NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: HIDUP BARU

BAB 13 (REVISI FINAL) - TERHUBUNG DENGAN SEMUA BAB

Usia Risma 2 Tahun - Sebelum Budi Lahir

 

Hari ke-650. Satu tahun sembilan bulan sudah mereka tinggal di kota baru.

Aryo bangun pagi itu seperti biasa. Jam 4 subuh. Masih gelap. Lampu minyak di samping dipan masih menyala redup. Ia duduk perlahan. Kakinya digerakkan hati-hati. Kaki kiri masih pincang. Bekas kecelakaan truk yang hampir merenggut nyawanya dua tahun lalu.

Ia menoleh ke dipan. Dewi masih tidur. Perutnya sudah mulai membesar. Hamil 5 bulan. Dokter bilang semuanya sehat. Calon adik untuk Risma.

Dan di sisi lain, Risma.

Risma sekarang 2 tahun. Terbaring seperti biasa. Tak bisa bergerak. Tak bisa tengkurap. Tak bisa merangkak. Tangan dan kakinya kaku, kecil. Tapi matanya... matanya hidup. Hitam, bulat, bersinar di tengah gelap.

Aryo sering bertanya dalam hati. Apa yang Risma pikirkan tentang calon adiknya? Apa ia akan iri? Apa ia akan merasa tergantikan?

Tak ada jawaban. Risma tak bisa bicara. Ia hanya bisa memandang.

"Pagi, Nak."

Risma tak jawab. Tak bisa. Tapi matanya... matanya menatap Aryo. Lama.

Aryo tersenyum. Meski dadanya sesak.

 

Pukul 4.30, Aryo sudah berangkat. Jalan kaki 2 kilometer ke pasar. Udara dingin menusuk tulang. Kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak.

Kaki kirinya pincang. Tiap langkah terasa. Tapi ia tak pernah mengeluh. Sudah biasa.

Di pasar, mandor Badrun sudah nunggu. Badrun orangnya keras. Tapi baik.

"Pak Aryo, udah dateng aja. Liat-liat dulu, nanti mulai."

"Iya, Pak."

Aryo duduk di pinggir los. Tunggu instruksi. Tangannya digosok-gosok. Dingin.

Teman kerja, Slamet, duduk di sampingnya. Slamet orang Jawa Timur. Sudah 5 tahun jadi kuli pasar.

"Pak Aryo, kok melamun?" tanya Slamet sambil nyeduh kopi panas dari termos.

Aryo tersentak. "Nggak, Pak. Biasa."

"Anak gimana? Yang pertama?"

Aryo menghela napas. "Sehat, Pak. Alhamdulillah. Cuma... ya gitu. Nggak bisa apa-apa."

Slamet tahu. Dari nada suara, dari wajah. Ia tak tanya lebih. Hanya berkata, "Sabar, Pak. Anak itu titipan Tuhan. Yang penting kita usahakan yang terbaik."

Aryo mengangguk. "Iya, Pak."

Mereka diam. Menikmati kopi murah di pagi buta.

 

"Ayo mulai!" teriak Badrun.

Aryo angkat karung. Satu, dua, tiga. Beras 50 kilo. Pundak lecet. Keringat bercucuran meski pagi masih dingin.

Tangannya kapalan. Bekas kerja keras. Dari penarik becak, kuli pasar, buruh tani, apapun yang penting halal.

Istirahat siang, ia makan nasi bungkus. Nasi, sambal, tempe goreng. Sederhana. Tapi cukup.

Slamet duduk di sampingnya.

"Pak Aryo, saya mau cerita. Anak saya dulu juga pernah sakit. Waktu umur 2 tahun, demam tinggi. Kejang. Saya kira dia mati."

Aryo berhenti makan. "Terus, Pak?"

"Alhamdulillah selamat. Tapi sekarang pendengarannya kurang. Harus pakai alat bantu dengar."

Aryo diam. Berat.

"Tapi saya terima, Pak. Itu anak saya. Darah daging saya. Saya nggak akan ngelepasin dia, meski orang bilang apa."

Aryo pegang pundak Slamet. "Saya juga gitu, Pak. Risma anak saya. Sakit atau sehat, dia tetap anak saya. Sampai kapan pun."

Mereka berdua diam. Saling mengerti. Tanpa banyak kata.

 

Pulang sore, badan pegal. Tapi lihat Risma, capek hilang.

Risma di kursi khususnya. Di ruang tamu. Matanya ke pintu. Menunggu.

Begitu Aryo masuk, matanya... matanya berbinar.

"Risma, Bapak pulang."

Aryo duduk di sampingnya. Pegang tangan Risma. Tangan kaku itu. Dingin.

"Bapak dapat 50 ribu hari ini, Nak. Lumayan."

Risma diam. Tapi matanya... matanya ke Aryo. Seperti mendengar. Seperti mengerti.

Dewi keluar dari dapur. Jalannya agak lambat. Perut semakin besar.

"Mas, gue masak sayur asem. Makan yuk."

"Iya, Ri. Kamu istirahat aja. Jangan kecapean."

Dewi tersenyum. "Iya, Mas."

Mereka makan bertiga. Risma di kursi. Disuapi Dewi.

"Risma, buka mulut," rayu Dewi.

Risma buka mulut. Sedikit. Makanan masuk. Tertelan. Pelan. Tapi mau.

Mbah Kar datang. Bawa pisang goreng.

"Ini buat camilan. Buat Risma juga. Buat calon adiknya juga."

Mbah Kar duduk. Lihat Risma. Lihat perut Dewi. Tersenyum.

"Mas, sebentar lagi keluarga makin ramai."

Aryo tersenyum. "Iya, Mbah. Doain lancar ya."

"Pasti, Mas. Doa Mbah selalu buat kalian."

 

Malam, Aryo jaga warung Mbah Kar. Jam 8 sampai jam 2 pagi.

Warung kecil. Hanya jual kopi, rokok, dan makanan ringan. Tapi cukup buat tambahan.

Sepi. Cuma beberapa pembeli mampir.

Jam 10, seorang pemuda masuk. Wajah kusut. Pakaian lusuh.

"Mas, kopi panas."

Aryo buatkan kopi. Pemuda itu minum. Diam.

"Mas, saya numpang nanya. Di sini ada lowongan kerja?"

Aryo ingat dirinya sendiri. Dulu, saat pertama sampai di kota ini, ia juga bingung. Juga butuh kerja.

"Nggak tahu, Mas. Saya juga pernah kayak kamu. Tapi coba ke pasar besok. Tanya mandor Badrun. Saya juga kerja di sana."

Pemuda itu tersenyum. "Makasih, Mas. Makasih banyak."

Ia bayar kopi. Pergi. Aryo pandangi punggungnya. Ingat perjuangan.

 

Jam 12 malam, Mbah Kar keluar. Duduk di samping Aryo.

"Mas, kok melamun?"

"Mikir, Mbah."

"Mikir apa?"

Aryo hela napas. "Mikir Risma, Mbah. Dia udah 2 tahun. Nggak bisa apa-apa. Bentar lagi punya adik. Saya takut... takut nggak bisa adil."

Mbah Kar diam. Lalu berkata, "Mas, saya dulu punya anak. Sehat. Normal. Tapi saya tinggal. Saya lari dari utang."

Aryo dengar. Diam.

"Pas saya balik, dia udah gede. Nggak mau kenal. Saya sendiri sampai sekarang."

Mata Mbah Kar berkaca.

"Mas, jangan takut nggak bisa adil. Yang penting kalian sayang mereka. Risma butuh perhatian lebih. Tapi bukan berarti adiknya nggak dapat kasih sayang. Nanti jalannya sendiri."

Aryo pegang tangan Mbah Kar. "Makasih, Mbah. Makasih udah selalu ngingetin."

Mereka berdua diam. Menatap langit malam.

 

Pulang jam 2, Aryo masuk kamar. Dewi tidur. Risma di sampingnya. Tidur nyenyak.

Aryo duduk di lantai. Pandangi mereka.

Wajah Dewi tenang. Perutnya besar. Di dalamnya, ada calon anaknya.

Risma tidur dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya kaku di samping badan. Dadanya naik turun. Pelan.

"Nak, bentar lagi kamu punya adik. Kamu bakal jadi kakak."

Risma tak bergerak. Tapi napasnya... napasnya seperti jawaban.

Aryo tidur di lantai. Beralas tikar. Capek. Tapi tenang.

 

Pagi harinya, Risma bangun lebih dulu. Matanya terbuka. Menatap langit-langit.

Dewi bangun. "Pagi, Nak. Udah bangun?"

Risma tak jawab. Tapi matanya... matanya ke Dewi. Lalu ke perutnya. Lama.

Dewi kaget. "Mas! Mas! Cepet!"

Aryo lari. "Ada apa?"

"Lihat Risma! Dia lihat perutku!"

Aryo lihat. Benar. Risma menatap perut Dewi. Lama. Matanya... matanya seperti bertanya.

"Nak, itu adikmu. Di dalam perut Ibu."

Risma diam. Tapi matanya... matanya berkaca. Bukan sedih. Tapi seperti... haru? Aryo tak tahu.

Yang ia tahu, Risma mendengar. Risma merasakan.

 

Siang itu, Joko anak tetangga main ke rumah. Umur 3 tahun. Lari-lari. Tertawa. Berlarian di halaman.

Risma di kursinya. Matanya ke Joko. Ke anak itu. Mengikuti ke mana pun ia pergi.

Aryo lihat. Ia duduk di samping Risma.

"Nak, kamu lihat Joko? Dia main."

Risma diam. Tapi matanya... matanya terus ke Joko.

Joko lari ke arah mereka. Ia berhenti di depan Risma.

"Kak... kak... main yuk!"

Joko terlalu kecil untuk mengerti.

Risma diam. Tapi matanya... matanya ke Joko. Lalu ke bawah. Ke tubuhnya sendiri yang kaku.

Aryo tahu. Risma sedih.

Ia pegang tangan Risma. "Nggak apa-apa, Nak. Joko sayang kamu."

Joko bingung. Tapi ia tersenyum. Lalu lari lagi.

Risma lihat punggung Joko. Lama. Lalu... sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Senyum tipis.

Aryo kaget. "Ri! Ri! Cepet!"

Dewi lari. "Ada apa?"

"Lihat Risma! Dia senyum!"

Dewi lihat. Benar. Risma tersenyum. Tipis. Tapi nyata.

Mereka berdua nangis. Nangis di depan Risma yang tersenyum.

"Nak, kamu senang lihat Joko main?"

Risma diam. Tapi senyumnya masih ada.

 

Malam itu, Aryo duduk di teras. Sendiri. Rokok murah di tangan. Asap mengepul ke langit.

Ia pandangi bintang. Lama.

Ingat malam tiga tahun lalu. Lorong rumah sakit. Lampu neon mendengung. Ia duduk di lantai, nunggu kabar Dewi yang sekarat. Nunggu kabar Risma yang lahir diam.

Sekarang? Risma 2 tahun. Tak bisa apa-apa. Tapi ia bisa tersenyum. Ia bisa merasakan. Ia bisa mencintai.

Dan sebentar lagi, ada adik untuknya.

"Risma... kamu hebat, Nak. Bapak bangga."

Rokok habis. Ia buang. Masuk.

Di kamar, Dewi tidur. Risma di sampingnya. Semua tidur. Nyenyak.

Aryo tidur di lantai. Capek. Tapi tenang.

Besok masih harus kerja. Cari uang. Buat Risma. Buat calon adiknya. Buat keluarga.

Tapi malam ini, ia bersyukur.

 

Pagi harinya, Aryo bangun lebih awal. Ia lihat Risma. Risma sudah bangun. Matanya ke arahnya.

"Pagi, Nak."

Risma tak jawab. Tak bisa. Tapi matanya... matanya menatap Aryo. Lama. Sangat lama.

"Nak, sebentar lagi kamu punya adik. Kamu harus jadi kakak yang baik ya."

Risma diam. Tapi matanya... matanya seperti bilang: "Iya, Pa."

Aryo tahu. Ia tahu.

Dan itu cukup.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 14]

--

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!