NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sebelas — Gedung Akasia

Selamat membaca cerita baruku, semoga suka yaa

Arsya tetap tak menoleh, tangannya mengencangkan genggamannya di tongkat baseball, “kita bukan penyelamat semua orang,” katanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. Jay akhirnya mengalihkan pandangannya dari bawah. “Kita pergi. Sekarang.”

Niki mengangguk pelan, namun tatapannya masih tertahan beberapa detik lebih lama ke arah jalanan yang kini berubah menjadi medan pembantaian sunyi. Rahangnya mengeras, sebelum akhirnya ia berbalik.

Di atas atap apartemen itu, mereka memilih untuk tetap bergerak. Tujuan mereka masih jauh. Gedung Akasia belum terlihat jelas dari sini—hanya siluetnya yang samar di antara deretan bangunan lain. Untuk sampai ke sana, mereka harus melewati sepuluh atap lagi.

Sebagian jaraknya tidak terlalu jauh.

Sebagian lain.. Memaksa mereka berpikir dua kali.

Jay berdiri paling depan, mengamati jalur. Ia menghitung dalam diam—jarak lompatan kemungkinan pijakan rapuh, arah angin, dan potensi titik buta dari bawah.

“Atap berikutnya miring,” bisiknya. “Hati-hati waktu mendarat.”

Arsya mengangguk. Tangannya menggenggam tongkat lebih erat. Tas hitam di punggungnya terasa lebih berat hari ini—bukan hanya karena isi dokumen, tapi karena tujuan yang mereka bawa bersamanya.

Niki bergerak terakhir, memastikan tak ada yang mengikuti dari belakang.

Langkah pertama Jay melompat, sepatunya menghantam atap seng miring dengan bunyi pelan. Ia langsung merendah, menjaga keseimbangan.  Arsya menyusul, jantungnya sempat terangkat saat telapak kakinya sedikit tergelincir, namun ia berhasil menahan tubuhnya.

Niki mendarat paling halus, mereka terus bergerak. Atap kedua, ketiga, dan keempat. Di kejauhan, suara samar kawanan kanihu masih terdengar seperti gema rendah yang tak pernah benar-benar hilang dari kota itu.

Di atap keenam, jaraknya mulai melebar. Celah di antara bangunan hampir tiga meter dengan gang sempit di bawahnya dipenuhi puing dan dua kanihu yang bergerak tak tentu arah. Jay berhenti, mengukur, “bisa,” ucapnya pendek.

Arsya menatap celah itu sebentar. Angin membantu, berhembus dari belakang mereka. Satu persatu mereka melompat lagi. Sampai akhirnya mereka berdiri di atap ketujuh, masih ada tiga lagi gedung yang harus mereka lewati.

Gedung Akasia kini terlihat lebih jelas—tinggi, kokoh, namun sunyi. Perjalanan belum selesai dan semakin dekat mereka ke tujuan, semakin besar kemungkinan sesuatu… sudah menunggu di sana.

Baru saja kaki mereka menyentuh atap kesembilan—nafas ketiganya tercekat bersamaan. Disana, ada dua sosok berdiri membelakangi mereka, menghadap pintu akses atap gedung. Tubuh mereka diam.

Kepala menunduk, bahu jatuh seperti orang yang tertidur sambil berdiri, namun keheningan itu.. Terlalu hidup untuk disebut tidur. Jay langsung mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti total.

Tidak ada suara, tidak ada langkah tambahan. Arsya merasakan jantungnya berdetak keras hingga hampir terasa di telinga. Tongkat baseballnya perlahan terangkat, tanpa menggesek lantai semen.

Niki bergerak setengah langkah ke kanan, memperlebar sudut pandang. Kedua kanihu itu bergerak. Tidak mengendus, serta tidak memutar kepala. Hanya berdiri. Seolah menunggu. Angin berhembus tipis, membuat ujung pakaian mereka sedikit berkibar.

Jay menyipitkan mata, “penjaga,” bisik nya tanpa suara, hanya gerakan bibir. Arsya menangkap maksudnya. Ini bukan kebetulan. Mereka berdiri tepat di depan pintu atap— jalur turun menuju gedung berikutnya.

Jika ketiganya ingin melanjutkan, mereka harus melewati atau menyingkirkan dua sosok itu. Tiba-tiba salah satu kepala kanihu bergerak pelan dan retak, miring sedikit ke kanan. Bukan menoleh sepenuhnya, seperti mendengar sesuatu yang sangat halus.

Niki menggenggam tongkat golfnya lebih erat. Jay mengangkat dua jari, hitungan tanpa suara.

Dua target.

Tiga penyerang.

Serangan harus bersamaan, cepat dan tepat di titik lemah. Jika satu saja sempat bersuara– atap kesembilan mungkin akan menjadi yang terakhir bagi mereka. Angin berhenti, sunyi menggantung. Dan dua sosok itu… mulai mengangkat kepala mereka perlahan.

Hitungan Jay berakhir tanpa suara. Gerakan mereka serempak, Niki melesat ke kanan dan Arsya melesat ke kiri. Dua tongkat menghantam hampir bersamaan.

DUK!

Suara tumpul tertahan oleh tenaga penuh yang diarahkan tepat ke bagian belakang kepala. Retakan tulang terdengar samar, nyaris tenggelam oleh hembusan nafas mereka sendiri.

Sebelum kedua Kanihu itu sempat berbalik sepenuhnya—Jay sudah bergerak. Pisau lipatnya terbuka dalam satu hentakan halus. Kilatan tipis menyambar di udara redup pagi itu. Ia melangkah masuk di antara tubuh yang goyah. Satu sayatan cepat di leher pertama—tepat di sisi arteri.

Putar tubuh. Dorongan keras ke dada yang kedua, bilahnya menembus celah tulang rusuk menuju jantuk. Tidak ada teriakan serta tidak ada deru. Hanya bunyi nafas terpotong, tubuh mereka melemas bersamaan, namun Niki sudah siap.

Ia menangkap kerah pakaian keduanya sebelum tubuh itu jatuh bebas ke lantai semen. Otot lengannya menegang menahan beban mati agar tidak menimbulkan dentuman. Arsya membantu menahan bagian bahu.

Pelan, sangat pelan. Kedua tubuh itu direbahkan ke lantai, sunyi kembali. Hanya suara nafas mereka yang memburu. Jay menarik pisaunya keluar, membersihkan cepat pada kain dalam jaket salah satu kanihu sebelum melipatnya kembali.

“Cepat,” bisiknya.

Arsya menelan ludah, matanya sempat terpaku pada wajah kanihu yang kini tak bergerak. Bahkan dalam diam pun, raut mereka tampak seperti manusia yang tersesat.

Niki menyeret tubuh itu sedikit menjauh dari pintu, menyandarkan ke dinding atap agar tak langsung terlihat jika ada yang membuka akses dari dalam. “Dua penjaga,” gumam Niki pelan.

Berarti ini bukan kebetulan.”

Jay mengangguk tipis. Gedung berikutnya bukan sekedar jalur biasa. Ia mendekati pintu atap perlahan, tangannya sudah menyentuh gagang. Dingin. Dan entah kenapa Arsya yang berada di belakang menahan baju Jay dan Niki secara bersamaan.

“Firasatku… ada yang berdiri di depan pintu,” bisik Arsya pelan. Suaranya hampir terseret angin. “Lebih baik kita lanjutkan saja perjalanannya menuju gedung Akasia.”  Ia menatap Jay dan Niki seperti memohon— seolah ingin mereka setuju tanpa banyak pertanyaannya.

Namun sebenarnya… Tatapan gadis itu tidak benar-benar tertuju pada mereka. Matanya terkunci pada pintu itu. Pada celah tipis di bagian bawahnya, seolah ia bisa merasakan sesuatu berdiri tepat di baliknya. Diam dan menunggu.

Jay memperhatikan wajah Arsya lebih lama dari biasanya. Ia tahu gadis itu jarang berbicara berdasarkan firasat semata. Jika Arsya mengatakan ada sesuatu—biasanya memang ada. Niki ikut menoleh ke pintu, tidak ada suara, tidak ada bayangan, serta tidak ada gerakan.

Tapi justru itu yang membuatnya tidak nyaman. “Terlalu sunyi,” gumam Niki pelan.

Jay perlahan menjauhkan tangannya dari gagang pintu, ia mengangguk tipis. “Kita tidak butuh jawaban dari setiap pintu.” Arsya menghembuskan nafas yang sedari tadi tertahan. Angin kembali berdesir, namun kali ini terasa lebih dingin.

Di balik pintu itu, tidak ada suara langkah dan deru nafas, namun entah kenapa, buluk kuduk mereka bertiga tetap berdiri. Seolah sesuatu benar-benar ada di sana. Mendengarkan.

Jay memberi isyarat memutar arah, “atap kesepuluh. Kita selesaikan ini.”

Niki mengangguk mantap.

Tanpa perdebatan lagi, mereka benar-benar mengurungkan niat untuk masuk ke dalam gedung itu. Tidak ada yang tahu seperti apa isi dibalik pintu tersebut—apakah lorong sempit penuh jebakan, kawanan yang menunggu, atau sesuatu yang jauh lebih buruk.

Namun insting mereka sepakat. Belum saatnya, Jay menatap pintu itu sekali lagi, lalu mengalihkan pandangan. “Kita tandai,” ujarnya pelan. Arsya mengangguk. Dalam benaknya, gedung itu sudah tercatat jelas–atap kesembilan, dua penjaga, pintu mencurigakan, firasat yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Niki menggoreskan tanda kecil dengan ujung logam tongkatnya di dinding beton dekat tangga darurat. Tidak mencolok. Hanya simbol kecil yang hanya mereka bertiga pahami.

Titik kembali.

Titik markas informasi.

Jika mereka selamat dari perjalanan ini, jika dokumen yang mereka bawa membutuhkan pembanding, atau jika mereka memerlukan tempat yang mungkin menyimpan jawaban lain—gedung ini akan mereka datangi kembali.

Namun bukan hari ini, hari ini jelas tujuan mereka adalah Gedung Akasia. Angin kembali berhembus saat mereka melompat ke atap kesepuluh. Dan kali ini, tidak ada penjaga, tidak ada sosok menunggu.

Hanya hamparan atap luas dengan pandangan langsung ke arah bangunan tinggi berwarna abu-abu pucat di kejauhan. Gedung Akasia kini berdiri jelas di hadapan mereka. Lebih dekat dan tentunya lebih nyata.

Terima kasih sudah membaca lanjut jam 16.00 sore yaa...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!