NovelToon NovelToon
My Big Boy

My Big Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Posesif
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)

Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap (18+)

WARNING! Adegan dewasa, bocil dilarang baca!

Langkahnya kaki saling bersautan di hutan yang luas.

Ranting patah, daun-daun kering terinjak tanpa ampun. Rania terus berlari sekencang-kencangnya, napasnya tersengal, dadanya terasa sakit seolah paru-parunya terbakar. Gaun pengantin putih yang ia kenakan kini tak lagi putih, lumpur melekat di ujung kain, robekan kasar menghiasi sisi rok, dan noda darah samar tercetak di bagian belakang.

Rania tidak menoleh. Ia tahu apa yang ada di belakangnya.

Para bodyguard terus mengejar dari kejauhan, bayangan mereka menyatu dengan gelapnya pepohonan. Suara langkah mereka berat, teratur terlatih. Bukan orang biasa. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak ingin ia bayangkan.

“Jangan berhenti… jangan berhenti…” Gumam Rania lirih, pada dirinya sendiri.

Rania terus berlari meski ia hampir kehabisan nafas, dadanya naik turun dengan cepatz jantung nya berdebar kencang.

Akar pohon mencuat dari tanah basah. Kakinya tersandung. Ia terjatuh keras, telapak tangannya tergores batu tajam. Rasa sakit menyambar, tapi ketakutan jauh lebih menyakitkan. Dengan gemetar ia bangkit lagi, memaksa kakinya bergerak meski tubuhnya menjerit minta menyerah.

Rania terus berlari, kini ia resmi menjadi istri seseorang lagi, namun Rania masih menyimpan trauma pernikahan masalalu nya, bagaimana suaminya yang sering memukul nya, menghina nya dan memarahinya.

Beberapa jam lalu, ia berdiri di altar. Musik lembut, bunga-bunga putih, senyum palsu yang dipaksakan. Sekarang, ia berlari di hutan, diburu seperti mangsa.

Sebuah cahaya samar muncul di kejauhan entah itu jalan keluar, atau hanya harapan palsu. Ia memilih percaya pada yang pertama. Karena jika ia berhenti sekarang, maka segalanya akan berakhir di sini.

Dan Rania belum siap mati sebagai pengantin yang melarikan diri.

Cahaya itu semakin terang, menembus celah-celah pepohonan seperti janji keselamatan. Jantungnya berdetak liar, hampir pecah. Kakinya gemetar, tapi ia terus berlari, memaksa tubuhnya bergerak meski tenaga nyaris habis.

Tanah di bawah kakinya berubah. Tidak lagi lembap dan penuh akar melainkan keras dan rata.

Ia keluar dari hutan.

Seketika itu juga, harapan runtuh.

Sorot lampu mobil menyala terang, menghantam wajahnya tanpa ampun. Ia refleks menutup mata, tangan terangkat melindungi diri. Pandangannya buram, air mata bercampur keringat mengalir di pipinya. Napasnya terputus-putus, dada naik turun tak beraturan.

Di hadapannya, sebuah mobil hitam terparkir tenang terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.

Pintu mobil terbuka.

Langkah sepatu kulit terdengar pelan namun jelas, menghantam aspal dengan ritme yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia membuka mata perlahan.

Marco berdiri di bawah sorot lampu mobil.

Jas pengantin hitam melekat sempurna di tubuhnya, rapi tanpa satu lipatan pun, seolah malam ini berjalan persis sesuai rencana kecuali satu detail kecil pengantinnya berlumur lumpur dan darah, berdiri gemetar di hadapannya.

Wajah Marco dingin. Tegas. Tampan dengan cara yang menakutkan. Tatapannya datar, kosong, tak ada amarah, tak ada kecemasan hanya ketenangan yang membuat siapa pun ingin lari lebih jauh.

Itu wajah yang sangat Rania kenal.

Wajah pria yang beberapa jam lalu mengucap janji suci di altar.

Suami nya.

“Sudah puas larinya, Sayang?”

Suaranya rendah, tenang, hampir lembut.

Tubuh Rania bergetar hebat. Kata Sayang terasa seperti racun di telinganya. Ia mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai tumitnya menyentuh batas hutan. Tidak ada jalan lagi.

Di belakangnya, suara langkah kaki kembali terdengar. Orang-orang berpakaian hitam keluar dari balik pepohonan, satu per satu, membentuk barisan sunyi. Wajah mereka tak jelas, tapi kehadiran mereka cukup untuk menghancurkan sisa keberaniannya.

Rania terjebak.

Marco melangkah mendekat. Cahaya lampu menyorot wajah Rania sepenuhnya mata merah karena menangis, bibir pecah-pecah, dan gaun pengantin yang kini lebih mirip kain kafan.

Ia berhenti tepat satu langkah di depannya.

“Kenapa kamu selalu membuat segalanya jadi sulit?” katanya pelan, nada suaranya nyaris seperti keluhan penuh kasih. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh pipi Rania lembut namun dingin terlalu dingin untuk sebuah sentuhan pengantin.

Rania menepis tangan Marco dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Saya… Saya tidak mau, Saya ingin pulang...Saya ingin bersama anak-anak saya...” ucapnya gemetar. “Lepaskan Saya. Tolong.”

Sudut bibir Marco terangkat memperlihatkan senyum menyeramkan miliknya.

“Kamu sudah menjadi milikku sejak kamu, datang kerumah ku dan mengatakan ya di altar tadi,” balasnya tenang. “Lari sejauh apa pun, akhir ceritanya tetap sama, aku akan menemukan mu bahkan jika kamu lari diujung dunia sekaligus”

Ia memberi isyarat kecil dengan tangannya.

Dua pria berbaju hitam melangkah maju.

Rania menutup mata, air matanya jatuh tanpa suara. Di dalam hatinya, satu kalimat berulang seperti mantra terakhir.

'Ini belum berakhir… aku harus bertahan.'

Lampu mobil tetap menyala, menerangi jalan gelap di depan mereka jalan yang akan membawanya pada takdir yang belum ia pahami sepenuhnya.

--

Mereka sampai di mansion, Marco turun lebih dulu, lalu membuka pintu disisi Rania, tanpa bicara Marco menggendong tubuh Rania kedalam pelukannya, lalu berjalan masuk.

Sesampainya dikamar Marco meletakan Rania sedikit kasar, ia melepas jas pengantin nya lalu menindih tubuh istrinya.

"Kau salah jika masih berfikir untuk lari lagi setelah ini sayang" ujar Marco dingin.

Marco langsung menyambar bibir Istrinya dalam ciuman panas bergairah. Rania memukul bahu Marco untuk berhenti namun kedua tangan Rania justru dikunci diatas kepala nya.

Marco merobek Gaun pengantin Rania, ciuman nya turun dari bibir ke leher Rania, Rania hendak menendang selangkangan Marco namun pria itu tidak akan termakan serangan yang sama untuk kedua kalinya, ia menahan lutut Rania dan mencengkram nya kuat.

Marco menyeringai dileher Rania. "Tenang sayang, sepertinya kau sangat tidak sabar" gumam Marco dileher Rania.

Marco melepaskan kaki Rania, ia mematikan lampu kini dikamar itu hanya terdengar suara kedua nya yang saling bersautan.....

 

Heh! Mikirin apa Weh! Astaghfirullah istighfar he bentar lagi puasa.... 😭😅

1
Hesty
ko ga up😄
Nyai Nung: Lagi proses sayang, malam baru up
total 1 replies
Hesty
ko ga up😄
anggita
like iklan👍☝
anggita
kadang KDRT malah jdi trend😑
Nyai Nung: Gimana maksudnya sayang?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!