David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 19) Satu sentuhan, satu ciuman
Pagi merambat masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar. Sinar mentari yang hangat menyusup dengan nakal, menari di atas lantai marmer, lalu merayap naik ke ranjang besar berwarna krem yang berada di tengah ruangan.
Udara pagi terasa tenang. Hening. Nyaris sempurna. Sampai cahaya itu tepat mengenai wajah Laila.
Kelopak matanya bergerak pelan. Alisnya mengerut kecil karena silau. Ia mengerang lirih, lalu mengangkat tangan untuk menutupi mata.
"Hm…"
Dengan malas, Laila membuka matanya sedikit demi sedikit. Pandangannya masih buram, kepalanya terasa ringan seperti belum sepenuhnya sadar. Ia berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaran.
Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu. Ada yang berat di pinggangnya.
Deggg.
Laila menegang. Perlahan ia menoleh ke samping. Dan matanya langsung membesar.
"David?" batinnya dengan mulut ternganga.
Pria itu tidur sangat dekat dengannya. Satu lengannya melingkar santai di pinggang Laila, seolah itu tempat paling alami di dunia. Wajah tampannya terlihat damai, napasnya teratur, rambut hitamnya sedikit berantakan, membuatnya tampak jauh lebih menggoda dari biasanya.
Laila membeku total.
"O-oke… tenang… tenang…" batinnya panik.
Dengan gerakan super hati-hati, Laila mengangkat selimut sedikit. Matanya langsung memeriksa dirinya sendiri.
Baju masih lengkap. Tidak ada yang berubah. Ia menghela napas panjang. "Syukurlah… berarti David belum melakukan apa-apa padaku semalam," batinnya lega.
Tetapi rasa lega itu hanya bertahan dua detik. "Tapi… ngomong-ngomong… apa yang dia lakukan di kamarku sampai tidur nyenyak begini?!"
Laila menatap pria itu lagi, bingung setengah mati. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, tetapi yang ia ingat hanya rasa lelah luar biasa setelah hari panjang, lalu tertidur.
Laila menggigit bibirnya. "Jangan panik. Pindahkan tangannya pelan-pelan."
Dengan napas tertahan, Laila memindahkan tangan David yang besar dari pinggangnya. Tangannya begitu hangat, hingga membuat jantung Laila berdebar aneh.
Tappp.
Laila pun berhasil menyingkirkan tangan kekar itu. Ia menghela napas lega lagi.
Saat hendak berbalik turun dari ranjang, gerakannya terhenti. Entah kenapa, tatapannya jatuh kembali pada wajah David. Dan kali ini, ia benar-benar memperhatikannya.
Rahang tegas. Hidung mancung. Alis rapi yang membentuk garis maskulin sempurna. Bulu mata pria itu bahkan lebih lentik dari miliknya.
"Tidak adil. Kenapa pria kejam seperti David Mendoza bisa setampan ini sih...?" gumamnya dalam hati.
Tanpa sadar, tangan Laila terangkat perlahan. Seolah ditarik magnet. Ia ingin memastikan apakah hidung mancung itu benar-benar nyata.
Namun...
"Satu sentuhan, satu ciuman ya, sayang."
Laila tersentak keras. Tangannya langsung mundur seperti tersengat listrik. David membuka mata perlahan, senyumnya mengembang penuh kemenangan. Ia jelas sudah bangun sejak tadi.
"Kenapa tidak jadi pegang?" tanyanya tengil sambil duduk. "Takut aku cium?"
Wajah Laila langsung merah. "Ti—tidak tuh!" bantahnya gugup. "Tadi itu ada lalat di wajahmu!"
David terdiam dua detik. Setelahnya, ia terkekeh-kekeh hingga bahunya bergetar.
"Lalat?" ulangnya. "Di kamar sebersih ini?"
Laila langsung turun dari ranjang dengan cepat.
"Itu… lalat konglomerat!" jawabnya asal.
David makin tertawa. Laila memalingkan wajah, malu sejadi-jadinya.
"Pokoknya Anda keluarlah! Saya mau bersiap-siap," katanya cepat sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Kemarin Leo bilang, setelah sarapan akan ada desainer datang untuk menentukan pakaian acara peresmian."
David langsung berhenti tertawa. "Oh iya. Benar." Ia menaikkan alisnya, tampak baru benar-benar mengingat jadwal itu.
Laila ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara lagi. "Mengapa anda melakukan semua ini?"
"Maksudmu?" tanya David, bingung.
"Itu semua terlalu berlebihan," ujar Laila pelan. "Bahkan, barang-barang yang Anda belikan dari mall saja, belum semua saya gunakan. Sekarang malah mendatangkan desainer terkenal, untuk membuat gaun resepsi yang biayanya pasti mahal sekali."
Ia mendengus berat. "Rasanya, anda seperti menghambur-hamburkan uang saja. Coba uangnya digunakan ke hal-hal yang lebih berguna."
David hanya menatap Laila. Dan tak lama kemudian, ia malah tersenyum. Bukan senyum mengejek. Melainkan senyum lembut yang justru membuat Laila kesal.
"Kenapa malah senyum?" protes Laila.
David tidak langsung menjawab. Tetapi sorot matanya secara tidak langsung menjelaskan bahwa ia tersenyum seperti itu karena ocehan Laila justru menggemaskan. Polos dan apa adanya.
Wanita itu benar-benar merasa jika pemberian seorang David Mendoza terlalu banyak. Padahal bagi David, semua yang ia berikan masih kurang. Bahkan belum separuh dari apa yang dia rencanakan.
David merasa, reaksi seperti begitu sangat langka. Wanita lain pasti akan langsung gembira dan akan melakukan apa saja, bila dibelikan barang-barang mahal. sedangkan Laila, malah sebaliknya.
David lantas turun dari ranjang perlahan. Langkahnya mendekat. Dari satu langkah, menjadi beberapa.
Laila refleks mundur.
"Kenapa mundur?" tanya David, santai.
"Lagian, kenapa anda tiba-tiba maju?" Balas Laila jujur.
David hampir tertawa lagi. Namun langkahnya terus melaju.
Sampai, punggung Laila menyentuh dinding. Ia terpojok.
Tappp.
David menapak kedua tangannya di tembok, mengurung Laila di antara tubuhnya. Jarak mereka sangat dekat.
Laila menelan ludah. Jantungnya berdetak keras hingga ia yakin jikalau David bisa mendengarnya.
David menunduk sedikit, menatap mata Laila yang bulat dan jernih. Wanita itu tampak mungil dan rapuh. Yang apabila dipegang saja, takut jadi abu. Paling utama ialah, dia sangat dan selalu menggemaskan. Kalau saja David tidak handal dalam mengontrol diri, mungkin dia sudah mengigit Laila yang bagaikan kelinci kecil.
"Aku cuman ingin memanjakanmu Laila," ucap David lembut.
Nada suaranya berbeda. Tidak tengil apalagi terkesan menggoda. Sangat tulus.
"Itu tidak salah, kan?" lanjutnya pelan. "Kau istriku. Aku suamimu."
Kata tersebut membuat dada Laila bergetar.
David melanjutkan dengan suara rendah namun ditekankan bahwa, "jadi apa pun yang aku lakukan… semua demi dirimu. Berusahalah untuk menyukainya."
David mendekat lagi. Kini hanya sejengkal jarak yang tersisa. Tatapannya turun ke bibir Laila.
"Karena kalau tidak…" bisiknya. "…aku akan menggigit bibirmu."
Mata Laila terbelalak.
"Ihhh, tidak mau!" Ia langsung mendorong dada David sekuat tenaga. Ketar-ketir, lalu secepat kilat kabur dari situasi mencekam itu.
Laila berlari keluar kamar sambil menutup mulutnya sendiri, wajahnya merah seperti tomat matang.
Pintu tertutup keras.
Brakkk.
Sunyi kembali memenuhi kamar. David berdiri diam beberapa detik. Dan ia kembali tertawa.
"Hahahaha! Apa-apaan dia itu?"
Tawa rendah yang hangat.
"Selalu saja diluar dugaan..." gumamnya sambil menggeleng.
Di koridor mansion, Laila berhenti berlari. Ia bersandar di dinding. Tangannya menekan dada sendiri.
"Kenapa aku malah lari? Ditambah, mengapa pula jantungku berdebar-debar begini? Apa aku sakit?" gumam Laila menyentuh jidatnya, memastikan suhu badan.
"Tidak ada tanda-tanda demam, pun..."
Ia menarik napas panjang berkali-kali. Bayangan wajah David barusan pun, terus bermunculan di kepalanya.
Tatapannya, suara lembutnya, dan ancaman absurd tentang menggigit bibir, membuat Laila tidak habis pikir.
"Dasar orang aneh!"
Tetapi sudut bibirnya tanpa sadar terangkat. Senyum kecil terukir manis disana. Tentu, ia tidak menyadarinya.
Dari kejauhan, Mia sang pelayan melihatnya kebingungan. "Nyonya Laila, Anda baik-baik saja?"
Laila langsung tegap. "Baik! Sangat baik! Terlalu baik malah!"
Mia mengedip bingung. "Kalau begitu… sarapan sudah siap."
Laila mengangguk cepat. " Iya! Sarapan! Baiklah, aku akan ke sana! Segera!"