NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan

"Baiklah, jawaban kalian sudah saya periksa. Pertemuan minggu depan, seperti pada tahun kemarin, saya akan beri tugas proyek berkelompok untuk nilai akhir semester." Bu Hera membereskan tumpukan kertas di mejanya.

"Rey, tolong bagikan."

Rey mengangguk, diambilnya kertas jawaban dari Bu Hera. Dengan cepat, ia segera membagikannya pada masing-masing murid sesuai nama yang tertera di sana.

"Buat Meira, selamat. Kamu dapat nilai tertinggi pada tes ini."

Meira terkesiap, lalu mengangguk. "Terimakasih, Bu."

"Dan kamu, Rey, temui saya di ruangan saat istirahat nanti." Rey yang masih membagikan jawaban mengangguk patuh.

"Ya, pembelajaran hari ini cukup sampai disini, kalian bisa istirahat. Sampai jumpa minggu depan."

"Baik, Bu."

Bu Hera menenteng tas nya kemudian keluar dari kelas. Suasana yang awalnya terasa sangat tegang langsung lenyap seketika saat Bu Hera sudah benar-benar meninggalkan kelas.

"Mei, lo mau kemana?" Ayara memanggil Meira yang baru saja merapikan buku-buku pelajarannya di atas meja dan hendak keluar kelas. Bel istirahat sudah berbunyi tapi semua orang masih betah berada di dalam kelas.

Meira membalikkan tubuhnya, menoleh pada Ayara yang kini sedang mengobrol bersama Lana dan beberapa teman sekelasnya.

"Sini duduk dulu, bentar lagi kita ke kantin bareng." Ayara melambaikan tangannya agar Meira mendekat.

"Lain kali aja, aku ada urusan." tolak Meira, ia kemudian berlalu pergi keluar kelas.

Meira melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Lebih tepatnya ke ruangan Bu Resma, wali kelasnya. Ia berusaha memberanikan diri untuk menanyakan persoalan Mamanya pada Bu Resma terlebih dahulu. Alasannya, karena beliau adalah wali kelasnya, jadi mungkin Meira akan lebih leluasa menanyakannya. Walau pada kenyataannya, tetap saja, Meira sangat takut dan gugup saat ini.

Meira membuka lebar pintu ruangan Bu Resma setelah mengetuknya dua kali. "Permisi, Bu."

Suara Meira membuat Bu Resma menoleh, lalu menghentikan gerakan tangannya yang sedang membereskan berkas-berkas di atas meja.

"Iya, ada apa Meira?"

Meira mendekat, kemudian memperhatikan aktivitas wanita di depannya. "Sebelumnya maaf menganggu, Bu. Saya ingin menanyakan sesuatu pada Ibu." ujar Meira.

"Silahkan duduk dulu, tunggu sebentar, ya. Ibu mau kasih ini ke kepala sekolah." Bu Resma menunjukkan map berwarna biru.

"Baik, Bu. Terimakasih." Meira mengangguk ramah.

Meira melangkah menuju tempat duduk yang tersedia disana. Ia memutar pandangannya, mengitari ruangan berukuran sedang itu. Pandangan Meira terhenti pada lemari yang tidak terlalu tinggi, lalu telinganya mendengar sesuatu dari balik lemari itu. Sepertinya lemari itu adalah sekat dan dibaliknya masih ada ruangan lain.

"Harusnya nilai kamu bisa lebih tinggi, Rey!"

Meira semakin menajamkan pendengarannya. "Rey?" gumamnya.

"Aku cuma salah di grafik, Ma." jawab seseorang. Meira hafal betul dengan suara itu. Benar, itu Rey.

"Itu namanya kamu teledor. Buat apa kamu semalamam belajar kalau hasilnya tetap saja tidak memuaskan." wanita itu terdengar menghela napas berat. "Minggu depan Mama bakal satu kelompokan kamu dengan Meira. Kamu harus cari titik kelemahan dia." tegasnya.

"Iya, maaf, Ma."

"Ya sudah, kamu bisa kembali ke kelas."

Suara langkah dari Rey bersamaan dengan datangnya Bu Resma membuat Meira terkejut. Tujuan awalnya yang ingin ia tanyakan pada Bu Resma sedikit tertumpuk dengan rasa penasarannya pada Rey.

Jadi, ternyata Rey anak dari Bu Hera? tanyanya dalam hati.

"Maaf menunggu lama, Meira." ucap Bu Resma, wanita itu menutup kembali pintu dan ikut duduk di seberang Meira.

"Iya, Bu, tidak apa-apa." Meira tersadar dari lamunannya.

"Jadi, apa yang akan kamu tanyakan?"

Meira tidak langsung menyahut. Ia berpikir beberapa saat dan berusaha bertanya sehati-hati mungkin. "Ibu kenal Bu Arini?"

Bu Resma terkejut beberapa saat. Namun, sebisa mungkin ia mencoba menguasai diri. "Sebenarnya ibu sudah punya feeling kalau kamu pasti akan menanyakan tentang hal ini pada ibu." Bu Resma menatap lekat ke arah Meira. "Sejak awal kamu pindah kesini, saya sudah tahu kalau kamu adalah anak Arini."

Meira menoleh cepat karena ucapan Bu Resma. "Ibu kenal Mama saya?"

Flashback

05 Januari 2021

"Gimana, hasilnya udah keluar?" tanya Resma sambil menikmati makan siangnya di kantin sekolah.

"Nggak tahu, Res. Aku gak yakin bisa lolos." jawab Arini sambil menyeruput jus alpukat. "Niatku ke kota ini kan buat cari tahu soal kematian suamiku. Jadi guru disini pun aku butuh buat biaya sehari-hari disini." ujarnya.

"Rin, kalau kamu lolos, uangnya bisa kamu pakai juga buat sewa detektif. Lebih gampang bantu kamu mecahin masalah, aku juga yakin kamu pasti lolos."

"Kamu ngomong apa sih, gak perlu detektif-detektif segala. Aku yakin bisa selesaiin masalah ini secepatnya, dan temuin dalang dibalik semuanya. Setelah itu, aku bisa kembali pulang. Kasihan Meira ditinggal sendirian di Bogor."

"Ya, justru itu. Biar gak memakan waktu lama, kamu harus minta bantuan orang yang udah ahli." ujar Resma sambil tersenyum simpul membuat Arini ikut tersenyum.

Sesaat obrolan mereka terhenti ketika seseorang datang. Arini dan Resma mengalihkan perhatian mereka pada orang tersebut.

"Kamu dari mana saja, Her?"

Bukannya menjawab, orang itu malah membanting sebuah amplop pada Arini. Kemudian berlalu pergi begitu saja.

"Hera, kamu kenapa?" Resma yang hendak menyusul dicegah oleh Arini.

Arini menatap amplop di depannya. Tak mau berlama-lama, ia langsung membuka isi dari amplop tersebut.

"Kita lolos, Res." Arini menunjukkan selembar kertas, isi dari amplop itu pada Resma.

Senyuman di wajah Resma tak bisa disembunyikan. Resma memandang ke arah Arini yang sepertinya tidak senang sama sekali. "Kamu kenapa? Kok kayaknya gak senang begitu?"

"Nggak apa-apa. Aku cuma gak enak sama Hera." Resma membaca kembali bacaan di kertas itu yang hanya tertulis namanya dan Arini. Tidak dengan Hera.

"Aku harus ngomong sama kepala sekolah." Arini langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Resma sendirian.

Flashback end.

"Seminggu setelah itu, Ibumu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Dan, perpindahan guru yang Arini dapatkan dari SMP ke Sekolah ini jadi Hera yang menggantikannya." Bu Resma membuang napas kasar. "Setelah satu bulan berlalu, kita akhirnya mendapat kabar tentang Ibumu."

"Apa yang terjadi, Bu? Mama ada dimana?" Meira bertanya dengan tidak sabaran. Bu Resma terdiam beberapa saat, membuat Meira semakin merasa penasaran.

"Ibumu sudah tenang, Meira." ucap Bu Resma dengan suara pilu. Wanita itu mengelus punggung tangan Meira lembut. "Dia telah tiada."

Meira hampir tidak percaya dengan ucapan Bu Resma. Cewek itu menggeleng kuat-kuat. Ia tidak mempercayai ini semua. Tidak mungkin Mamanya sudah meninggal. Namun, ia harus bisa menerima kenyataannya. Sekali pun itu adalah kenyataan pahit yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Meira.

"Nggak mungkin..." ucap Meira lirih. "Mama nggak mungkin meninggal." Meira masih sulit menerima kenyataan mengejutkan ini. Ia kemudian menoleh pada Bu Resma yang sudah berpindah duduk menjadi di sebelahnya. "Ibu bohong, kan? Tolong bilang kalau semua ini bohong, Bu. Jangan bercanda!"

Bu Resma menyadari Meira sangat terpukul, sama seperti dirinya saat mendengar kabar itu dulu.

Meira mulai terisak, kemudian memukul lengan Bu Resma dengan sebelah tangannya. "Ibu bohong. Semua yang Ibu katakan pasti gak bener."

Meira menunduk beberapa saat, bersamaan dengan cekalan tangan Bu Resma yang melemah. "Maafkan Ibu, Meira. Seharusnya Ibu bisa jadi teman yang baik untuk Ibumu."

"Kenapa Mama bisa meninggal, Bu? Kenapa?" tanya Meira yang kini menghadap Bu Resma, masih sambil terisak.

Bu Resma menggeleng, wanita itu ikut menangis. "Tidak ada yang tahu, Mei. Saya bahkan tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali. Kasus Ibumu seolah disembunyikan. Bahkan jasadnya pun saya tidak pernah melihatnya sampai detik ini."

Meira bangkit dari duduknya, berlari keluar dari ruangan Bu Resma. Bu Resma tidak mengejarnya. Ia tidak sanggup untuk mengingat kembali kenyataan pahit ini.

"Meira." suara seseorang tak membuat Meira menghentikan langkahnya.

"Lo kenapa?" Ayara berusaha memegang bahu Meira dan menghentikan langkah cewek itu. Ia membalikkan badan Meira. Ayara terkejut ketika melihat cewek itu menangis. "Apa yang terjadi, Mei?"

Bukannya menjawab, Meira justru menangis semakin keras. Badannya terasa lemas hingga ia mendudukan dirinya di lantai. "Mama pasti masih hidup kan, Ra? Iya, kan?" kata Meira, ia memeluk Ayara erat.

Ayara yang tidak mengerti dengan ucapan Meira hanya mengangguk. Tak terasa, air matanya ikut mengalir di pipinya. "Iya, Mei. Mama lo pasti masih hidup." bisik Ayara di telinga Meira.

Ayara memeluk Meira semakin erat. Mengusap pelan punggung Meira hingga guncangannya mulai stabil. Ia belum mengerti sama sekali alasan Meira menangis. Setelah tangisannya sudah reda, Ayara membawa Meira ke kelas karena bel sudah berbunyi kembali. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka sedari tadi. Orang itu ikut pergi setelah Meira dan Ayara sudah tidak terlihat lagi di matanya.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!