Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hacker Harper
"Mundur tiga langkah sekarang juga, Dom, atau kubiarkan perusahaan triliunanmu ini hancur berkeping-keping detik ini juga."
Dominic mendengus keras, tapi anehnya, kakinya melangkah mundur. Pria angkuh itu terpaksa menelan egonya bulat-bulat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Vance Corp berdiri, sang CEO menuruti perintah mutlak dari sekretarisnya.
"Kalau kau sampai salah tekan satu tombol saja, aku pastikan kau tidak akan bisa bekerja di perusahaan manapun di muka bumi ini," ancam Dominic. Suaranya masih terdengar bergetar karena panik bercampur gengsi.
Harper sama sekali tidak menoleh. Matanya terkunci rapat pada layar monitor yang kini dipenuhi ribuan baris kode hijau menyala.
"Ancamanmu tidak mempan, Dom. Tutup mulutmu dan biarkan aku bekerja. Kepala IT, siapa namamu?Aku lupa!" seru Harper menatap layar televisi raksasa di dinding.
Pria paruh baya yang masih berkeringat dingin di ruang server itu tersentak kaget. "H-Herman, Nona Harper!"
"Dengar baik-baik, Herman. Virus ini dirancang untuk memakan data dari jalur depan. Percuma kau menahan pintu depan kalau mereka sudah punya kuncinya. Buka terminal cadangan di server blok empat, sekarang."
"Buka terminal cadangan? Tapi Nona, itu sama saja memberi jalan pintas bagi virusnya untuk langsung masuk ke jantung server utama kita!" jerit Herman panik.
"Lakukan saja perintahnya, idiot!" bentak Dominic dari belakang tubuh Harper. "Kalau dia menyuruhmu melompat, kau melompat! Kalau perusahaanku hancur, setidaknya aku punya alasan kuat untuk menuntutnya ke pengadilan seumur hidup!"
"Baik, Pak! Terminal cadangan blok empat dibuka!"
Tangan Harper melesat di atas keyboard mekanik. Terdengar bunyi klik klak beruntun yang sangat cepat dan berirama, persis seperti rentetan tembakan senapan mesin. Jari-jarinya bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" Dominic tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia mengintip dari balik bahu Harper, melihat rentetan huruf dan angka yang sama sekali tidak dia pahami.
"Virus ini ibarat tikus kelaparan," jawab Harper cepat tanpa menghentikan ketikannya sedikit pun. "Kau tidak bisa menangkap tikus di dalam rumah besar yang gelap gulita hanya dengan berlarian membawa sapu. Kau harus membuatkan lorong sempit dan meletakkan keju beracun di ujungnya."
"Dan kau sedang membuat keju beracun digital?"
"Tepat sekali. Aku sedang membuat server tiruan. Salinan palsu dari data klien kita. Saat Herman membuka terminal cadangan tadi, virus itu akan mengira dia menemukan jalan tol menuju data inti. Padahal, aku sedang menggiringnya masuk ke dalam kandang jebakan."
Dominic terdiam. Dia menatap profil samping wajah Harper. Cahaya hijau dari layar monitor memantul di kulit wajah wanita itu, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang luar biasa tajam. Tidak ada keraguan sedikitpun di sana. Tidak ada ketakutan. Hanya fokus tingkat tinggi yang sangat mematikan.
Selama lima tahun, Dominic hanya melihat Harper sebagai mesin penjadwal, pembuat kopi handal, dan pelindungnya dari orang-orang bodoh di industri ini. Dia tidak pernah benar-benar memperhatikan kecerdasan murni yang bersembunyi di balik wajah datar dan balasan-balasan sarkas tersebut.
Jantung Dominic mendadak berdebar dengan ritme yang berbeda. Bukan lagi karena panik kehilangan perusahaan, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh. Dia merasa... terpesona.
"Waktu tersisa tiga menit lagi, Nona Harper!" Suara Herman dari layar televisi memecah lamunan singkat Dominic. "Virusnya mulai menyebar ke lorong buatan Nona! Kecepatannya gila-gilaan!"
"Aku tahu, Herman. Jangan panik. Biarkan dia masuk semuanya," balas Harper dingin.
"Dua setengah menit! Indikator merah mulai menyentuh batas dinding pertahanan terakhir! Nona, kalau jebakan ini gagal, kita akan kehilangan segalanya!"
Dominic kembali merasa tegang. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Harper, kau yakin ini berhasil? Kalau gagal, sahamku akan anjlok ke titik nadir besok pagi."
"Kalau gagal, kau tinggal menjual koleksi mobil sport mewahmu untuk makan sehari-hari, Dom. Gampang kan?" celetuk Harper santai.
"Kau masih bisa bercanda di saat seperti ini?! Nyawa perusahaanku ada di ujung jarimu!"
"Maka dari itu, berhentilah mengoceh. Konsentrasiku bisa buyar kalau kau terus mengeluh seperti anak kecil yang mainannya rusak."
Dominic mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dia benar-benar ingin mencekik leher sekretarisnya itu, tapi tangannya malah bersedekap patuh. Dia hanya bisa menonton pertunjukan gila di depannya.
Tangan Harper bergerak semakin cepat. Kecepatannya nyaris tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Barisan kode baru terus bermunculan di layar hitam, membentuk pagar pertahanan digital lapis demi lapis mengelilingi server palsu yang dia buat.
"Satu menit, Nona! Sembilan puluh persen kode virus sudah masuk ke dalam server palsu!" teriak Herman. Wajah pria itu nyaris menempel di layar kameranya saking paniknya. "Tapi sepuluh persen lagi masih tertinggal di jalur utama! Mereka mencoba memecah diri!"
"Tidak akan kubiarkan," desis Harper tajam.
Dia menekan beberapa kombinasi tombol dengan paksa. Layar monitor berkedip cepat.
"Tiga puluh detik! Nona, mereka mulai memakan data palsunya! Server tiruan itu akan meledak dan mereka akan kembali ke jalur utama!"
"Kunci terminal empat sekarang, Herman!" perintah Harper menggelegar.
"Terkunci!"
Harper mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di atas keyboard. Matanya menatap tajam persentase pergerakan virus di layar monitor yang menembus angka sembilan puluh sembilan persen.
"Sepuluh detik!" jerit Dominic tanpa sadar ikut menghitung mundur. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
"Lima... empat... tiga... dua..." gumam Harper pelan, menghitung dengan ritme yang sangat mematikan dan tenang.
Tepat di hitungan ke satu, tangan Harper menghantam tombol Enter dengan tenaga penuh. Bunyi ketukan keras itu bergema bersamaan dengan tarikan napas tertahan dari Dominic dan Herman.
Layar monitor seketika membeku. Ribuan baris kode hijau itu berhenti bergerak. Angka-angka merah menyala yang sedari tadi berkedip liar tiba-tiba lenyap tak berbekas, digantikan oleh layar bersih berwarna biru terang dengan sebuah kotak dialog kecil di tengahnya.
Threat Neutralized. System Secure.
Suara sirine alarm yang sedari tadi memekakkan telinga mendadak mati. Lampu merah darurat berhenti berputar. Lampu utama ruangan kembali menyala terang benderang.
Keheningan absolut menyelimuti ruang kerja raksasa itu. Hanya terdengar suara napas memburu dari Dominic dan helaan napas lega dari wajah Herman di layar televisi.
"Virusnya... hancur," lapor Herman dengan suara bergetar tidak percaya. Pria paruh baya itu melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. "Data klien kita seratus persen aman. Tidak ada satu pun yang bocor atau terhapus. Nona Harper... Nona baru saja membunuh program perusak paling ganas yang pernah kulihat seumur hidupku."
"Tugasmu belum selesai, Herman. Lacak alamat IP sumber serangan tadi dari sisa bangkai kodenya. Serahkan laporannya ke mejaku secepatnya," perintah Harper tegas, kembali menggunakan nada suara sekretaris eksekutif yang luar biasa dingin.
"S-siap, Nona! Segera laksanakan!" Layar televisi raksasa itu pun mati, kembali menampilkan grafik pergerakan saham yang mulai stabil menuju zona hijau.
Harper menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang empuk. Dia meregangkan jari-jarinya yang terasa sedikit kram, lalu memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi retakan kecil yang sangat melegakan.
Masalah berskala triliunan rupiah beres dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tanpa sisa. Tanpa kerusakan fatal sedikit pun.
Harper memutar kursi kebesarannya secara perlahan, berhadapan langsung dengan Dominic yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Pria itu menatap Harper dengan pandangan kosong. Mulutnya sedikit terbuka. Otak jeniusnya sedang berusaha keras memproses apa yang baru saja terjadi. Sekretaris yang biasa dia suruh-suruh membuat kopi dengan suhu presisi sembilan puluh derajat, baru saja menyelamatkan aset raksasa miliknya hanya dengan menggunakan sepasang sepatu kets putih dan tangan kosong.
Dominic menatap wajah Harper lekat-lekat. Tidak ada bedak tebal. Tidak ada lipstik merah merona. Hanya ada sedikit keringat di dahi wanita itu dan sorot mata menantang yang selalu berhasil membuat darahnya mendidih. Tapi kali ini, darahnya mendidih karena alasan yang sama sekali berbeda.
Dinding ego setinggi gunung milik Dominic runtuh tak bersisa untuk beberapa detik. Pria itu menyadari satu fakta mutlak yang tidak bisa dia sangkal lagi.
Wanita ini bukan hanya mesin pekerja yang sempurna. Wanita ini luar biasa berbahaya, penuh kejutan, dan Dominic menginginkannya lebih dari apa pun.
Dominic melangkah maju satu tindak. Jarak mereka kini sangat dekat. Dia menatap mata cokelat terang Harper dengan sorot mata yang melembut tanpa disadari.
"Kau luar biasa," kata Dominic pelan. Suaranya terdengar serak dan dalam, sama sekali tidak ada nada ejekan atau arogansi di sana.
Harper menaikkan sebelah alisnya. Senyum miring yang sangat angkuh dan menjengkelkan kembali terukir tajam di bibir wanita itu.
"Aku tahu," sahut Harper tanpa basa-basi sedikit pun. Dia menengadahkan telapak tangannya tepat di depan dada Dominic. "Mana bonus tambahanku?"
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣