Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16. kontrak yang mulai retak
Buku catatan itu tergeletak di meja kerja Sakira sepanjang sore, tak pernah benar-benar ia sentuh, tapi juga tak pernah ia jauhkan dari pandangannya. Sampulnya polos, tanpa nama, tanpa hiasan—namun entah mengapa terasa lebih berat dari berkas-berkas proyek yang biasanya memenuhi mejanya.
Ia membuka halaman kedua.
Kosong.
Halaman ketiga.
Masih kosong.
Rafael tidak menuliskan apa pun selain kalimat pembuka itu. Seolah sengaja memberi ruang. Ruang untuk Sakira. Ruang untuk ragu, untuk takut, untuk jujur pada dirinya sendiri.
Sakira menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai, ia merasa ada sesuatu yang berubah—bukan di sekelilingnya, tapi di dalam dadanya.
Cinta ini… tidak lagi terasa seperti peran.
Malam itu, Rafael berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu kota yang berkelip seperti lautan cahaya. Jasnya masih rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan, namun wajahnya terlihat lelah—bukan karena pekerjaan, melainkan karena pikirannya sendiri.
Ia membuka ponsel, membaca ulang pesan terakhir dari Sakira.
Terima kasih untuk bukunya.
Hanya itu.
Tak ada emoji. Tak ada tambahan.
Rafael tersenyum tipis. Ia tahu Sakira bukan perempuan yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata berlebihan. Justru diamnya sering kali lebih jujur.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Rafael merasa gelisah. Kontrak mereka masih berlaku. Waktu masih berjalan. Tapi perasaannya… sudah melampaui batas yang seharusnya.
Dan itu berbahaya.
Keesokan harinya, Sakira dipanggil ke ruang rapat utama perusahaan. Bukan untuk membahas proyek—melainkan untuk menghadiri pertemuan mendadak dengan jajaran direksi.
Begitu pintu kaca terbuka, Sakira langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Tegang. Dingin. Penuh penilaian.
Rafael duduk di ujung meja, ekspresinya datar, profesional, seolah pria yang menuliskan pesan hangat di buku catatan itu bukan dirinya.
Seorang pria paruh baya membuka suara.
“Kami menerima laporan anonim.”
Sakira menegakkan punggungnya.
“Laporan tentang hubungan pribadi antara CEO dan salah satu staf.”
Udara terasa menyempit.
Sakira melirik Rafael sekilas. Pria itu tidak menatapnya, tapi rahangnya mengeras—tanda ia sedang menahan sesuatu.
“Perusahaan ini dibangun atas dasar profesionalisme,” lanjut pria itu. “Jika laporan ini benar, maka ini bukan hanya masalah etika, tapi juga reputasi.”
Rafael akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, terkendali.
“Hubungan saya dengan Sakira bersifat pribadi dan tidak memengaruhi keputusan bisnis.”
“Apakah itu berarti laporan tersebut benar?” tanya seorang direktur perempuan.
Hening.
Sakira mengepalkan tangannya di bawah meja.
Rafael menarik napas.
“Ya.”
Satu kata itu terasa seperti palu yang menghantam ruang rapat.
Pertemuan berakhir tanpa keputusan pasti. Namun satu hal jelas—mata-mata kini mengarah pada mereka.
Di koridor sepi, Sakira menghentikan langkah Rafael.
“Kenapa kamu jujur?” tanyanya lirih.
Rafael menoleh. Tatapannya serius, nyaris terluka.
“Karena aku lelah bersembunyi di balik kontrak.” Sakira terdiam.
“Awalnya ini hanya kesepakatan,” lanjut Rafael. “Aku tahu. Tapi sekarang… aku tidak bisa lagi berpura-pura kalau ini hanya tentang peran.”
Jantung Sakira berdegup kencang.
“Rafael, kita—”
“Aku tahu risikonya,” potongnya lembut. “Dan aku tidak akan memaksamu memilih apa pun. Tapi aku juga tidak akan menyangkal perasaanku sendiri.”
Kata-kata itu sederhana, namun jujur. Terlalu jujur.
Sakira menunduk.
“Kalau ini berlanjut, aku yang akan disalahkan.”
“Aku yang akan melindungimu.”
Sakira tersenyum getir.
“CEO selalu bilang begitu.”
Malam itu, Sakira akhirnya membuka buku catatan pemberian Rafael. Tangannya gemetar saat ia mengambil pulpen.
Ia menulis.
Hari ini aku takut.
Takut kalau perasaan ini membuatku lemah.
Takut kalau aku harus memilih antara diriku sendiri dan seseorang yang mulai berarti.
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
Kontrak ini melindungiku dari dunia.
Tapi ternyata, ia juga membatasi hatiku.
Air mata jatuh ke kertas, meninggalkan noda kecil.
Sakira menutup buku itu perlahan Ia sadar—kontrak cinta mereka mulai retak.
Dan ketika kontrak itu benar-benar berakhir, tak ada jaminan siapa yang akan tetap tinggal.
Hari-hari setelah rapat direksi berubah menjadi medan yang sunyi namun penuh tekanan. Tidak ada teguran tertulis, tidak ada keputusan resmi, tetapi bisikan mulai beredar. Tatapan rekan kerja yang dulu netral kini terasa mengukur. Sakira bisa merasakannya—setiap langkahnya diawasi, setiap senyumnya ditafsirkan berlebihan.
Ia memilih bersikap profesional. Datang lebih pagi, pulang lebih larut. Menghindari lift yang sama dengan Rafael. Menghindari ruang-ruang yang terlalu sepi.
Namun menghindari Rafael ternyata lebih sulit daripada yang ia kira.
Suatu sore, hujan turun deras. Kantor hampir kosong ketika Sakira membereskan mejanya. Ia berpikir Rafael sudah pulang—lampu di ruang CEO padam sejak satu jam lalu.
Saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menahannya.
Rafael.
Jasnya basah di bahu, rambutnya sedikit lembap, wajahnya terlihat lelah namun tetap tenang. Lift kembali terbuka, menyisakan mereka berdua di ruang sempit yang sunyi.
Tak ada kata.
Hanya suara hujan di luar dan dengungan mesin lift.
“Aku tidak berniat menghindarimu,” ucap Rafael akhirnya, suaranya rendah. “Tapi aku juga tidak ingin membuatmu semakin tertekan.”
Sakira menatap angka lantai yang bergerak turun.
“Aku hanya butuh ruang berpikir.”
Rafael mengangguk. “Aku menghormati itu.”
Lift berhenti di basement. Pintu terbuka, tapi tak satu pun dari mereka melangkah keluar.
“Sakira,” panggil Rafael pelan. “Jika situasinya memburuk… aku siap mengakhiri kontrak lebih cepat.”
Kata-kata itu membuat dada Sakira sesak.
“Demi reputasimu?” tanyanya.
“Demi kamu.”
Sakira akhirnya menoleh. Mata mereka bertemu. Tak ada lagi peran, tak ada lagi sandiwara. Hanya dua orang dewasa yang terjebak dalam perasaan yang tumbuh tanpa izin.
“Dan setelah kontrak berakhir?” tanya Sakira lirih.
Rafael tersenyum samar, pahit.
“Setelah itu, aku ingin memperjuangkanmu tanpa klausul.”
Pintu lift menutup sebelum Sakira sempat menjawab.
Malam itu, Sakira tidak langsung pulang. Ia duduk di mobilnya cukup lama, memandangi hujan yang membasahi kaca depan. Kata-kata Rafael terus berputar di kepalanya.
Tanpa klausul.
Tanpa perlindungan.
Tanpa batas yang jelas.
Ia pulang ke apartemen kecilnya dengan perasaan campur aduk. Buku catatan itu kembali ia buka. Kali ini, ia menulis lebih panjang.
Aku selalu percaya jarak membuat segalanya aman.
Tapi ternyata jarak juga membuatku takut kehilangan.
Aku tidak tahu kapan kontrak ini berubah menjadi perasaan yang nyata.
Yang aku tahu, aku tidak lagi bisa menertawakan ini sebagai kesepakatan.
Ia berhenti menulis. Tangannya gemetar.
Jika suatu hari kontrak ini berakhir Aku tidak yakin aku siap kehilanganmu.
Sakira menutup buku itu cepat-cepat, seolah takut pada kejujurannya sendiri.
Keesokan harinya, isu itu akhirnya sampai ke telinga media—bukan secara langsung, tapi cukup untuk membuat dewan komisaris bergerak. Rafael dipanggil secara resmi. Kali ini, Sakira tidak ikut.
Ia hanya bisa menunggu.
Jam demi jam terasa lambat. Hingga sore menjelang malam, Rafael belum kembali ke kantor.
Sakira hampir pulang ketika ponselnya bergetar.
Rafael:
Aku di ruanganku. Bisa ke sini sebentar?
Jantung Sakira berdebar. Namun kakinya tetap melangkah.
Ruang CEO terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat. Rafael berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap pintu.
“Mereka memberiku dua pilihan,” ucapnya tanpa menoleh. “Menjaga jarak secara formal… atau mengundurkan diri dari posisiku jika hubungan ini berlanjut.”
Sakira terdiam.
“Aku belum menjawab,” lanjut Rafael. “Karena sebelum itu, aku ingin tahu satu hal.”
Ia berbalik. Tatapannya dalam, serius.
“Apakah kamu ingin aku bertahan sebagai CEO… atau bertahan sebagai pria yang mencintaimu?”
Pertanyaan itu terasa terlalu besar untuk diucapkan di ruang kerja, namun terlalu jujur untuk dihindari.
Sakira menelan ludah.
“Aku tidak pernah ingin menjadi alasan kamu kehilangan segalanya.”
“Aku juga tidak ingin kehilanganmu karena terlalu takut kehilangan segalanya,” jawab Rafael.
Sunyi.
Akhirnya Sakira berkata pelan, hampir bergetar.
“Aku ingin kamu memilih dirimu sendiri. Bukan aku. Bukan perusahaan.”
Rafael tersenyum kecil.
“Itu jawaban yang paling kamu.”
Ia melangkah mendekat, menjaga jarak yang aman.
“Berarti untuk sementara… kita kembali ke kontrak.”
Kata sementara itu menusuk.
Sakira mengangguk.
“Untuk sementara.”
Malam menjelang. Mereka berpisah tanpa sentuhan, tanpa janji.
Namun sebelum Sakira keluar, Rafael memanggilnya sekali lagi.
“Buku itu,” katanya. “Jika suatu hari kamu merasa siap… izinkan aku membacanya.”
Sakira tersenyum tipis.
“Mungkin suatu hari.”
Saat pintu tertutup, Rafael berdiri sendiri di ruangannya. Untuk pertama kalinya, kekuasaan, jabatan, dan kendali terasa tak berarti.untuk melindungi segalanya…
justru kini mengancam hatinya sendiri.
Dan di luar sana, Sakira melangkah pulang dengan satu kesadaran yang tak bisa ia pungkiri lagi—
Kontrak ini mungkin bisa diakhiri kapan saja.
Tapi perasaan mereka… tidak.
Bersambung...