Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PERTEMPURAN DI PINTU ANTAR DUNIA
Setelah melewati berbagai rintangan di bab-bab sebelumnya—mulai dari menemukan hubungan darah antara Rara dan Dika, mengungkap identitas sebenarnya Pak Joko sebagai penjaga pintu antar dunia yang telah hidup berabad-abad, hingga mengumpulkan artefak kunci berupa kalung bintang delapan, buku tua, dan peta kuno yang menunjukkan lokasi pintu antar dunia yang sesungguhnya—sekarang saatnya bagi mereka untuk menghadapi musuh yang sebenarnya dan menyelamatkan kedua dunia dari kehancuran total.
Di dunia nyata, Rara sedang duduk di kamar nya yang penuh dengan buku catatan dan lembaran draft cerita yang berserakan di atas meja serta lantai. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tapi dia tidak merasakan sedikit pun kantuk. Mata nya terpaku pada layar laptop yang menampilkan adegan dimana Dika dan Pak Joko sedang bersiap untuk pergi ke lokasi pintu antar dunia yang berada di tengah Kawasan Hutan Lindung Bromo—tempat yang juga ada di dunia nyata, tepatnya di lereng gunung yang jarang sekali dikunjungi orang. Rara baru saja menyelesaikan draft bab 12 yang berisi tentang bagaimana mereka menemukan bahwa musuh mereka bernama Raka—mantan penjaga pintu antar dunia yang tersesat jalan dan ingin menguasai kekuatan pintu untuk menjadi penguasa seluruh dunia pararel.
Tiba-tiba saja, jendela kamar Rara tiba-tiba bergetar dengan keras hingga kaca nya hampir pecah. Cahaya warna ungu menyala terang dari arah arahan Bromo, membuat langit malam yang tadinya gelap total menjadi seolah-olah siang hari. Rara langsung berdiri dan berlari ke jendela, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa pintu antar dunia sudah mulai terbuka secara tidak terkendali—seolah ada yang mencoba membukanya dengan kekuatan brute force. Tak butuh waktu lama, Pak Joko muncul di depan kamar nya dengan wajah yang serius sekali. "Waktunya sudah tiba, Rara. Kita tidak bisa menunda lagi. Raka sudah menemukan cara untuk membuka pintu tanpa artefak kunci, dan jika kita tidak cepat bertindak, kedua dunia akan menyatu dengan cara yang sangat berbahaya!"
Tanpa berpikir dua kali, Rara mengambil tas yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari—di dalamnya ada buku catatan cerita nya, kalung bintang delapan yang dia temukan di lemari nenek nya beberapa hari yang lalu, dan botol air suci dari sumber mata air di desa nenek nya yang dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan. Bersama Pak Joko, mereka berlari keluar rumah dan naik mobil yang sudah siap menunggu di depan pintu. Perjalanan menuju Bromo terasa sangat cepat karena Pak Joko menggunakan kekuatan khusus nya untuk membuat waktu berjalan lebih lambat di sekitar mereka. Selama perjalanan, Pak Joko mulai menceritakan rahasia yang belum pernah dia ungkapkan sebelumnya.
"Raka sebenarnya adalah saudara kembar ku, Rara. Kita sama-sama dilatih untuk menjadi penjaga pintu antar dunia sejak lahir. Tapi dia selalu merasa tidak puas dengan tugas kita hanya sebagai penjaga—dia ingin menggunakan kekuatan pintu untuk membuat dunia yang sesuai dengan keinginannya. Saat kita berusia belasan tahun, dia mencoba membuka pintu dengan kekuatan sendiri dan hampir berhasil, tapi ayah kita yang juga penjaga pintu sebelumnya berhasil menghentikannya dan mengasingkannya ke dunia pararel yang paling jauh. Tapi sepertinya dia sudah menemukan cara untuk kembali dan kini dia lebih kuat dari sebelumnya," cerita Pak Joko dengan suara yang penuh dengan rasa bersalah dan sedih. Rara hanya bisa menepuk bahu nya sebagai bentuk dukungan, karena dia tahu bahwa menghadapi saudara sendiri adalah hal yang paling sulit di dunia ini.
Sementara itu di dunia pararel, Dika sedang berada di tengah hutan yang sama dengan lokasi pintu antar dunia di dunia nyata—hanya saja di dunia ini, tempat itu dikenal sebagai "Padang Pasir Bintang" yang dikelilingi oleh pohon-pohon ajaib yang memiliki daun berbentuk bintang. Bersama dia adalah sekelompok pengikut yang telah dia kumpulkan sepanjang perjalan nya—mulai dari penyihir muda bernama Lala yang bisa mengendalikan elemen api, hingga prajurit tangguh bernama Bima yang ahli dalam seni bela diri tradisional dari dunia mereka. Mereka sudah memasang perangkap-perangkap khusus di sekeliling pintu antar dunia untuk menghambat gerakan Raka dan pasukannya, tapi mereka tahu bahwa ini hanya akan bertahan sebentar saja.
"Semua orang siap! Ingat, tugas kita bukan hanya untuk menghentikan Raka, tapi juga untuk menutup pintu antar dunia dengan benar agar tidak ada yang bisa membukanya lagi kecuali jika benar-benar diperlukan," teriak Dika kepada semua pengikut nya yang sudah bersiap di posisi masing-masing. Tak lama setelah itu, angin mulai berhembus kencang dan awan gelap mulai menyelimuti langit. Suara teriakan pasukan Raka terdengar semakin jelas dari kejauhan, diikuti dengan suara gemuruh tanah yang menunjukkan bahwa mereka telah mulai menyerang perangkap pertama yang dipasang oleh Dika dan kelompok nya.
Pertempuran pun dimulai! Lala mengeluarkan bola api besar yang menerbangkan beberapa pasukan Raka ke udara, sementara Bima dengan gesit nya melesat ke tengah pasukan musuh dan mengalahkan mereka satu per satu dengan gerakan tinju dan tendangan nya yang cepat serta kuat. Dika sendiri menggunakan kekuatan kalung nya untuk membuat bidang pelindung yang melindungi kelompok nya dari serangan sihir yang dilemparkan oleh penyihir musuh. Tapi semakin lama pertempuran berlangsung, pasukan Raka semakin banyak dan tampaknya tidak ada habis nya. Bahkan beberapa makhluk buas yang dibuat oleh sihir Raka mulai muncul—makhluk dengan tubuh seperti harimau tapi memiliki kepala ular dan sayap seperti burung elang.
Di dunia nyata, Rara dan Pak Joko akhirnya sampai di lokasi pintu antar dunia. Mereka melihat bahwa pintu sudah terbuka separuh, dengan cahaya ungu yang semakin terang dan membuat sekitar nya terlihat sangat tidak nyaman. Di depan pintu berdiri sosok seorang pria tinggi dengan rambut hitam yang menggelayut seperti ular dan mata yang menyala dengan warna merah menyala—itu adalah Raka. "Akhirnya kamu datang, Pak Joko. Dan siapa gadis muda ini? Oh tunggu... dia adalah penerus dari keluarga Lia bukan? Hebat sekali, ternyata kamu masih bisa menemukan penerus setelah aku menghancurkan sebagian besar keluarga itu," ujar Raka dengan suara yang menjijikkan dan penuh dengan keserakahan.
"Berhenti lah, Raka! Kau tidak akan pernah bisa menguasai kekuatan pintu antar dunia. Kekuatan itu hanya untuk menjaga keseimbangan, bukan untuk dipergunakan semaunya!" teriak Pak Joko sambil mengeluarkan tombak ajaib yang telah dia gunakan selama berabad-abad sebagai senjata utama nya. Rara berdiri di belakang Pak Joko, tangan nya erat-erat memegang buku catatan cerita nya dan kalung nya. Dia merasa bahwa ada kekuatan yang mulai muncul dari dalam dirinya—kekuatan yang membuat dia bisa merasakan apa yang sedang terjadi di dunia pararel, bahkan bisa melihat pertempuran yang sedang berlangsung di sana melalui cahaya pintu antar dunia.
Tanpa disadari oleh Rara, jari nya mulai secara otomatis mengetik di laptop yang dia bawa—dia menulis adegan dimana Dika dan kelompok nya mendapatkan bantuan dari makhluk baik yang tinggal di sekitar Padang Pasir Bintang. Seperti yang dia tulis, di dunia pararel muncul sekelompok makhluk bersayap yang dikenal sebagai "Penjaga Langit" yang membantu mereka melawan makhluk buas yang dibuat oleh Raka. Dika merasa sangat terkejut tapi juga sangat bersyukur—dia tahu bahwa ini adalah kerja tangan Rara yang sedang membantu mereka dari dunia nyata.
Sementara itu, pertempuran di dunia nyata semakin memanas. Raka mengeluarkan sihir yang sangat kuat sehingga membuat tanah berguncang dan pohon-pohon di sekitar nya tumbang ke segala arah. Pak Joko berjuang dengan sekuat tenaga untuk menghadang serangan-serangan Raka, tapi jelas bahwa dia mulai tertekan karena usianya yang sudah sangat tua dan kekuatan Raka yang terus bertambah karena dia menyerap kekuatan dari pintu antar dunia yang terbuka. Rara melihat ini dan merasa bahwa waktunya sudah tiba baginya untuk mengambil bagian aktif dalam pertempuran ini.
Dia membuka buku catatan nya dan mulai menulis dengan cepat—dia menulis bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk menyatu dengan Dika dari dunia pararel, sehingga mereka bisa menggabungkan kekuatan nya untuk menghentikan Raka. Seperti yang dia tulis, cahaya terang menyala dari kalung Rara dan kalung Dika di dunia pararel. Kedua kalung itu saling bergetar dan akhirnya menghasilkan sebuah portal kecil yang menghubungkan Rara dan Dika secara langsung. Dalam sekejap, Rara merasa bahwa jiwanya menyatu dengan Dika—dia bisa merasakan kekuatan Dika dan Dika bisa merasakan kekuatan nya.
Bersama-sama, mereka mengeluarkan serangan gabungan yang sangat kuat—bola cahaya berwarna keemasan yang menyatu dengan bola api dan petir yang dilemparkan oleh Lala dan beberapa penyihir lain. Serangan ini langsung mengenai Raka dan membuatnya terlempar jauh ke belakang. Tapi Raka tidak mudah menyerah—dia berdiri kembali dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan mulai mengumpulkan semua kekuatan yang dia miliki untuk melakukan serangan terakhir yang akan membuka pintu antar dunia sepenuhnya dan menghancurkan kedua dunia sekaligus.
"Kalian tidak akan pernah menghentikan aku! Aku akan menjadi penguasa semua dunia dan tidak ada yang bisa menghalangiku!" teriak Raka dengan suara yang sangat keras hingga membuat telinga semua orang berdenging. Dia mulai mengucapkan mantra yang sangat lama dan menyeramkan, membuat cahaya ungu dari pintu antar dunia semakin terang dan mulai menyerap energi dari segala sesuatu di sekitar nya—mulai dari tumbuhan, hewan, hingga energi dari orang-orang yang ada di sana.
Rara melihat ini dan tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu yang sangat berani. Dia mengambil buku catatan nya dan mulai menulis bahwa dirinya bersedia untuk menjadi penjaga pintu antar dunia yang baru dan dengan itu akan menutup pintu secara permanen dengan mengorbankan kemampuannya untuk kembali ke dunia pararel atau bahkan melihatnya lagi. Dika merasa sangat sedih mendengar ini tapi dia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kedua dunia.
"Rara, kamu tidak perlu melakukan ini! Kita pasti bisa menemukan cara lain!" ujar Dika melalui hubungan jiwa mereka. Tapi Rara hanya tersenyum dan menjawab, "Ini adalah tugas ku, Dika. Kita sudah jalan jauh dan tidak bisa menyerah sekarang. Ingat aku ya, dan terus hidup dengan bahagia di dunia mu. Cerita kita mungkin sudah berakhir di sini, tapi aku tahu bahwa kamu akan membuat dunia mu menjadi tempat yang lebih baik."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Rara mulai mengucapkan kata-kata yang dia tulis di buku catatan nya—kata-kata untuk menutup pintu antar dunia secara permanen. Pak Joko berdiri di sisinya dan membantu nya dengan kekuatan terakhir yang dia miliki. Dika di dunia pararel juga melakukan hal yang sama, bersama dengan semua pengikut nya yang memberikan dukungan kekuatan mereka. Perlahan tapi pasti, pintu antar dunia mulai tertutup dan cahaya ungunya mulai memudar. Raka mencoba untuk menghalanginya tapi kekuatan yang keluar dari Rara, Dika, dan Pak Joko terlalu kuat baginya. Akhirnya pintu antar dunia tertutup sepenuhnya dengan suara ledakan kecil yang tidak menyakitkan, dan Raka yang sudah kehilangan sumber kekuatannya akhirnya jatuh ke tanah dan tidak bisa bergerak lagi.
Setelah itu semua selesai, Rara merasa bahwa kekuatan dalam dirinya mulai menghilang. Dia melihat ke arah pintu antar dunia yang sekarang sudah tidak terlihat lagi—hanya tersisa sebuah batu besar dengan simbol bintang delapan yang terpahat di atas nya. Pak Joko menepuk bahu nya dan berkata, "Terima kasih telah menyelamatkan kedua dunia, Rara. Kamu adalah pahlawan yang sejati." Rara hanya tersenyum dan melihat ke arah langit—dia tahu bahwa meskipun dia tidak bisa lagi melihat atau berkomunikasi dengan Dika dan dunia pararel nya, cerita yang dia tulis akan selalu hidup di dalam hatinya dan di hati semua orang yang membacanya.
Di dunia pararel, Dika berdiri di depan lokasi pintu antar dunia yang juga sudah hilang dan digantikan oleh batu besar dengan simbol yang sama. Dia melihat ke arah langit dan merasakan bahwa hubungan jiwa nya dengan Rara masih ada meskipun tidak sekuat dulu. "Terima kasih, Rara. Aku akan selalu mengingat mu dan menjaga dunia ini dengan sepenuh hati," ujar Dika dengan suara penuh dengan haru. Bersama dengan Lala, Bima, dan semua pengikut nya, dia berbalik dan mulai berjalan menuju kerajaan untuk membangun dunia yang lebih baik—dengan cerita tentang Rara dan perjuangan mereka yang akan selalu dikenang sebagai legenda oleh generasi mendatang.
Di kamar nya beberapa hari kemudian, Rara sedang duduk di depan laptop nya menyelesaikan bab terakhir dari cerita nya. Dia menuliskan kata-kata terakhir pada akhir cerita: "Dunia mungkin berbeda dan terpisah oleh waktu dan ruang, tapi cinta dan persahabatan akan selalu menemukan cara untuk menghubungkan mereka. Dan terkadang, sebuah cerita bukan hanya sekadar tulisan di kertas—melainkan sebuah janji untuk menjaga keseimbangan dan kebaikan di seluruh alam semesta." Setelah itu dia menekan tombol "simpan" dan merasa lega karena akhirnya menyelesaikan cerita yang telah mengubah hidup nya selamanya.
Tiba-tiba saja, ada suara ketukan lembut di pintu kamar nya. Rara berdiri dan membukanya, lalu terkejut melihat seorang anak laki-laki muda yang mirip sekali dengan Dika berdiri di depan pintu nya. Anak itu tersenyum dan berkata, "Halo, Rara. Aku adalah keturunan dari Dika dan aku datang untuk memberitahu mu bahwa dunia pararel nya tetap aman dan damai, seperti yang kamu impikan. Dan aku juga datang untuk memberitahu mu bahwa pintu antar dunia mungkin akan terbuka lagi suatu hari nanti—saat dunia membutuhkan pahlawan baru yang siap untuk menjaganya." Rara terkejut dan merasa air mata bahagia mulai mengucur dari matanya. Dia tahu bahwa cerita nya tidak pernah benar-benar berakhir—hanya saja bab baru yang akan segera dimulai...