NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mushola kosong

​Sore itu, langit di atas desa tampak seperti kanvas yang disapu warna lembayung yang muram. Budi berdiri di ambang pintu mushola yang baru saja ia bersihkan. Lantai kayu yang tadinya kusam kini tampak bersinar terkena pantulan cahaya sore, meski di beberapa sudut masih terlihat bekas lubang rayap yang menghitam. Angin semilir membawa aroma tanah kering dan harum dedaunan jati, namun ada keheningan yang menyesakkan di udara.

​Waktu sholat ashar telah masuk sepuluh menit yang lalu. Budi sudah mengumandangkan azan dengan suara yang paling jernih yang ia miliki. Suaranya meliuk-liuk indah, membelah kesunyian desa, melewati rimbunnya pohon kamboja, dan seharusnya mengetuk pintu-pintu hati warga. Namun, hingga Iqamah dikumandangkan, tak ada satu pun bayangan manusia yang melangkahkan kaki menuju surau tua itu.

​Budi menghela napas panjang. Ia menatap ke arah jalanan setapak di depan mushola. Di kejauhan, ia melihat beberapa warga desa sedang sibuk dengan aktivitas mereka. Ada yang sedang menjemur jagung, ada yang sedang mencuci motor barunya, dan ada pula sekelompok bapak-bapak yang sedang duduk melingkar di bawah pohon beringin besar tak jauh dari sana.

​Kelompok bapak-papak itu dipimpin oleh Mbah Sastro, salah satu sesepuh desa yang dikenal masih memegang teguh urusan klenik dan sesajen. Mereka tidak sedang membicarakan agama; mereka sedang asyik tertawa sambil sesekali menyesap kopi hitam dan menghisap rokok klobot.

​"Lihat itu, Cah Kota," bisik Mbah Sastro sambil menunjuk ke arah mushola dengan jempolnya. Suaranya yang serak dibarengi dengan tawa sumbang yang meremehkan. "Dia pikir dengan teriak-teriak di atas sana, orang desa akan datang menyembah-nyembah. Dia tidak tahu kalau desa ini punya 'penjaga' yang lebih nyata daripada suaranya."

​"Betul, Mbah," timpal warga lainnya sambil tertawa mengejek. "Sudah bagus mushola itu jadi sarang hantu, malah dibersihkan. Orang desa di sini lebih percaya pada emas di bawah bantal daripada janji di balik awan. Kasihan si Budi, masih muda sudah mau jadi pengurus kuburan kayu."

​Tawa mereka pecah, sebuah tawa yang terdengar dingin dan kosong. Mereka melihat usaha Budi sebagai sebuah lelucon, sebuah anomali di tengah desa yang kini sedang mabuk oleh kejayaan materi hasil perjanjian gelap. Bagi mereka, Tuhan adalah konsep yang sudah lama punah, digantikan oleh entitas yang lebih "murah hati" dalam memberikan perhiasan dan rumah megah.

​Budi mendengar tawa itu lamat-lamat. Ia tidak marah. Hatinya justru diselimuti rasa iba yang teramat dalam. Ia masuk ke dalam mushola, menggelar sajadah lusuh yang sudah ia cuci bersih, dan melaksanakan sholat ashar seorang diri. Di dalam sujudnya yang panjang, Budi memohon kekuatan agar tidak goyah melihat kekerasan hati warga desanya .

​Selesai sholat, Budi duduk bersila di atas lantai kayu. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an yang tadi ia bersihkan. Ia mulai melantunkan ayat-ayat suupsjaci dengan nada yang tenang dan Tartil. Suaranya tidak lagi keras seperti saat azan, namun memiliki getaran yang sangat kuat, seolah-olah setiap huruf yang keluar dari bibirnya sedang berusaha mengusir kabut hitam yang menyelimuti desa itu.

​“Ar-Rahman... 'Allamal Qur'an... Khalaqal Insaan...”

​Saat itulah, sebuah bayangan melintas di depan pintu mushola yang terbuka lebar.

​Mirasih sedang berjalan pulang dari meninjau pembangunan pasar desa. Ia tidak sendirian, dua orang pengawal bayaran mengikutinya dari jarak beberapa meter, namun Mirasih berjalan beberapa langkah di depan mereka. Ia mengenakan kebaya berbahan brokat halus warna cokelat susu yang membuat kulitnya tampak bercahaya di bawah sinar matahari sore.

​Langkah kaki Mirasih yang tadinya mantap mendadak melambat. Telinganya menangkap getaran suara dari dalam mushola. Suara mengaji itu... begitu asing namun terasa sangat akrab di sudut memori yang sudah lama ia kunci rapat-rapat.

​Mirasih berhenti tepat di depan halaman mushola. Ia menoleh ke arah bangunan kayu itu. Di sana, ia melihat seorang pemuda berpakaian putih sedang duduk bersila, menunduk khusyuk di depan kitab suci.

​Seketika, sebuah pintu rahasia di dalam batin Mirasih terbuka. Sebuah kenangan dari masa sepuluh atau lima belas tahun yang lalu menyeruak keluar tanpa izin.

​Ia teringat saat ia masih sangat kecil. Saat itu, rumahnya masih sederhana, dan ayahnya masih hidup. Setiap sore selepas sholat maghrib atau ashar, ayahnya selalu duduk di serambi rumah dengan sarung kotak-kotak yang sudah pudar warnanya. Ayahnya akan memangku Mirasih kecil, membungkus tubuh mungilnya dengan sarung yang hangat itu, sementara beliau melantunkan ayat-ayat suci yang persis sama dengan yang didengar Mirasih saat ini.

​Mirasih ingat betul bagaimana ia merasa sangat aman di pangkuan ayahnya. Bau keringat ayahnya bercampur dengan wangi sabun mandi yang murah terasa seperti surga baginya. Dunia terasa damai, tidak ada ketakutan, tidak ada dendam, tidak ada perjanjian berdarah. Hanya ada dia, ayahnya, dan suara mengaji yang menenangkan.

​Namun, kenapa kebahagiaan itu direnggut begitu cepat? Kenapa Tuhan membiarkan ayahnya pergi saat Mirasih masih sangat membutuhkannya? Kenapa setelah kepergian orang tuanya, dunia justru menjadi neraka baginya? Kenapa ia harus disiksa oleh kemiskinan dan kelicikan Paman Broto sampai ia harus menyerahkan jiwanya pada Genderuwo hanya untuk sekadar bertahan hidup dan dihargai?

​Raut wajah Mirasih yang tadinya datar perlahan berubah menjadi getir. Matanya yang tajam sempat berkaca-kaca sesaat. Ada kerinduan yang sangat hebat pada masa kecil yang murni itu, namun kerinduan itu segera ditelan oleh rasa benci yang baru.

​“Suara itu tidak akan menyelamatkanku dari kelaparan dulu,” batin Mirasih, mencoba mengeraskan hatinya kembali. “Suara itu tidak menghentikan Paman Broto saat dia menyeretku ke hutan. Tuhan yang kau puji itu, ... Dia tidak ada saat aku menangis di kegelapan.”

​Mirasih menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. Ia kembali melangkah, mengabaikan getaran halus di hatinya. Saat ia berjalan menjauh, angin sore yang kencang membawa aroma tubuhnya masuk ke dalam mushola. Aroma bunga setaman yang sangat kuat—mawar, melati, dan kantil—menyerbu ruangan kayu itu, bertabrakan dengan bau kayu tua dan debu yang masih tersisa.

​Budi, yang sedang hanyut dalam bacaannya, mendadak berhenti. Hidungnya menangkap wangi yang tidak wajar. Wangi itu begitu indah namun memiliki aura yang dingin, seperti wangi kembang di atas kuburan yang masih basah.

​Budi melirik ke arah pintu. Matanya menangkap punggung seorang wanita yang berjalan menjauh dengan keanggunan yang luar biasa. Rambutnya yang hitam legam tertutup selendang tipis yang berkibar tertiup angin.

​Budi menatap punggung itu sampai menghilang di tikungan jalan. Ada sebuah perasaan aneh yang muncul di benaknya—sebuah kombinasi antara kekuasaan dan kepedihan yang luar biasa pada auranya.

​Mirasih terus berjalan tanpa menoleh lagi. Wangi melati yang ia tinggalkan masih menggantung di udara mushola selama beberapa saat, seolah menjadi tanda bahwa sang Ratu baru saja lewat, memberikan peringatan kepada sang pembawa cahaya bahwa wilayah ini sudah bukan lagi milik mereka yang bersujud.

​Di kejauhan, tawa sumbang Mbah Sastro dan kawan-kawannya kembali terdengar, menertawakan Budi yang masih setia duduk di dalam mushola yang sepi. Mereka tidak tahu, bahwa sore itu, sebuah benih baru telah ditanam.

​Budi kembali mengaji, kali ini suaranya lebih ditekan, seolah sedang mengirimkan doa khusus untuk punggung wanita yang baru saja lewat. Ia tidak tahu siapa Mirasih sebenarnya, namun ia merasa bahwa di balik kemegahan itu, ada seorang jiwa yang sedang berteriak minta tolong dalam kesunyian.

1
Nurr Tika
kasian adit padahal ga salah
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
apakah Mak Inah meninggal?
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
baru sadar kau Adit ,
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
Nurr Tika
lanjut thor
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Aditya terlalu lemah
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ruwett ruwet
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
penjelasnmu tak kan mampu
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
kamu tdk akan bisa kembali memiliki Mirasih Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
andaikan Mirasih tdk terbujuk rayu iblis yang memiliki jiwa nya ..
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
Nurr Tika
kamu akan menyesal mirasih
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mirasih matii sisi manusia nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masa pubertas sitii
jodoh ngga ya sama mas Budi
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
badai yang diciptakan oleh Mirasih
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
setitik nafas Mirasih masih mengingat Tuhan ,tapi mengingkarinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya
Nurr Tika
knp ga dari awal mirasih ikut adit ke kota
Nurr Tika
kenapa kamu mau menuruti mereka
Nurr Tika
sungguh kasihan mirasih
Nurr Tika
tega sekali meraka
Nurr Tika
mending kabur aja
Nurr Tika
ga tega liat mirasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!