Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - FITNAH YANG TERENCANA
Selasa pagi.
Lily bangun dengan perasaan bahwa hari ini akan bergerak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bukan firasat yang dramatis, lebih ke jenis kepekaan yang sudah dia asah selama empat minggu terakhir. Cara udara rumah itu terasa waktu dia turun ke dapur. Cara Bibi Rah bergerak... lebih rapi dari biasanya, lebih efisien, seperti seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang tidak dia ceritakan.
Sarapan berlangsung normal sampai jam delapan ketika ayahnya turun dengan wajah yang Lily langsung perhatikan perubahannya.
Bukan tegang. Bukan lelah.
Marah.
Tante Sari mengikuti di belakangnya, dan di wajah perempuan itu ada sesuatu yang lebih susah dibaca. Campuran antara siap-siap dan tidak yakin yang membuat Lily waspada sebelum satu kata pun diucapkan.
Ayahnya duduk. Menaruh ponselnya di meja dengan layar menghadap ke atas. Menatap Lily.
"Siapa Hendra Paramita?"
Lily mengambil piring untuk meletakkan sarapan. "Teman lama keluarga. Sudah aku bilang waktu dia berkunjung."
"Dia bukan teman lama keluarga." Ayahnya mengambil ponselnya dan meletakkan di depan Lily. Di layarnya ada tangkapan layar, percakapan antara dua orang yang Lily tidak kenal, tapi isinya menyebut nama Hendra Paramita, menyebut nama Lily, dan menyebut kata-kata seperti gugatan, warisan, dan menghasut.
"Ini dari mana?" tanya Lily.
"Tidak penting dari mana." Ayahnya menarik ponselnya kembali. "Yang penting, orang ini sudah menghasutmu. Dan aku mau tahu sudah sejauh mana."
Lily meletakkan piring di meja dengan tenang. Duduk di kursinya yang biasa.
"Hendra Paramita adalah adik kandung ibu saya." Kalimat itu keluar dengan jelas, tidak terburu-buru. "Paman saya."
Sunyi di meja makan.
Tante Sari mengambil gelasnya. Minum. Tidak bicara.
Ayahnya menatap Lily dengan cara yang memakan waktu terlalu lama. Seperti sedang memverifikasi apakah dia mendengar dengan benar atau apakah ada cara untuk membantah fakta yang baru saja diletakkan di depannya.
"Wulan tidak punya adik," katanya akhirnya.
"Ayah bilang itu karena Ayah tidak pernah mau tahu," kata Lily. "Atau karena seseorang memastikan Ayah tidak tahu."
Ayahnya berdiri dari kursinya.
"Lily---"
"Ada akta kelahiran yang sama. Ada surat dari Pak Syarif yang bisa diverifikasi. Hendra Paramita adalah paman saya yang sah, dan dia menghubungi saya karena ada warisan atas nama ibu saya yang selama ini ditahan."
Yang terjadi selanjutnya berlangsung lebih cepat dari yang Lily antisipasi.
Ayahnya tidak meledak, Lily sudah tahu lama bahwa ayahnya bukan tipe yang meledak. Tapi ada perubahan di caranya berdiri dan bergerak yang mengatakan bahwa di dalam kepala orang itu sedang terjadi sesuatu yang besar dan dia sedang memutuskan cara mengelolanya.
Dia mengambil ponselnya dan pergi ke ruang kerja.
Pintu ditutup.
Tante Sari dan Lily tinggal di meja makan berdua.
Tante Sari masih tidak bicara. Matanya ke arah pintu ruang kerja yang tertutup, menghitung sesuatu yang Lily tidak bisa ikuti dari luar kepalanya.
"Siapa yang kirim tangkapan layar itu ke Ayah?" tanya Lily pelan.
"Bukan aku," kata Tante Sari. Cepat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama terdengar tulus dalam mengatakan sesuatu. "Aku tidak tahu siapa."
Lily menimbangnya. "Tapi kamu tahu dari sumber mana."
Tante Sari akhirnya menatapnya. Di matanya ada sesuatu yang kemarin juga ada kelelahan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. "Ini cara Reinaldo bekerja. Waktu seseorang mulai bergerak ke arahnya, dia tidak langsung menghadapi mereka. Dia memutus jalur-jalur dukungan mereka terlebih dahulu."
"Dia coba memisahkan aku dari Hendra."
"Dengan membuat ayahmu percaya bahwa Hendra sedang menghasutmu untuk agenda dia sendiri." Tante Sari meletakkan gelasnya. "Dan dengan membuat ayahmu curiga, ayahmu akan membatasi pergerakanmu. Karena ayahmu lebih mudah dikendalikan dari Reinaldo daripada kamu."
Lily menyerap itu.
"Kenapa kamu cerita ini ke aku?"
Tante Sari tidak langsung menjawab. Dia menatap meja di depannya dengan cara orang yang sedang memutuskan seberapa banyak yang bisa dia bayarkan untuk sebuah pilihan.
"Karena aku sudah lelah," katanya akhirnya. "Dan karena aku tahu bahwa kalau Reinaldo berhasil, kalau dia mendapatkan semua yang dia mau. Tidak ada jaminan posisiku di sini akan aman. Aku sudah terlalu lama percaya bahwa kepatuhanku ke dia adalah perlindungan. Ternyata tidak."
Lily meninggalkan meja makan dan langsung ke kamarnya.
Di sana, dia mengirim pesan ke Hendra. [Ada tangkapan layar percakapan tentang kamu dikirim ke Ayah. Disebutkan kata menghasut. Ini dari Reinaldo.]
Hendra membalas dalam satu menit. [Aku sudah antisipasi kemungkinan ini. Jangan panik. Kamu baik-baik aja?]
[Baik. Tapi Ayah masuk ruang kerja dan belum keluar.]
[Beri dia waktu. Dia akan keluar dengan salah satu dari dua kondisi, mau konfrontasi atau mau menghindari. Keduanya bisa kita hadapi.]
Lily menyimpan ponsel dan duduk di tepi kasur.
Dia berpikir tentang Reinaldo yang bekerja dengan cara yang Tante Sari gambarkan. Bukan konfrontasi langsung, tapi memotong jalur satu per satu. Itu artinya Reinaldo sudah memperhatikan Lily cukup dekat untuk tahu bahwa Hendra adalah jalur yang paling penting. Dan kalau dia sudah mengincar Hendra, maka Pak Syarif mungkin juga ada dalam targetnya.
Lily mengirim pesan ke nomor yang Pak Syarif titipkan ke Hendra. [Pak Syarif, ada kemungkinan Reinaldo mulai bergerak memotong jalur. Hati-hati dengan klien baru atau orang tidak dikenal yang menghubungi kantor.]
Balasan datang tiga menit kemudian. [Sudah ada yang datang pagi ini. Mengaku dari firma asosiasi, minta akses arsip lama. Sudah aku tolak dan minta identitas resmi yang belum mereka berikan. Dokumen-dokumen kita aman.]
Lily menarik napas.
Bergerak cepat. Reinaldo bergerak lebih cepat dari yang dia kira.
Jam sepuluh, pintu ruang kerja ayahnya terbuka.
Lily sudah kembali ke dapur, menyiapkan sesuatu untuk makan siang. Kegiatan yang paling normal yang bisa dia lakukan untuk memberi ayahnya konteks bahwa dunianya tidak berubah dramatis dari tadi pagi.
Ayahnya berdiri di pintu dapur.
"Duduk," katanya.
Lily mematikan api kompor dan duduk di kursi yang ada.
Ayahnya duduk di seberangnya. Tanpa Tante Sari, Lily bisa dengar suara TV dari ruang keluarga yang mungkin sengaja dinyalakan untuk memberikan jarak.
"Hendra Paramita," kata ayahnya. Pelan, seperti nama itu perlu diuji dulu di lidahnya. "Kamu yakin dia siapa yang dia klaim?"
"Saya lihat aktanya, Yah. Saya lihat surat dari pengacara yang bisa diverifikasi. Saya yakin."
Ayahnya mengeluarkan napas. "Aku tidak tahu ibumu punya adik."
"Atau Ayah tidak diberi tahu."
Sesuatu bergerak di wajah ayahnya... bukan marah, bukan menyangkal. Lebih seperti realisasi yang datang terlambat dan menyakitkan justru karena terlambat.
"Ada warisan yang ditahan?"
"Ada. Pengacara ibu saya menyiapkan dokumentasinya sebelum ibu saya meninggal."
"Berapa?"
"Saya tidak akan bicara detailnya sekarang, Yah." Lily menatapnya langsung. "Karena saya belum tahu di sisi mana Ayah berdiri."
Kalimat itu menggantung di udara.
Ayahnya bisa marah. Bisa mengusirnya dari dapur. Bisa melakukan banyak hal yang selama ini dia lakukan ketika Lily mengatakan sesuatu yang tidak dia mau dengar.
Yang dia lakukan adalah diam.
Diam yang berbeda dari diam-diam sebelumnya. Bukan diam yang menghindar, tapi diam yang sedang menerima sesuatu.
"Reinaldo," kata ayahnya akhirnya. Satu kata. Tapi cara dia mengucapkannya, dengan berat yang bukan dari kemarahan tapi dari sesuatu yang sudah lama ditahan. Memberitahu Lily bahwa nama itu bukan sekadar nama untuknya.
"Kamu tahu dia siapa ke keluarga ini?" tanya Lily.
Ayahnya menatap mejanya.
"Lebih dari yang pernah aku mau akui."
Dan sebelum Lily bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan dengan pengakuan setengah itu. Dari lantai atas, bayi Nindi mulai menangis. Dan dari arah ruang keluarga, Tante Sari berdiri di pintu dapur dengan wajah yang sudah kembali ke mode terkontrolnya.
"Pak, ada telepon dari Pak Wirawan."
Ayahnya berdiri dari kursinya. Menatap Lily satu detik terakhir sebelum pergi. Tatapan yang tidak punya kata tapi ada sesuatu di dalamnya yang Lily simpan di sudut kepalanya untuk diperiksa nanti.
Lily duduk sendirian di dapur.
Di mejanya, ponselnya bergetar sekali.
Pesan dari nomor yang tidak tersimpan, formatnya beda dari yang pernah mengancamnya, lebih panjang, lebih rapi.
[Lily Rosamaria. Nama saya Sinta Wardhani. Kita perlu bicara. Sebelum semuanya terlambat untuk kita berdua.]
Bersambung ke Bab 30...