Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Percikan di Balik Ketenangan
Pasca penangkapan Aris dan Pak Mulyono, suasana di kantor seolah mengalami pembersihan total. Tidak ada lagi bisik-bisik miring di kantin atau tatapan penuh selidik saat Hana melewati lobi. Reputasinya justru melesat; ia dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya cerdik dalam mengelola angka, tetapi juga memiliki ketegasan baja dalam menjaga integritas pribadinya.
Namun, ketenangan itu tidak lantas membuat Hana lengah. Ia justru semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Proyek ekspansi regional ke pasar Vietnam sedang memasuki fase krusial, dan Hana bertanggung jawab penuh atas uji kelayakan finansial yang melibatkan dana ratusan miliar rupiah.
Pagi itu, di ruang rapat yang berdinding kaca luas, Hana sedang mempresentasikan struktur pembiayaan baru di depan dewan direksi. Adrian duduk di sana, menyimak dengan saksama, sesekali memberikan catatan kecil di tabletnya.
"Dengan model sindikasi perbankan ini, kita bisa menekan risiko fluktuasi mata uang hingga lima belas persen," jelas Hana dengan nada bicara yang meyakinkan. "Ini jauh lebih aman daripada pinjaman langsung yang sebelumnya diusulkan oleh konsultan luar."
Seorang direktur senior, Pak Surya, mengangguk setuju. "Luar biasa, Hana. Ketajamanmu melihat celah risiko ini menyelamatkan kita dari kerugian besar di masa depan. Saya rasa tim audit akan sangat senang mendengar ini."
Setelah rapat berakhir dan para direktur lain meninggalkan ruangan, Adrian tetap duduk di kursinya. Ia menatap Hana yang sedang merapikan kabel konektor laptopnya.
"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Hana," ujar Adrian pelan. "Rapat tadi sukses besar, tapi saya lihat kamu tidak tersenyum sedikit pun sejak kita mulai pukul sembilan tadi."
Hana menoleh, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. "Banyak yang harus dipastikan, Adrian. Saya tidak ingin ada celah sekecil apa pun yang bisa digunakan orang untuk mempertanyakan kompetensi saya lagi. Terutama setelah drama pemerasan kemarin."
Adrian berdiri dan melangkah mendekat. "Kamu sudah membuktikan semuanya. Aris sudah di balik jeruji, paman itu juga sedang menunggu persidangan. Kamu tidak perlu terus-menerus membuktikan diri di depan cermin yang pecah, Hana. Kamu sudah utuh."
Hana terdiam. Ia merasakan ketulusan dalam suara Adrian, namun ada bagian dari dirinya yang masih merasa waspada. Trauma selama lima tahun tidak hilang hanya karena satu kali kemenangan di kantor polisi.
"Saya hanya ingin semuanya sempurna, Adrian. Agar tidak ada yang bisa menjatuhkan saya lagi," bisik Hana.
"Kesempurnaan itu melelahkan, Hana. Dan terkadang, itu membuatmu menutup mata terhadap hal-hal baik yang ada di depanmu," Adrian terdiam sejenak, lalu merogoh saku jasnya. "Baskara menelepon saya tadi pagi. Dia bilang keluarga besar Aris yang lain mulai mencoba menghubungi kantor pengacaranya. Mereka ingin minta damai, atau setidaknya minta kamu mencabut laporan terhadap Pak Mulyono karena alasan kesehatan."
Rahang Hana mengeras. "Alasan kesehatan lagi? Itu lagu lama, Adrian."
"Saya tahu. Baskara sudah menolaknya mentah-mentah sesuai arahanmu. Tapi saya hanya ingin kamu tahu, mereka mungkin akan mencoba mendekati orang-orang di sekitarmu, atau bahkan Bi Inah."
Hana tersentak. Membayangkan Bi Inah terseret dalam pusaran ini membuatnya merasa sangat bersalah. "Saya akan bicara pada Bi Inah malam ini agar lebih berhati-hati."
Malam harinya, di apartemennya yang nyaman, Hana menemukan Bi Inah sedang melamun di depan televisi yang menyala tanpa suara. Ada raut wajah cemas yang jarang terlihat pada asisten rumah tangganya yang biasanya ceria itu.
"Bi, ada apa? Bibi sakit?" tanya Hana lembut sambil duduk di sampingnya.
Bi Inah menoleh, matanya tampak berkaca-kaca. "Bukan, Non. Tadi... tadi sore waktu Bibi belanja ke pasar depan, ada adiknya Pak Aris, si Deni, nungguin Bibi."
Hana merasakan desiran dingin di punggungnya. "Deni? Apa yang dia katakan, Bi?"
"Dia nangis-nangis, Non. Katanya kasihan sama Pak Mulyono yang sudah sepuh harus tidur di sel. Dia mohon-mohon supaya Bibi bilang ke Non Hana buat maafin mereka. Dia bahkan sempat nawarin uang ke Bibi supaya Bibi mau ngasih tahu alamat apartemen Non yang baru."
Hana mengepalkan tangannya. "Lalu Bibi bagaimana?"
"Bibi tolak, Non! Bibi bilang Bibi nggak tahu apa-apa dan Bibi sudah nggak ada urusan sama mereka. Tapi Deni terus ngikutin Bibi sampai ke gerbang apartemen. Bibi takut dia tahu unit kita di mana."
Hana memeluk bahu Bi Inah yang gemetar. "Bibi jangan takut. Besok saya akan bicara dengan manajemen keamanan apartemen untuk memperketat penjagaan di gerbang. Mereka tidak akan bisa masuk ke sini."
Setelah menenangkan Bi Inah, Hana masuk ke kamarnya. Ia berdiri di balkon, menatap kegelapan malam. Ternyata rantai itu benar-benar kuat. Meskipun Aris dan pamannya sudah ditahan, anggota keluarga yang lain masih mencoba menariknya kembali ke dalam lumpur. Mereka menganggap Hana adalah sumber masalah, bukan Aris yang memulai semua kriminalitas ini.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Adrian muncul di layar.
"Hana, maaf menelepon selarut ini. Saya baru saja mendapat kabar dari tim keamanan gedung kantor. Ada keributan kecil di depan gerbang. Beberapa orang yang mengaku keluarga Aris mencoba memaksa masuk untuk menemuimu. Mereka membawa spanduk kecil, isinya tentang penindasan terhadap orang tua."
Hana memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Mereka benar-benar nekat, Adrian. Pak Mulyono adalah otak di balik pemerasan itu, dan sekarang mereka berakting seolah-olah dia adalah korban."
"Jangan datang ke kantor besok pagi melalui pintu utama," saran Adrian. "Saya akan menjemputmu lebih awal. Kita masuk melalui akses pribadi direksi. Saya tidak ingin kamu berhadapan dengan kamera ponsel mereka yang haus sensasi."
Keesokan paginya, suasana di depan gedung kantor benar-benar riuh. Sekitar lima orang, termasuk Deni dan seorang wanita paruh baya yang Hana kenali sebagai bibi Aris, berdiri di trotoar sambil berteriak-teriak setiap kali ada mobil mewah lewat. Mereka mencoba membangun narasi "orang kaya yang tidak punya hati".
Hana duduk di kursi penumpang mobil Adrian yang jendelanya tertutup rapat oleh kaca film gelap. Ia melihat pemandangan itu dari kejauhan sebelum mobil itu masuk ke basement khusus. Hatinya perih, bukan karena rindu, tapi karena malu melihat orang-orang yang pernah ia panggil keluarga berperilaku seburuk itu.
"Kamu oke?" tanya Adrian sambil mematikan mesin mobil di area parkir VVIP.
"Saya merasa seperti kriminal, padahal saya yang dirampok dan diperas," sahut Hana getir.
"Itulah strategi mereka. Membuatmu merasa bersalah sehingga kamu menyerah," Adrian melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Hana. "Tapi mereka lupa satu hal. Kamu bukan Hana yang lima tahun lalu. Kamu punya saya, kamu punya hukum, dan yang paling penting, kamu punya kebenaran."
Hana menatap Adrian. Di tengah kekacauan ini, kehadiran Adrian adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap berpijak di bumi. "Terima kasih, Adrian. Saya tidak tahu bagaimana menghadapi ini sendirian."
"Kita akan hadapi ini secara legal, Hana. Shinta dari tim Humas sudah menyiapkan laporan balik untuk pencemaran nama baik di tempat umum. Kita tidak akan membiarkan mereka membuat sirkus di depan kantor kita."
Saat mereka melangkah keluar dari mobil dan menuju lift pribadi, Hana merasa sebuah babak baru dalam perjuangannya sedang dimulai. Jika sebelumnya adalah tentang membebaskan diri, kini adalah tentang mempertahankan martabat yang telah ia bangun dengan susah payah. Ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu merusak cahaya yang baru saja ia temukan.