seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
Guncangan hebat dari tembakan seismik di atas sana perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang menyesakkan sekaligus menenangkan. "Mawar Hitam" tidak lagi meluncur jatuh; kapal itu seolah-olah sedang digendong oleh aliran air yang memiliki kesadarannya sendiri.
"Lar, lihat indikator dayanya," suara Dio bergetar, kali ini bukan karena takut, tapi karena takjub. "Baterai inti kita... meluap. Ini bukan listrik konvensional. Kapal ini sedang dipompa oleh energi yang frekuensinya identik dengan Arca, tapi ribuan kali lebih murni."
Pandu mengusap kaca kokpit yang mulai jernih kembali. "Jika makhluk ini adalah inang Arca, berarti selama ini kita hanya menggunakan remah-remah dari apa yang mereka miliki. Kita menggunakan Arca untuk senjata dan mesin, tapi mereka... mereka menggunakannya untuk hidup."
Di luar, pemandangan berubah drastis. Mereka telah melewati lapisan es terdalam dan kini memasuki inti Europa. Alih-alih batuan padat, inti bulan itu ternyata merupakan bola kristal raksasa yang bercahaya, dikelilingi oleh ribuan makhluk serupa yang lebih kecil, menari-nari dalam arus energi yang terlihat seperti aurora di bawah air.
"Mereka bukan pemangsa, Dio," bisik Laras, tangannya masih menempel pada dinding kapal, merasakan aliran data yang masuk ke pikirannya. "Mereka adalah 'Tukang Kebun'. Europa adalah persemaian untuk benih-benih kehidupan yang akan disebar ke seluruh galaksi. The Hollow bukan hanya mencuri energi, mereka mencoba mencuri rahim penciptaan."
Tiba-tiba, sebuah proyeksi cahaya muncul di tengah palka kapal. Cahaya itu memadat, membentuk siluet manusia yang samar, namun wajahnya terus berubah-ubah—terkadang menyerupai Laras, terkadang menyerupai sosok yang tak mereka kenal.
"Kau membawa Tanah Amazon," suara itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan berdenyut di dalam sumsum tulang mereka. "Memori dari planet yang sedang sekarat."
Laras melangkah maju, menghadapi proyeksi itu. "Bumi tidak sekarat. Kami sedang berjuang."
"Kalian berjuang dengan sisa-sisa napas kami," siluet itu mendekat. "Gerbang yang kau tutup tadi hanyalah satu dari ribuan. The Hollow adalah parasit, namun mereka hanyalah pertanda. Badai yang sebenarnya adalah kepulangan para Pencipta yang ingin membersihkan kebun mereka dari hama."
"Hama?" Pandu mengepalkan tangan. "Kami hanya ingin bertahan hidup!"
Siluet itu meredup sejenak. "Maka buktikan. Kapal ini telah kami perbarui. Ia bukan lagi sekadar besi dan kabel. Ia adalah bagian dari kami sekarang. Pergilah ke Astra Mawar. Katakan pada kaummu: jika kalian ingin selamat, berhentilah membakar Arca. Mulailah mendengarkannya."
Tiba-tiba, "Mawar Hitam" berputar arah. Mesin pendorongnya menyala dengan pendar biru yang begitu terang hingga membutakan mata. Tanpa aba-aba, kapal itu melesat ke atas, menembus samudra, melewati lubang es, dan keluar ke ruang hampa dengan kecepatan yang melampaui batas fisika sebelumnya.
Di orbit, mereka melihat sisa-sisa kapal induk The Hollow yang telah hancur total, hancur bukan oleh ledakan, tapi seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
"Lar... sensor kita," Dio menatap layar dengan nanar. "Kita tidak lagi butuh sepuluh jam untuk sampai ke Astra Mawar. Dengan frekuensi baru ini... kita bisa sampai di sana dalam sepuluh menit."
Laras duduk kembali di kursi komando, matanya masih berpendar biru. Ia menatap telapak tangannya sendiri, di mana garis-garis tipis cahaya kini mengalir di bawah kulitnya.
"Sampaikan pesan itu pada Paman Aan, Dio," kata Laras pelan. "Dan bersiaplah. Kita harus mengubah semua teknologi kita di Bumi sebelum 'Para Pencipta' itu tiba. Kita punya waktu yang sangat sedikit."
"Mawar Hitam" melesat meninggalkan Jupiter, meninggalkan Europa yang kini tampak lebih terang dari biasanya, seperti sebuah mata raksasa yang baru saja terbuka di kegelapan ruang angkasa.
Astra Mawar tampak seperti titik perak kecil yang terombang-ambing di tengah sabuk asteroid saat "Mawar Hitam" muncul dari lompatan frekuensi. Tidak ada guncangan keluar dari kecepatan cahaya; kapal itu hanya mendadak ada, berhenti dengan presisi yang mustahil tepat di depan hanggar utama.
"Laras! Kalian masih hidup?!" suara Aan meledak di radio, penuh campuran antara isak tangis dan ketidakpercayaan. "Sensor kami menangkap ledakan di Europa... kami mengira kalian hancur bersama kapal induk itu!"
"Buka pintu hanggar, Paman," jawab Laras pendek. Suaranya terdengar jauh, seolah-olah ia sedang berbicara dari dasar sumur yang dalam. "Kami membawa sesuatu yang lebih penting daripada kemenangan."
Begitu pintu hanggar tertutup dan tekanan udara menstabilkan palka, Aan berlari menuruni tangga kontrol. Namun, ia terhenti beberapa meter dari "Mawar Hitam". Kapal itu tidak lagi tampak seperti rongsokan yang ia lepas beberapa hari lalu. Lambungnya kini memiliki tekstur semi-organik, dengan urat-urat cahaya biru yang berdenyut pelan di bawah permukaan logamnya.
Laras turun dari pintu palka. Langkah kakinya ringan, hampir tidak menyentuh lantai besi. Pandu dan Dio mengikuti di belakang, keduanya tampak pucat dan terguncang.
"Lar... matamu," Aan berbisik, mundur selangkah saat melihat pendar biru murni di iris mata keponakannya.
"Jangan takut, Paman. Ini bukan infeksi," Laras menyentuh bahu Aan. Seketika, Aan tersentak—bukan karena sakit, tapi karena kepalanya mendadak dipenuhi oleh bayangan hutan Amazon yang rimbun, suara ombak di Palung Jawa, dan nyanyian kuno dari bawah es Europa. "Ini adalah pengingat. Kita telah salah mengira Arca sebagai baterai, padahal ia adalah bahasa."
"Apa yang terjadi di bawah sana?" Aan bertanya, suaranya parau.
"The Hollow sudah kalah di sistem ini, tapi mereka hanyalah kelompok penjarah kecil," Pandu menyela, ia duduk di pinggiran kotak kargo, memegang kepalanya. "Ada yang lebih besar yang akan datang. Para 'Tukang Kebun'. Mereka yang menanam Arca di bumi jutaan tahun lalu."
"Mereka akan melakukan 'pembersihan', Paman," Dio menambahkan sambil menunjukkan pad data yang berisi pembacaan energi baru dari "Mawar Hitam". "Setiap teknologi kita yang membakar Arca untuk energi kasar dianggap sebagai polusi bagi mereka. Jika kita tidak mengubah cara kita berinteraksi dengan energi ini, Bumi akan dianggap sebagai kebun yang gagal."
Aan menatap data itu, tangannya gemetar. Sebagai ilmuwan yang menghabiskan hidupnya mempelajari Arca, ia baru menyadari bahwa ia selama ini hanya mempelajari kulit luar dari sebuah rahasia kosmik.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Aan. "Kita tidak bisa mengubah seluruh peradaban Bumi dalam semalam. Armada The Hollow yang tersisa masih bersembunyi di balik bayangan Mars, dan pemerintah Jakarta pasti akan menuntut penjelasan tentang apa yang terjadi di Europa."
Laras menatap ke arah jendela besar hanggar yang memperlihatkan kegelapan ruang angkasa. Di kejauhan, ia bisa merasakan denyut yang sama dari Bumi—denyut dari "Jantung" yang tertimbun di bawah tanah Indonesia, yang kini mulai terbangun karena resonansi dari Europa.
"Kita tidak perlu mengubah semuanya dalam semalam," kata Laras tenang. "Kita hanya perlu memberikan Bumi sebuah suara agar mereka bisa mendengar. Paman, siapkan transmisi frekuensi lebar ke seluruh pangkalan Arca di Bumi. Kita akan melakukan sesuatu yang akan membuat seluruh planet ini berhenti sejenak."
"Apa itu, Lar?"
"Kita akan mengajari mereka cara mendengarkan detak jantung dunia."