NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:291.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesempatan untuk Membalas Budi

Tiga hari berlalu sejak pagi sunyi itu. Tiga hari di mana cahaya matahari datang dan pergi tanpa pernah benar-benar disadari oleh penghuni ranjang kayu di ruangan itu. Tiga hari di mana api biru keluar dari telapak tangan Boqin Changing. Ia meredup, lalu menyala kembali, lalu meredup lagi, mengikuti ritme penyembuhan yang rapuh.

Pada hari ketiga itu… sesuatu berubah. Jari kaki Sha Nuo bergerak. Sangat kecil. Sangat halus. Namun bukan lagi sekadar refleks qi. Itu gerakan yang memiliki niat. Beberapa saat kemudian, kelopak matanya bergetar.

Dunia yang selama ini gelap seperti dasar jurang perlahan terbelah oleh seberkas cahaya tipis. Pandangannya buram. Cahaya terasa terlalu terang. Kepalanya berat, seolah dipenuhi batu.

“...Hah…”

Suara serak keluar dari tenggorokannya. Hampir tak terdengar. Ia berkedip pelan.

Langit-langit kayu. Retakan kecil di sudut balok penyangga. Bau ramuan pahit yang sangat ia kenali. Pikirannya yang masih setengah kabur tiba-tiba melontarkan satu pertanyaan konyol.

“Apakah ini surga?”

Tempat ini terlalu tenang. Terlalu damai. Tidak ada bau darah. Tidak ada jeritan. Tidak ada panas yang membakar kulitnya seperti hari-hari terakhir.

Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya bergerak tipis.

“Tidak mungkin…” gumamnya dalam hati.

Hidupnya penuh darah. Penuh dosa. Penuh dengan orang-orang yang ia tebas dan musuh yang pernah ia jatuhkan. Surga bukan tempat untuk orang seperti dirinya.

Pandangan buram itu bergerak perlahan ke kanan… lalu ke kiri. Ia mengenali lemari kayu di sudut ruangan. Tirai tipis berwarna pucat yang sedikit robek di bagian bawah. Meja kecil dengan mangkuk ramuan kering yang belum dibersihkan. Ini kamarnya.

Kesadarannya mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Ia masih hidup. Ingatan tentang hari itu menghantamnya seperti ombak keras.

Batu Pelangi Surga. Ledakan warna-warna liar yang hampir menghancurkan fondasi meridian Boqin Changing. Api biru yang ia paksa mengalir tanpa henti. Rasa sakit yang bahkan sekarang hanya mengingatnya saja sudah membuat napasnya terasa sesak.

Ia bisa saja berhenti. Ia benar-benar bisa saja berhenti. Di hari kedua, saat kulit di lengannya mulai retak dan terbakar dari dalam. Saat meridiannya bergetar seperti akan pecah. Saat penglihatannya mulai menghitam di tepiannya. Ia tahu tubuhnya sudah melewati batas.

Satu keputusan saja. Satu niat untuk menarik kembali apinya. Semua itu akan berakhir.

Namun ia tidak melakukannya. Karena ia tahu satu hal. Utang budinya kepada Boqin Changing terlalu besar.

Jika bukan karena orang itu… ia mungkin sudah mati. Jika bukan karena bimbingannya… ia tidak akan mencapai ranah kultivasi pendekar langit. Jika bukan karena teknik pemberiannya, ia tidak akan mempunyai wujud manusia normal yang didamba-dambakannya dari dulu.

Mungkin… itu adalah satu-satunya kesempatan yang benar-benar setara untuk membalas. Walaupun rasanya seperti tulang-tulangnya dihancurkan satu per satu. Walaupun napasnya terasa seperti menelan bara api. Walaupun tubuhnya menjerit agar ia berhenti… Ia memaksakan diri hingga batasnya. Hingga batas terakhir.

Sha Nuo tersenyum tipis di ranjangnya.

“Setidaknya… aku tidak mundur,” gumamnya pelan dalam hati.

Ia mencoba bangkit. Otot perutnya menegang. Namun tubuhnya tidak merespons. Seolah bagian bawah lehernya bukan lagi miliknya.

Ia mencoba mengangkat tangannya. Tidak bergerak. Tidak ada sensasi. Benar-benar kosong.

Ia terdiam beberapa detik. Lalu mencoba menggerakkan jari kakinya. Kali ini… ada. Sangat kecil, tapi ada. Ia bisa merasakannya.

Alih-alih marah atau panik, sudut bibirnya justru terangkat lebih lebar.

“Lumayan…” bisiknya serak.

Setidaknya ia belum sepenuhnya menjadi mayat hidup.

Tiba-tiba,

Krek.

Pintu kamar terbuka perlahan. Langkah kaki ringan namun stabil terdengar mendekat. Boqin Changing masuk, membawa mangkuk air di tangannya. Uap tipis masih mengepul dari permukaan air hangat itu.

Ia berhenti di ambang pintu saat melihat sepasang mata yang kini menatap lurus ke arahnya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Mata itu terbuka.

Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Boqin Changing yang biasanya tenang dan tak tergoyahkan… kini benar-benar membeku. Lalu ia berjalan cepat mendekat.

“Kau sudah bangun?” suaranya rendah, namun jelas menyimpan sesuatu yang sulit disembunyikan.

Sha Nuo tertawa kecil. Suaranya kering, namun nada bicaranya masih sama seperti dulu.

“Baru saja bangun tidur… tapi rasanya masih mengantuk sekali.”

Boqin Changing menghela napas panjang.

“Kau benar-benar gila.”

Nada itu terdengar seperti teguran… namun lebih menyerupai keluhan lega.

Ia meletakkan mangkuk air di meja kecil, lalu dengan hati-hati menopang bahu Sha Nuo. Gerakannya sangat pelan, sangat terkontrol. Ia menyelipkan tangan di punggung pria tua itu, mengangkatnya perlahan hingga duduk bersandar pada sandaran ranjang.

Sha Nuo meringis tipis, tapi tidak mengeluh. Boqin Changing mengambil mangkuk itu kembali. Ia memegangnya dekat ke bibir Sha Nuo, lalu perlahan memiringkannya, menuangkan air sedikit demi sedikit. Seperti menyuapi anak kecil. Air hangat itu mengalir pelan melewati bibir kering dan masuk ke tenggorokan yang terasa seperti pasir.

Sha Nuo menelan dengan susah payah. Beberapa teguk kemudian, ia menghela napas puas.

“Ah… hanya air putih?” katanya pelan. “Mengapa kau tidak memberikan arak padaku?”

Boqin Changing tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan wajah datar… lalu menghela napas lagi.

Sha Nuo terkekeh kecil. Hening beberapa detik. Lalu ia menatap Boqin Changing lebih serius.

“Bagaimana keadaanmu?” suaranya masih serak, namun kini ada ketajaman di sana. “Apa kau sudah menembus Ranah Pendekar Langit?”

Boqin Changing terdiam. Tatapannya bertemu dengan tatapan Sha Nuo. Beberapa kenangan melintas dalam benaknya. Ledakan warna pelangi. Meridian yang hampir pecah. Dantiannya yang kini terasa seperti langit luas tanpa batas.

Lalu ia menganggukkan kepalanya pelan. Satu anggukan sederhana. Namun maknanya berat.

Mata Sha Nuo langsung melebar.

“Ha!” ia hampir tertawa terlalu keras, namun tubuhnya tak mengizinkan. “Aku sudah tahu sejak awal!”

Wajahnya yang pucat kini tampak hidup.

“Aku bilang apa? Kau tidak mungkin gagal! Batu Pelangi Surga itu memang keras kepala, tapi kau lebih keras kepala lagi!”

Ia terlihat jauh lebih girang dibanding orang yang baru saja menembus ranah itu sendiri.

Boqin Changing menatapnya. Lalu… tanpa sadar, ia tersenyum. Senyum yang jarang sekali muncul tanpa perhitungan.

Entah mengapa dadanya terasa hangat. Ia yang naik ranah kultivasi. Ia yang kini berdiri di tingkat yang bahkan dalam kehidupan pertamanya membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dicapai.

Namun justru Sha Nuo yang gembira seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.

“Sudah kubilang…” lanjut Sha Nuo pelan, napasnya sedikit berat, “ini kesempatan terbaikku untuk membalas.”

Boqin Changing tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap wajah pria tua itu, yang meski pucat dan lemah, tetap menyimpan api yang sama seperti saat berdiri menopangnya di tengah badai energi.

Hangat. Hangat yang berbeda dari api biru. Hangat yang tidak membakar.

Untuk sesaat, semua ambisi, semua perhitungan masa depan, semua rencana besar… terasa jauh. Yang ada hanya ruangan kecil ini. Ranjang kayu, air hangat, dan seseorang yang hampir kehilangan segalanya demi dirinya.

“Kau belum selesai membalas,” kata Boqin Changing akhirnya, suaranya rendah namun tegas.

Sha Nuo mengangkat alis tipis.

“Apa maksudmu?”

Boqin Changing meletakkan mangkuk itu kembali.

“Kau masih harus hidup cukup lama untuk melihatku melampaui Ranah Pendekar Langit.”

Sha Nuo terdiam. Lalu tertawa pelan.

“Dasar tukang pamer…”

Namun kali ini, tawanya diiringi rasa lega yang dalam. Di luar jendela, cahaya matahari pagi jatuh lebih terang dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir… ruangan itu tidak lagi terasa seperti ruang antara hidup dan mati. Ia terasa seperti awal baru.

Ruangan itu kembali tenang setelah tawa pelan Sha Nuo mereda. Hanya terdengar suara napasnya yang masih berat dan angin tipis yang menyusup lewat celah jendela.

Boqin Changing berdiri di samping ranjang beberapa saat lebih lama. Tatapannya menelusuri wajah pucat di depannya, lalu turun ke kedua tangan Sha Nuo yang masih terbalut kain dan ramuan tebal. Kulit yang sempat menghitam perlahan mulai menunjukkan warna normal, meski jelas belum sepenuhnya pulih.

“Aku akan pergi sebentar,” ucap Boqin Changing akhirnya.

Sha Nuo meliriknya. “Hm?”

“Kau belum makan. Aku akan mengambil sesuatu dari dapur.” Nada suaranya kembali tenang, stabil seperti biasanya. Seolah beberapa saat lalu bukan dirinya yang hampir kehilangan kendali emosi.

Sha Nuo mendengus pelan.

“Kau juga harus makan juga...”

Boqin Changing tidak menanggapi perkataan itu. Ia justru terdiam sesaat, lalu memandang Sha Nuo lebih dalam.

“Ada satu hal lagi,” katanya pelan.

Sha Nuo menangkap perubahan nada itu. Ia berhenti bercanda dan menatap balik dengan lebih serius.

Boqin Changing menarik napas pendek.

“Terima kasih.”

Dua kata sederhana. Namun keluar dengan berat yang tidak biasa.

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Frannco
amazing story
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
Minal aidin walfaizin thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ......,...
Arull My one
bagus Thor,...KLW TDK ad lanjutnya malah malas baca,ditambah cerita yg terhenti,...semangat dan cepat sembuh,...
Lekat Wahyudi
top
y@y@
💥👍🏼⭐👍🏼💥
Nunu Hana Rumaini
kereeenn...
angin kelana
wah paman nuo jdi pendongeng...
Dina Maulida
selamat hari raya Thor,btw dlu ibuku jg pernah stroke,rebus air kasih sejumput garam,dan serai, truss basuh ke area yg stroke sambil dibetulin dlm kondisi hangat agar peredaran darahnya lancar,dan saraff nya membaik
Ipung Umam
lanjutkan
☠️⃝🖌️M⃤eko
pasti paman Nuo menceritakan petualangan seru🤣🤣
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣
Keong Racun
halo thor, saya ingin menanya soal kekuatan, nah saya pertanyaan saya itu saya pernah baca kalo kaisar Xin Da itu adalah musuh terkuat atau rival terkuat boqin di masa puncak jayanya, saya lupa itu novel yg sblm nya atau chapter brpa, intinya saya pernah baca itu thor, nah di chapter ini saya bingung kuatan kaisar Xin da atau zhi sen, waktu di masa puncak nya thor? soalnya author sendiri blg waktu latih tanding zhi sen hanya bertahan saja, dan boqin sendiri tidak tau batas kemampuan zhi sen,mhn dijawab thor kuatan Xin da atau zhi sen dalam waktu jaya jayanya thor🙏
Perdi Nopriansyah: Mau meluruskan kan ya bg, dinovel pertama itu disebutkan bahwa kaisar xin da adalah teman sekaligus pengikut yang paling kuat di alam ini, untuk pengikut-pengikutnya yang lain tidak dihitung karena dipanggil oleh bola pemanggilan dari alam yang berbeda. Pengikut-pengikut lainnya banyak kok yang lebih kuat daripada boqin sendiri

Untuk chapter ini kan dialam berbeda jadi musuh-musuh nya juga bakalan berbeda, karna babang boqin belum pernah datang ke alam ini jadi bakalan banyak misteri, nantikan aja kelanjutan novelnya
total 2 replies
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ramalan bintang🔥🌽
Andi Heryadi
Sha Nuo....gak ada elo gak rame🤣🤣🤣
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!