NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memperkenalkan pekerjaan rumah

Indira paling sulit untuk menghafal yang namanya rempah rempah, karena baginya semua sama saja bentuknya dan sangat sulit untuk membedakan jenisnya. Yang dirinya hafal hanyalah kunyit, karena bentuk dan warnanya sangat berbeda dengan yang lainnya, sementara lainnya nampak seperti sama tiada bedanya.

Meskipun diajari seperti apapun itu, dirinya juga masih kebingungan untuk bisa membedakannya. Sekarang dirinya hafal setelah diberitahukan oleh Ana, namun nantinya dirinya juga lupa lagi ketika terjun sendiri untuk memilah rempah rempah didalam satu wadah yang sama.

"Sudah hafal?" Tanya Ana.

"Sedikit Bude, soalnya bentuknya sama semua," Jawab Indira sambil nyengir.

"Nggak papa, nanti lama lama juga paham sendiri kok. Bude dulu juga nggak hafal yang beginian, tapi setelah bisa masak sendiri jadinya hafal Bude,"

"Sulit untuk membedakannya Bude, bentuknya sama semua. Hanya kunyit saja yang Dira tau,"

"Ya emang beda lah bentuknya, tapi warna kuning juga bukan kunyit saja, temulawak juga warnanya kuning. Tapi temulawak kuningnya agak pudar,"

"Ada lagi ternyata, hehe..."

"Banyak loh, kalo di Jawa mah lebih dari 4 jenis rempah rempahnya. Ada kunyit, temulawak, jahe, lengkuas (laos), temu kunci, kencur, temu ireng, dan lain sebagainya. Sekarang Bude cuma punya kunyit, jahe, lengkuas, sama kencur saja. Yang lainnya Bude nggak punya,"

"Jadi masih banyak yang harus dihafal ya Bude?"

"Banyak, belom lagi daun daun an. Masaknya sih gampang tapi cara hafalin bumbunya yang sulit, tapi nggak papa kok perlahan lahan nanti juga hafal sendiri kalo sering masak."

Andai bab masak bisa di skip olehnya, dirinya mungkin bisa melewatinya karena sangat sulit baginya untuk masak, ditambah lagi harus menghafalkan bahan bahan masakan yang sangat banyak. Namun sudah kewajibannya sebagai seorang wanita yang dikemudian hari pasti dibutuhkan untuk bisa memasak, sehingga mau tidak mau ia harus belajar menghafal.

Setelah semua bab memasak telah diajarkan oleh Ana, akhirnya pembelajaran tentang mengenal bahan masakan itu pun selesai juga. Indira sendiri juga sudah mulai bosan ketika belajar dengan cara seperti ini, apalagi soal hafal menghafal yang selalu membuatnya merasa jenuh dan bahkan sangat sulit sekali untuk bisa hafal.

"Bude, Dira kembali ke kamar dulu ya," Ucap Indira yang merasa bahwa tugasnya sudah selesai.

"Jangan balik dulu, habis ini bantu Bude cuci wadah wadahnya, biar bisa caranya mencuci wadah dan piring nantinya."

"Masih ada lagi?"

"Hemm kayaknya masih banyak, nanti tak ajari cara membersihkan rumah juga,"

Ingin rasanya dirinya pingsan saat ini, banyak hal yang harus dirinya kerjakan sekarang, ditambah lagi ia harus bisa melawan rasa bosannya sendiri. Indira lalu memindahkan wadah yang kotor satu persatu menuju ketempat mencuci piring, dan dirinya mulai melakukan itu sesuai dengan apa yang diarahkan oleh Budenya.

Budenya pun memeriksa satu persatu wadah yang telah dicuci oleh Indira, namun ia kembalikan lagi kepada Indira karena menurutnya caranya membersihkan kurang bersih. Oleh karenanya Indira harus mengulanginya lagi dari awal, dan masih banyak yang harus dirinya cuci.

"Nah ini kurang bersih, masih ada nodanya sedikit," Ucap Ana sambil menunjuk kearah noda membandel di sebuah piring.

"Bude taruh disitu dulu, habis ini aku cuci ulang,"

"Oke. Nah yang ini udah bersih, ini lagi masih ada bekas nasi keringnya cuci lagi,"

"Iya Bude."

"Ini tinggal dikit, masih ada minyak minyaknya,"

"Iya Bude."

"Kalo nyuci bareng bareng begini, yang dicuci dulu itu gelas gelasnya, habis itu piring dan sendok. Yang terakhir kayak baskom dan wajan panci dan kawan kawannya yang berminyak. Paham?"

"Iya Bude, nih Dira cuci ulang lagi,"

Entah sengaja mau mengerjai Indira atau bagaimana, yang jelas Budenya terus menyuruh untuk membersihkan ulang barang cuciannya yang belum benar benar bersih. Budenya tidak meninggalkan Indira sedikitpun dan terus memeriksa hasil cucian dari Indira apakah sudah bersih atau apakah perlu untuk dicuci ulang lagi.

Membutuhkan waktu selama satu jam lebih untuk bisa membersihkan semuanya sesuai dengan kemauan dari Budenya, dan setelah Budenya benar benar memastikan bahwa itu sudah bersih menurutnya. Lamanya dirinya mencuci membuat tangannya mengkerut karena terkena air dan sabun, setelahnya Indira boleh masuk kedalam kamarnya.

"Capek banget hari ini," Guman Indira sambil melihat kearah cermin yang menampakkan tubuhnya yang lelah.

Sejak pagi dirinya tidak berhenti sama sekali, ia habis pulang kerja pun langsung diajak Budenya untuk belajar memasak dan juga mencuci piring. Sehingga baru saja dirinya bisa istirahat dengan tenang, aslinya pekerjaan rumahnya masih banyak tapi Budenya merasa kasihan kepadanya sehingga membiarkan Indira istirahat sebentar saja.

Setelah bermain ponsel selama satu jam lebih, Ana kembali memanggilnya dan dengan terpaksa Indira langsung meninggalkan ponselnya didalam kamar dan dirinya langsung menghampiri Budenya itu. Budenya tengah berada diruang tamunya, dan terlihat ada satu orang tetangganya yang datang kesana.

"Kamu ngapain?" Tanya Ana kepada Indira.

"Nggak ngapa ngapain kok, Bude." Jawab Indira.

"Nih ada kerjaan baru,"

Ana langsung memberikan se tambah bawang merah dan putih kepada Indira, ia lalu menyuruh Indira untuk mengupasnya sementara Ana sendiri pun melakukan pekerjaan yang lainnya. Begitu banyak yang harus dikupas olehnya saat ini, dan entah sampai jam berapa dirinya bisa selesai.

"Mau dipake buat apa Bude? Kok banyak banget?" Tanya Indira heran.

"Ah ini buat acara besok, Bude kan mau syukuran atas rumah baru Bude,"

"Oh mau ditempati ya Bude? Terus rumah ini gimana?"

"Iya, ya gimana lagi. Paling pulang sana pulang sini, soalnya barang barang Bude, Bude tinggal semua disini. Disana juga hanya ada satu kamar buat Pakde,"

"Oalah begitu,"

Indira pun langsung membantu Budenya untuk mengupas bawang merah dan putih itu, meskipun dirinya sendiri tidak tau kapan selesainya karena sangatlah banyak. Padahal dirinya sendiri juga sudah lelah sejak tadi pagi, namun ia tidak mampu berkata apa apa lagi dan tidak bisa membantah ucapan dari Budenya.

Indira hanya bisa pasrah dengan takdirnya yang tidak bisa tinggal dirumahnya sendiri dan menjadi dirinya sendiri, andai saja semuanya tidak terjadi mungkin dirinya tidak akan merasakan hal seperti ini. Indira hanya bisa berandai andai orang tuanya tidak bercerai, mungkin keluarga mereka akan menjadi keluarga yang bahagia dan banyak orang yang iri kepadanya.

Namun apalah daya dirinya karena semuanya sudah terjadi dan tidak akan pernah mungkin bisa kembali seperti dahulu, karena dirinya hanya bisa menjalani kehidupannya tanpa bisa merubah apapun tentang dirinya dimasa lalu. Harapan bahwa kedua orang tuanya akan bersama kembali pun telah pupus ketika Ayahnya meninggal dunia, karena selama ini dirinya masih berharap bahwa mereka akan bersatu kembali.

Indira hanya bisa merasa iri kepada teman temannya yang memiliki keluarga yang lengkap, meskipun keluarganya kini tengah lengkap namun ia sama sekali tidak merasakan kelengkapan itu. Ditambah lagi dirinya sudah tidak meminta uang saku kepada Ibunya karena dia sudah bekerja, dan dirinya malu apabila memintanya.

Yang dirinya bisa lakukan sekarang hanyalah pasrah kepada takdirnya, ia juga tidak berharap bahwa nantinya dirinya bisa menikah atau tidaknya. Ia hanya berharap bahwa kehadirannya tidak lagi menjadi beban bagi siapapun yang dia kenal, dan kehadirannya bisa bermanfaat bagi setiap orang yang dia temui.

"Besok kamu kerja, Dira?" Tanya Ana.

"Kerja Bude,"

"Ini sudah jam 9, kamu istirahat saja dulu soalnya besok kerja,"

"Tapi ini belum selesai dikupas semuanya,"

"Tenang, nanti dibantuin sama Mbak Lantik kok,"

"Kalo begitu Dira istirahat dulu ya, Bude."

"Iya. Jangan lupa pake obat nyamuk, soalnya disini banyak nyamuknya,"

"Iya Bude."

Melihat Indira yang tak kunjung menyelesaikan tugasnya untuk mengupas bawang, Ana langsung menggantikan tugasnya itu dengan memarut kelapa. Ana langsung memberikan seember kelapa wutuh dan satu papan parut kepada Indira, dan Indira sendiri langsung meraihnya.

"Hati hati, itu parutnya tajam," Ucap Ana.

"Iya Bude,"

Indira memarutnya dengan berhati hati karena takut jika nanti tangannya terluka, namun dengan cara seperti itu membuat dirinya tidak sabaran karena sangat lama untuk bisa menyelesaikan kelapa satu potong saja. Sehingga dirinya pun mempercepat gerakannya agar kelapanya bisa segera habis, dan dirinya bisa langsung beristirahat karena dia sudah sangat kelelahan.

Srettt...

Terakhir dirinya memarut kelapa itu, tangannya sendiri pun ikut terparut bersama dengan potongan kelapa terakhir, namun Budenya tidak melihat hal itu karena disembunyikan oleh Indira. Potongan yang hanya tinggal secuil itu juga ikut disembunyikan oleh Indira, karena potongan itu sudah ikut bersimbah darah miliknya.

"Sudah Bude," Ucap Indira.

"Baiklah kamu bisa kembali, habis itu langsung istirahat besok kerja,"

"Iya Bude,"

Akhirnya Indira diizinkan untuk istirahat kembali didalam kamarnya, ia lalu menutup pintu kamar itu dengan sangat rapat, dan dirinya pun langsung mengambil botol minumnya dan hansaplass untuk menutup lukanya. Ia langsung membasahi jari tangannya dengan air bersih, setelahnya dirinya pun menutup luka tersebut.

Setelah semuanya selesai, dirinya langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur, rasanya rasa lelahnya itu terbayar ketika dirinya sudah berbaring diatas kasurnya. Ia pun memeriksa ponselnya untuk membantunya agar bisa tidur dengan nyenyak, kalo tidak menonton vidio atau apapun di ponselnya dirinya tidak bisa tidur, sehingga harus memeriksa ponselnya terlebih dahulu.

"Perhatian juga Ayah baru ini," Guman Indira sambil melihat pesan dari Ayahnya.

Terlihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya kepada Indira, Ayahnya menanyakan apakah Indira kerasan tinggal ditempat Budenya atau tidak, dan meminta maaf kepada Indira karena tidak ikut bantu bantu pindahan. Perhatian sekecil ini saja sudah membuat dirinya bahagia, namun tidak ada yang tau bagaimana cara membuatnya bisa merasa bahagia benar benar bahagia.

Indira lalu membalas pesan tersebut dan langsung menaruh ponselnya setelahnya, dirinya benar benar sangat lelah. Semenjak kejadian waktu itu, Wisma sama sekali tidak menanyakan kabar tentangnya, dan hanya menjadi penonton story saja namun Indira merasa lebih lega lagi karena tidak ada yang menganggu dirinya.

*******

Sore harinya, setelah pulang bekerja Indira langsung diminta untuk bantu bantu dirumah Budenya yang baru, dan kedua orang tuanya juga datang kesana karena diundang oleh Budenya. Semua orang berkumpul disana kecuali Nenek Indira karena tidak ada yang mengantarnya, sehingga hanya ada anak anaknya saja yang berkumpul ditempat itu.

"Duduk saja disitu sambil bantuin Mbak Pita bungkus nasi sama jajan," Ucap Ana kepada Indira sambil menunjuk kearah Anak perempuan pertamanya.

"Siap Bude," Ucap Indira.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!