak tergoyahkan. Di bagian puncak piramida yang terpisah, terdapat sebuah ukiran mata raksasa. Mata itu dibuat dari kristal obsidian hitam yang tampak seolah-olah selalu mengikuti gerak-gerik siapa pun di dalam ruangan. Di bawah cahaya lilin, mata itu seakan berdenyut, memberikan kesan bahwa "Sang Arsitek" sedang mengawasi pertemuan rahasia ini.
Satu-satunya sumber cahaya paling terang di ruangan itu diarahkan tepat ke arah simbol tersebut, membuatnya tampak seperti matahari hitam yang memerintah kegelapan di sekelilingnya.
Di bawah simbol raksasa itu, terdapat sebuah meja panjang yang dilapisi kain beludru hitam pekat. Di atasnya, beberapa atribut ritual tertata secara metodis cawan -cawan perak Berbaris rapi sesuai jumlah perwakilan negara Asia yang hadir. Sebuah manuskrip tua dengan sampul kulit manusia,(menurut rumor yang beredar di antara para anggota) terletak di tengah meja, siap untuk ditandatangani.
Suasana ruangan ini begitu sunyi hingga suara napas Laura terdengar jelas di telinganya sendiri. Kehadiran simbol raksasa itu seolah menghisap semua oksigen, membuat siapa pun yang memandangnya merasa kecil dan tak berdaya di hadapan kekuatan kuno yang sedang mereka sembah.
Suasana yang semula statis dan membeku seketika pecah oleh deru mesin yang berat dari arah halaman depan. Sorot lampu kuning keemasan membelah kabut, menyapu pilar-pilar mansion yang suram.
Tepat di depan tangga utama, sebuah sedan mewah berhenti dengan anggun. Cat hitamnya yang mengilap memantulkan cahaya lilin dari jendela mansion, diikuti oleh iring-iringan tiga mobil hitam yang menjaga jarak.
Pintu belakang mobil utama terbuka perlahan. Sepatu pantofel kulit yang dipoles sempurna menginjak kerikil halaman.
Muncul seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, mengenakan setelan jas custom-made yang membalut bahunya yang lebar. Rambutnya yang berwarna pirang kecokelatan tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan rahang tegas dan tatapan mata yang dingin namun berwibawa. Ia tidak mengenakan topeng yang berbeda.sebuah hak istimewa yang menunjukkan kedudukannya yang jauh di atas siapa pun di ruangan itu.
Di sampingnya, seorang wanita melangkah turun dengan gerakan anggun yang mematikan. Berbeda dengan sang pria, wanita ini mengenakan topeng porselen hitam dengan ukiran emas di sudut matanya. Ia mengenakan gaun panjang yang senada dengan jubah para anggota lain, namun dengan detail jahitan yang jauh lebih rumit.
Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas gelap segera membentuk formasi perlindungan di sekitar mereka, menjaga jarak aman namun siap bertindak dalam hitungan detik.
Saat rombongan itu melintasi pintu aula, suasana di dalam ruangan berubah drastis. Para utusan dari berbagai negara Asia yang tadinya berdiri kaku, serentak menundukkan kepala. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorakan; hanya suara langkah kaki sang tamu yang bergema di atas lantai granit yang bersih.
Simbol Illuminati raksasa di dinding seolah berpijar lebih terang saat pria pirang itu berjalan mendekatinya. Ia berhenti tepat di tengah ruangan, di bawah bayangan piramida emas, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula.
"Waktunya telah tiba,"
Pria itu berbahasa inggris,ia di dampingi seorang pemandu yang berdiri di sampingnya dan menterjemahkan kalimat yang di ucapkannya.
suaranya rendah namun memenuhi setiap sudut ruangan, membuat Laura dan Steven merasa seolah dinding-dinding tua itu ikut bergetar.
Wanita bertopeng di sampingnya menyerahkan sebuah map kulit tua kepada sang pria, sementara para pemandu lokal semakin merapatkan barisan di belakang tamu-tamu mereka. Konferensi yang paling ditakuti di benua ini resmi dimulai.