desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Jatuh Cinta dalam Diam
Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Atau mungkin hanya perasaan Aira yang sedang tidak baik-baik saja.
Sudah tiga hari sejak pertemuan dengan Lita di kafe Menteng. Tiga hari sejak pesan-pesan ancaman itu masuk. Tiga hari sejak ia diam-diam menyadari sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia sadari.
Ia jatuh cinta.
Bukan cinta pada Raka. Atau setidaknya, ia belum siap mengakui itu. Tapi cinta pada Arka? Sudah pasti. Anak laki-laki dengan mata sedih itu telah mengambil tempat di hatinya. Tanpa izin. Tanpa permisi.
Tapi cinta pada Raka?
Aira menggeleng sendiri. Ia sedang memotong kain pola di butik. Tangannya terampil, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Beberapa kali ia salah potong. Maya yang melihat hanya bisa menghela nafas.
"Mba, sudah dua kali salah potong. Kainnya sayang, Mba."
Aira tersentak. Melihat potongan kain yang melenceng lima sentimeter dari pola. Ia menghela nafas.
"Maaf, May. Aku lagi enggak fokus."
Maya mendekat. Duduk di kursi sebelah.
"Mba, cerita. Ada apa? Dari beberapa hari ini Mba murung terus. Jangan-jangan karena wanita itu? Lita?"
Aira diam. Maya melanjutkan.
"Mba, kalau Lita ngancem-ngancem lagi, jangan dipendam sendiri. Cerita sama aku. Atau cerita sama Pak Raka. Dia harus tahu."
"Buat apa, May? Ini urusanku sama Lita. Aku bisa handle sendiri."
Maya menggeleng. "Mba, ini bukan urusan pribadi. Ini urusan Arka. Dan urusan Pak Raka. Mereka berhak tahu kalau Lita jahat di belakang."
Aira menatap Maya. "Kau pikir Pak Raka akan percaya aku? Aku orang luar. Dia mantan istrinya, ibu dari anaknya."
"Tapi Mba, kebenaran tetaplah kebenaran."
Aira tersenyum getir. "May, kamu masih muda. Masih percaya kebenaran selalu menang. Di dunia ini, yang menang seringkali bukan yang benar, tapi yang pintar main peran."
Maya diam. Tak bisa membantah.
Aira kembali memotong kain. Kali ini lebih hati-hati. Tapi pikirannya tetap melayang.
Ia ingat bagaimana Raka menggenggam tangannya saat ia bercerita tentang Rian. Genggaman itu hangat. Bukan genggaman basa-basi. Tapi genggaman yang ingin bilang, "Aku di sini. Aku dengar."
Ia ingat bagaimana Raka menatapnya saat ia bercerita. Tatapan itu serius. Penuh perhatian. Bukan tatapan pria pada desainer anaknya. Tapi tatapan pria pada wanita yang ia hargai.
Dan ia ingat bagaimana jantungnya berdetak kencang saat itu.
"Aira, kamu bodoh," gumamnya pelan.
Maya yang mendengar, menoleh. "Hah? Mba bilang apa?"
"Enggak, May. Aku ngomong sendiri."
Maya tersenyum. "Udah kayak orang gila aja, Mba."
Aira tertawa kecil. Tapi tawanya tak sampai mata.
---
Sore harinya, Aira mendapat pesan dari Raka.
"Nona Aira, apa Nona ada waktu sebentar? Arka minta ketemu. Katanya kangen. Tapi jika Nona sibuk, tidak apa-apa."
Aira membaca pesan itu. Hatinya berdebar. Sudah hampir seminggu ia tak ke apartemen. Sibuk dengan orderan. Dan jujur, sedikit menjauh setelah pertemuan dengan Lita.
"Arka kangen? Atau Bapak yang kangen?" Aira mengetik bercanda, lalu cepat-cepat dihapus. Terlalu genit.
Ia membalas formal:
"Bisa, Pak. Jam 4 sore? Saya sekalian mau antar baju Arka yang sudah jadi."
"Baik, Nona. Saya tunggu."
Aira menatap layar ponsel. Senyum kecil muncul. Lalu cepat-cepat dihapus.
"Maya, aku pergi sebentar. Ke apartemen Pak Raka. Antar baju Arka."
Maya mengangkat alis. "Sendiri?"
"Iya."
"Hati-hati, Mba. Jangan sampai ketemu wanita itu."
"Insya Allah."
Aira mengemasi baju Arka yang sudah rapi dalam plastik bening. Baju dinosaurus biru dengan aplikasi kain perca. Jahitan tangannya rapi. Kancingnya berbentuk tulang. Ia bekerja keras untuk baju ini.
Naik taksi ke apartemen The Rosewood. Di perjalanan, ia memandangi gedung-gedung tinggi yang menjulang. Jakarta yang hiruk pikuk. Dan ia bertanya pada diri sendiri: Apa aku pantas berada di dunia seperti ini?
---
Pintu lift terbuka. Bi Inah sudah menunggu dengan senyum.
"Nona Aira, selamat sore. Tuan Kecil sudah tidak sabar."
Aira masuk. Suasana apartemen masih sama. Mewah. Rapi. Tapi kali ini ada sedikit perbedaan. Ada mainan berserak di ruang tamu. Ada buku cerita terbuka di sofa. Seperti ada kehidupan di dalamnya.
Arka berlari dari kamar. Begitu melihat Aira, ia langsung memeluk kaki Aira erat.
"Aira! Aira! Aira datang!"
Aira berjongkok. Memeluk Arka. "Halo, Ark. Kangen?"
Arka mengangguk keras. "Kangen banget. Aira lama enggak dateng."
"Maaf, Ark. Aira sibuk. Tapi lihat, Aira bawain baju Arka. Udah jadi."
Aira mengeluarkan baju dinosaurus dari tasnya. Arka membelalak.
"Wah! Dinosaurus! Punya Arka!"
Ia langsung memegang baju itu. Memeriksa setiap detail. Gambar dinosaurus yang ia gambar sendiri, kini terwujud di baju.
"Aira hebat! Aira hebat!"
Arka berjingkrak-jingkrak senang. Aira tertawa melihatnya.
Dari lorong, Raka keluar. Ia tersenyum melihat kebahagiaan Arka.
"Nona Aira, terima kasih."
Aira menoleh. Raka berdiri dengan kemeja putih lengan panjang. Rambut agak basah, seperti baru keramas. Wangi sabun mandi tercium samar.
Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Sama-sama, Pak. Ini baju Arka. Sudah jadi. Ukurannya pas kemarin, jadi enggak perlu fitting lagi."
Raka mendekat. Ikut melihat baju itu. Jari-jarinya menyentuh kain.
"Jahitannya rapi sekali. Arka pasti bangga."
"Iya, Bang! Arka bangga!" seru Arka sambil memeluk bajunya.
Mereka bertiga tertawa. Suasana hangat mengisi ruangan.
Bi Inah datang membawa minuman. Jus jeruk untuk Aira, susu hangat untuk Arka, dan kopi hitam untuk Raka.
"Ayo duduk," kata Raka.
Mereka duduk di ruang tamu. Arka di tengah, memeluk bajunya. Aira di sofa panjang, Raka di kursi tunggal.
"Nona Aira, maaf saya ingin tanya," Raka memulai. "Akhir-akhir ini, apa Nona baik-baik saja?"
Aira terkejut. "Maksud Pak Raka?"
Raka menatapnya. "Saya lihat Nona sedikit... berbeda. Dari pesan-pesan Nona juga. Lebih pendek. Lebih formal. Apa ada masalah?"
Aira diam. Ia tak bisa bilang tentang Lita. Itu bukan urusan Raka. Tapi ia juga tak bisa bohong.
"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin saya capek. Banyak orderan."
Raka mengangguk. Tapi matanya tak percaya.
"Nona, jika ada masalah, cerita saja. Mungkin saya bisa bantu."
Aira tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi sungguh, tidak apa-apa."
Arka yang sejak tadi asyik dengan bajunya, tiba-tiba berkata, "Aira, Bapak baik ya?"
Aira menatap Arka. "Iya, Bapak baik."
"Bapak sayang Aira enggak?"
Udara di ruangan itu tiba-tiba membeku.
Raka terbatuk. Aira tersipu. Arka malah tersenyum polos.
"Ark, jangan tanya aneh-aneh," kata Raka.
"Enggak aneh. Aku mau Aira jadi Mama Aira. Aku udah punya Mama Lita, tapi Aira boleh jadi Mama Aira. Dua mama, boleh kan?"
Aira tak tahu harus berkata apa. Raka juga diam.
Bi Inah yang mendengar dari dapur, tersenyum. Cepat-cepat masuk ke kamar, pura-pura tak dengar.
Arka menatap mereka bergantian. "Bapak mau? Aira mau?"
Raka menghela nafas. "Ark, itu bukan urusan anak kecil. Aira itu teman Bapak. Teman Arka. Bukan... bukan..."
"Bukan apa?"
Raka bingung. Aira memotong, "Ark, Aira sayang Arka. Tapi Aira enggak bisa jadi Mama Aira. Soalnya... soalnya Aira bukan siapa-siapa."
Arka mengerutkan kening. "Aira bisa jadi siapa-siapa. Aira jadi temen Arka. Itu sudah siapa-siapa."
Aira tersenyum. Polosnya anak kecil membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
"Iya, Ark. Aira teman Arka. Selamanya."
Arka tersenyum. Lalu tiba-tiba melompat. "Aku mau pamer baju ke Bi Inah!"
Ia lari ke dapur. Meninggalkan Aira dan Raka berdua.
Hening.
Aira menunduk. Memainkan ujung jilbabnya. Raka menatapnya.
"Nona Aira, maaf soal pertanyaan Arka. Dia masih kecil, belum ngerti."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya paham."
Hening lagi.
"Nona, saya... saya ingin bilang sesuatu."
Aira mengangkat kepala. Menatap Raka.
Raka tampak gugup. Pria yang biasa bicara di depan ribuan karyawan itu, kini kesulitan merangkai kata.
"Nona Aira, saya... saya seneng Nona ada di sini. Di hidup Arka. Di... di hidup saya."
Aira diam. Jantungnya berdetak kencang.
"Selama ini, setelah Lita pergi, saya hidup seperti robot. Bangun, kerja, pulang, tidur. Ulang lagi. Saya lupa bagaimana rasanya bahagia. Tapi sejak Nona datang... saya... saya mulai ingat."
Aira menatap Raka. Pria itu jujur. Matanya berkaca-kaca.
"Nona, saya tak tahu apa ini benar atau salah. Saya tak tahu apa Nona juga merasakan hal yang sama. Tapi saya hanya ingin bilang... terima kasih. Terima kasih sudah hadir."
Aira merasa air mata di pelupuk matanya. Ia tahan.
"Pak Raka, saya... saya juga seneng bisa kenal Bapak dan Arka. Kalian... kalian sudah jadi keluarga baru buat saya. Sesuatu yang selama ini saya cari, tapi tak pernah saya dapat."
Raka tersenyum. Senyum hangat.
"Lalu, apa kita bisa... terus seperti ini? Saling support. Saling ada. Untuk Arka. Dan untuk kita?"
Aira mengangguk. "Bisa, Pak. Saya mau."
Mereka saling menatap. Ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tak terucap. Tapi terasa.
Arka tiba-tiba berlari dari dapur. "Aira! Bapak! Lihat!"
Ia sudah memakai baju dinosaurusnya. Ukurannya pas. Ia berputar-putar, pamer.
"Wah, keren sekali!" puji Aira.
"Ganteng banget anak Bapak," kata Raka sambil mengacak rambut Arka.
Arka tertawa. "Aira, foto! Foto bareng!"
Bi Inah dipanggil untuk memfoto mereka bertiga. Arka di tengah, Aira dan Raka di samping. Mereka tersenyum. Bi Inah mengambil beberapa gambar.
"Ini bagus, Tuan," kata Bi Inah sambil menunjukkan hasilnya.
Raka melihat foto itu. Ada Aira, Arka, dan dirinya. Mereka tersenyum. Tampak seperti keluarga.
Hangat.
"Nona, saya kirim foto ini ya."
"Silakan, Pak."
Aira pamit setengah jam kemudian. Arka cemberut, tapi Aira janji akan datang lagi.
Raka mengantar sampai lift.
"Nona Aira, hati-hati di jalan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Lift datang. Aira masuk. Pintu tertutup.
Di dalam lift, Aira memegang dadanya. Jantungnya berdetak kencang. Ia tersenyum sendiri.
Ponselnya bergetar. Foto mereka bertiga dikirim Raka.
"Terima kasih untuk hari ini, Nona."
Aira membalas:
"Sama-sama, Pak. Terima kasih juga."
Ia memandangi foto itu lama. Di foto itu, ia melihat kebahagiaan. Di foto itu, ia melihat harapan.
Tapi di sudut hatinya, ada bisikan kecil.
Hati-hati, Aira. Kebahagiaan ini mungkin tak akan lama.
Ia tak tahu, di hotel berbintang, Lita sedang melihat foto yang sama. Foto yang diunggah Raka di status WhatsApp-nya.
Lita tersenyum. Tapi senyumnya dingin.
"Foto keluarga, ya? Tunggu, Aira. Akan aku hancurkan senyum manis itu."
Ia mematikan ponsel. Merencanakan langkah selanjutnya.
Dan badai, yang sempat reda sebentar, mulai berkumpul lagi.
---